English
Indonesia

Lintas Generasi UPI Pererat Silaturahmi Lewat Aksi Sosial di Panti Werdha Laswi

13 Mar 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Ikatan Pensiunan Universitas Pendidikan Indonesia (IKAPEN UPI) menunjukkan kepedulian nyata terhadap sesama melalui kunjungan sosial ke Panti Sosial Tresna Werdha Laswi, Jalan Laswi, Kota Bandung, pada Sabtu (7/3).

Aksi kemanusiaan ini menjadi momen istimewa karena mempertemukan tiga elemen lintas generasi UPI, yakni para pensiunan (IKAPEN), duta kampus Putra Putri Bumi Siliwangi (PPBS), serta Caraka Muda KKIPP UPI.

Ketua IKAPEN UPI, Drs. Abdurachman Widjajapradja, memimpin langsung rombongan ini. Ia didampingi oleh Dosen Pembimbing UKM PPBS UPI, Asri Wibawa Sakti, S.Pd., M.Pd., serta sejumlah anggota PPBS di antaranya Friska Alya Rachma, Aditia Bayu Tirta, Shobron Dzulkayisi, Ramdani, Vanesa Nicole Rehuellah Oppier, Arifinsyah Julitama Hasibuan, dan Febri Putra Budiarto.

Dalam sambutannya, Abdurachman menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan upaya menjaga tali kasih antara keluarga besar UPI dengan masyarakat luas, khususnya para lanjut usia.

“Kunjungan ini adalah bentuk dedikasi kami untuk tetap bermanfaat bagi masyarakat dan mempererat hubungan baik yang selama ini telah terjalin,” ujarnya.

Suasana haru dan hangat menyelimuti panti saat para mahasiswa dan pensiunan berbaur langsung dengan penghuni panti. Tidak hanya sekadar seremoni, para peserta meluangkan waktu untuk berbincang, berbagi cerita, dan memberikan dukungan moral kepada para lansia.

Rangkaian acara diawali dengan doa bersama, diikuti dengan sesi interaksi akrab, dan diakhiri dengan penyerahan bingkisan bantuan sosial secara simbolis kepada pengelola panti. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban dan menunjang kebutuhan operasional para penghuni panti.

Kunjungan ini juga membawa misi edukasi bagi para mahasiswa yang terlibat. Selain sebagai bentuk pengabdian masyarakat, kegiatan ini diharapkan mampu memupuk rasa empati dan kepedulian sosial di kalangan generasi muda UPI.

Acara ditutup dengan sesi foto bersama sebagai dokumentasi kenangan atas sinergi yang tercipta. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar, mencerminkan semangat kebersamaan yang menjadi ciri khas sivitas akademika Universitas Pendidikan Indonesia. (DN)

SALIKUR HUMOR KAMPUS

12 Mar 2026 • Humas UPI

Dinn Wahyudin

Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Pendidikan Indonesia

Humor memiliki cara unik untuk menyampaikan pesan. Ia tidak menggurui. Ia tidak menghakimi, dan tidak menekan. Ia hadir dengan senyum, tetapi membawa pesan penuh makna. Dalam konteks kehidupan akademik, humor dapat menjadi jembatan refleksi yang halus. Membantu insan kampus melihat kebiasaan, pola pikir, dan tantangan sehari-hari tanpa merasa diserang. Tertawa bukan karena ingin menyalahkan, melainkan karena merasa “itu pernah terjadi pada saya.”

Humor salikur (kata salikur berasal dari bahasa Sunda artinya 21) kampus yang tersaji dalam tulisan ringan ini tidak dimaksudkan untuk menyindir, merendahkan, atau memberi stigma negatif kepada mahasiswa, dosen, maupun institusi pendidikan. Sebaliknya, humor ini lahir dari kedekatan pengalaman – dari dinamika sehari-hari yang hampir setiap insan akademik pernah rasakan. Ia tumbuh dari ruang kelas, lorong kampus, perpustakaan, organisasi mahasiswa, hingga ruang diskusi yang penuh idealisme.

Dunia kampus adalah ruang pertumbuhan. Di dalamnya ada proses belajar mengatur waktu . Belajar bertanggung jawab, belajar bekerja sama, belajar menghadapi tekanan, bahkan belajar mengenali kelemahan diri sendiri. Dalam proses tersebut, tentu ada dinamika yang kadang lucu, ironis, atau terasa kontras antara idealisme dan realitas. Humor menjadi cara sehat untuk menerima kenyataan itu sekaligus memperbaikinya secara perlahan.

Tulisan ini mengajak pembaca untuk menikmati setiap humor sebagai cermin kecil, bukan sebagai cap atau label. Jika ada yang terasa dekat, anggaplah itu sebagai pengalaman bersama, bukan tudingan. Jika ada yang terasa menggelitik, biarlah ia menjadi pemantik perbaikan. Karena sejatinya, perbaikan yang paling efektif adalah perbaikan yang disadari dengan ringan, bukan dipaksakan dengan tekanan.

Melalui dua puluh humor kampus berikut, kita diingatkan bahwa kehidupan akademik bukan hanya tentang angka IPK, jadwal kuliah, atau lembar tugas. Ia adalah perjalanan pembentukan karakter. Dengan tertawa bersama, kita merawat suasana yang sehat; dengan merenung bersama, kita bertumbuh tanpa saling menyinggung.

Semoga humor ini menjadi ruang jeda yang menyegarkan. Untuk membangun optimisme, memperkuat kesadaran, dan menumbuhkan semangat agar menjadi lebih baik, tanpa kehilangan keceriaan sebagai insan kampus.

Salikur Humor 

1.         Mahasiswa Deadline “Aku paling produktif kalau besok deadline.”

Deskripsi: Humor ini menggambarkan fenomena klasik mahasiswa: produktivitas sering lahir dari tekanan. Di balik kelucuannya, tersimpan pelajaran tentang manajemen waktu dan disiplin diri.

2.         Absen adalah Cinta “Yang penting masuk, duduk, tanda tangan, pulang.”

Deskripsi: Sindiran halus terhadap budaya hadir secara fisik tanpa hadir secara pikiran. Kehadiran sejati bukan hanya soal absensi, tetapi partisipasi intelektual.

3.         Dosen Bilang Singkat “Presentasinya cukup 5 menit ya.” (Hasilnya 25 menit belum selesai.)

Deskripsi: Mahasiswa sering sulit membedakan antara ringkas dan lengkap. Humor ini mengajarkan pentingnya komunikasi efektif.

4.         Skripsi Besok Mulai “Aku serius, besok mulai ngerjain skripsi.” (Besoknya berkata hal yang sama.)

Deskripsi: Prokrastinasi adalah penyakit umum dunia kampus. Humor ini mengajak refleksi tentang komitmen dan konsistensi.

5.         WiFi Kampus Kalau WiFi lancar, semua rajin. Kalau WiFi lemot, semua mengeluh ilmiah.

Deskripsi: Teknologi menjadi penopang belajar modern. Namun ketergantungan berlebihan bisa mengurangi daya juang.

6.         IPK dan Doa “Belajarnya kurang, doanya kencang.”

Deskripsi: Humor ini mengingatkan bahwa usaha tetap harus seimbang dengan harapan. Doa penting, tetapi ikhtiar tetap utama.

7.         Tugas Kelompok Kerja kelompok artinya: Satu kerja, empat kirim nama.

Deskripsi: Fenomena “free rider” sering terjadi. Humor ini mengajarkan pentingnya tanggung jawab kolektif.

8.         Mahasiswa Hemat Uang tinggal sepuluh ribu. Masih optimis sampai akhir bulan.

Deskripsi: Kehidupan mahasiswa identik dengan manajemen keuangan minimalis. Ini melatih kreativitas dan ketahanan.

9.         Jadwal Padat Kalender penuh warna. Realisasi? Tidur siang.

Deskripsi: Perencanaan tanpa eksekusi hanya hiasan. Humor ini menegaskan pentingnya disiplin.

10.       Organisasi Kampus Awal masuk: ikut semua. Semester lima: fokus lulus.

Deskripsi: Mahasiswa belajar menyeimbangkan idealisme dan prioritas akademik.

11.       Dosen Killer “Tenang saja, saya tidak galak.” (Satu kelas langsung hening.)

Deskripsi: Otoritas akademik sering disalahartikan sebagai ketegasan. Humor ini mengajarkan pentingnya komunikasi terbuka.

12.       Mahasiswa Googling “Menurut penelitian…” (Sumbernya blog tahun 2012.)

Deskripsi: Literasi digital penting di era informasi. Humor ini menyadarkan pentingnya sumber kredibel.

13.       Bangun Pagi Alarm bunyi jam 5. Bangun jam 7.

Deskripsi: Disiplin waktu adalah tantangan nyata mahasiswa. Humor ini sederhana tapi relevan.

14.       Perpustakaan Niatnya baca buku. Ujungnya foto buat story.

Deskripsi: Budaya simbolik sering menggantikan substansi. Humor ini mengajak kembali pada esensi belajar.

15.       Kelas Pagi Jam 7 pagi adalah ujian mental.

Deskripsi: Kelas pagi melatih kedisiplinan dan tanggung jawab, walau sering terasa berat.

16.       Ujian Mendadak “Tenang, materinya sedikit kok.” (15 bab masuk semua.)

Deskripsi: Persiapan adalah kunci. Humor ini mengingatkan agar tidak menunda belajar.

17.       Mahasiswa Produktif Buka laptop. Niat ngerjain tugas. Malah buka streaming.

Deskripsi: Distraksi digital adalah tantangan generasi modern. Kesadaran diri menjadi solusi utama.

18.       Seminar Gratis Datang bukan karena tema. Tapi karena snack dan sertifikat.

Deskripsi: Motivasi ekstrinsik kadang lebih dominan. Namun kesempatan belajar tetap bisa dimanfaatkan.

19.       Wisuda Foto ribuan. Ijazah satu.

Deskripsi: Wisuda adalah simbol perjalanan panjang. Humor ini menunjukkan euforia atas perjuangan yang selesai.

20.       Tunjangan dan IBK

“Pak, jadi dosen itu enak ya, ada tunjangan?”

“Tunjangan ada.”

“Wah, lumayan dong?”

“Iya, lumayan… buat beli buku lagi.”

Deskripsi:

Humor ini mengingatkan bahwa profesi dosen—termasuk dosen IBK—bukan sekadar tentang tunjangan, melainkan komitmen intelektual. Tunjangan sering kembali menjadi investasi akademik: buku, penelitian, seminar, dan pengembangan diri. Di balik kelucuan dialognya, tersimpan penghargaan pada dedikasi dosen yang terus belajar agar tetap relevan dan berdampak.

21. Kampus Berdampak

“Kampus kita harus berdampak!”

“Iya!”

“Dampaknya apa?”

“Minimal berdampak ke tugas yang makin banyak.” Hehe.

Deskripsi:

Humor kampus “berdampak” yang sering menjadi jargon pengembangan kampus. Ia tidak menyindir kebijakan, melainkan mengajak refleksi bahwa dampak sejati bukan sekadar slogan, tetapi perubahan nyata—bagi mahasiswa, dosen, dan masyarakat. Kampus berdampak bukan hanya terasa dalam  administrasi atau beban tugas, tetapi dalam kualitas pembelajaran, riset, pengabdian, dan dampak (impact) pada Masyarakat.

Catatan Reflektif

Salikur humor ini mencoba memperluas perspektif bahwa kehidupan kampus tidak hanya berputar pada mahasiswa, tetapi juga pada ekosistem akademik secara keseluruhan—visi kelembagaan, profesionalisme dosen, dan arah pengembangan institusi. Humor kampus tetap menjadi ruang bersama untuk bertumbuh. Ia tidak menyudutkan, tidak menstigma, dan tidak menghakimi. Ia hanya mengajak kita tersenyum sejenak—lalu melangkah lebih bijak

Humor kampus bukan sekadar bahan tawa. Ia adalah cermin kecil realitas akademik—tentang disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan perjuangan. Dengan tertawa, kita belajar menerima kekurangan. Dengan refleksi, kita memperbaiki diri. Karena pada akhirnya, kehidupan kampus bukan hanya tentang nilai di atas kertas, tetapi nilai dalam kepribadian, ikhtiar untuk mengusung jejak peradaban.

Salam sehat dan (tidak lupa) bahagia!

Ekosistem Intelektual Profesor

12 Mar 2026 • Humas UPI

Suwatno

Guru Besar Komunikasi Organisasi

Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis

Universitas Pendidikan Indonesia

Diskursus tentang status profesor semakin atentif pasca terbitnya Permendiktisaintek Nomor 52 Tahun 2025 yang mengatur ulang jabatan dan status dosen, termasuk ketentuan tentang profesor emeritus. Regulasi ini memunculkan kegelisahan di kalangan akademisi karena membuka kemungkinan profesor purnabakti tidak lagi berstatus sebagai dosen tetap meskipun masih aktif berkontribusi dalam pengajaran, penelitian, dan pembimbingan. Isu ini kemudian berkembang menjadi diskursus publik yang lebih luas tentang bagaimana negara menempatkan otoritas keilmuan dalam arsitektur pendidikan tinggi nasional.

Sebagian pihak memandang persoalan ini semata dari sudut legalitas: apakah peraturan tersebut selaras dengan undang-undang dan sesuai dengan prinsip hierarki peraturan perundang-undangan. Pendekatan normatif tersebut tentu relevan sebagai dasar legitimasi kebijakan. Namun jika perdebatan berhenti pada aspek administratif dan formal, kita berisiko mengabaikan persoalan yang jauh lebih mendasar, yakni keberlanjutan ekosistem intelektual. Universitas bukan hanya organisasi birokrasi, melainkan ruang hidup bagi produksi, reproduksi, dan transmisi pengetahuan yang berlangsung lintas generasi.

Otoritas Ilmiah

Dalam tradisi universitas modern, profesor bukan sekadar jabatan fungsional, melainkan representasi akumulasi otoritas epistemik. Burton R. Clark dalam The Higher Education System (1983) menjelaskan bahwa universitas bertumpu pada otoritas disipliner yang relatif otonom dari kontrol birokrasi negara maupun tekanan pasar. Otoritas tersebut dibangun melalui reputasi ilmiah, konsistensi publikasi, kontribusi riset, serta peran pembimbingan yang berkelanjutan.

Dalam hal ini, Clark (1983) berpendapat bahwa disiplin ilmu menjadi sumber legitimasi utama universitas, karena kualitas dan reputasi institusi sangat ditentukan oleh pengakuan internal komunitas akademik, bukan semata oleh regulasi administratif atau permintaan eksternal. Dengan demikian, daya tahan dan integritas universitas justru terletak pada relatif otonominya dalam menjaga norma, tradisi, dan standar profesional yang dibangun oleh para akademisi sendiri, meskipun tetap berinteraksi dan bernegosiasi dengan tekanan negara maupun dinamika pasar.

Di banyak negara maju, sistem pendidikan tinggi yang kuat sangat dipengaruhi oleh kesinambungan peran akademisi senior. Mereka tidak hanya menghasilkan karya ilmiah, tetapi juga membentuk kultur riset, membangun jejaring internasional, dan menanamkan standar mutu kepada generasi berikutnya.

Yang tidak kalah penting, kita juga perlu mempertimbangkan urgensi penjagaan pengetahuan yang bersifat tacit. Ikujiro Nonaka dan Hirotaka Takeuchi (1995) menekankan bahwa pengetahuan tacit tidak dapat sepenuhnya dikodifikasi dalam dokumen tertulis. Ia lahir dari praktik, pengalaman, dan interaksi intensif dalam komunitas. Jika profesor senior diposisikan di luar struktur formal tanpa mekanisme integrasi yang jelas, maka ruang pertukaran pengetahuan tacit dapat menyempit. Universitas mungkin tetap berjalan secara administratif, tetapi kehilangan kedalaman intelektual dan kontinuitas tradisi ilmiahnya.

Dalam konteks tata kelola, otonomi institusional memiliki korelasi positif dengan inovasi dan kualitas riset. Otonomi bukan berarti ketiadaan akuntabilitas, melainkan kemampuan institusi untuk mengelola sumber daya, termasuk sumber daya intelektual, sesuai kebutuhan strategisnya. Apabila regulasi terlalu sentralistis dan teknokratis, maka fleksibilitas universitas untuk merancang skema pelibatan profesor purnabakti menjadi terbatas. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi dinamika akademik dan kapasitas institusi dalam menjaga mutu.

Selain itu, otonomi akademik tidak hanya menyangkut kewenangan administratif, tetapi juga kebebasan intelektual untuk menentukan arah pengembangan disiplin ilmu. Profesor senior sering kali menjadi jangkar normatif dalam menjaga standar etik, metodologis, dan teoretis suatu bidang. Kehadiran mereka bukan sekadar simbol, melainkan penopang integritas akademik.

Regenerasi Akademik

Kebijakan mengenai profesor purnabakti pada dasarnya berkaitan dengan desain regenerasi akademik. Regenerasi yang sehat tidak berarti memutus relasi dengan generasi senior, melainkan menciptakan mekanisme kolaboratif yang memungkinkan transfer tanggung jawab secara bertahap. Dosen muda membutuhkan ruang untuk berkembang, tetapi juga memerlukan bimbingan dan teladan akademik dari mereka yang telah menempuh perjalanan panjang dalam disiplin ilmunya.

Jika kebijakan publik terlalu menekankan rasionalisasi struktural tanpa mempertimbangkan kesinambungan generasional, maka regenerasi dapat berubah menjadi diskontinuitas. Hilangnya keterlibatan profesor senior berpotensi melemahkan kualitas pembimbingan doktoral, mempersempit jejaring riset, dan mengurangi daya tawar institusi dalam kolaborasi internasional. Efeknya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi dalam jangka panjang dapat memengaruhi reputasi dan daya saing universitas.

Bangsa ini harus menyadari bahwa pendidikan tinggi adalah investasi jangka panjang dalam modal intelektual nasional. Reputasi universitas dibangun melalui kesinambungan kontribusi lintas generasi. Profesor senior merupakan bagian dari infrastruktur intelektual tersebut. Mereka membawa memori institusional, jejaring global, serta legitimasi akademik yang tidak mudah digantikan.

Oleh karena itu, perdebatan tentang status profesor tidak seharusnya direduksi menjadi isu administratif atau beban anggaran. Ia menyangkut visi tentang bagaimana ilmu pengetahuan dipelihara dan diwariskan. Negara memang memiliki kewenangan untuk menata regulasi, tetapi penataan tersebut perlu mempertimbangkan karakter khas universitas sebagai komunitas epistemik. Otoritas ilmiah tidak mengenal batas usia administratif; ia terus hidup selama kontribusi intelektual masih relevan dan diakui.

Jika kebijakan publik gagal membedakan antara jabatan struktural dan otoritas ilmiah, maka yang terancam bukan hanya posisi seorang profesor, melainkan fondasi moral dan intelektual pendidikan tinggi itu sendiri. Universitas tanpa ekosistem yang menghargai kesinambungan pengetahuan berisiko menjadi institusi yang efisien secara administratif, namun rapuh secara akademik. Sebaliknya, kebijakan yang sensitif terhadap keberlanjutan tradisi ilmiah akan memperkuat daya tahan universitas sebagai pusat produksi pengetahuan dan penjaga integritas intelektual bangsa.

UPI Jajaki Kerja Sama dengan Seskoad

11 Mar 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menjajaki peluang kerja sama lanjutan dengan Seskoad (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat)  dalam pengembangan kurikulum serta penguatan kapasitas akademik bagi para perwira peserta pendidikan. Penjajakan ini mengemuka dalam pertemuan awal yang membahas sejumlah potensi kolaborasi strategis di bidang pendidikan dan pengembangan keilmuan yang dilaksanakan di Ruang Rapat Partere Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung, Selasa (10/3/2026).

Dalam pertemuan tersebut dibahas kebutuhan penyesuaian kurikulum pendidikan perwira yang mengalami perubahan durasi program, dari sebelumnya enam bulan menjadi empat bulan. Perubahan tersebut mendorong perlunya perumusan kembali struktur dan desain kurikulum agar tujuan pembelajaran tetap dapat tercapai secara optimal.

Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian, dan Kemitraan Prof. Agus Setiabudi, menjelaskan bahwa kerja sama yang direncanakan mencakup dukungan dalam perumusan kurikulum pada berbagai level, termasuk penyesuaian mata kuliah serta strategi pembelajaran yang tetap selaras dengan capaian pendidikan yang diharapkan.

Selain pengembangan kurikulum, kolaborasi juga berpotensi mencakup sejumlah aktivitas akademik lainnya. Di antaranya adalah peningkatan kemampuan penulisan karya ilmiah bagi peserta pendidikan, penguatan pemahaman metodologi penelitian, pengelolaan jurnal ilmiah, hingga peningkatan akses terhadap sumber-sumber informasi akademik.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor UPI Prof. Didi Sukyadi, M.A menawarkan dukungan akses terhadap berbagai sumber informasi dan fasilitas akademik yang dimiliki universitas untuk dimanfaatkan oleh para peserta pendidikan. Langkah ini diharapkan dapat mendukung proses pembelajaran sekaligus meningkatkan kualitas karya ilmiah yang dihasilkan.

Pertemuan yang berlangsung masih bersifat penjajakan awal dan membahas poin-poin kerja sama secara umum. Ke depan, kedua pihak berencana mengadakan pertemuan lanjutan pada tingkat yang lebih teknis dengan melibatkan direktorat-direktorat terkait guna merumuskan bentuk implementasi kerja sama secara lebih rinci.

Prof. Agus menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan salah satu wujud kontribusi perguruan tinggi dalam memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas melalui pemanfaatan keilmuan yang dimiliki.

“Ini merupakan bentuk bagaimana aktivitas dan keilmuan yang berkembang di universitas dapat dimanfaatkan oleh pihak luar, sehingga memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Melalui kerja sama ini, UPI berharap dapat memperluas peran perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia di berbagai sektor, termasuk sektor pendidikan militer, sekaligus memperkuat sinergi antara dunia akademik dan institusi strategis nasional. (Riza/RK/DN)

Anggaran Penelitian Ditambah, 1.400 Peneliti UPI Teken Kontrak Penelitian dan PkM Tahun 2026

11 Mar 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) menggelar kegiatan penandatanganan kontrak penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (PkM) dana hibah UPI Batch 1 Tahun 2026di Gedung Achmad Sanusi (BPU) UPI, Selasa (10/3). Kegiatan ini menjadi langkah awal pelaksanaan berbagai program riset dosen UPI yang diharapkan memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Acara tersebut dihadiri oleh pimpinan universitas, para dosen peneliti, serta perwakilan penerima hibah penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Rangkaian kegiatan dimulai dengan laporan dari Direktur DPPM UPI, dilanjutkan sambutan Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian, dan Kemitraan, serta pembukaan resmi oleh Rektor UPI.

Rektor UPI Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A., menekankan bahwa riset yang dilakukan dosen harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus berkontribusi pada peningkatan reputasi universitas.

Menurutnya, penelitian yang didukung dana universitas perlu dilaksanakan secara sungguh-sungguh dan bertanggung jawab.

“Dana riset itu tidak didapatkan dengan mudah dan jumlahnya juga sangat terbatas. Karena itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan melaksanakan setiap tahapan penelitian secara optimal,” ujar Prof. Didi.

Ia juga mengingatkan agar riset tidak dipandang semata sebagai sumber tambahan pendapatan, melainkan sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan reputasi akademik UPI di tingkat nasional maupun internasional.

Rektor UPI juga menyampaikan bahwa universitas terus berupaya meningkatkan alokasi anggaran penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Pada tahun sebelumnya, total dana riset dan PkM mencapai sekitar Rp38 miliar, sedangkan pada tahun 2026 meningkat menjadi sekitar Rp70 miliar.

Peningkatan anggaran tersebut turut diikuti oleh bertambahnya jumlah peneliti yang terlibat. Jika pada tahun sebelumnya terdapat sekitar 700 peneliti, pada tahun ini jumlah peserta mencapai sekitar 1.400 orang.

Lebih lanjut Rektor menyebutkan bahwa untuk metode pengawasan sepenuhnya diserahkan kepada Prof. Dr. Ida Hamidah, M.Si., selaku Direktur DPPM yang telah menyiapkan berbagai mekanisme pengawasan untuk memastikan pelaksanaan penelitian berjalan sesuai dengan rencana dan target yang telah ditetapkan.

Pengawasan dilakukan melalui sistem pemantauan progres penelitian, serta dukungan tim monitoring dan evaluasi (monev) yang membantu memastikan setiap peneliti menjalankan komitmen risetnya.

Rektor UPI menambahkan bahwa peneliti yang menghasilkan publikasi berkualitas akan mendapatkan insentif, termasuk dukungan article processing charges (APC) serta insentif artikel ilmiah di jurnal bereputasi.

Sebaliknya, bagi peneliti yang tidak mampu memenuhi komitmen penelitian, keterlibatannya dalam program riset pada tahun berikutnya akan ditinjau kembali.

Melalui kegiatan penandatanganan kontrak ini, UPI berharap pelaksanaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat tahun 2026 dapat berjalan optimal serta menghasilkan inovasi yang memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan, pemberdayaan masyarakat, dan peningkatan reputasi universitas. (RK/Riza)

Pencarian