English
Indonesia

Hafidz Al-Qur’an Minimal 15 Juz Dapat Mendaftar Jalur SM PI UPI 2026

19 May 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) membuka kesempatan bagi siswa hafidz Al-Qur’an minimal 15 juz untuk mengikuti Seleksi Mandiri Prestasi Istimewa (SM-PI) Tahun 2026. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya UPI dalam memberikan apresiasi kepada calon mahasiswa yang memiliki prestasi unggul di bidang keagamaan.

Informasi tersebut tercantum dalam Panduan Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur Seleksi Mandiri Prestasi Istimewa UPI Tahun 2026 yang diterbitkan Direktorat Pendidikan UPI pada Mei 2026. Selain prestasi bidang keagamaan, jalur ini juga diperuntukkan bagi siswa yang memiliki prestasi akademik, olahraga, seni, desain, maupun karya teknologi monumental yang mendapat pengakuan masyarakat.

Dalam panduan tersebut dijelaskan bahwa calon peserta dengan prestasi hafidz Al-Qur’an minimal 15 juz wajib melampirkan sertifikat atau surat keterangan yang relevan serta mengikuti uji kinerja khusus sebagai bagian dari proses seleksi.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Penjaminan Mutu UPI, Vanessa Gaffar, menyampaikan bahwa jalur SM-PI bertujuan memberikan penghargaan kepada siswa yang memiliki prestasi istimewa sekaligus meningkatkan kualitas dan daya saing mahasiswa UPI di tingkat nasional maupun internasional.

“Seleksi Mandiri Calon Mahasiswa Baru Berdasarkan Prestasi Istimewa diperlukan Universitas Pendidikan Indonesia untuk meningkatkan perolehan prestasi akademik dan non-akademik mahasiswa UPI pada tingkat nasional maupun internasional,” demikian tertulis dalam pengantar panduan SM-PI UPI 2026.

Selain Siswa hafidz Al-Qur’an, siswa yang memiliki prestasi karya seni atau teknologi monumental yang mendapatkan pengakuan masyarakat, atau siswa yang memperoleh medali dalam bidang akademik maupun non-akademik pada kompetisi tingkat kabupaten/kota, provinsi, nasional dan internasional seperti peraih medali Olimpiade juga mempuanyai kesempatan yang sama untuk mengikuti Seleksi Mandiri Prestasi Istimewa (SM-PI) Tahun 2026.

Pendaftaran jalur SM-PI UPI 2026 dilaksanakan secara daring melalui laman admisi.upi.edu mulai 18 Mei hingga 3 Juli 2026. Peserta hanya dapat memilih satu program studi yang relevan dengan prestasi yang dimiliki dan diakuinya.

UPI menyediakan berbagai pilihan program studi pada jalur SM-PI, baik di kampus utama Bumi Siliwangi Bandung maupun kampus daerah di Cibiru, Sumedang, Purwakarta, Tasikmalaya, dan Serang. Untuk program studi tertentu, peserta juga diwajibkan mengikuti ujian keterampilan dan wawancara.

Pelaksanaan Tes Kecerdasan dan Motivasi Berprestasi dijadwalkan berlangsung pada 13–14 Juli 2026 secara luring di Kampus UPI Bandung. Sementara ujian keterampilan dan wawancara, termasuk ujian keterampilan tahfidz, akan dilaksanakan pada 15–17 Juli 2026. Khusus ujian tahfidz Al-Qur’an, pelaksanaan dilakukan di Gedung Direktorat Pendidikan UPI.

Melalui jalur SM-PI 2026, UPI berharap dapat membuka akses pendidikan tinggi yang lebih inklusif bagi siswa berprestasi di berbagai bidang, termasuk bidang keagamaan, sekaligus memperkuat karakter dan kompetensi lulusan di lingkungan kampus. (RK)

UPI Buka Tiga Jalur Seleksi Mandiri 2026, Perluas Akses Calon Mahasiswa Berprestasi

19 May 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali membuka penerimaan mahasiswa baru melalui tiga jalur Seleksi Mandiri (SM) Tahun 2026, yakni Seleksi Mandiri Reguler, Seleksi Mandiri Berdasarkan Nilai Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), dan Seleksi Mandiri Prestasi Istimewa (SM-PI). Ketiga jalur tersebut diselenggarakan untuk memberikan kesempatan yang lebih luas kepada calon mahasiswa berpotensi tinggi agar dapat melanjutkan pendidikan di UPI.

Melalui panduan resmi yang diterbitkan Direktorat Pendidikan UPI, Seleksi Mandiri UPI 2026 dirancang untuk menjaring calon mahasiswa unggul dari berbagai latar belakang akademik maupun nonakademik. Jalur Seleksi Mandiri Reguler menggunakan kombinasi tes psikologis bidang minat, tes potensi skolastik, literasi bahasa, dan penalaran matematika. Sementara itu, jalur SM berbasis nilai UTBK menggunakan hasil UTBK-SNBT 2026 sebagai dasar utama seleksi.

Adapun jalur Seleksi Mandiri Prestasi Istimewa diperuntukkan bagi siswa yang memiliki prestasi akademik maupun nonakademik, termasuk bidang olahraga, seni, desain, teknologi, hingga keagamaan. Jalur ini juga memberikan kesempatan bagi siswa dengan karya monumental atau hafidz Al-Qur’an minimal 15 juz untuk mengikuti seleksi masuk UPI.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Penjaminan Mutu UPI, Vanessa Gaffar, dalam pengantar panduan Seleksi Mandiri menyampaikan bahwa pelaksanaan Seleksi Mandiri UPI 2026 menjadi bagian dari upaya universitas dalam mendukung transformasi pendidikan tinggi nasional yang lebih inklusif dan adaptif.

Seleksi Mandiri UPI juga ditujukan untuk memfasilitasi calon mahasiswa yang memiliki potensi tinggi namun belum berhasil lolos pada jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) maupun SNBT. Melalui jalur ini, UPI berharap dapat memberikan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk memperoleh akses pendidikan tinggi berkualitas.

Program studi yang ditawarkan mencakup berbagai bidang keilmuan di kampus utama UPI Bumi Siliwangi Bandung maupun lima kampus daerah UPI di Cibiru, Sumedang, Purwakarta, Tasikmalaya, dan Serang. Beberapa program studi juga mensyaratkan ujian keterampilan, wawancara, atau kemampuan khusus sesuai karakteristik bidang ilmu yang dipilih.

Pendaftaran Seleksi Mandiri UPI 2026 dilaksanakan secara daring melalui laman https://admisi.upi.edu/ Untuk jalur Seleksi Mandiri Reguler, proses pendaftaran dibuka mulai 18 Mei hingga 3 Juli 2026.

Melalui pelaksanaan Seleksi Mandiri 2026, UPI berharap dapat terus menghadirkan akses pendidikan tinggi yang inklusif sekaligus memperkuat kualitas lulusan yang unggul, adaptif, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional. (RK)

UPI Bersama Positive Technologies Rusia Jalin Kerjasma Bidang Keamanan Siber

18 May 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memperkuat kerja sama internasional di bidang keamanan siber melalui kolaborasi dengan perusahaan keamanan siber asal Rusia, Positive Technologies, bersama sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya pengembangan talenta digital dan penguatan riset keamanan siber di lingkungan perguruan tinggi.

Berdasarkan Siaran pers Positive Technologies yang diterima di Jakarta, Jumat. Kolaborasi ini diumumkan dalam agenda penandatanganan kerja sama yang melibatkan enam perguruan tinggi Indonesia dan Positive Technologies pada Mei 2026. Program tersebut difokuskan pada pengembangan sumber daya manusia bidang cyber security melalui riset bersama, pertukaran mahasiswa dan dosen, serta penguatan kapasitas akademik di bidang teknologi informasi.

Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian, dan Kemitraan UPI, Agus Setiabudi, menyampaikan bahwa kerja sama internasional ini membuka peluang strategis bagi pengembangan pendidikan dan penelitian UPI, khususnya di bidang keamanan siber yang saat ini menjadi kebutuhan global.

“UPI harus mulai melihat Rusia sebagai tujuan strategis kerja sama dalam bidang pendidikan dan penelitian. Selain kemajuan teknologi, universitas di Rusia juga sangat bermutu, menempati ranking tinggi, dan terbuka terhadap Indonesia,” ujarnya.

Menurut Prof. Dr. Agus Setiabudi, M.Si., kolaborasi tersebut juga memberikan peluang konkret bagi sivitas akademika UPI untuk memperluas jejaring akademik internasional melalui program pertukaran dan penelitian bersama.

“Khusus di bidang cyber security, kesempatan sudah terbuka untuk kerja sama riset, staf exchange, dan student exchange melalui kerja sama dengan perusahaan cyber security Positive Technologies dan beberapa perguruan tinggi di sana,” katanya.

Kerja sama ini hadir di tengah meningkatnya ancaman siber yang memerlukan kesiapan sumber daya manusia dengan kompetensi digital yang kuat. Perguruan tinggi dinilai memiliki peran penting dalam menyiapkan talenta keamanan siber yang mampu menjawab tantangan transformasi digital nasional maupun global.

Melalui kolaborasi tersebut, mahasiswa dan dosen diharapkan dapat memperoleh akses terhadap pengembangan teknologi terkini, pelatihan keamanan siber, serta peluang penelitian lintas negara yang relevan dengan kebutuhan industri digital masa depan.

UPI menilai kerja sama internasional di bidang teknologi dan keamanan siber sejalan dengan komitmen universitas dalam memperkuat inovasi, riset, dan pengembangan kompetensi global sivitas akademika. Selain mendukung peningkatan kualitas pendidikan tinggi, kemitraan ini juga diharapkan mampu memperluas kontribusi UPI dalam pengembangan ekosistem digital yang aman dan berkelanjutan di Indonesia. (RK)

Workshop Interpreter Lag Analyzer Dorong Inovasi Penelitian Penjurubahasaan Berbasis AI di UPI

18 May 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Tim penelitian penjurubahasaan (interpreting) menggelar workshop pengembangan mesin berbasis Artificial Intelligence (AI) guna menghadirkan terobosan baru dalam riset penjurubahasaan di Indonesia. Workshop yang dipimpin oleh Susi Septaviana Rahmawati, Ph.D. ini berfokus pada pengembangan Interpreter Lag Analyzer, sebuah perangkat cerdas berbasis AI yang dirancang untuk menganalisis interpreter lag atau Ear Voice Span (EVS) secara otomatis dalam praktik penjurubahasaan simultan. Inovasi ini diharapkan mampu membantu peneliti dan calon juru bahasa memahami beban kognitif, akurasi, serta performa interpreting secara lebih cepat dan presisi melalui dukungan teknologi modern seperti Python, Tkinter, speech recognition, dan OpenAI Whisper. Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian strategis yang didanai oleh Program BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek).

Workshop tersebut merupakan bagian dari pengembangan penelitian tahun kedua mengenai pemanfaatan Computer-Assisted Interpreting (CAI) berbasis Automatic Speech Recognition (ASR) untuk menginvestigasi beban kognitif mahasiswa dalam praktik penjurubahasaan simultan. Penelitian ini tidak hanya berupaya menghasilkan kontribusi akademik berupa publikasi internasional bereputasi, tetapi juga mendorong lahirnya inovasi teknologi yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran interpreting di Indonesia.

Kegiatan workshop menghadirkan Diki Fahrizal sebagai pemateri utama. Diki Fahrizal dikenal sebagai Software and AI Engineer dari Bandung Society for Informatics, Electrical Engineering, and Robotics (BSIEER), sebuah komunitas dan organisasi yang aktif bergerak dalam pengembangan teknologi informatika, kecerdasan buatan, teknik elektro, dan robotika. Selain aktif mengembangkan berbagai proyek berbasis AI dan rekayasa perangkat lunak, saat ini Diki juga sedang menempuh studi Magister Teknik Elektro (STEI) di Institut Teknologi Bandung.

Workshop ini diikuti oleh sejumlah dosen dan peneliti lintas program studi di lingkungan UPI, yaitu Dr. Ruswan Dallyono, M.Pd. dari Program Studi Linguistik UPI, Susi Septaviana Rakhmawati, Ph.D. dari Program Studi Sastra Inggris UPI, serta Dewi Kusrini, M.Pd., M.A. dari Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang UPI. Dalam penelitian ini, Susi Septaviana Rakhmawati bertindak sebagai ketua tim penelitian yang mengoordinasikan pengembangan model pembelajaran interpreting berbasis CAI-ASR dan investigasi beban kognitif dalam penjurubahasaan simultan.

Dalam workshop tersebut, peserta tidak hanya mendiskusikan teori mengenai Ear Voice Span (EVS) dan beban kognitif interpreter, tetapi juga mempelajari secara langsung rancangan perangkat lunak Interpreter Lag Analyzer yang sedang dikembangkan. Sistem ini dirancang menggunakan bahasa pemrograman Python dengan antarmuka grafis (Graphical User Interface/GUI) berbasis Tkinter. Pemanfaatan Tkinter dipilih karena ringan, fleksibel, dan efektif untuk membangun aplikasi desktop penelitian yang interaktif dan mudah digunakan oleh peneliti maupun mahasiswa.

Selain itu, perangkat lunak ini mengintegrasikan teknologi speech recognition dan transkripsi otomatis menggunakan OpenAI Whisper. Teknologi Whisper digunakan untuk melakukan transkripsi otomatis terhadap ujaran bahasa sumber dan bahasa sasaran dalam proses interpreting. Dengan dukungan model transkripsi berbasis AI tersebut, sistem mampu mendeteksi waktu masuknya ujaran secara lebih presisi sehingga proses penghitungan interpreter lag atau EVS dapat dilakukan secara otomatis dan lebih akurat.

Dalam penjelasannya, Diki Fahrizal menerangkan bahwa integrasi OpenAI Whisper menjadi salah satu komponen penting dalam pengembangan perangkat ini karena model tersebut memiliki kemampuan pengenalan ujaran (speech recognition) yang cukup stabil untuk berbagai kondisi audio dan aksen penutur.

“Melalui OpenAI Whisper, sistem dapat melakukan transkripsi otomatis secara lebih efisien. Dari hasil transkripsi itulah kemudian sistem menghitung selisih waktu antara ujaran sumber dan hasil interpreting untuk memperoleh data EVS,” jelasnya.

Pengembangan perangkat ini juga memanfaatkan teknologi speech-to-text untuk merekam dan memetakan sinkronisasi antara input audio dan output interpretasi. Dengan demikian, peneliti dapat memperoleh data kuantitatif mengenai jeda interpreting secara lebih objektif dibandingkan metode observasi manual yang selama ini memerlukan proses analisis audio-video secara panjang dan melelahkan.

Workshop ini secara khusus membahas bagaimana AI dapat diterapkan untuk mendukung riset linguistik dan penjurubahasaan modern. Para peserta diperkenalkan pada alur kerja perangkat lunak mulai dari perekaman audio, proses transkripsi menggunakan Whisper, analisis timestamp, hingga visualisasi data EVS pada antarmuka GUI berbasis Tkinter.

Dalam workshop tersebut, Diki Fahrizal juga menjelaskan bahwa perkembangan teknologi AI telah membuka peluang baru dalam bidang linguistik, penerjemahan, dan penjurubahasaan. Jika sebelumnya aktivitas interpreting sangat bergantung pada kemampuan manusia secara penuh, kini berbagai perangkat berbasis AI mulai hadir untuk membantu juru bahasa dalam mengelola informasi secara cepat dan efisien. Namun demikian, menurutnya, integrasi teknologi dalam interpreting bukan hanya persoalan efisiensi, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana manusia memproses informasi secara kognitif.

“Interpreter bekerja dalam situasi yang sangat kompleks. Mereka mendengar, memahami, mengingat, dan memproduksi ujaran dalam waktu hampir bersamaan. Di sinilah AI dapat membantu, tetapi sekaligus juga bisa menambah beban kognitif jika tidak dirancang dengan baik,” jelas Diki dalam sesi pemaparannya.

Workshop ini secara khusus membahas pengembangan Interpreter Lag Analyzer, yaitu perangkat yang dirancang untuk mengukur Ear Voice Span (EVS) secara otomatis. EVS merupakan jeda waktu antara saat seorang juru bahasa mendengar ujaran dalam bahasa sumber dan saat ia menyampaikan interpretasi dalam bahasa sasaran. Dalam kajian interpreting, EVS dipandang sebagai salah satu indikator penting untuk memahami tingkat beban kognitif seorang interpreter. Semakin panjang jeda EVS, semakin besar kemungkinan interpreter mengalami tekanan pemrosesan informasi yang lebih berat.

Selama ini, pengukuran EVS sering dilakukan secara manual melalui observasi audio dan video, yang memerlukan waktu lama dan proses analisis yang kompleks. Oleh karena itu, pengembangan Interpreter Lag Analyzer berbasis AI menjadi langkah penting untuk menghadirkan proses analisis yang lebih cepat, akurat, dan sistematis.

Melalui workshop tersebut, peserta diperkenalkan pada mekanisme kerja sistem yang memanfaatkan teknologi Automatic Speech Recognition (ASR) dan speech-to-text. Teknologi ini memungkinkan sistem mendeteksi ujaran bahasa sumber dan bahasa sasaran secara otomatis, kemudian menghitung selisih waktu di antara keduanya untuk menghasilkan data EVS secara real-time.

Dalam penjelasannya, Diki Fahrizal menekankan bahwa pengembangan perangkat ini tidak hanya berorientasi pada aspek teknis pemrograman, tetapi juga membutuhkan pemahaman kuat mengenai linguistik, interpreting, dan perilaku kognitif manusia. Karena itu, kolaborasi lintas disiplin menjadi sangat penting.

“Pengembangan AI modern tidak bisa dilakukan secara terisolasi. Dalam proyek seperti ini, kita membutuhkan sinergi antara ahli bahasa, peneliti pendidikan, dan engineer. Teknologi harus dibangun berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan,” ungkapnya.

Penelitian yang menjadi dasar workshop ini merupakan bagian dari skema Penelitian Dasar yang berfokus pada pengembangan model pembelajaran penjurubahasaan berbasis teknologi. Penelitian tahun kedua ini melanjutkan studi sebelumnya yang meneliti juru bahasa profesional, dan kini diarahkan pada mahasiswa yang sedang mempelajari penjurubahasaan simultan.

Workshop pengembangan Interpreter Lag Analyzer menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung proses pengumpulan dan analisis data penelitian tersebut. Melalui pelatihan ini, tim peneliti dan peserta memperoleh pemahaman teknis mengenai bagaimana membangun sistem pengukuran EVS berbasis AI yang mampu bekerja secara lebih objektif dan otomatis.

Selain aspek teknis, workshop juga menjadi ruang diskusi mengenai tantangan penggunaan AI dalam pendidikan bahasa. Para peserta mendiskusikan kemungkinan munculnya ketergantungan terhadap teknologi, perubahan strategi kognitif mahasiswa, hingga pentingnya desain antarmuka yang ergonomis agar teknologi benar-benar membantu proses interpreting dan bukan justru menambah tekanan mental pengguna.

Dalam proposal penelitian disebutkan bahwa penggunaan CAI memang memberikan dukungan terminologis dan visual bagi interpreter, namun pada saat yang sama juga dapat meningkatkan tuntutan multitasking dan perhatian visual. Karena itu, penelitian ini menjadi penting untuk memahami bagaimana teknologi dapat diintegrasikan secara efektif dalam pembelajaran penjurubahasaan.

Tim peneliti berharap pengembangan Interpreter Lag Analyzer nantinya tidak hanya bermanfaat untuk kepentingan riset, tetapi juga dapat digunakan sebagai perangkat pembelajaran interpreting di perguruan tinggi. Dengan adanya sistem analisis EVS otomatis, mahasiswa dapat memperoleh umpan balik lebih cepat mengenai performa interpreting mereka, termasuk bagaimana mereka mengelola jeda interpretasi, akurasi, dan kelancaran ujaran. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan model pembelajaran penjurubahasaan berbasis CAI-ASR yang adaptif, lengkap dengan perangkat pembelajaran seperti RPP, LKPD, bahan ajar, dan skenario pembelajaran.

Melalui dukungan pendanaan dari Program BIMA Kemdiktisaintek, penelitian ini menjadi salah satu contoh bagaimana kolaborasi antara pendidikan tinggi, teknologi AI, dan riset interdisipliner dapat menghasilkan inovasi yang berdampak luas. Dukungan tersebut memungkinkan pelaksanaan penelitian, pengembangan perangkat, pelatihan, pengumpulan data, hingga publikasi hasil penelitian pada jurnal internasional bereputasi. (Ruswan Dallyono)

Meissye Herliani Sukses Ikuti Rangkaian “Nextgen Leadersphere 4.0: Rindang Sayang 2.0” di Malaysia

18 May 2026 • Humas UPI

Malaysia, UPI

Meissye Herliani, mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Mesin, Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri (FPTI) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), sukses melaksanakan kolaborasi internasional bertajuk “Nextgen Leadersphere 4.0: Rindang Sayang 2.0” di Malaysia, pada 7–11 Mei 2026.

Program yang menggandeng dua universitas mitra, yaitu Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) dan Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) ini, digelar sebagai upaya nyata mewujudkan internasionalisasi mahasiswa sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya pada poin SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Rangkaian kegiatan dimulai pada Jumat (08/05/2026) di kampus USIM. Delegasi UPI diterima secara resmi oleh pimpinan USIM dalam acara pembukaan, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi pengenalan budaya antar-mahasiswa serta orientasi fasilitas akademik. Sesi ini dirancang untuk membangun pemahaman lintas budaya dan menjajaki kerja sama akademik.

Selanjutnya, pada Sabtu (09/05/2026), kegiatan bergeser ke aspek sosial melalui pengabdian masyarakat di Kampung Lonek, Negeri Sembilan. Di lokasi tersebut, delegasi FPTI UPI terlibat langsung dalam pelestarian kearifan lokal seperti teknik mengumpil padi dan pembuatan dodol tradisional. Selain interaksi budaya lewat tradisi “mengoca ikan”, delegasi juga menyalurkan bantuan makanan kepada masyarakat setempat yang kurang mampu.

Agenda hari ketiga, Minggu (10/05/2026), dilanjutkan dengan kunjungan ke kampus UPSI di Tanjong Malim. Kegiatan utama difokuskan pada sesi benchmarking organisasi mahasiswa bersama Majlis Perwakilan Pelajar (MPP) UPSI untuk membahas tata kelola organisasi internasional dan kepemimpinan adaptif. Selain itu, delegasi juga meninjau sarana prasarana pendidikan di UPSI sebagai bahan studi banding pengembangan kemahasiswaan di lingkungan FPTI UPI.

Keberhasilan program internasional ini tidak lepas dari sinergi dan dukungan penuh pihak rektorat dan fakultas. Meissye menyampaikan apresiasi tertingginya kepada jajaran pimpinan UPI yang telah memfasilitasi program ini.

“Dukungan penuh dari Bapak WR 5 (Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Bisnis), Kepala Divisi Kemitraan Internasional, Bapak Dekan FPTI, dan Bapak Kaprodi menjadi pilar utama kesuksesan perjalanan ini. Pengalaman ini memberikan perspektif baru bagi saya untuk terus berkontribusi bagi almamater,” ujar Meissye.

Program ini diharapkan dapat memperkuat posisi UPI di kancah global serta mempererat hubungan bilateral antar-perguruan tinggi di kawasan Asia Tenggara. (DN)

Pencarian