English
Indonesia

Atasi Rumah Tak Layak Huni, Dosen UPI Hadirkan Inovasi RAFLESIA di 6 Provinsi

09 Mar 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Hilirisasi riset di perguruan tinggi kini tidak lagi sekadar berakhir di jurnal ilmiah, melainkan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Dr. Eng. Beta Paramita, dosen sekaligus peneliti Arsitektur FPTI Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), sukses menghadirkan Program RAFLESIA sebagai solusi hunian layak, murah, dan berkelanjutan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Hingga penghujung tahun 2025, lebih dari 70 unit rumah telah dibangun dan tersebar di enam provinsi, mencakup Aceh, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Gorontalo, dan Kalimantan Selatan. Inovasi ini membuktikan bahwa teknologi bangunan tinggi dapat diadaptasi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara nyata.

RAFLESIA merupakan pengembangan riset lanjutan dari material cat reflektif surya buatan dalam negeri. Teknologi ini bukan sekadar pelapis, melainkan bagian dari strategi desain rumah terintegrasi untuk menghadapi iklim tropis.

“RAFLESIA dirancang untuk menyediakan hunian yang aman dan sehat. Dengan memanfaatkan ventilasi alami serta material ringan yang efisien energi, kita dapat menekan biaya konstruksi sekaligus mengurangi beban tagihan listrik rumah tangga dalam jangka panjang,” ujar Dr. Beta.

Didjelaskan Beta Paramita Pengembangan hunian RAFLESIA memanfaatkan hasil riset tersebut dalam skala sistem bangunan, sehingga teknologi pendinginan pasif tidak hanya diaplikasikan sebagai produk material, tetapi sebagai bagian dari strategi desain rumah yang terintegrasi.

Menurutnya secara substansi, RAFLESIA dikembangkan untuk menyediakan hunian yang aman, sehat, dan adaptif terhadap kondisi iklim tropis. Perancangan rumah mempertimbangkan ventilasi alami, pencahayaan optimal, serta penggunaan material ringan dan efisien energi. Pendekatan ini tidak hanya menekan biaya konstruksi, tetapi juga mengurangi beban konsumsi energi rumah tangga dalam jangka panjang. Prinsip tersebut sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan serta mitigasi perubahan iklim yang menjadi prioritas nasional.

“Keberhasilan program ini tidak lepas dari model kolaborasi multipihak yang melibatkan industri material bangunan, tim teknis arsitektur, dan partisipasi aktif warga setempat. Proses ini menciptakan transfer pengetahuan, sehingga warga memiliki kapasitas untuk merawat dan memahami kemandirian energi di hunian mereka”, kata Beta Paramita.

Dari sisi kesehatan, keluarga yang menghuni rumah RAFLESIA melaporkan penurunan risiko penyakit akibat kelembapan dan panas berlebih. Hal ini menunjukkan bahwa rumah yang sehat berdampak langsung pada peningkatan produktivitas keluarga.

Memasuki tahun 2026, Program RAFLESIA dijadwalkan akan memperluas jangkauannya ke kota-kota lain di Indonesia. Fokus utama tetap pada inovasi teknologi tepat guna dan efisiensi biaya guna menjawab tantangan pemenuhan kebutuhan perumahan nasional.

Kontribusi nyata dari Dr. Eng. Beta Paramita melalui RAFLESIA menjadi contoh konkret bagaimana perguruan tinggi dapat menjadi motor penggerak pembangunan nasional yang sistematis dan berintegritas. (DN)

Dosen Arsitektur UPI Hadirkan ‘Cool Shelter’: Hunian Sejuk dan Tahan Banjir untuk Pengungsi Aceh

09 Mar 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Menanggapi dampak masif banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera pada akhir 2025 lalu, Dr. Eng. Beta Paramita, dosen Arsitektur FPTI Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), menginisiasi inovasi Cool Shelter. Sebanyak 10 unit hunian sementara (huntara) dibangun di Kabupaten Aceh Timur sebagai solusi hunian layak bagi warga terdampak bencana.

Program pengabdian masyarakat berbasis riset ini menyasar lima desa di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, yakni Desa Simpang Tiga, Meunasah Blang, Tanjong Dalam, Geudumbak, dan Grong-Grong. Hingga Maret 2026, lima unit pertama telah selesai dibangun dan mulai dihuni, sementara lima unit lainnya sedang dalam proses penyelesaian menggunakan sistem prefabrikasi (Prefab System).

Cool Shelter merupakan pengembangan dari program Cool House RAFLESIA (Rumah Reflektif Surya Indonesia), sebuah model hunian rendah karbon yang telah diterapkan pada lebih dari 70 unit rumah di berbagai provinsi sejak 2024.

“Pengalaman kami dalam merenovasi rumah tidak layak huni dengan teknologi reflektif menjadi dasar pengembangan Cool Shelter. Ini bukan sekadar tempat mengungsi, tapi hunian yang melindungi kesehatan fisik dan kenyamanan termal para penyintas,” ujar Dr. Beta Paramita.

Dirancang khusus untuk wilayah rawan air, Cool Shelter menggunakan sistem rumah panggung guna meminimalisir risiko genangan. Berikut adalah spesifikasi utama bangunan Dimensi & Kapasitas: Berukuran 4 × 12 meter (48 m²), satu unit mampu menampung 30 hingga 36 orang dalam kondisi darurat. Struktur: Menggunakan rangka baja ringan dengan pondasi umpak yang adaptif terhadap kontur tanah basah. Elevasi: Bangunan ditinggikan minimal 60 cm dari permukaan tanah untuk mencegah air masuk dan menjaga sirkulasi udara. Ketahanan: Material modular memudahkan mobilisasi dan bongkar-pasang, dengan estimasi umur bangunan mencapai 5 hingga 10 tahun.

Salah satu keunggulan utama Cool Shelter adalah penggunaan material reflektif surya dari cat BeCool® pada atap dan dinding luar. Teknologi ini berfungsi memantulkan panas matahari sehingga suhu di dalam ruangan tetap sejuk meski tanpa pendingin ruangan mekanis.

Sistem ventilasi silang juga diterapkan untuk memastikan aliran udara alami yang optimal. Hal ini sangat krusial untuk menjaga kualitas udara dan kesehatan pengungsi, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, di tengah kondisi pascabencana yang lembap.

Melalui kolaborasi lintas pihak ini, UPI menunjukkan bahwa inovasi akademik dapat menjadi solusi konkret dalam memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi bencana hidrometeorologi di Indonesia. (DN)

Isola Fun Run UPI Siap Digelar, Ajak Alumni dan Masyarakat Berpartisipasi

09 Mar 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (IKA FPBS) akan menyelenggarakan kegiatan ISOLA FUN RUN 2026 yang direncanakan berlangsung pada bulan depan. Kegiatan ini menjadi ajang olahraga sekaligus sarana mempererat kebersamaan antara alumni, sivitas akademika, dan masyarakat umum. Press conference terkait kegiatan ini pun dilaksanakan di Ruang Rektor Lt. 2 Gedung Partere Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung, Juma’t (6/3/2026).

Ketua IKA FPBS UPI, H. Rismanto, S.Pd., M.I.Kom. sekaligus ketua penyelenggara menyampaikan apresiasi kepada pimpinan universitas atas dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa dukungan dari berbagai pihak sangat penting agar kegiatan ini dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat.

“Pertama tentu menghadirkan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Rektor UPI atas support dalam banyak hal termasuk acara hari ini. Sehingga publisitas Isola Fund Run itu sudah mulai kencang, insyaallah dalam beberapa hari ke depan semakin banyak masyarakat yang mengetahui kegiatan ini,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan Isola Fun Run tidak hanya diperuntukkan bagi alumni dan keluarga besar UPI, tetapi juga terbuka bagi masyarakat luas yang memiliki minat terhadap olahraga lari maupun kegiatan rekreasi yang menyehatkan.

Nama Isola sendiri dipilih karena memiliki nilai historis yang kuat bagi keluarga besar UPI, yang dahulu dikenal sebagai IKIP Bandung. Villa Isola merupakan salah satu ikon yang sangat melekat dalam sejarah perjalanan institusi tersebut.

“Pemilihan nama Isola bagi kami memiliki rasa historis tersendiri. Ketika menyebut Isola, kita langsung teringat pada IKIP Bandung yang sekarang menjadi UPI. Ini sekaligus menjadi cara untuk membuka kembali memori indah ketika kami ditempa dan dididik di kampus ini,” jelasnya.

Kegiatan ini juga menggabungkan konsep olahraga dan rekreasi melalui format fun run yang dapat diikuti oleh berbagai kalangan. Peserta dapat mengikuti kegiatan secara serius sebagai olahraga lari maupun sekadar menikmati kebersamaan dalam suasana santai.

“Ini adalah event yang menggabungkan unsur kesehatan sekaligus keakraban dengan nuansa yang fun. Jadi bisa lari secara serius, bisa juga sekadar bersenang-senang bersama,” tambahnya.

Lebih dari sekadar kegiatan olahraga, Isola Fun Run juga memiliki misi sosial. Melalui kegiatan ini, panitia berupaya menggalang dana yang nantinya akan dikontribusikan untuk mendukung pengembangan fakultas maupun universitas.

Pada kesempatan yang sama Rektor UPI Prof. Didi Sukyadi, M.A menerangkan Isola Fun Run juga dirancang sebagai kegiatan yang rekreatif dan terbuka bagi masyarakat luas. Rute lari telah dipersiapkan dengan mempertimbangkan kenyamanan peserta, sehingga kegiatan dapat dinikmati oleh berbagai kalangan, baik yang ingin berolahraga maupun yang sekadar datang untuk merasakan suasana kebersamaan.

Selain kegiatan lari santai, acara ini juga akan dimeriahkan dengan hiburan, hadiah menarik, serta berbagai aktivitas yang menambah suasana kebersamaan. Hal ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi kesehatan fisik sekaligus kesehatan emosional para peserta.

“Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan unsur kesehatan fisik melalui olahraga, tetapi juga kesehatan emosional karena ada hiburan dan suasana kebersamaan,” jelasnya.

Ke depan, Isola Fun Run diharapkan menjadi program berkelanjutan yang dapat dilaksanakan setiap tahun. Kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal berbagai inisiatif lain yang mampu memperkuat solidaritas alumni, kepedulian sosial, serta kontribusi kampus kepada masyarakat.

“Semoga Isola Fun Run menjadi titik awal kegiatan yang terus berkelanjutan untuk memperkuat silaturahmi, kepedulian sosial, kesehatan, dan kebersamaan,” tutupnya.

Prof. Wawan selaku Dekan FPBS mengatakan bahwa langkah ini merupakan salah satu upaya awal alumni untuk turut berkontribusi terhadap kemajuan almamater.

“Kami berharap lewat event ini juga dapat menggalang dana yang nantinya dikontribusikan untuk fakultas atau untuk UPI. Berapapun nanti yang terkumpul, mudah-mudahan ini bisa menjadi langkah awal kontribusi alumni bagi institusi,” ungkapnya.

Ia juga berharap kegiatan ini mendapat partisipasi luas dari masyarakat, tidak hanya di wilayah Bandung Raya tetapi juga dari alumni dan komunitas lari di berbagai daerah. Dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk dunia usaha, media, dan komunitas, diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dalam mendukung kemajuan UPI. (Rija)

IKAPEN UPI Berbagi Kasih di Dua Panti Sosial, Tebarkan Harapan dan Kepedulian

09 Mar 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Ikatan Pensiunan Universitas Pendidikan Indonesia (IKAPEN UPI) melaksanakan kegiatan bakti sosial dengan menyerahkan bantuan kepada Panti Asuhan Samiyah Amal Insani dan Panti Sosial Tresna Wreda Laswi pada Sabtu (7/3). Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya implementasi visi organisasi dalam memberikan manfaat bagi anggota sekaligus masyarakat luas.

Ketua IKAPEN UPI, Drs. Abdurachman Widjajapradja menyampaikan bahwa kunjungan ke panti sosial bukanlah kegiatan yang pertama kali dilakukan. Program ini telah beberapa kali diselenggarakan sebagai bentuk konsistensi organisasi dalam menebarkan kepedulian sosial.

“Kami ingin melaksanakan misi IKAPEN, yaitu mencoba menyejahterakan anggota dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Salah satunya melalui kunjungan ke panti asuhan dan panti jompo untuk berbagi kebahagiaan serta kasih sayang,” ujarnya.

Pada kegiatan di Panti Asuhan Samiyah Amal Insani, Ketua IKAPEN UPI menegaskan bahwa bantuan yang diberikan bukan sekadar seremonial, melainkan wujud perhatian dan dukungan moral bagi anak-anak asuh.

“Hari ini kita hadir bukan sekadar menyerahkan bantuan, tetapi untuk berbagi kasih dan menegaskan bahwa anak-anak ini tidak sendiri. Mereka berhak bermimpi dan meraih masa depan yang gemilang,” ungkapnya dalam sambutan.

Selain menyerahkan bantuan, rombongan juga berdialog dengan pengurus panti. Dari hasil perbincangan tersebut, diketahui bahwa sebagian anak asuh masih memiliki orang tua, namun karena kondisi tertentu harus tinggal di panti. Hal ini menjadi refleksi tersendiri bagi rombongan IKAPEN UPI.

“Kami selalu terenyuh setiap berkunjung. Mudah-mudahan ke depan ada perbaikan dalam kehidupan keluarga sehingga anak-anak bisa mendapatkan perhatian yang lebih baik,” tambahnya.

Kegiatan kemudian dilanjutkan di Panti Sosial Tresna Wreda Laswi. Dalam sambutannya, Ketua IKAPEN UPI menyampaikan penghormatan kepada para lansia yang telah melalui perjalanan panjang kehidupan.

“Kami datang bukan hanya untuk memberi, tetapi juga untuk belajar tentang ketulusan dan kesabaran dari para orang tua yang telah lebih dahulu menapaki kehidupan,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa bantuan yang diberikan diharapkan dapat sedikit meringankan kebutuhan panti serta menjadi penguat hubungan silaturahmi antara IKAPEN UPI dan pengelola panti sosial.

Melalui kegiatan ini, IKAPEN UPI menegaskan komitmennya untuk terus menjaga kepedulian sosial dan memperluas manfaat organisasi. Kegiatan bakti sosial tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai agenda sesaat, tetapi menjadi bagian dari gerakan berkelanjutan dalam menebarkan kebaikan kepada masyarakat. (Kontributor KKIPP UPI: Putri Ayu Sri Lestari– Koordinator Caraka Muda)

Menanti Lahirnya Rekor Dunia Dari Langit Indonesia: Upaya Menyatukan Hari Raya

09 Mar 2026 • Humas UPI

Oleh:

Dr. Judhistira Aria Utama, M.Si.

Kepala Pusat Unggulan Universitas SAINS DATA ASTRONOMI DAN

POLUSI CAHAYA (SADAR-POLYA)



Grafik kurva visibilitas hilal Syawal 1447 H dalam Gambar 1 untuk lokasi Sabang, Indonesia, pada 19 Maret 2026 memberikan gambaran kuantitatif mengenai peluang pengamatan sabit Bulan muda (hilal) setelah terjadinya konjungsi. Kurva tersebut dibangun menggunakan model visibilitas Kastner (1976), suatu pendekatan fotometrik yang menilai kemungkinan kenampakan hilal melalui perbandingan kontras luminansi antara cahaya hilal dan kecerahan langit senja. Berbeda dari pendekatan geometris semata, model ini juga mempertimbangkan pengaruh ekstingsi atmosfer, distribusi kecerahan langit senja, serta konfigurasi posisi Matahari dan Bulan di langit. Dalam grafik yang disajikan, ditampilkan tiga kurva yang mewakili variasi kondisi atmosfer, yaitu atmosfer bersih (k = 0,2), atmosfer moderat (k = 0,4), dan atmosfer kotor (k = 0,6), yang masing-masing menggambarkan tingkat transparansi atmosfer terhadap cahaya hilal.

Berdasarkan grafik tersebut terungkap bahwa nilai fungsi visibilitas untuk skenario kondisi atmosfer bersih dan moderat (diwakili dengan penggunaan nilai koefisien ekstingsi masing-masing 0,2 dan 0,4) telah berada pada nilai positif sejak sebelum Matahari terbenam. Dalam kerangka model Kastner, nilai visibilitas positif menunjukkan bahwa luminansi hilal secara teoretik telah melampaui luminansi langit latar belakang, sehingga kontras fotometrik antara hilal dan langit senja bernilai lebih dari satu. Kondisi ini mengindikasikan bahwa secara prinsip hilal telah berada dalam domain deteksi instrumen optik sejak awal interval pengamatan. Dengan kata lain, secara teoretik hilal sudah dapat dideteksi menggunakan teleskop bahkan pada fase senja yang sangat awal, selama posisinya masih berada di atas ufuk barat. Namun demikian, kualitas atmosfer tetap berperan penting dalam menentukan peluang keberhasilan pengamatan. Atmosfer yang lebih bersih memberikan waktu observasi yang lebih panjang bagi pengamat untuk mengidentifikasi hilal dibandingkan atmosfer moderat yang relatif lebih keruh. Untuk skenario atmosfer bersih, hilal diperkirakan masih dapat diamati dengan bantuan teleskop hingga sekitar 18 menit setelah Matahari terbenam di Sabang. Sementara itu, pada kondisi atmosfer moderat, nilai visibilitas masih bertahan pada nilai lebih dari 1 sampai dengan 6 menit pascaterbenam Matahari.

Walaupun demikian, nilai visibilitas yang positif tidak serta-merta berarti bahwa hilal dapat diamati dengan mudah oleh mata manusia. Sabit Bulan pada fase sangat muda setelah konjungsi memiliki ketebalan yang amat tipis serta tingkat kecerahan yang rendah, sehingga pengamatan dengan mata telanjang tetap menghadapi keterbatasan fisiologis sistem penglihatan manusia. Berdasarkan karakteristik kurva pada grafik, pengamatan hilal pada kasus ini tidak diprediksi dapat dilakukan dengan modus mata telanjang. Oleh karena itu, pengamatan praktis memerlukan bantuan instrumen optik seperti teleskop atau binokuler yang mampu meningkatkan kontras dan memperbesar citra sabit Bulan sehingga keberadaannya dapat dikenali dengan lebih jelas oleh pengamat.

Selain dukungan instrumen, keberhasilan pengamatan juga sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan observasi. Meskipun model Kastner memprediksi visibilitas positif pada beberapa skenario atmosfer, pengamatan nyata tetap memerlukan kondisi cuaca yang mendukung. Langit perlu berada dalam keadaan cerah tanpa liputan awan tebal di arah posisi hilal, dan medan pandang menuju ufuk barat sebaiknya bebas dari penghalang terestrial seperti gedung, perbukitan, maupun pegunungan. Hal ini penting mengingat posisi hilal pada awal senja umumnya masih relatif rendah di atas cakrawala, sehingga sedikit saja penghalang dapat menutup peluang pengamatan meskipun secara teoretik kontras fotometriknya telah memenuhi syarat.

Keandalan prediksi model Kastner dalam memprediksi visibilitas hilal juga telah diuji melalui berbagai klaim keberhasilan pengamatan yang tercatat sebagai rekor dunia (Utama, 2020). Model Kastner (1976) terbukti mampu memvalidasi sejumlah laporan penting, termasuk pengamatan hilal termuda berbantuan teleskop dengan umur sekitar 12 jam 23 menit serta elongasi sekitar 6°, maupun pengamatan hilal termuda dengan mata telanjang dengan umur sekitar 15 jam dan elongasi sekitar 7,6°. Selain itu, model ini juga mampu menjelaskan kasus pengamatan dengan jeda waktu terpendek antara terbenamnya Matahari dan Bulan (lag time). Kesesuaian antara prediksi model dan laporan observasional tersebut menunjukkan bahwa pendekatan fotometrik Kastner (1976) memiliki reliabilitas yang baik dalam memprediksi visibilitas hilal pada berbagai konfigurasi geometris Matahari–Bumi–Bulan, kondisi atmosfer lokal, serta lintang geografis pengamatan. Model Kastner (1976) yang untuk pertama kalinya diimplementasikan dalam prediksi visibilitas hilal oleh Utama dan Siregar (2013) kini juga telah diakomodasi dalam aplikasi hisab astronomis yang dikembangkan oleh Dewan Hisab dan Rukyat PP Persatuan Islam, yang mencakup perhitungan waktu salat, arah kiblat, almanak hijriah, dan gerhana. Program tersebut dapat diunduh melalui laman https://persis.or.id/kajian/read/link-update-hisab-astronomis.

Menarik untuk menantikan lahirnya rekor dunia dari Indonesia dalam pengamatan hilal pada Kamis, 19 Maret 2026 yang akan datang (umur Bulan 12 jam 1 menit dan elongasi toposentrik 5,4 °; bandingkan dengan rekor teleskopik dunia di atas), yang disimulasikan dalam Gambar 2. Mengikuti kriteria MABIMS baru yang diberlakukan sejak 2022 dan menggunakan klausul tinggi hilal (toposentrik) minimal 3° serta elongasi (geosentrik) minimal 6,4°, posisi Bulan di Sabang nanti memiliki tinggi (toposentrik) 3,1° dan elongasi (geosentrik) 6,1° (setara dengan elongasi toposentrik 5,4°). Dengan demikian, nilai elongasi Bulan faktual hanya terpaut lebih rendah sekitar 0,3° saja dari batas minimal yang dipersyaratkan sebagai indikator visibilitas. Apabila terdapat kesaksian pengamatan hilal di bawah sumpah yang juga berhasil didokumentasikan, laporan yang disertai bukti otentik tersebut berpotensi memengaruhi dinamika pengambilan keputusan dalam sidang isbat yang dipimpin oleh Menteri Agama. Di sisi lain, citra hilal yang berhasil direkam juga akan memiliki nilai ilmiah yang tinggi bagi perkembangan astronomi pengamatan. Semoga langit Sabang bersahabat dan memberikan kesempatan bagi lahirnya rekor dunia baru dari Indonesia. Selamat menyambut tibanya Hari Raya Kemenangan. Semoga kita semua beroleh derajat takwa.

Pencarian