Ethos, Pathos, dan Logos

Diskusi tentang Komunikasi di Masa Pandemi, Jangan bikin Frustasi yang digelar KOMPASTV sangat alot dan  berbobot. Ketika Rosianna Silalahi, Sang Pemandu dalam acara Kompas TV Rosi bertanya  kepada salah seorang nara sumber Prof. Karim Suryadi, tentang sosok Jubir Istana yang bagaimana yang cocok untuk komunikasi publik. Dengan lantang, lugas dan jernih Prof Karim berujar, diperlukan sosok komunikator publik yang memiliki kriteria Ethos, Pathos, & Logos.   

Makna ethos memberi menggaris bawahi bahwa komunikator harus kredibel, memiliki integritas, dan berkarakter baik. Tidak pernah berbohong. Makna pathos berati bahwa seorang komunikator seyogyanya  memiliki kemampuan emosional yang baik  dalam mengelola emosi, empati, dan persuasi. Melalui kadar empati dan persuasi tersebut akan terbangun komunikasi yang produktif. Makna logos artinya seorang komunikator harus logis, apa yang disampaikan masuk apal dan tak bertentangan dengan fakta. Komunikator yang baik, senatiasa berbicara  sesuai dengan data fakta yang ada. Tidak membual.

Itulah benang merah peran  komunikator dalam ranah publik. Kompetensi yang bercirikan   ethos berupa karakter dan pembawaan, pathos lebih bercirikan ikatan emosional, dan logos yang memiliki makna logis, masuk akal. Dalam perkembangannya capabilities triangle ini bisa dikembangkan dan diadopsi dalam berbagai  bidang manajemen, organisasi publik, termasuk pendidikan.

Ide Aristoles

Al Kisah, 24 abad lalu, atau sekitar  300 SM. Di suatu perguruan yang sunyi di pinggiran kota Athena Yunani, terjadi dialog alot antara sang murid Aristoles dengan sang maha guru Plato._ Dalam perkembangannya Socrates, Plato, dan Aristoteles merupakan tiga Filsof Yunani Kuno yang buah pkirannya  terkenal dan diakui masyarakat dunia sampai sekarang.

Pada saat itu keduanya berdiskusi tentang lontaran topik yang dikemukakan Aristoles kepada sang Guru Plato. Keduanya juga membahas  ragam ilmu pengetahuan, termasuk etika, politik; fisika, ilmu alam, dan seni. Salah satunya tentang  tiga hal yang dikemukakan Aristoteles yaitu ethos, pathos, dan logos. Buah pikiran itu mengerucut dan menjadi cikal bakal pengetahuan yang kita kenal sekarang dengan rhetorical triangle yaitu : ethos; pathos, dan logos.

Dalam ilmu manajemen dan komunikasi, rhetorical triangle ini menjadi elemen pengaruh yang signifikan dalam manajemen, kepemimpinan  modern suatu organisasi. Proses komunikasi yang dibangun akan lebih bermakna manakala memperhatikan ketiga  aspek tersebut.

Etos bercirikan kredibitas dan kepercayaan atau credibility & trust. Sedangka  aspek pathos berkaitan dalam mengelola emosi dan sistem nilai. Yaitu bagaimana empati, persuasi dibangun melalui komunikasi insani. Sedangkan aspek logos berkaitan dengan logika, reasoning dan proof. Pembuktian antara yang diucapkan dengan data lapangan. Tak pernah memanipulasi data. Tak pernah exagaratte fact melebih lebihkan fakta. Atau kegiatan menggoreng kebohongan dan kebenaran (lies & truth) dalam kemasan yang menipu.

Komunikasi Pembelajaran

Guru pada dasarnya adalah seorang komunikator. Yaitu bagaimana  guru merencanakan, melaksanakan, dan melakukan asesmen atas program pembelajaran yang diampunya. Ia juga sebagai fasilitor dan  motivator agar siswa dapat belajar secara optimal.

Bagaimanapun aspek ethos, pathos, dan logos ini menjadi kekuatan dan pendorong dalam komunikasi pembelajaran yang dibangun. Berikut tips yang bisa dipertimbangkan. Pertama, ethos. Yaitu sosok dan penampilan guru yang berkarakter, kredibel, dan dihormati siswanya. Guru dituntut tak hanya kapabel dalam bidang yang akan diajarkan, tetapi juga kapabel bagaimana suatu bahan ajarĀ  bisa disajikan dengan tepat, komunikatif dengan memanfaatkan sumber belajar yang beragam. Gurupun dituntut untuk memiliki digital capabilities, terutama dalam menghadapi limpah ruah data. Big data dan Internet of things

Kedua, pathos. Yaitu kemampuan guru dalam mengelola dan mengembangkan hubungan emosional yang baik dengan siswanya. Bagaimana empati dan simpati bisa dibangun, itulah guru yang memiliki pathos yang mumpuni. Suana pembelajaran menjadi cair dan sumringah Memaknai pathos artinya guru juga patut piawai dalam mengelola bagaimana siswa belajar. How to encourage students to learn. Logikanya, bila guru berkehendak agar soft skill siswa ditingkatkan, maka soft skill guru dalam memfasilitasi pembelajaran, harus ditingkatkan pula.  Tipe guru jutek, guru  berpenampilan sangar atau unsmile teacher adalah ciri guru yang tak memiliki pathos yang baik. Hubungan guru dan siswa ada jurang pemisah yang dalam.  Sebaliknya, guru yang menggunakan humor, media visual yang beragam, dan memanfaatkan body language yang pas, merupakan indikator kemampuan pathos guru cukup memadai. Ia adalah tipe friendly teacher, tipe guru grapyak. Guru sing cedhak banget karo siswanya.

Ketiga, logos. Guru yang memiliki gaya komunikasi dan  tutur kata yang mudah difahami. Tutur katanya logis, sistimatis. Pola pembelajaran bisa dibangun dengan pendekatan ilmiah atau scientific approaches yang tepat. Problem based learning atau Project base learning merupakan metode pembelajaran yang sangat direkomendasikan. Dosen atau guru yang mengajar dengan berpijak hasil riset, data mutakhir merupakan sosok pengajar dengan ciri kadar logos yang tinggi.

Itulah spirit ethos, pathos, dan logos yang diperkenalkan Aristoteles Filsof Yunani kuno pada 24 abad yang lampau, tampaknya sampai sekarang masih relevan dan terus dijadikan acuan. Seperti pernah dikemukakan Rob Parson (2020) seorang pakar komunikasi modern. Ia berujar bahwa etos, pathos dan logos merupakan jantungnya komunikasi. Gemanya tetap nyaring tak lekang di telan zaman. Ethos, Logos and Pathos are actually the Heart of Communication (Dinn Wahyudin).