English
Indonesia

UPI Bangun Era Baru Inovasi, DIHSTP Dorong Paten hingga Hilirisasi Teknologi Nasional

13 May 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) terus memperkuat budaya inovasi dan perlindungan kekayaan intelektual di lingkungan kampus. Melalui peran aktif Direktorat Inovasi, Hilirisasi dan Science Techno Park UPI (DIHSTP UPI), berbagai hasil riset dosen dan peneliti kini tidak hanya berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi juga diarahkan menjadi teknologi terapan yang memiliki nilai manfaat bagi masyarakat dan dunia industri.

Memasuki triwulan pertama tahun 2026, UPI mencatat capaian membanggakan dengan terbitnya delapan paten dan paten sederhana baru hasil pendampingan teknis DIH-STP UPI. Berbagai inovasi tersebut berasal dari lintas disiplin ilmu, mulai dari kesehatan, pendidikan, teknologi rekayasa, kebencanaan, hingga kecerdasan buatan dan lingkungan.

Direktur Inovasi, Hilirisasi dan Science Techno Park UPI menyampaikan bahwa penguatan ekosistem kekayaan intelektual menjadi salah satu langkah strategis universitas dalam membangun budaya akademik yang inovatif dan berdampak nyata. Menurutnya, perguruan tinggi saat ini dituntut tidak hanya menghasilkan penelitian berkualitas, tetapi juga mampu menghadirkan solusi yang dapat dimanfaatkan masyarakat luas melalui proses hilirisasi.

“UPI terus mendorong para dosen, peneliti, dan sivitas akademika untuk menghasilkan inovasi yang terlindungi secara hukum melalui paten, desain industri, merek dagang, hak cipta, maupun bentuk kekayaan intelektual lainnya. Langkah ini penting agar hasil riset kampus memiliki nilai tambah, dapat dikembangkan bersama mitra industri, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Selain penguatan paten, DIHSTP UPI saat ini juga tengah menyoroti pentingnya perlindungan desain industri, merek dagang, serta berbagai bentuk kekayaan intelektual lainnya sebagai bagian dari strategi komersialisasi inovasi kampus. Produk-produk inovasi yang telah memiliki perlindungan hukum tersebut nantinya akan diarahkan untuk proses lisensi, pengembangan usaha, hingga hilirisasi bersama mitra industri agar memiliki dampak ekonomi dan sosial yang lebih luas.

Adapun delapan inovator penerima paten dan paten sederhana setelah mendapatkan pendampingan teknis dari DIHSTP UPI meliputi

  1. Lisna Anisa FitrianaFormula Minuman Sachet dari Ekstrak Brokoli (Brassica olaracea) dan Pegagan (Centella asiatica) untuk Meningkatkan Daya Ingat
  1. Lisna Anisa FitrianaKomposisi Bahan untuk Menurunkan Glukosa Darah berupa Kombinasi Ekstrak Kulit Manggis dan Pegagan
  2. Triannisa RahmawatiSistem Pembelajaran Kimia Nanoteknologi dengan Etnosains Berbasis Realitas Berimbuh
  3. Budi MulyantiMikroaktuator Elektromagnetik untuk Pompa Mikro dengan Inti Ferit
  4. Selly FeraniAlat Ukur Suhu dan Kuat Medan Magnet Berbasis Arduino Nano dan Sensor Hall
  5. Arjuni Budi PantjawatiMeja Getar untuk Simulator Tanah Longsor
  6. Wildan Aprizal ArifinMetode Prediksi Tinggi Gelombang Laut Menggunakan Memori Jangka Pendek-Panjang (LSTM) dan Pembobotan Jarak Tebalik (IDW)
  7. Ahmad MudzakirKit Percobaan Ionometalurgi: Pungut Ulang Logam Berharga Menggunakan Cairan Ionik

Berbagai inovasi tersebut saat ini diproyeksikan untuk memasuki tahap hilirisasi dan penjajakan lisensi bersama mitra industri. Melalui skema tersebut, teknologi hasil penelitian UPI diharapkan dapat berkembang menjadi produk dan solusi nyata yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat daya saing bangsa.

DIH-STP UPI sendiri terus memperluas peran sebagai pusat penguatan inovasi kampus, mulai dari pendampingan kekayaan intelektual, inkubasi bisnis, pengembangan startup berbasis riset, hingga fasilitasi kerja sama industri. Kehadiran DIHSTP UPI menjadi bagian penting dari transformasi UPI menuju universitas yang unggul, inovatif, dan berdampak.

Dengan meningkatnya jumlah paten dan inovasi yang siap dihilirisasi, UPI menunjukkan komitmennya dalam membangun ekosistem riset yang produktif dan berorientasi pada kebermanfaatan. Langkah ini sekaligus menegaskan posisi UPI sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya unggul dalam bidang pendidikan, tetapi juga aktif melahirkan inovasi strategis untuk masa depan Indonesia. (Andri Yunardi)

HILAL AWAL ZULHIJAH 1447 H: Sains Hilal dan Persatuan Umat

13 May 2026 • Humas UPI

Oleh

Dr. Judhistira Aria Utama, M.Si.

Kepala Pusat Unggulan Universitas (PUU) SAINS DATA ASTRONOMI DAN POLUSI CAHAYA (SADAR-POLYA)

Setelah awal Ramadan dan Idulfitri 1447 H yang dirayakan berbeda hari dengan Saudi Arabia, data astronomi untuk bulan Zulhijah ini membawa kabar optimis, bahwa perayaan Iduladha akan berlangsung secara serentak.

Konjungsi Akhir Zulkaidah

Di dalam keilmuan astronomi, peristiwa konjungsi (ijtimak) menandai momentum ketika bujur ekliptika Bulan sama dengan bujur ekliptika Matahari. Menurut pengamat yang ditempatkan di pusat Bumi, konjungsi yang mengakhiri siklus satu lunasi ini terjadi pada Sabtu, 16 Mei 2026 pukul 20:01 menurut waktu Greenwich, atau bertepatan dengan hari Minggu, 17 Mei 2026 pukul 03:01 WIB (= 04:01 WITA dan 05:01 WIT) di Indonesia. Bagaimanakah situasinya di Saudi Arabia? Mengutip laman Wikipedia, meskipun wilayah Kerajaan Saudi Arabia membentang antara 34° BT – 57° BT, untuk seluruh kawasan hanya digunakan satu zona waktu, yaitu menggunakan bujur standar 45° BT. Artinya, penunjukan waktu di seluruh wilayah lebih dulu 3 jam daripada Greenwich. Dari sini dapat dipahami bahwa peristiwa konjungsi geosentrik di atas terjadi pada hari yang sama dengan Greenwich (Sabtu), namun pada waktu yang berbeda, yaitu pukul 23:01 waktu Saudi Arabia. Tentu saja, waktu kejadian konjungsi yang selarut itu dipastikan berlangsung setelah terbenamnya Matahari di sana (18:55 waktu setempat). Artinya, pada waktu petang hari Sabtu 16 Mei yang bersesuaian dengan 29 Zulkaidah menurut penanggalan Kerajaan Saudi Arabia, perburuan Hilal penanda awal Zulhijah akan terkendala secara astronomis. Pada saat Matahari terbenam di hari tersebut (18:55), Bulan sudah lebih dulu menghilang di bawah ufuk (18:42), yang akan membuat Hilal belum wujud. Dengan demikian, sejak Sabtu 16 Mei pascaterbenamnya Matahari hingga Minggu 17 Mei saat Matahari kembali tenggelam, penanggalan Kerajaan Saudi Arabia masih bertanggal 30 Zulkaidah. Pada saat yang sama, bila merujuk kepada takwim standar KEMENAG RI, bulan Zulkaidah baru menapaki hari ke-29 di Indonesia. Karena di dalam penanggalan berbasis pergerakan Bulan, sebagaimana halnya kalender Hijriyah, jumlah hari dalam 1 bulan tidak mungkin kurang dari 29 hari dan tidak mungkin melebihi 30 hari, Minggu malam (17 Mei) pascaterbenamnya Matahari di Saudi Arabia, penanggalan mereka otomatis berganti ke tanggal 1 Zulhijah. Sementara di Indonesia, pada hari yang sama, Kementerian Agama baru akan menyelenggarakan sidang isbat (penetapan) tibanya 1 Zulhijah dengan memperhatikan hasil perhitungan astronomis (hisab) terhadap posisi Bulan dan laporan hasil observasi (rukyat) dari sejumlah titik pengamatan yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia.      

Visibilitas Hilal di Saudi Arabia dan Indonesia

Pada petang hari Sabtu, 16 Mei 2026, bertepatan dengan hari konjungsi menurut waktu Saudi Arabia, Hilal awal Zulhijjah masih bersembunyi di bawah ufuk barat. Ketika Matahari terbenam, Bulan berada di ketinggian −3°19′56″ (Gambar 1). Hilal yang merupakan bagian dari fase Bulan, dengan penampakan berupa sabit tipis, dengan demikian mustahil untuk dapat diamati pada saat tersebut.

Gambar 1. Bulan berada di bawah ufuk dengan ketinggian −3°19′56″ pada saat Matahari terbenam

Situasi berbeda akan dijumpai satu hari berselang, yaitu pada Minggu petang 17 Mei 2026. Ketika Matahari terbenam di Mekah pada pukul 19:14 waktu setempat, Bulan berada di ketinggian +10°39′28″ di atas ufuk arah barat, dengan jarak pisah (elongasi) dari Matahari sebesar 12°50′31″ dan iluminasi 1,07% (Gambar 2).

Gambar 2. Ilustrasi posisi Hilal Zulhijjah 1447 H di langit Mekah, Minggu 17 Mei 2026. Bulan berada di atas ufuk dengan ketinggian +10°39′28″ saat Matahari terbenam

Dengan posisi Bulan setinggi itu di atas ufuk, model matematis kecerahan langit senja Kastner (1976), yang telah teruji memvalidasi sejumlah kasus Hilal rekor dunia, memberikan prediksi yang tegas. Kenampakan hilal pertama kali oleh pengamat di Mekah dengan modus pengamatan mata telanjang diprediksi terjadi pada pukul 19:24 untuk kondisi atmosfer bersih, dan 19:32 untuk atmosfer moderat. Waktu pengamatan terbaik (best time) yang menandai kontras tertinggi antara kecerahan hilal terhadap kecerahan langit senja, baru terjadi pada hampir pukul 20:00 waktu setempat (Gambar 3).

Gambar 3. Kurva visibilitas Hilal Zulhijjah 1447 H dari Mekah, Minggu 17 Mei 2026, dengan modus pengamatan mata telanjang

Bagaimana dari sisi Indonesia, yang secara geografis berada lebih timur daripada Saudi Arabia? Kota Sabang di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dipilih sebagai titik paling barat yang mewakili kepulauan Nusantara, menjadi lokasi paling representatif sekaligus paling berpeluang untuk keberhasilan rukyat. Di Sabang, pada saat Matahari terbenam pukul 18:47 WIB, Bulan berada di ketinggian +6°27′43″ di atas ufuk, dengan elongasi 10°32′40″ dan iluminasi 0,73% (Gambar 4). Meskipun kriteria imkan rukyat MABIMS Baru yang mensyaratkan ketinggian Hilal ≥ 3° dan elongasi ≥ 6,4° secara geometris terpenuhi di Sabang, visibilitas kasat mata masih bernilai negatif menurut model Kastner. Kecerahan Hilal dengan umur 16 jam 22 menit sejak konjungsi tersebut masih kalah terang dibandingkan kecerahan langit senjanya. Karenanya, model Kastner (1976) memberikan prediksi bahwa Hilal tidak akan dapat diamati dengan mata telanjang, namun akan dapat diamati dengan bantuan teleskop. Melalui penggunaan alat bantu optik dalam kegiatan observasi yang dilakukan, kontras hilal dapat ditingkatkan. Perhatikan masing-masing kurva yang ditunjukkan dalam Gambar 5 dan 6.

Gambar 4. Ilustrasi posisi Hilal Zulhijjah 1447 H di langit Sabang, Minggu 17 Mei 2026. Bulan berada di atas ufuk dengan ketinggian +6°27′43″ saat Matahari terbenam.

Ringkasan dari uraian di atas mengenai data awal Zulhijah di Saudi Arabia dan Indonesia, disajikan dalam Tabel 1 berikut. Dengan semua data astronomis yang tersedia, kesimpulannya sangat jelas, bahwa Kerajaan Saudi Arabia dan Indonesia akan memulai 1 Zulhijjah 1447 H pada Senin 18 Mei 2026, hari Arafah yang menandai puncak ibadah haji bertepatan dengan Selasa 26 Mei (9 Zulhijah), dan Iduladha (10 Zulhijah) jatuh pada Rabu 27 Mei 2026.

Tabel 1. Ringkasan Data Awal Zulhijah 1447 H

Lokasi & TanggalModusTinggi HilalElongasiIluminasiRukyat (Model)Kriteria MABIMS
Mekah — Sabtu 16 MeiMata telanjang + Teleskop−3°19′5°28′0,26%✗ Tidak bisa✗ Tidak memenuhi
Mekah — Minggu 17 MeiMata telanjang+10°39′12°50′1,07%✓ Terlihat jelas✓ Memenuhi
Sabang — Minggu 17 Mei  Mata telanjang+6°27′10°32′0,73%✗ Tidak bisa✓ Memenuhi
Teleskop+6°27′10°32′0,73%✓ Terlihat jelas✓ Memenuhi

Sains, Persatuan, dan Masa Depan Berkelanjutan

Ada dimensi yang lebih dalam dari kebersamaan ini. Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, fakta yang menjadikan setiap perbedaan dalam penentuan hari raya bukan sekadar urusan teknis, melainkan urusan martabat kolektif. Perbedaan yang berulang tiap tahun itu kerap menimbulkan situasi yang tidak nyaman, baik di lingkup keluarga maupun antarjemaah, dan pertanyaan yang sama terus muncul: mengapa kita tidak bisa merayakannya di hari yang sama?

Padahal alam semesta tidak berpihak kepada siapa pun. Bulan bergerak mengikuti hukum yang sama bagi semua orang di semua kawasan, baik yang menggunakan metode rukyat maupun hisab. Di sinilah astronomi dan fisika atmosfer berperan, bukan sebagai alat hitung satu golongan, melainkan sebagai bahasa bersama yang terbuka bagi semua pihak. Namun data saja tidak cukup. Sejarah penanggalan mengajarkan hal yang sederhana namun sering dilupakan, bahwa kalender yang menyatukan membutuhkan tiga komponen secara bersamaan. Pertama, kriteria tunggal yang diakui bersama, terlepas dari metode penentuan awal bulan yang digunakan. Kedua, wilayah keberlakuan kriteria itu, apakah satu kawasan, satu negara, atau seluruh dunia Islam. Ketiga, otoritas yang berwenang menetapkannya, yakni lembaga yang keputusannya diterima, bukan sekadar didengar lalu ditafsirkan berbeda-beda. Tanpa ketiganya hadir sekaligus, kalender pemersatu tetap tinggal sebagai wacana yang diulang tiap tahun tanpa kemajuan.

Sejarah sudah memberikan contoh untuk hal ini, sekaligus pelajaran untuk bersabar. Ketika Paus Gregorius XIII memperkenalkan kalender baru pada 1582 melalui bulla kepausan Inter Gravissimas, dunia tidak langsung sepakat. Negara-negara dengan mayoritas umat Katolik seperti Italia, Spanyol, dan Portugal mengadopsinya dengan segera. Sementara, negara-negara berpenduduk mayoritas penganut Protestan dan Ortodoks menolaknya, dengan alasan yang mencampurkan persoalan keyakinan dan politik. Sebagai contoh, Inggris baru menggunakan kalender reformasi tersebut pada 1752. Yunani perlu menunggu lebih lama hingga tahun 1923. Proses penerimaannya memakan waktu lebih dari tiga abad. Namun hari ini, hampir seluruh dunia menggunakan kalender yang sama tersebut untuk keperluan sipil mereka. Jika Eropa yang sempat terpecah oleh Reformasi Paus bisa sampai di sana, umat Islam pun sangat mungkin untuk mewujudkan hal yang sama.

Kebersamaan dalam merayakan hari raya bukan semata persoalan ritual. Ini adalah investasi untuk kohesi bangsa dan ketahanan sosial, dan selaras dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB butir ke-16 tentang masyarakat yang damai, inklusif, dan berkeadilan. Iduladha yang serentak adalah tanda bahwa kita bisa duduk bersama, membaca data yang sama, dan sampai pada satu keputusan. Itu bukan hal kecil. Kubah langit dan Bulan yang sama telah berulang kali menyapa kita semua. Semoga kita mampu membaca tanda-tandanya dan menjawabnya bersama.

JICA Dukung Pengembangan UPI Migrant Center sebagai Pusat Persiapan Pekerja Migran Indonesia Kompeten

13 May 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

UPI Migrant Center menerima kunjungan dan diskusi bersama Japan International Cooperation Agency (JICA), Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), dan Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jabar di Gedung Sekolah Pascasarjana Baru UPI, Rabu (6/5). Pertemuan ini membahas rencana pendampingan JICA terhadap pengembangan Migrant Center sebagai pusat edukasi, pelatihan, dan persiapan calon pekerja migran Indonesia, khususnya untuk penempatan kerja ke Jepang.

Dalam pertemuan tersebut, perwakilan Japan International Cooperation Agency menyampaikan bahwa JICA dalam waktu dekat akan mengirimkan tenaga ahli kepada KP2MI untuk mendukung pengembangan Migrant Center melalui program pendampingan teknis dan peningkatan kapasitas.

Program ini diarahkan untuk memperkuat sistem pelatihan, edukasi, serta kesiapan calon pekerja migran Indonesia sebelum bekerja di luar negeri. Inisiatif tersebut merupakan bagian dari kerja sama internasional JICA di bidang pengembangan sumber daya manusia, pendidikan, dan kerja sama teknis antarnegara.

Perwakilan JICA, Nishida, juga memberikan sejumlah masukan terkait pentingnya dukungan berkelanjutan terhadap Migrant Center dalam mendukung fungsi pelindungan, edukasi, dan pendampingan pekerja migran Indonesia. JICA menilai UPI Migrant Center memiliki potensi besar karena didukung sarana dan prasarana yang relatif lengkap dibanding sejumlah pusat pelatihan lainnya. Migrant Center dipandang tidak hanya sebagai tempat pelatihan bahasa, tetapi juga sebagai pusat penguatan kompetensi, kesiapan kerja, serta edukasi mengenai prosedur migrasi kerja yang legal dan aman.

UPI Migrant Center yang diwakili Susi Widianti menyambut baik langkah strategis yang dilakukan KP2MI yang menggandeng tenaga ahli dari JICA dalam memberikan dukungan dan pendampingan terhadap migrant center.

Hasil kunjungan dan diskusi ini akan menjadi bahan evaluasi dan tindak lanjut bagi Japan International Cooperation Agency dalam menentukan bentuk kerja sama berikutnya dengan UPI Migrant Center dan KP2MI.

Pertemuan juga menegaskan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan lembaga internasional dalam menyiapkan SDM Indonesia yang kompeten, berdaya saing global, serta memiliki pemahaman yang baik mengenai aturan ketenagakerjaan internasional dan migrasi aman. (maxkeensopisan)

UPI Perkuat Kinerja Riset Melalui Pendanaan Batch 2: Targetkan 2.000 Publikasi Scopus di Tahun 2026

11 May 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem riset nasional melalui penandatanganan kontrak penelitian dan pengabdian kepada masyarakat tahap kedua (Batch 2). Langkah strategis ini diambil sebagai upaya nyata universitas dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas kinerja riset serta posisi UPI di pemeringkatan internasional yang dilaksanakan di Gedung Achmad Sanusi Jl. Dr. Setiabudi No. 229 Bandung, Jawa Barat. Senin (11/5/2026)

Pada tahap ini, UPI mencatatkan peningkatan alokasi dana yang cukup besar, di mana nilai penelitian yang biasanya berada di angka 40 kini meningkat ke angka 70. Peningkatan anggaran ini memungkinkan keterlibatan dosen dalam jumlah yang lebih masif. Tercatat sebanyak 1.091 proposal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat telah disetujui untuk didanai.

Rektor UPI, Prof. Didi Sukyadi, M.A., menegaskan bahwa penguatan riset ini adalah kunci untuk bersaing secara global. “Tentu melihat universitas lain kalau kita ingin terus konsisten naik peringkat di pemeringkatan internasional, kita harus punya proposal yang banyak,” ujarnya. Beliau menargetkan pada tahun 2026, UPI dapat menghasilkan lebih dari 2.000 riset yang terindeks di Scopus.

Pihak universitas menekankan bahwa output penelitian tidak boleh berhenti di atas kertas. Hasil riset diharapkan memberikan dampak luas, mulai dari perolehan paten, hilirisasi produk, hingga pembentukan perusahaan rintisan (startup company).

“Saya berharap Bapak Ibu dosen ini uangnya, ini uang masyarakat. Jadi harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,” tegas Prof. Didi Sukyadi.

Untuk menjamin akuntabilitas, UPI menerapkan sistem kontrol reguler yang ketat. Beberapa ketentuan bagi para peneliti antara lain laporan bulanan yang dimana Peneliti wajib melaporkan kegiatan secara rutin setiap bulan melalui sistem tanpa adanya kekosongan laporan (zero gap), lalu sanksi kinerja yang terjadi apabila didapati kegagalan dalam melaporkan kegiatan atau tidak tercapainya output penelitian akan berakibat pada pemberian sanksi dan yang terakhir adalah pembatasan izin bagi peneliti yang tidak memenuhi janji capaiannya terancam tidak diberikan izin untuk kembali meneliti pada tahun mendatang.

Melalui kebijakan ini, UPI berkomitmen untuk terus meningkatkan performa universitas melalui integrasi kinerja riset, publikasi, dan pengabdian kepada masyarakat yang berkualitas.

Pada kesempatan yang sama Direktur DPPM Prof. Dr. Hj. Ida Hamidah, M.Si., menyampaikan  “UPI saat ini menjadi perguruan tinggi dengan serapan dan dukungan tertinggi di antara PTN BH untuk program RKI, Beliau menambahkan bahwa langkah ini diambil guna memastikan peneliti-peneliti handal tetap dapat menjalankan risetnya demi kemajuan ilmu pengetahuan nasional.”

Fokus utama dari pendanaan riset ini, khususnya untuk Tingkat Kesiapan Terapan Teknologi (TKT) 1-6, adalah peningkatan publikasi ilmiah dan perluasan jejaring. UPI menetapkan target yang ambisius untuk setiap proposal RKI yang pertama target publikasi minimal tiga publikasi ilmiah per proposal, lalu yang kedua standar kualitas publikasi wajib terindeks Scopus, dengan kualifikasi minimal Q2 dan yang ketiga kolaborasi yang dimana bisa memperkuat jejaring internasional untuk meningkatkan posisi tawar peneliti Indonesia.

“Peningkatan kualitas riset ini merupakan bagian dari strategi besar UPI dalam mengejar perangkingan dunia, khususnya versi QS World University Rankings. Reputasi global dinilai krusial sebagai “prestise” yang membuka pintu kolaborasi lebih luas dengan peneliti asing dan perguruan tinggi top dunia.” ujar Prof. Ida Hamidah

Selain reputasi, keberhasilan meningkatkan peringkat di QS juga berkorelasi langsung dengan dukungan insentif dari pemerintah. Dengan kinerja riset yang semakin baik, diharapkan alokasi dana stimulan di masa mendatang dapat terus meningkat untuk mendukung inovasi berkelanjutan.(Rija/DN)

Dari Langkah Kecil Menuju ke Podium, Siti Annisafa Buktikan “10 Menit Sehari Sudah Cukup”

10 May 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Bagi sebagian Mahasiswa, Lulus dengan prestasi gemilang terasa seperti privilege — sesuatu yang hanya bisa diraih oleh mereka yang memiliki kelebihan tertentu. Namun bagi wisudawan terbaik yang bernama Siti Annisafa Oceania, S. Log. Program Studi Logistik Kelautan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Serang angkatan 2022 ini, prestasi adalah hasil dari langkah-langkah kecil yang ia pilih untuk dilakukan setiap hari, sejak semester pertama.

“Arti pencapaian ini bagi saya seperti hadiah,” ungkapnya dalam sesi wawancara di Gymnasium UPI. “Hadiah atas kerja keras saya selama belajar dari semester 1 hingga semester 7 — dan hadiah yang bisa saya persembahkan kepada orang tua, teman-teman, dan para dosen yang selalu mendukung saya. Tiada balasan yang paling berharga yang bisa saya berikan kepada mereka yang telah mendukung saya. Hanya penghargaan inilah yang bisa saya berikan.”

Ketika ditanya soal trik mendapatkan nilai memuaskan, ia tidak menyebut rumus ajaib atau metode belajar marathon. Kuncinya, justru sederhana: konsistensi dalam hal-hal kecil.

“Belajar itu tidak harus panjang, teman-teman. 10 menit membaca jurnal saja sudah cukup untuk membuat pikiran kita lebih terbuka dan cepat menangkap informasi,” tegasnya. Hal sekecil itu, bila dilakukan dengan konsisten, efeknya sangat luar biasa.

Menyeimbangkan kegiatan akademik dan organisasi adalah tantangan yang hampir dihadapi setiap mahasiswa UPI. Solusinya tidak memerlukan aplikasi canggih atau teknik manajemen waktu yang rumit — melainkan sesuatu yang jauh lebih mendasar: membuat daftar prioritas dan berani mengkomunikasikannya.

“Breakdown dulu semua kegiatan dan deadline-mu di minggu itu. Tentukan mana yang paling mendesak, kerjakan itu dulu. Tapi kita juga harus bisa menjelaskan skala prioritas kita kepada orang atau kegiatan lain secara polite,” ujarnya. Prinsip sederhana ini menjadi fondasi yang menjaga ia tetap on track selama tujuh semester penuh.

Tak ada perjalanan tanpa rasa lelah. Ia pun mengakui bahwa jenuh adalah bagian yang tak terhindarkan dari proses belajar — termasuk saat mengerjakan skripsi. Namun alih-alih menyalahkan diri sendiri, ia memilih untuk menerima rasa itu dan meresponsnya dengan bijak.

“Jangan nyalahin diri sendiri. Manusia itu, mau sekuat apa pun, pasti ada rasa capeknya. Istirahat dulu, lakukan hal yang kamu suka, lalu ingat lagi tujuan awalmu kuliah itu apa”, ucapnya.

Sosok yang paling mempengaruhi perjalanan studinya hingga berada pada titik ini adalah seorang Dosen Manajemen di Program Studi Logistik Kelautan bernama Rubby Rahman Tsani.  “Beliau melihat potensi dalam diri saya, dan itu mendorong saya untuk terus menggali lebih dalam. Ketika seseorang yang kita hormati percaya pada kita, itu menjadi bahan bakar yang sangat kuat,” kenangnya dengan penuh rasa syukur.

Dengan rencana melanjutkan studi S2 di bidang Bisnis Marketing, ia bertekad untuk tidak hanya berprestasi bagi dirinya sendiri, namun juga menjadi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

“Kalian semua sudah dilahirkan untuk mendapatkan hal-hal besar. Sayang sekali kalau kita tidak mau berusaha sedikit lebih keras untuk hal besar yang memang sudah ditakdirkan untuk kita. Tidak ada kata terlambat — mulai dari sekarang, dari langkah terkecil sekalipun. Satu persen progres setiap hari, pasti akan membawa kalian ke hal-hal luar biasa.”

Dan untuk almamater tercintanya, ia menutup dengan harapan yang tulus: “Semoga UPI terus memfasilitasi mahasiswanya untuk tumbuh, berkembang, dan mengepakkan sayapnya — tidak hanya di tingkat Indonesia, tetapi juga di panggung internasional. Semakin jaya, UPI. Semoga semakin melesat”. (Claudina, Caraka Muda)

Pencarian