English
Indonesia

UPI dan Kemenag Jabar Perkuat Kolaborasi Pengembangan Pendidikan Bahasa Sunda di Madrasah

29 Oct 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia menggelar audiensi strategis dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat pada Senin (27/10) pukul 11.00 WIB. Pertemuan ini bertujuan memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan Bahasa Sunda di lingkungan madrasah.

Audiensi berlangsung dalam suasana hangat dan konstruktif, dengan pembahasan yang berfokus pada empat isu utama, yaitu: Pelaksanaan dan pengembangan Program PPG Bahasa Sunda bagi guru di lingkungan madrasah; Formasi dan ketersediaan guru Bahasa Sunda; Penguatan kualitas serta kompetensi profesional guru Bahasa Sunda; dan Penyusunan Kurikulum Bahasa Sunda berbasis Kurikulum Cinta.

Dari pihak UPI hadir Dr. Haris Santosa Nugraha, S.Pd., M.Pd. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda, bersama Prof. Dr. Usep Kuswari, M.Pd., Prof. Dr. Yayat Sudaryat, M.Hum., Prof. Dr. Retty Isnendes, S.Pd., M.Hum., dan Zulfikar Alamsyah, S.Pd., M.Hum. Sementara dari pihak Kanwil Kemenag Jawa Barat, hadir Drs. Mohammad Ali Abdul Latif, M.Ag. (Kepala Bagian Tata Usaha) dan Ade Ruhiyat, S.Sos., M.M. (Kepala Seksi Guru).

Audiensi dibuka dengan pemaparan tujuan oleh Dr. Haris Santosa Nugraha, S.Pd., M.Pd., yang menekankan pentingnya kolaborasi antara UPI dan Kementerian Agama dalam menjaga keberlanjutan pengajaran bahasa daerah di lembaga pendidikan formal.

“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan akademik dalam mendukung pelestarian bahasa daerah. Melalui kerja sama dengan Kemenag, kami ingin memastikan bahwa Bahasa Sunda tetap diajarkan di madrasah,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Haris juga menyampaikan apresiasi dan harapannya kepada Kementerian Agama yang dalam dua tahun terakhir telah menyediakan formasi CPNS untuk guru Bahasa Sunda dalam jumlah yang cukup signifikan. Semoga ke depan formasi serupa terus tersedia agar semakin banyak guru berkompeten dapat berkiprah di lembaga pendidikan keagamaan.

Menanggapi hal tersebut, Drs. Mohammad Ali Abdul Latif, M.Ag. menyampaikan apresiasi atas kontribusi UPI dalam mencetak lulusan berkualitas di bidang pendidikan Bahasa Sunda.“Kami melihat banyak alumni UPI yang kini mengajar di madrasah dan menunjukkan kompetensi serta inovasi tinggi dalam pembelajaran bahasa daerah,” tuturnya.

Ia juga menegaskan bahwa Kemenag akan terus berupaya memperkuat peran guru Bahasa Sunda di lingkungan madrasah sebagai bagian dari pelestarian bahasa daerah.

Dalam pembahasan terkait Program Pendidikan Profesi Guru (PPG), Prof. Dr. Usep Kuswari, M.Pd. menjelaskan perbedaan antara PPG Dalam Jabatan atau Guru Tertentu dan PPG Prajabatan atau Calon Guru, sekaligus menyoroti perlunya dukungan kebijakan agar pelaksanaan PPG Bahasa Sunda di bawah koordinasi Kemenag dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.

Sementara itu, Ade Ruhiyat, S.Sos., M.M. menambahkan bahwa kebijakan PPG di bawah Kemenag masih bersifat sistemik dan terpusat. “Ada wacana bahwa mulai tahun 2026 seluruh guru diwajibkan mengikuti PPG. Namun, proses pemanggilan peserta akan ditentukan oleh Direktorat GTK Pusat melalui sistem EMIS. Selain itu, masih terdapat sejumlah kendala administratif, salah satunya terkait persyaratan pengalaman mengajar minimal dua tahun,” jelasnya.

Isu kurikulum menjadi perhatian khusus dalam audiensi ini. Prof. Dr. Yayat Sudaryat, M.Hum. menyoroti belum adanya kurikulum Bahasa Sunda yang secara khusus disusun untuk madrasah. Ia menegaskan bahwa kurikulum tersebut idealnya mampu memadukan nilai-nilai spiritual dan kultural khas madrasah dengan penguatan literasi bahasa dan budaya Sunda.

Menyikapi hal tersebut, pihak Kemenag Jawa Barat menyambut positif gagasan tersebut dan mendukung pengembangan Kurikulum Bahasa Sunda berbasis Kurikulum Cinta, yaitu konsep yang menanamkan nilai-nilai cinta kepada Tuhan, alam, ilmu pengetahuan, diri sendiri, dan tanah air sebagai landasan pembelajaran yang berkarakter, humanis, dan berakar pada budaya lokal.

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Dr. Retty Isnendes, S.Pd., M.Hum. menekankan pentingnya peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru Bahasa Sunda agar mampu mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal dengan pendekatan pembelajaran yang inovatif, kontekstual, dan relevan dengan karakteristik peserta didik madrasah.

Pihak Kemenag Jawa Barat menyambut baik dan mendukung langkah tersebut melalui kolaborasi dalam program pelatihan serta fasilitasi studi lanjut pada jenjang magister (S2). Salah satu rekomendasi yang disampaikan adalah melanjutkan studi ke Program Studi Pendidikan Bahasa dan Budaya Sunda FPBS UPI sebagai upaya peningkatan kualifikasi akademik dan profesionalisme pendidik.

Lebih lanjut, seiring dengan meningkatnya jumlah guru Bahasa Sunda, ke depan dibutuhkan widyaiswara di Balai Diklat Keagamaan yang memiliki keahlian dalam pembelajaran Bahasa Sunda. Peran strategis tersebut diharapkan dapat diisi oleh para alumni S2 dari program studi tersebut, sehingga transfer pengetahuan dan keterampilan kebahasaan di lingkungan madrasah dapat berlangsung secara lebih efektif, berkelanjutan, dan berdampak luas.

Dalam sesi yang sama, juga dibahas pembentukan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Sunda di lingkungan madrasah. Saat ini, struktur MGMP tersebut belum terbentuk secara menyeluruh. Sesuai ketentuan, pembentukan MGMP dimulai dari tingkat kabupaten/kota dengan minimal 15 guru aktif sebelum dapat diajukan ke tingkat provinsi. Menindaklanjuti hal tersebut, Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat berkomitmen untuk menginstruksikan seluruh Kemenag kota/kabupaten agar segera mendukung dan memfasilitasi pembentukan MGMP Bahasa Sunda di wilayahnya masing-masing.

Menutup pertemuan, Dr. Haris Santosa Nugraha, S.Pd., M.Pd. menyampaikan harapan agar audiensi ini menjadi langkah awal bagi terjalinnya kerja sama yang lebih konkret. “Kami berharap ke depan terwujud peningkatan kapasitas guru Bahasa Sunda, terselenggaranya PPG khusus bagi guru madrasah, serta lahirnya kurikulum Bahasa Sunda yang sesuai dengan karakter pendidikan keagamaan,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, kedua pihak sepakat untuk menyusun Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang diawali dengan penyelenggaraan kuliah umum bagi guru-guru Bahasa Sunda madrasah, dilanjutkan dengan penyusunan Kurikulum Bahasa Sunda berbasis Kurikulum Cinta, serta pengembangan berbagai program kolaboratif lainnya dalam rangka penguatan pendidikan Bahasa Sunda di lingkungan madrasah.

Inisiatif kolaboratif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) dan SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), yang menekankan pentingnya pendidikan bermutu, inklusif, serta pelestarian budaya lokal.

Kolaborasi antara UPI dan Kemenag Jawa Barat ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam memperkuat eksistensi bahasa daerah sebagai warisan budaya bangsa, sekaligus meneguhkan perannya sebagai sumber nilai, identitas, dan pembentuk karakter generasi muda di era global. (Kontributor: Zulfikar Alamsyah)

Mahasiswa UPI di Sumedang Edukasi Gizi Seimbang Lewat Animasi di SDN Sirahcipelang

29 Oct 2025 • Humas UPI
Program Kerja Gizi Ceria di SDN Sirahcipelang, Desa Cipamekar, Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang (Foto: kelompok 33 P2MB, 2025)

Sumedang, 14 Oktober 2025 — Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Sumedang yang tergabung dalam program Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Pembelajaran (P2MB) kelompok 33 melaksanakan kegiatan edukasi bertajuk “Gizi Ceria: Belajar Gizi Lewat Animasi” di SDN Sirahcipelang, Desa Cipamekar, Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang, Selasa (14/10).

Kegiatan ini menyasar seluruh siswa kelas 1 hingga 6 sekolah dasar dengan tujuan meningkatkan pemahaman anak-anak tentang pentingnya gizi seimbang dan kebiasaan makan sehat sejak dini. Melalui tayangan animasi edukatif, para siswa diajak mengenal manfaat konsumsi buah dan sayur serta cara memilih jajanan sehat.

Antusiasme anak anak di SDN Sirahcipelang menonton video animasi Gizi Ceria (Foto: kelompok 33 P2MB, 2025)

Anak-anak tampak antusias mengikuti kegiatan, menonton tayangan dengan penuh semangat, serta aktif menjawab pertanyaan yang diberikan oleh mahasiswa. Metode pembelajaran dikemas dengan pendekatan edutainment — perpaduan antara edukasi dan hiburan — sehingga proses belajar menjadi lebih interaktif dan menyenangkan.

Setelah menonton animasi, para siswa berdiskusi mengenai makanan bergizi dan menceritakan buah serta sayur kesukaan mereka. Melalui kegiatan ini, mahasiswa juga dapat memetakan kebiasaan makan anak-anak serta menanamkan kesadaran pentingnya konsumsi gizi seimbang.

Ketua pelaksana kegiatan, Pitriyani menjelaskan bahwa program ini merupakan inovasi pembelajaran luar kelas untuk membentuk kesadaran gizi sejak dini.

“Kami ingin anak-anak belajar tentang gizi dengan cara yang menyenangkan. Melalui animasi, mereka memahami pentingnya makan buah, sayur, dan memilih jajanan sehat tanpa merasa bosan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa edukasi kesehatan sejak dini dapat membentuk generasi yang sadar akan pentingnya menjaga kesehatan sebagai investasi masa depan.

Sementara itu, Kepala SDN Sirahcipelang, Rina Rohayati, S.Pd., mengapresiasi kegiatan yang digagas mahasiswa UPI Sumedang ini.

“Kami sangat berterima kasih kepada mahasiswa UPI. Kegiatan ini membantu siswa memahami pentingnya gizi seimbang melalui cara yang menarik dan mudah dipahami,” tuturnya.

Program Gizi Ceria juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yakni poin ke-3 tentang Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik, poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas, serta poin ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dasar, kegiatan ini menjadi wujud nyata kontribusi mahasiswa UPI dalam meningkatkan literasi gizi dan memperkuat pendidikan berbasis kesehatan di lingkungan sekolah. RK

Kontributor: Pitriyani/ kelompok 33 P2MB kampus UPI di Sumedang

Komitmen Asep Sukendar terhadap Pendidikan Guna Membentuk Pemimpin Masa Depan di SMA Taruna Nusantara

29 Oct 2025 • Humas UPI
Asep Sukendar semasa kuliah di IKIP Bandung (belakang ketiga dari kanan) satu kelas dengan Prof. Dr. Andoyo Sastromihardjo, M.Pd.-Guru Besar UPI (belakang ketiga dari kiri) (foto: Asep Sukendar)

Asep Sukendar lahir di Bandung pada tanggal 1 Mei 1961. Sejak kecil, ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah di kota kelahirannya, Bandung. Semangat belajar dan kepemimpinan sudah tampak sejak masa sekolah. Setelah menamatkan pendidikan menengah atas, pada tahun 1981 ia melanjutkan studi ke Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) IKIP Bandung.

Selama masa kuliah, Asep Sukendar dikenal aktif dalam berbagai kegiatan organisasi kemahasiswaan. Ia pernah menjadi pengurus Senat Mahasiswa, Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, bahkan dipercaya sebagai Komandan Resimen Mahasiswa (Menwa) Batalyon XI IKIP Bandung pada tahun 1983. Pengalaman berorganisasi ini membentuk kepribadiannya sebagai sosok yang disiplin, tegas, dan berjiwa kepemimpinan tinggi.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana pada tahun 1985, Asep Sukendar memulai kariernya sebagai pendidik di SMA Negeri 2 Bekasi. Lima tahun kemudian, pada tahun 1990, ia mendapat amanah untuk bergabung di SMA Taruna Nusantara Magelang sebagai Pamong Pengajar Pengasuh (Guru). Di sekolah berasrama unggulan ini, ia berperan besar dalam membentuk karakter dan kedisiplinan para taruna-taruni muda bangsa.

Perjalanan kariernya terus berkembang. Pada periode 2006–2018, Asep Sukendar dipercaya menjadi Kepala Sekolah di beberapa SMA Negeri di Kabupaten Magelang, tempat ia menorehkan banyak prestasi dan inovasi di bidang pendidikan. Selanjutnya, pada tahun 2018–2022, ia menjabat sebagai Kepala Sekolah SMA Presiden Boarding School di Cikarang, Jawa Barat, sebuah sekolah bertaraf internasional yang menekankan pendidikan karakter dan kedisiplinan.

Di tengah kesibukannya sebagai pendidik dan pemimpin sekolah, Asep Sukendar tetap menomorsatukan pengembangan diri. Ia berhasil menuntaskan pendidikan S-2 (Magister) pada tahun 2001 dan S-3 (Doktor) pada tahun 2018, keduanya di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Pada periode 2022–2024, Asep Sukendar turut berkontribusi dalam pengembangan SMA Terpadu Krida Nusantara Kota Bandung, memperkuat sistem pembelajaran dan pengasuhan berasrama yang berkarakter. Saat ini, ia aktif sebagai Konsultan Pendidikan untuk SMA Taruna Nusantara di Magelang, Cimahi, dan Malang, memberikan pendampingan strategis dalam pengelolaan pendidikan berasrama berbasis karakter, kepemimpinan, dan keunggulan akademik.

Dengan pengalaman lebih dari tiga dekade di dunia pendidikan, Asep Sukendar dikenal sebagai sosok pendidik, pemimpin, dan pembina karakter yang berkomitmen tinggi dalam mencetak generasi muda Indonesia yang cerdas, disiplin, dan berakhlak mulia.

Gagasan Asep Sukendar untuk UPI di Era Digital

Dalam kesempatan yang sama, sebagai alumni UPI (dahulu IKIP Bandung), Asep Sukendar berharap agar UPI — sebagai perguruan tinggi dengan sejarah panjang dalam mencetak tenaga pendidik profesional — mampu menjadi pelopor transformasi pendidikan di era digital.

Menurutnya, dalam menghadapi kemajuan teknologi dan gelombang digitalisasi yang sangat cepat, UPI perlu berperan strategis dalam menyiapkan lulusannya agar tidak hanya adaptif, tetapi juga inovatif dan produktif dalam mengembangkan pendidikan berbasis teknologi.

1. Transformasi Kurikulum dan Pembelajaran

UPI diharapkan terus memperbarui kurikulum dengan memasukkan literasi digital, kecerdasan buatan (AI), big data, dan teknologi pendidikan (edutech) sebagai bagian integral dari program studi keguruan. Pembelajaran tidak lagi hanya berorientasi pada teori, tetapi juga praktik inovatif seperti blended learning, microlearning, dan project-based learning yang memanfaatkan platform digital.

2. Penguatan Kompetensi Digital bagi Mahasiswa dan Dosen

UPI perlu menjadi pusat pelatihan dan pengembangan kompetensi digital bagi calon guru dan tenaga kependidikan. Dosen dan mahasiswa harus memiliki kemampuan pedagogik digital, seperti mendesain pembelajaran interaktif berbasis teknologi, menggunakan Learning Management System (LMS), serta mengelola kelas virtual dengan efektif.

3. Inovasi Riset dan Produk Teknologi Pendidikan

Sebagai universitas riset, UPI diharapkan dapat mendorong mahasiswa dan dosen untuk menghasilkan produk teknologi pendidikan lokal, seperti aplikasi pembelajaran, media interaktif, maupun sistem evaluasi berbasis data. Inovasi ini dapat menjadi kontribusi nyata bagi dunia pendidikan nasional.

4. Kolaborasi dengan Dunia Industri dan Sekolah Digital

UPI perlu memperkuat kerja sama dengan industri teknologi, start-up edutech, dan sekolah digital guna menciptakan ekosistem pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Kolaborasi ini membuka peluang bagi mahasiswa untuk melakukan magang, riset kolaboratif, serta menumbuhkan jiwa edupreneur.

5. Penciptaan Alumni yang Visioner dan Berdaya Saing Global

Harapannya, alumni UPI tidak hanya menjadi guru yang mampu mengajar di kelas, tetapi juga pemimpin perubahan di dunia pendidikan. Lulusan UPI diharapkan dapat menciptakan inovasi pembelajaran digital, menulis konten edukatif, membangun platform pendidikan, dan berperan aktif dalam komunitas global pendidikan digital.

Berfoto dengan beberapa mantan anak didiknya alumni SMA Taruna Nusantara
(Searah jarum jam : Menlu Sugiono, Pangdam IV/ Diponegoro Mayjen Achiruddin, Pangdam XXI / Radin Inten Mayjen Kristomei Sianturi, Mensesneg Prasetyo Hadi, serta Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono/AHY)

Perkuat Warisan Budaya Prof. Yulianeta Jadi Pembicara di PAKAM 2025 Malaysia

29 Oct 2025 • Humas UPI

Putrajaya, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menegaskan komitmennya dalam bidang pelestarian budaya dan pendidikan melalui kehadiran Prof. Yulianeta, Guru Besar Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra UPI, sebagai narasumber utama di konferensi internasional Persidangan Antarabangsa Karya Agung Melayu (PAKAM) 2025 yang diselenggarakan di Hotel Le Méridien, Putrajaya, 24–25 Oktober 2025. Acara ini terselenggara atas kerja sama Yayasan Karyawan bersama Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA)–Universiti Kebangsaan Malaysia, Universiti Sains Malaysia (USM), Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), Universiti Putra Malaysia, dan Perpustakaan Negara Malaysia (PNM).

Pembukaan konferensi dilakukan oleh Pemerintah Malaysia yang diwakili oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Datuk Seri Dr. Zambry Abd Kadir, yang hadir mewakili Perdana Menteri Malaysia, Dato’ Seri Anwar Ibrahim. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa pemerintah akan memfasilitasi pendigitalan dan transliterasi karya agung Melayu sebagai bagian dari strategi nasional dalam memajukan warisan budaya di era digital.

Peran UPI & Relevansi Konferensi

UPI, melalui kehadiran Prof. Yulianeta, menunjukkan bahwa pelestarian warisan budaya bukan hanya persoalan masa lalu, tetapi juga sangat relevan dalam konteks global dan lintas negara. Dukungan UPI terhadap program Kampus Berdampak tercermin dalam partisipasi aktif di forum internasional ini.

Konferensi PAKAM 2025 menghadirkan narasumber utama dan panelis dari beberapa negara, Indonesia, Malaysia, Brunei, Thailand, Jerman, dan Leiden yang membahas prakarsa digitalisasi warisan sastra, kolaborasi lintas negara, dan penguatan generasi muda sebagai penerus budaya.

Dalam sesi yang menyorot hubungan antara tradisi dan teknologi, Prof. Yulianeta membawakan topik berjudul: Transformasi Manuskrip Nusantara melalui Animasi: Usaha Melestarikan Karya Agung dalam Era Teknologi.

Pembahasan ini menekankan bagaimana visualisasi digital dapat menjadi sarana untuk menghidupkan kembali manuskrip Nusantara, terutama manuskrip Memory of the World, sekaligus menjangkau audiens generasi muda, termasuk anak-anak. Upaya mendekatkan karya agung kepada generasi muda telah banyak dilakukan di Indonesia melalui revitalisasi manuskrip yang diselenggarakan oleh Badan Bahasa, Kemendiknas serta melalui sayembara penulisan cerita dan skrip komik berdasarkan koleksi manuskrip Perpustakaan Nasional RI. Transformasi atau penyederhanaan naskah ke dalam bentuk animasi dilakukan dengan tetap mempertahankan nilai kebaikan naskah hipogram atau naskah asli, dengan misi meneruskan kebaikan masa lalu untuk masa kini. Pendekatan ini menghadirkan tokoh-tokoh heroik sebagai inspirasi bagi generasi muda agar lebih mengenal dan menghargai warisan budaya bangsa.

PAKAM 2025 menempatkan pelestarian karya agung sebagai isu lintas-disiplin: dari filologi, arsip, hingga aplikasi teknologi digital dan industri kreatif serta perfilman, dengan sesi panel dan presentasi dari ilmuwan lokal serta internasional. Acara juga menampilkan sambutan dari tokoh-tokoh kependidikan negara dan menghadirkan pembicara dari berbagai universitas mitra.

Kaitan dengan Program “Kampus Berdampak”

Pendekatan ini selaras dengan semangat Kampus Berdampak, pendidikan tinggi yang tidak hanya menghasilkan penelitian dan publikasi, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya generasi muda dan pelestarian budaya.

Terkait agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs), inisiatif yang diangkat dalam PAKAM 2025 menunjukkan korelasi kuat dengan upaya pelindungan dan promosi warisan budaya (SDG 11.4), peningkatan akses pendidikan berkualitas melalui pemanfaatan karya tradisional sebagai bahan pembelajaran (SDG 4), serta penguatan kemitraan lintas negara, institusi akademik, dan sektor kreatif (SDG 17).

Di akhir konferensi, PAKAM 2025 merekomendasikan beberapa langkah strategis, antara lain: pengembangan kurikulum berbasis warisan budaya dengan pendekatan multimedia kreatif; pemanfaatan industri kreatif seperti animasi dan gim edukasi untuk memperluas akses publik terhadap karya agung; pembentukan jaringan riset internasional (Indonesia–Malaysia–Brunei–Thailand) untuk digitalisasi manuskrip dan pengembangan teknologi filologi; serta pendirian Pusat Naskhah Digital yang terbuka bagi peneliti dan generasi muda.

Kehadiran Prof. Yulianeta di PAKAM 2025 memperkuat dialog akademik Indonesia–Malaysia–Brunei–Thailand dalam bidang warisan budaya dan teknologi. Upaya ini menegaskan bahwa pelestarian budaya, baik versi fisik maupun digital, adalah bagian integral dari agenda global pembangunan berkelanjutan dan pendidikan inklusif bagi generasi mendatang. (DN)

Mahardika Zifana Bagikan Panduan Menulis dan Publikasi Ilmiah di Balai Bahasa UPI

28 Oct 2025 • Humas UPI
Dr. Mahardika Zifana saat memaparkan materi “Panduan Menulis dan Publikasi Ilmiah” dalam rangkaian kegiatan Linguasphere 2025 yang digelar oleh Balai Bahasa UPI, Bandung, Senin (27/10) Foto: DN/ KKIPP

Bandung, 27 Oktober 2025 — Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa dan International Language Day, Balai Bahasa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar Talk Show bertajuk “Panduan Menulis dan Publikasi Ilmiah” bersama Dr. Mahardika Zifana, akademisi dan peneliti muda yang dikenal aktif membimbing mahasiswa dalam publikasi ilmiah. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Linguasphere 2025 yang bertema “Merayakan Keberagaman Bahasa Dunia.”

Dalam paparannya, Dr. Mahardika menegaskan bahwa kemampuan menulis ilmiah merupakan keterampilan penting bagi mahasiswa dan akademisi untuk mengembangkan daya pikir kritis dan berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan.

“Menulis karya ilmiah bukan hanya tentang memenuhi tugas akademik, tetapi tentang melatih berpikir jernih, sistematis, dan bertanggung jawab secara ilmiah,” ujarnya.

Dr. Mahardika memaparkan berbagai strategi untuk menulis karya ilmiah yang efektif — mulai dari memahami metodologi penelitian, mengelola waktu, hingga menjunjung tinggi etika akademik. Ia juga membedakan secara jelas antara skripsi atau tesis yang bersifat eksploratif dan lengkap, dengan artikel jurnal yang lebih padat, fokus pada kebaruan, dan menonjolkan temuan utama.

Lebih lanjut, ia membahas tantangan umum yang kerap dihadapi mahasiswa dalam proses penulisan, seperti kesulitan menentukan topik, motivasi yang menurun, hingga manajemen waktu yang buruk. Untuk mengatasinya, Mahardika menganjurkan mahasiswa menetapkan bidang minat yang relevan, membaca literatur terbaru, dan menyusun timeline realistis sejak awal penelitian.

Dalam sesi selanjutnya, Dr. Mahardika menguraikan kiat praktis menulis artikel jurnal, antara lain menyusun abstrak yang ringkas dan kuat, menghindari plagiarisme dengan sitasi yang tepat, serta menggunakan reference manager untuk menjaga konsistensi daftar pustaka.

“Plagiarisme bukan sekadar pelanggaran etika, tetapi juga tanda kurangnya penghargaan terhadap proses berpikir ilmiah. Gunakan sumber akademik terpercaya dan biasakan menulis dengan pemahaman sendiri,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya proofreading dan peer review sebelum naskah dikirim ke jurnal ilmiah. Menurutnya, tahap penyuntingan dan tanggapan terhadap komentar reviewer adalah bagian penting dalam membentuk integritas dan profesionalisme penulis ilmiah.

Great papers come from great revisions — artikel hebat lahir dari proses revisi yang sabar dan terbuka,” ujarnya.

Selain itu, Dr. Mahardika membagikan panduan memilih jurnal yang tepat berdasarkan reputasi, kesesuaian bidang, serta waktu peninjauan yang realistis. Ia mengingatkan agar penulis memperhatikan author guidelines dan struktur naskah sesuai format jurnal sasaran.

“Menulis ilmiah adalah proses panjang. Nikmati setiap langkahnya, rayakan setiap kemajuan kecil, dan jadikan tulisanmu sebagai kontribusi bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat.”, Tutup Dr. Mahardika. RK (28/10)

Pencarian