English
Indonesia

Prof. Muhammad Nu’man Somantri: Ilmiah, Edukatif, dan Religius

18 May 2026 • Humas UPI

Dinn Wahyudin

Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Pendidikan Indonesia

Enam tahun telah berlalu, tepatnya 3 Mei 2020 Prof. Dr (HC) Muhammad Nu’man Somantri (Rektor IKIP Bandung, sekarang UPI) wafat menghadap Sang Khalik. Jejak pemikiran, keteladanan, dan pengabdiannya dalam dunia pendidikan Indonesia tetap hidup dan relevan hingga saat ini. Sebagai akademisi, guru besar, sekaligus mantan Rektor IKIP Bandung, almarhum  meninggalkan warisan intelektual dan moral yang tidak hanya tercermin dalam gagasan pendidikan yang humanis, tetapi juga dalam nilai-nilai kepemimpinan (leadership value) yang ilmiah, edukatif, dan religius.

Tulisan ini mudah mudahan dipandang sebagi ikhtiar kecil untuk mengenang sekaligus meneladani pemikiran Prof. Nu’man Somantri, yang memandang pendidikan bukan sekadar proses akademik, melainkan jalan membentuk manusia yang berkarakter, berintegritas, dan bertanggung jawab terhadap masyarakat, bangsa, dan Allah SWT. Warisan beliau tidak hanya tersimpan dan dikenang dalam buku dan kebijakan pendidikan, tetapi juga tetap hidup menginspirasi dalam budaya akademik, semangat pengabdian, dan inspirasi yang terus hidup di tengah civitas akademika Universitas Pendidikan Indonesia dan dunia pendidikan Indonesia.

Muhammad Nu’man Somantri merupakan salah satu tokoh penting dalam dunia pendidikan Indonesia, khususnya dalam pengembangan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Beliau dikenal sebagai akademisi, pemikir, sekaligus praktisi pendidikan yang konsisten memperjuangkan pendidikan yang humanis, kontekstual, dan berorientasi pada pembentukan karakter. Gagasannya tidak hanya berpengaruh dalam pengembangan kurikulum, tetapi juga dalam membangun paradigma pendidikan yang menempatkan manusia sebagai pusatnya. Pemikiran beliau tetap relevan hingga kini, terutama dalam menghadapi tantangan pendidikan di era globalisasi dan perubahan sosial yang cepat.

Sebagai Rektor IKIP Bandung, beliau dikenal sebagai sosok yang tegas dalam prinsip namun humanis dalam pendekatan. Ketegasan beliau tercermin, misalnya, dalam komitmennya menegakkan disiplin akademik dan integritas kelembagaan. Ia mendorong agar kampus tidak sekadar menjadi tempat belajar, tetapi menjadi ruang pembentukan karakter ilmiah yang bertanggung jawab. Dalam berbagai kesaksian civitas akademika, beliau tidak ragu mengambil keputusan strategis yang mungkin tidak populer—seperti penertiban administrasi akademik, penguatan standar mutu pengajaran, termasuk memberikan sanksi kepada dosen, tenaga kependidikan atau mahasiswa yang melakukan pelanggaran.

Namun, ketegasan tersebut tidak menjadikan beliau sosok yang kaku. Ia juga dikenal memiliki sisi humanis dan humoris yang khas, terutama dalam interaksi akademik sehari-hari. Dalam forum-forum ilmiah maupun perkuliahan, beliau kerap menyisipkan humor cerdas yang kontekstual, bukan sekadar untuk mencairkan suasana, tetapi juga sebagai strategi pedagogis untuk mendorong refleksi kritis mahasiswa.

Ungkapan humor yang beliau gunakan sering kali bersifat “satir akademik”—menyentil praktik pendidikan yang terlalu formalistik atau hafalan, sehingga peserta didik terdorong berpikir lebih mendalam. Dalam beberapa kesempatan, beliau kerap menyisipkan candaan edukatif untuk mencairkan suasana diskusi ilmiah. Salah satu gaya beliau adalah mengingatkan dosen dan mahasiswa agar tidak terlalu serius “mengejar gelar tetapi lupa belajar.” Dengan nada ringan beliau pernah menyampaikan bahwa “kampus jangan sampai hanya melahirkan sarjana yang pandai berbicara, tetapi bingung ketika diminta memecahkan persoalan masyarakat.” Humor-humor seperti itu justru memperlihatkan karakter beliau sebagai pendidik humanis yang dekat dengan mahasiswa dan kolega. Di tengah ketegasannya terhadap disiplin ilmu dan moral akademik, terselip kehangatan dan kearifan yang membuat gagasannya terasa hidup, membumi, dan mudah diterima.

Legacy Pemikiran

Catatan berikut merupakan bagian kecil dari legacy pemikiran Prof. Nu’man Somantri dalam membangun pendidikan Indonesia. Gagasan Prof. Nu’man Somantri dapat dipandang sebagai warisan intelektual yang terus relevan bagi pengembangan pendidikan Indonesia.

Pertama, penggagas ”Pembaharuan Pendidikan IPS”. Salah satu mahakarya penting yang pernah ditulis Prof Nu’man Somantri yaitu perlunya reformasi pembelajaran IPS agar lebih kontekstual, kritis, dan relevan dengan kehidupan masyarakat. Ia mengkritik pendekatan hafalan dan mendorong IPS sebagai sarana membentuk kesadaran sosial dan kemampuan berpikir kritis.

Gagasan ini diterapkan melalui pembelajaran berbasis isu sosial, misalnya siswa diminta menganalisis masalah kemiskinan di lingkungan sekitar, melakukan wawancara sederhana, lalu merumuskan solusi. Model ini menggantikan pola lama yang hanya menghafal definisi tanpa memahami realitas sosial yang sebenarnya.

Kedua, pencetus “Perspektif Pendidikan IPS”. Sebagai seorang guru besar pada Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan (PKN), beliau menulis secara komprehensif landasan filosofis, sosiologis, dan pedagogis pendidikan IPS. Karya buku ini banyak dijadikan rujukan dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran IPS di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan sampai sekarang.  Buku ini membantu calon guru merancang pembelajaran yang tidak hanya berisi materi, tetapi juga tujuan nilai dan sikap. Misalnya, ketika mengajarkan topik keberagaman budaya, guru tidak hanya menjelaskan fakta, tetapi juga merancang diskusi untuk menumbuhkan toleransi dan empati antar siswa.

Ketiga, pelopor “Pembaharuan Pendidikan IPS”.  Buku ini merupakan salah satu karya penting yang menekankan perlunya reformasi pembelajaran IPS agar lebih kontekstual, kritis, dan relevan dengan kehidupan masyarakat. Prof. Somantri mengkritik pendekatan hafalan dan mendorong IPS sebagai sarana membentuk kesadaran sosial dan kemampuan berpikir kritis. Gagasan dalam buku ini dapat diterapkan melalui pembelajaran berbasis isu sosial, misalnya siswa diminta menganalisis masalah kemiskinan di lingkungan sekitar, melakukan wawancara sederhana, lalu merumuskan solusi. Model ini menggantikan pola lama yang hanya menghafal definisi tanpa memahami realitas sosial yang sebenarnya.

Keempat, penggagas “Pendidikan IPS sebagai Disiplin Ilmu dan Program Pendidikan”. Pemikirannya menjelaskan posisi IPS tidak hanya sebagai mata pelajaran, tetapi juga sebagai disiplin ilmu yang memiliki struktur keilmuan yang jelas. Ia menegaskan integrasi berbagai ilmu sosial, seperti sejarah, geografi, ekonomi, dan sosiologi dalam kerangka pendidikan ilmu sosial.

Contoh konkretnya adalah dalam satu tema “perubahan sosial”, siswa diajak melihat dari berbagai perspektif: sejarah (perkembangan masyarakat), geografi (pengaruh lingkungan), ekonomi (perubahan mata pencaharian), dan sosiologi (perubahan pola interaksi). Pendekatan terpadu ini membuat pembelajaran lebih utuh dan bermakna.

 Kelima, tokoh yang tangguh dalam menyuarakan “Inovasi Pendidikan IPS”.  Prof. Somantri sangat produktif menulis makalah dan artikel ilmiah yang membahas inovasi pembelajaran IPS, termasuk pendekatan kontekstual, pembelajaran berbasis masalah, dan pendidikan nilai dalam IPS. Karya-karya ini berpengaruh dalam praktik pendidikan di sekolah dan kebijakan kurikulum nasional. Secara konkret, inovasi yang ditawarkan dapat berupa penggunaan metode project-based learning, seperti siswa membuat peta sosial desa atau kota mereka, mengidentifikasi masalah, dan mempresentasikan solusi. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep, tetapi juga keterampilan kolaborasi dan komunikasi bagi para mahasiswa yang dibimbingnya.

Keenam, Prof. Muhammad Nu’man Somantri juga dikenal sebagai penggagas moto Universitas Pendidikan Indonesia: “Ilmiah, Edukatif, dan Religius,” yang mencerminkan visi pendidikan tinggi yang utuh dan berimbang. Dalam pandangan beliau, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus membentuk insan yang memiliki kepedulian pedagogis dan landasan moral-spiritual yang kuat. “Ilmiah” berarti kampus harus menjunjung tinggi tradisi berpikir kritis, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan secara objektif dan rasional. “Edukatif” menegaskan bahwa seluruh aktivitas akademik harus bernilai mendidik, membangun karakter, dan memanusiakan manusia. “Religius” menunjukkan pentingnya nilai-nilai keimanan, etika, dan tanggung jawab moral dalam kehidupan akademik maupun sosial. Melalui moto tersebut, Prof. Somantri ingin menegaskan bahwa pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang mampu memadukan kecerdasan intelektual, kematangan pedagogis, dan keluhuran akhlak, sehingga melahirkan lulusan yang tidak hanya kompeten, tetapi juga bijaksana dan berintegritas dalam mengabdi kepada masyarakat dan bangsa.  Beliau juga merupakan salah seorang Pembina Mesjid Al-Furqon Universitas Pendidikan Indonesia.

Ketujuh, Prof. Muhammad Nu’man Somantri juga dikenal memiliki kepedulian yang besar terhadap bidang seni dan kebudayaan sebagai bagian penting dari pendidikan manusia seutuhnya. Beliau meyakini bahwa pendidikan tidak hanya membangun kecerdasan intelektual, tetapi juga harus mengembangkan kehalusan rasa, kreativitas, dan identitas budaya bangsa. Kepedulian tersebut tercermin melalui dukungannya terhadap berbagai aktivitas seni, termasuk keterlibatannya dalam pengembangan kelompok seni “Kabumi” yang menghadirkan perpaduan nilai budaya, pendidikan, dan ekspresi artistik. Melalui berbagai pagelaran seni dan budaya, karya-karya yang didukung dan diinspirasi oleh semangat beliau bahkan tampil hingga ke mancanegara, menjadi media diplomasi budaya (a vehicle for cultural diplomacy) sekaligus sarana memperkenalkan kekayaan seni Indonesia kepada dunia. Dalam pandangan beliau, seni bukan sekadar hiburan, melainkan wahana pendidikan karakter, penguatan jati diri bangsa, dan jembatan dialog antarbudaya yang memperkaya kemanusiaan.

Itulah sekilas jejak sunyi almarhum Prof.Muhammad Nu’man Somantri sebagai seorang akademisi, pemikir, sekaligus praktisi pendidikan yang konsisten memperjuangkan pendidikan yang humanis, kontekstual, dan berorientasi pada pembentukan karakter. Dalam pengkhidmatan yang tulus tanpa henti itulah, ia menemukan jalan pulang menuju Sang Khalik. Semoga Almarhum Prof. Muhammad Nu’man Somantri telah berada dengan tenang di Alam Barzah, di tempat yang sangat dimuliakan Allah SWT. Bisikan do’a terus mengalir: Allahummaghfir lahu, warhamhu, wa’afihi, wa’fuanhu. Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sejahterakanlah dan maafkanlah dia. Aamiin Ya Mujibasaillin.

Mahasiswa UPI Terima Hibah Bantuan Belajar dari BRI untuk Dukung Aktivitas Akademik

13 May 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Lima mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menerima hibah bantuan belajar berupa laptop dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) kegiatan serah terima hibah berlangsung di Ruang Rapat Gedung Rektorat UPI, Bandung, Rabu (13/5/2026). Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk dukungan terhadap kebutuhan pembelajaran dan pengembangan akademik mahasiswa.

Mahasiswa penerima bantuan berasal dari berbagai program studi dan kampus daerah UPI, yaitu Syifa Nur Hanasah dari Program Studi Sistem Informasi Kelautan Kampus UPI Serang, Elizabeth dari Pendidikan Bahasa Inggris, Gresiya Stefani Hutasoit dari Program Studi Matematika, Alfin Badru Zaman dari Pendidikan Agama Islam (PAI), serta Fikri Al Farros dari Program Studi Industri Pariwisata.

Kegiatan penyerahan hibah dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Bisnis UPI, Prof. Yudi Sukmayadi., Dalam sambutannya, Prof. Yudi Sukmayadi menyampaikan apresiasi kepada BRI atas dukungan yang diberikan kepada mahasiswa UPI melalui program bantuan belajar tersebut.

“Terima kasih kepada BRI yang telah memberikan kepedulian kepada mahasiswa UPI melalui pemberian hibah laptop. Ini semakin mengeratkan dukungan kerja sama kedua lembaga,” ujarnya.

Ia berharap bantuan ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh mahasiswa untuk mendukung peningkatan kualitas diri, prestasi akademik, maupun kegiatan nonakademik. Menurutnya, kolaborasi dengan berbagai mitra juga menjadi bagian dari upaya universitas dalam memperkuat pengembangan prestasi mahasiswa di lingkungan kampus.

Perwakilan BRI Regional Funding Division Regional Office Bandung, Adhitya Sakti Bagus, menjelaskan bahwa program tersebut menjadi bagian dari penguatan hubungan kerja sama dengan mahasiswa melalui layanan transaksi digital.

“Kami ingin menunjukkan bahwa BRI sudah melek digital. Jadi, jika teman-teman mahasiswa banyak melakukan transaksi di BRI, ternyata ada reward juga yang bisa didapatkan,” katanya.

Salah seorang penerima bantuan, Elizabeth dari Prodi Bahasa Inggris UPI, mengungkapkan bahwa laptop yang diterimanya akan digunakan untuk mendukung penyusunan proposal tesis. Bantuan tersebut dinilai sangat membantu karena perangkat yang sebelumnya digunakan mengalami kerusakan.

“Laptop yang lama rusak, jadi bantuan dari BRI ini sangat membantu sekali karena saya sedang dalam proses menyusun proposal tesis,” ungkapnya.

Melalui program hibah bantuan belajar ini, UPI dan BRI berharap mahasiswa dapat memperoleh fasilitas yang lebih memadai dalam mendukung proses pembelajaran. Program tersebut juga menjadi bagian dari penguatan sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. (RK)

UPI Gelar Sosialisasi DPLK untuk Tingkatkan Kesejahteraan Pegawai

13 May 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar Sosialisasi Program Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) bagi Calon Pegawai Tetap (CPT) dan Pegawai Tetap (PT) di lingkungan universitas, Selasa (12/5/2026), di Gedung Achmad Sanusi, Kampus UPI, Jalan Dr. Setiabudi Nomor 229 Bandung.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya UPI dalam meningkatkan pemahaman pegawai mengenai perencanaan keuangan dan kesiapan finansial jangka panjang, khususnya dalam menghadapi masa pensiun.

Sosialisasi diikuti pegawai dari berbagai unit kerja di lingkungan UPI. Berdasarkan data panitia, sebanyak 451 peserta diundang, dengan 400 peserta hadir secara luring dan 37 peserta mengikuti kegiatan secara daring.

Acara dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Sistem Informasi UPI, Prof. Tri Indri Hardini. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa perhatian terhadap kesejahteraan pegawai menjadi salah satu faktor penting dalam membangun loyalitas dan produktivitas di lingkungan perguruan tinggi.

“UPI terus berupaya mewujudkan kesejahteraan pegawai dan pensiunan pegawai melalui berbagai proyeksi. Tabungan emas adalah salah satu cara untuk memastikan kesejahteraan pensiunan pegawai tetap terjaga,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa kesejahteraan pegawai yang baik akan berdampak pada tumbuhnya loyalitas terhadap institusi.

“Kesejahteraan pegawai adalah hal yang sangat penting sehingga dapat menumbuhkan loyalitas terhadap institusi. Jika ada pepatah, ‘belah dadaku, akan kau temukan UPI di dalamnya,’” katanya.

Melalui program DPLK, pegawai diberikan pemahaman mengenai manfaat dana pensiun sebagai instrumen perlindungan finansial jangka panjang. Program ini diharapkan dapat membantu pegawai mempersiapkan masa pensiun sekaligus menjadi pilihan investasi yang aman dan berkelanjutan.

Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh penjelasan mengenai mekanisme program, pengelolaan dana pensiun, hingga strategi investasi jangka panjang. Sesi diskusi juga dimanfaatkan peserta untuk berkonsultasi terkait perencanaan keuangan sesuai kebutuhan masing-masing.

Salah seorang peserta, Buyung Firmansyah, menyambut positif pelaksanaan sosialisasi tersebut. Menurutnya, program DPLK dapat membantu menjaga stabilitas nilai keuangan di tengah tantangan inflasi.

“Saya tertarik dengan program ini karena dapat membantu menjaga nilai uang dari inflasi,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, UPI berharap para pegawai semakin memahami pentingnya perencanaan keuangan sejak dini. Sosialisasi DPLK juga menjadi bagian dari komitmen universitas dalam mendukung kesejahteraan sumber daya manusia dan menciptakan lingkungan kerja yang produktif, adaptif, serta berkelanjutan. (RK)

Rektor UPI Soroti Peran DKM dalam Memakmurkan Masjid dan Pembinaan Mahasiswa

13 May 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Didi Sukyadi, menyoroti pentingnya peran Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dalam mendukung pembinaan keagamaan dan pemberdayaan masyarakat kampus. Hal tersebut disampaikan Rektor UPI seusai pelaksanakan Shalat Jumat di Masjid Al-Furqon UPI, Jalan Dr. Setiabudi Nomor 229 Bandung, Jumat (8/5/2026).

Dalam kesempatan tersebut, hadir pula Rektor Universitas Islam Nusantara (Uninus), Prof. Endang Komara, yang didapuk menjadi khatib dan imam Salat Jumat di Masjid Al-Furqon UPI.

Rektor UPI menjelaskan bahwa DKM Masjid Al-Furqon tidak hanya berfokus pada penyelenggaraan ibadah, tetapi juga aktif menjalankan program pendidikan dan pembinaan mahasiswa. Menurutnya, keberadaan masjid kampus memiliki fungsi strategis sebagai pusat pembelajaran dan penguatan karakter sivitas akademika.

“Saat ini kita punya sejumlah kegiatan yang tentunya dimaksudkan untuk memakmurkan Masjid Al-Furqon sebagai masjid kampus di Indonesia yang cukup megah,” ujarnya.

Ia menyebutkan bahwa salah satu program yang rutin dilaksanakan adalah tutorial keagamaan setiap Sabtu dan Minggu bagi mahasiswa yang mengontrak mata kuliah agama Islam. Selain itu, DKM juga menyelenggarakan seminar pendidikan agama Islam dan pengajian rutin dengan berbagai tema keagamaan.

“Kita ada kegiatan tutorial hari Sabtu dan Minggu yang diperuntukkan untuk setiap mahasiswa yang mengontrak mata kuliah agama Islam, kemudian seminar pendidikan agama Islam, serta kegiatan pengajian dengan topik berbagai macam ilmu keagamaan,” tambahnya.

Selain kegiatan rutin, DKM Masjid Al-Furqon juga aktif dalam penyelenggaraan kegiatan peringatan hari besar Islam, seperti Idulfitri dan Iduladha. Program-program tersebut menjadi bagian dari upaya UPI dalam membangun lingkungan kampus yang religius dan inklusif.

Sementara itu, Rektor Uninus, Endang Komara, dalam khutbah Jumatnya menekankan pentingnya menata hati melalui pengendalian hawa nafsu, memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, serta menjaga lingkungan pergaulan yang baik.

“Salah satu kunci menata hati adalah mujahadah, yaitu bagaimana kita melawan hawa nafsu secara terus-menerus dan bergaul dengan orang-orang saleh,” ungkapnya.

Ia juga mengajak jamaah untuk menjadikan hati sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT sesuai tujuan penciptaan manusia untuk beribadah dan taat kepada-Nya.

Melalui berbagai program pembinaan yang dijalankan, DKM Masjid Al-Furqon UPI diharapkan dapat terus menjadi pusat kegiatan keagamaan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat kampus, sekaligus memperkuat nilai spiritual di lingkungan perguruan tinggi. (RK)

Universitas Malaysia Sabah Ajak Kerjasama Prodi Pendidikan IPS FPIPS UPI

13 May 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universiatas Malaysia Sabah melalui Fakultas Ilmu Sosial dan Kemanusiaan melakukan kunjungan dengan tema “Tentatif Program Pengukuhan Kompetensi Pengantar Kebangsaan Staf Petadbiran” Ke Prodi PIPS Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Pendidikan Indonesia, dengan melakukan penandatanganan kerjasama internasional untuk memperkokoh regocnisi internasional diatara kedua belah pihak. Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung Nu’man Soemantri Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung, Jawa Barat. Rabu, (13/5/2026).

Pertemuan ini diharapkan bisa memberdayakan baik potensi yang ada pada dosen maupun mahasiswa dari Malaysia dengan Indonesia, salah satunya adalah “Kursus Integrity dan Anti-Rasuah dalam perkuliahan bagi mahasiswa di Malaysia. Dosen yang mengajar Suranjaya Pencegahan Rasuah Malaysia”, ujar Fauzi.

Wakil Dekan Bidang Akademik & Kemahasiswaan FPIPS UPI, Dr. Fitri Rahma Fitria, menyambut dengan baik kegiatan ini: Sangat berterima kasih dan membuka tangan sebesar-besarnya untuk bekerja sama. Banyak achievement yang bisa diraih dengan cara bekerja sama. Beliau juga menambahkan bahwa di FPIPS terdapat 1 program diploma, 14 program sarjana, 6 program magister, dan 5 program doktor.

Bentuk kerja sama yang bisa dijajaki dikemudian hari adalah riset dan kajian, peningkatan kapasitas, program pendidikan, dan program sosial dan CSR. Kemudian, Universitas Pendidikan Indonesia memiliki 24 indikator (Key Performance Indicator/KPI). Dari kedua puluh empat, bisa lebih menekankan pada aspek luaran hasil kerja sama antar-PT, jumlah publikasi internasional, dan dosen yang mendapatkan rekognisi internasional.

Dr. Fauzie Sarjono sebagai Timbalan Dekan (Akademik dan Antarabangsa), menambahkan bahwa setidaknya hasil kunjungan ini diharapkan ada dokumentasi dengan Letter of Intent sebagai bentuk awal apa saja yang akan dikerjakan bagi kedua belah pihak. Kegiatan yang berdekatan dengan kegiatan ini mengenai “seminar internasional yang bekerja sama dengan Korea dan guest lecture secara online, untuk mengajar di UMS”.

Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Sapriya, M.Ed., Ketua Prodi Pendidikan IPS memiliki komitmen untuk melakukan kerja sama dengan negara Filipina, Thailand, Malaysia dan Jepang. Dengan kegiatan ini, diharapkan ke depan ada kegiatan akademik, baik dosen maupun student mobility. Ini sangat bagus, karena belum banyak yang mengunjungi Sabah. Barangkali ke depan ada mahasiswa dari Sabah yang tertarik untuk belajar di Prodi Pendidikan IPS, begitu pun sebaliknya.

Setiap dosen mendapatkan pengukuran jumlah karya yang terpublikasi secara internasional, yang menjadi perhatian penting, terutama bagi dosen yang ingin memperoleh gelar profesor. Sedangkan untuk mahasiswa untuk memperoleh gelar sarjana dengan jumlah bobot 146 SKS. Untuk jenjang master perkuliahan cukup ditempuh alam dua semester, dilanjutkan dengan riset. Begitu juga dengan program doktor di IPS terbagi ke dalam dua program antara coursework dan riset.

Dr. Dina Siti Logayah, M.Pd., menambahkan bahwa kerja sama ini juga bisa memperkuat program adjunct professor, guest lecture, dan pertukaran mahasiswa. Kerja sama internasional dalam bidang pendidikan ini mendorong terwujudnya kualitas pendidikan (SDG 4) yang jauh lebih baik dengan cara meningkatkan kualitas penelitian dosen, pembelajaran bagi mahasiswa dengan standar internasional, dalam hal ini dengan kerja sama dengan Universitas Malaysia Sabah. Diharapkan kegiatan ini berdampak pada implementasi yang jauh lebih nyata di antara kedua belah pihak. (Iqbal)

Pencarian