English
Indonesia

Guru Besar UPI Prof. Nuria Haristiani Raih Dua Gelar Profesor Honoris Causa dari Uzbekistan

29 Sep 2025 • Humas UPI

Uzbekistan – Prof. Nuria Haristiani, M.Ed., Ph.D., Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sekaligus Ketua Prodi Integrasi S1-S2 Pendidikan Bahasa Jepang, meraih penghargaan bergengsi berupa dua gelar Profesor Honoris Causa dari Chirchiq State Pedagogical University (CSPU), Chirchiq, dan Institute of Social and Political Sciences (ISFI), Tashkent, Uzbekistan.

Penganugerahan yang digelar di Tashkent pada Selasa (16/9) itu diselenggarakan oleh ISFI untuk mengapresiasi individu berprestasi dalam bidang ilmu sosial dan politik. Rangkaian acara berlangsung khidmat, dihadiri pimpinan universitas mitra, pejabat Kementerian Pendidikan Uzbekistan, perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tashkent, serta tokoh akademik internasional. Upacara diisi dengan pidato kehormatan, penandatanganan nota kesepahaman, forum diskusi akademik, serta penyerahan simbolis penghargaan dari CSPU kepada Prof. Nuria.

Penghargaan ini diberikan atas dedikasi Prof. Nuria dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kerja sama akademik internasional. Karya dan kontribusinya dinilai sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 16 mengenai Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

“Penghargaan ini merupakan simbol pengakuan internasional terhadap peran akademisi Indonesia dalam membangun kerja sama di bidang pendidikan, perdamaian, dan penguatan institusi,” demikian pernyataan resmi panitia penganugerahan.

Capaian Prof. Nuria sekaligus memperkuat posisi UPI dalam jejaring global, meneguhkan perannya sebagai universitas pelopor pendidikan bahasa dan budaya dengan dampak luas, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di tingkat internasional.

Sebagai tindak lanjut, UPI dan Prodi Pendidikan Bahasa Jepang akan memperluas kemitraan dengan universitas di Asia Tengah melalui riset kolaboratif dan pengembangan model pembelajaran bahasa yang relevan dengan kebutuhan tenaga kerja global. Langkah ini diharapkan dapat menjawab isu sosial terkait lapangan kerja, sekaligus mendukung program “Kampus Berdampak” dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek).

Komisi C Senat Akademik UPI Bahas Penguatan Riset, Publikasi, dan Tata Kelola

29 Sep 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI – Komisi C Senat Akademik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar rapat strategis di Gedung University Center (UC) lantai 3, Rabu (10/9). Agenda utama rapat meliputi penguatan riset, publikasi ilmiah, serta pengembangan tata kelola kelembagaan komisi.

Ketua Komisi C, Prof. Fitri Khairunnisa, dalam pengantarnya menekankan pentingnya sinergi antara Komisi C dan pihak Rektorat untuk mendukung target besar universitas. Rapat turut dibuka oleh Ketua Senat Akademik (SA), Prof. Dr. Yadi Ruyadi, yang menegaskan bahwa komisi merupakan garda terdepan dalam mendukung kinerja SA. “Rapat pleno akan lebih efektif apabila dilandasi masukan strategis dari masing-masing komisi,” ujarnya.

Salah satu isu utama yang mencuat adalah perlunya penyusunan Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) SA, termasuk pembentukan Komisi Etik Penelitian serta Komite Integritas dan Disiplin, guna memperkuat payung hukum dan kejelasan kewenangan.

Wakil Rektor IV bidang Penelitian, Prof. Dr. Agus Setiabudi, mendorong pengelolaan jurnal secara lebih profesional dan penyelenggaraan konferensi dengan luaran publikasi terindeks. Ia juga menegaskan target UPI untuk masuk QS Top 800, yang membutuhkan peningkatan publikasi, riset berbasis kelompok penelitian, dan kolaborasi internasional.

Sejalan dengan itu, Prof. Budi Mulyanti menekankan pentingnya penguatan Komisi Etik Penelitian, terutama dalam penerbitan rekomendasi ethical clearance. Hal senada disampaikan Prof. Eli, yang menekankan independensi komisi agar subjek penelitian terlindungi dan potensi konflik kelembagaan dapat dihindari.

Rapat juga menyoroti perlunya konsistensi prosedur kenaikan pangkat akademik, khususnya persyaratan publikasi untuk Guru Besar yang dinilai belum seragam. Komisi menilai kejelasan regulasi dan dukungan pendanaan riset, termasuk hilirisasi hasil penelitian, harus diperkuat agar sejalan dengan visi UPI sebagai universitas berbasis riset.

Selain itu, peserta rapat menekankan peran riset dalam menjawab isu-isu sosial, terutama pendidikan inklusif di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Publikasi terkait inovasi pendidikan dinilai penting untuk mendukung akses pendidikan yang merata.

Dari hasil rapat, beberapa keputusan penting diambil, antara lain pembentukan tim untuk mereview Statuta MWA, penyusunan SOTK Senat Akademik dan Komisi Etik Penelitian, pengusulan SOTK Komite Integritas Akademik, serta optimalisasi riset berbasis grup dengan memperluas kolaborasi internasional. Dalam mengoptimalisasikan riset, UPI dapat mengajak mahasiswa untuk berkontribusi kepada masyarakat dengan memberikan solusi dari isu-isu sosial, terutama menciptakan pendidikan yang inklusif. Hal ini mendukung program Mahasiswa Berdampak dengan memberikan bimbingan dan mempersiapkan mahasiswa menjadi pelopor perubahan. Rapat ditutup dengan penegasan kembali mengenai pentingnya sinergi antara Warek IV dan Komisi C dalam mendukung pencapaian target UPI serta memperkuat tata kelola komisi di lingkungan Senat Akademik

Kontributor: JS

Senat Akademik  dan Anggota MWA Unsur Senat Akademik Membahas Sinergi Kelembagaan dan Permasalahan Universitas

29 Sep 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI – Senat Akademik (SA) dan Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar rapat pimpinan bersama di Bandung, Rabu (17/9). Pertemuan ini bertujuan memperkuat sinergi kelembagaan pada masa kepemimpinan rektor baru, sekaligus membahas tantangan serius terkait tata kelola dan distribusi anggaran.

Rapat dihadiri pimpinan SA dan MWA serta sejumlah tokoh akademik. Ketua SA, Prof. Dr. Yadi Ruyadi, M.Si., menegaskan pentingnya peran SA dalam mengawal kebijakan universitas agar sejalan dengan regulasi MWA.
“SA harus menjadi garda depan dalam penegakan statuta dan memastikan tidak ada regulasi yang saling bertolak belakang,” ujarnya.

Sejumlah isu strategis mengemuka dalam rapat tersebut. Prof. Nina dari Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) menekankan pentingnya kolaborasi rutin antara SA dan MWA untuk menjaga kredibilitas universitas. Ia juga mengusulkan benchmarking ke Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) lain sebagai perbandingan tata kelola.

Dari sisi kelembagaan, Prof. Riandi menyoroti belum jelasnya struktur organisasi MWA yang berpotensi mengurangi kinerja. Dr. Pupung menambahkan perlunya kejelasan tata kelola organisasi, termasuk wacana pembentukan senat fakultas seperti di beberapa PTNBH.

Isu anggaran juga mendapat perhatian besar. Prof. Dedi dan Dr. Syaeful menilai distribusi dana harus lebih proporsional agar setiap organ—Rektorat, SA, dan MWA—dapat menjalankan peran secara optimal. Dr. Syaeful menekankan MWA perlu memiliki ruang cukup dalam pengaturan anggaran untuk mendukung program kelembagaan.

Selain itu, rapat turut membahas implementasi Insentif Berbasis Kinerja (IBK) yang dinilai belum proporsional dan belum sepenuhnya dikoordinasikan dengan SA.

Menutup rapat, Prof. Yadi menyampaikan bahwa hasil pertemuan akan menjadi bahan evaluasi statuta serta dasar perbaikan tata kelola UPI. Ia juga menekankan perlunya melibatkan Wakil Rektor Bidang Keuangan pada pertemuan berikutnya.
“SA dan MWA harus memiliki target kinerja tahunan yang jelas, didukung kajian akademik, dan dijalankan dengan sinergi bersama Rektorat,” pungkasnya.

Kontributor: JS

UPI Mantapkan Visi 5 Tahun Menuju Universitas Bereputasi Dunia

29 Sep 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar Rapat Dinas Kelembagaan (RDK) sebagai langkah strategis untuk menentukan arah kebijakan dan program pengembangan institusi dalam lima tahun ke depan. RDK ini menjadi forum penting bagi para pimpinan unit untuk menyamakan visi, merancang program, serta menyusun Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) indikatif di Auditorium FPEB lt. 6 Kampus UPI Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung, Jawa Barat. Kamis (25/9/2025).

Dalam forum tersebut, RDK tidak hanya menjadi wadah evaluasi, tetapi juga perencanaan komprehensif yang mencakup rancangan program kerja serta penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) indikatif. Setiap unit diharapkan mampu mengidentifikasi prioritas, mengukur kebutuhan sumber daya, sekaligus memastikan kontribusi nyata terhadap peningkatan mutu universitas.

UPI kembali meneguhkan komitmennya sebagai perguruan tinggi yang siap berkiprah di panggung internasional. Melalui Rencana dan Kebijakan (RDK) jangka lima tahun, UPI meluncurkan 5 sasaran strategis dengan 38 program unggulan yang ditujukan untuk membawa universitas ini semakin diperhitungkan di tingkat global.

Salah satu fokus utama yang dibahas dalam RDK adalah penguatan riset, pengembangan kewirausahaan, dan perluasan kolaborasi. Hal ini sejalan dengan komitmen UPI untuk meningkatkan daya saing dan kualitas di tingkat nasional maupun internasional.

Rektor UPI  Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A., menegaskan bahwa setiap cita-cita besar harus diiringi perencanaan matang dan langkah nyata. “Kalau kita punya cita-cita, tentu harus diupayakan dan direncanakan. Karena kalau tidak ada rencana, sama saja kita merencanakan kegagalan,” ujarnya.

Target ambisius UPI dalam lima tahun mendatang adalah menembus 800 besar QS World University Rankings, memperbaiki posisi di Times Higher Education (THE) Ranking, serta memperkuat capaian di UI GreenMetric dan Impact Rankings. Upaya ini bukan hanya soal prestasi, tetapi juga wujud nyata kontribusi UPI dalam menjawab tantangan pendidikan tinggi global.

Langkah besar ini menegaskan tekad UPI untuk menjadi universitas kelas dunia yang unggul dalam pendidikan, penelitian, dan kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan. Dengan semangat kolaborasi dan integritas, UPI siap menjadikan mimpi besar itu sebagai kenyataan.

Optimisme ini diperkuat dengan prestasi program studi UPI yang semakin banyak masuk dalam radar QS by Subject Ranking. “Target kita masuk 12 besar ranking by subject cukup realistis. Sepanjang kita konsisten, serius, dan mengedepankan integritas, target tersebut insya Allah bisa tercapai,” tambah Rektor UPI.

Setiap fakultas, direktorat, dan biro diberi peran penting dengan target capaian yang jelas. Untuk menjamin keberhasilan, UPI menerapkan sistem monitoring tiga kali setahun serta evaluasi menyeluruh di akhir tahun. Menariknya, universitas menerapkan mekanisme insentif dan disinsentif: unit yang berprestasi akan memperoleh dukungan tambahan, sementara unit yang kurang optimal akan ditinjau kembali agar dana bisa dimanfaatkan secara lebih efektif.

Dalam kesempatan yang sama Wakil Rektor Perencanaan dan Keuangan UPI Prof. Dr. Rudi Susilana, M.Si., menyampaikan.,“Yang penting adalah bagaimana pimpinan di setiap unit memahami arah kebijakan universitas, sehingga dapat mendukung secara konsisten target yang ingin dicapai. UPI ingin fokus pada penguatan riset, entrepreneurship, serta kolaborasi,”

Lebih lanjut, disampaikan pula bahwa UPI akan meningkatkan secara signifikan alokasi dana riset pada tahun 2026. Menurut Prof. Rudi, dana riset yang semula berada pada kisaran 15 miliar, direncanakan naik hampir dua kali lipat hingga mencapai 45 miliar rupiah. “Kenaikan ini merupakan bentuk komitmen UPI dalam mendorong budaya riset yang lebih produktif dan inovatif, sekaligus memperkuat rekognisi universitas di tingkat ASEAN,” tambahnya.

RDK ini juga diharapkan mampu menghasilkan langkah taktis bagi setiap unit kerja, sehingga rencana strategis UPI dapat diimplementasikan dengan terukur dan berkelanjutan. Dengan demikian, UPI optimis dapat terus meningkatkan perannya sebagai universitas pelopor dan unggul di bidang pendidikan, riset, dan inovasi. (Riza/DN)

POMNAS XIX 2025, Jabar Lampaui Target Medali, Atlet UPI Jadi Motor Prestasi

28 Sep 2025 • Humas UPI

Semarang – Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) XIX 2025 yang digelar di Jawa Tengah resmi ditutup pada Jumat (26/9) di GOR Basket Prof. Dr. dr. Susilo Wibowo, Universitas Diponegoro, Semarang. Perhelatan olahraga mahasiswa terbesar di Indonesia ini berakhir sukses dengan capaian membanggakan bagi kontingen Jawa Barat.

Jawa Barat menutup ajang POMNAS dengan torehan 25 medali emas, 23 perak, dan 28 perunggu, atau total 76 medali. Hasil ini melampaui target yang dicanangkan sebelumnya dan menempatkan Jawa Barat pada peringkat keempat nasional di bawah DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Cabang olahraga Tarung Derajat menjadi penyumbang emas terbanyak dengan 8 emas, 4 perak, dan 6 perunggu, disusul Pencak Silat dengan raihan 4 emas, 3 perak, dan 1 perunggu. Dua cabang bela diri ini mencatat peningkatan signifikan dibanding POMNAS sebelumnya. Selain itu, cabang Atletik dan Catur juga berhasil melampaui target medali.

“Perolehan medali dari Tarung Derajat dan Pencak Silat luar biasa. Kontribusi mereka sangat besar dalam menutup POMNAS kali ini,” ujar Wakil Ketua Kontingen Jawa Barat, Prof. Dr. Mulyana, M.Pd.

Meski begitu, masih ada sejumlah cabang olahraga yang belum berhasil mempersembahkan emas, di antaranya Bola Voli Pasir, Tenis, Wushu, dan Panjat Tebing. Kontingen Jawa Barat berharap pada POMNAS 2027 di Palembang, cabang-cabang tersebut dapat meningkatkan prestasi dan ikut menyumbangkan medali emas.

Dalam POMNAS XIX kali ini, dari 54 atlet yang dikirim mewakili Jawa Barat, tercatat 24 mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sukses menyumbangkan medali dari berbagai cabang olahraga.

Selain kerja keras atlet dan pelatih, dukungan dari berbagai pihak juga menjadi faktor penting. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan bantuan satu unit bus operasional yang digunakan para atlet untuk mobilitas ke arena pertandingan, sehingga memperlancar perjuangan kontingen di lapangan.

Ke depan, kontingen Jawa Barat menargetkan peningkatan posisi di POMNAS berikutnya. Jika kali ini berada di peringkat keempat, Jawa Barat optimistis dapat kembali merebut posisi tiga besar, bahkan dua besar, seperti capaian pada edisi sebelumnya.

“Kami berharap pada POMNAS 2027 di Palembang, persiapan dilakukan lebih matang dengan sinergi antara perguruan tinggi, pelatih, dan dukungan penuh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dengan kerja sama yang solid, kami optimistis bisa meraih prestasi lebih tinggi,” tambah Prof. Mulyana.

Kontributor: Prof. Dr. Mulyana, M.Pd., & Defany (Kesekertariatan)

Pencarian