English
Indonesia

UPI Jalin Kerja Sama Dengan Pemerintah Kabupaten Mappi

10 May 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

UPI melaksanakan penandatanganan nota kesepahaman dengan Pemerintah Kabupaten Mappi, Papua Selatan pada Jumat (8/5) pagi. Bertempat di Ruang Rapat Gedung Center of Excellence, Kampus UPI Bumi Siliwangi, Kota Bandung – dua pihak bertemu untuk membangun kolaborasi baik dalam bidang pengembangan pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta percepatan Pembangunan daerah.

Turut hadir dalam kegiatan Prof. Dr. Agus Setiabudi, M.Si. (Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian, dan Kemitraan UPI), Prof. Dr. rer. nat. Asep Supriatna, M.Si. (Direktur Direktorat Pendidikan UPI) dan Heri P. D. Setiyorini, M.M., Ph.D. (Kepala Divisi Kemitraan Nasional, DKUI UPI) mewakili UPI. Sementara itu, rombongan Pemerintah Kabupaten Mappi langsung dipimpin oleh Kristosimus Yohanes Agamewu (Bupati Mappi) dan Dra. Maria G. Letsoin, M.Pd. (Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Mappi).

Diskusi hangat mengawali pembahasan poin penting terkait kerja sama yang potensial dibangun kedua pihak. Bupati Mappi menyampaikan maksud dan tujuan pengembangan pendidikan dan sumber daya manusia yang menjadi bahan pertimbangan dalam nota kesepahaman.

“Kami berharap anak-anak kami di Mappi ini dapat berkuliah di UPI, tetapi tentu juga kami berharap UPI dapat memberikan kontribusi nyata agar sumber daya kami dapat berkembang semakin baik,” jelas Bupati Mappi.

Lebih lanjut, Bupati Mappi mengungkapkan kebutuhan sarjana kedokteran dan kedokteran gigi sebagai penunjang utama pilar kesehatan di daerah setempat. Dengan luas wilayah yang didominasi sungai, akses kesehatan yang dapat dijangkau masyarakat adalah dua rumah sakit daerah dan 17 pusat kesehatan masyarakat. Kebutuhan dokter umum tetap dapat memperkuat layanan kesehatan dan UPI menjadi pilihan yang dipertimbangkan oleh Pemerintah Kabupaten Mappi.

Bupati Mappi menginginkan mahasiswa yang menjadi sasaran kerja sama ini untuk mendapatkan paket lengkap berupa soft skill untuk menunjang layanan prima sebagai bagian utuh pendidikan yang dilaksanakan di UPI. Prof. Agus menyampaikan respons hangat atas poin-poin yang disampaikan Bupati Mappi.

“Pada dasarnya, Pak Bupati dan Ibu Sekda, UPI dalam hal kerja sama yang dilakukan bersama dengan pemerintah daerah, UPI berfokus pada memfasilitasi program afirmasi pendidikan yang biasa dilakukan pemerintah daerah. Kami sudah menjalankan kerja sama yang baik juga dengan pemerintah daerah lainnya,” tambah Agus.

Kerja sama yang ditawarkan oleh UPI juga meliputi penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan kebijakan daerah. Agus menambahkan bahwa rencana ini dapat segera dieksekusi, mengingat tujuan awal terkait pentingnya afirmasi pendidikan dan dan pengembangan daerah. Lebih dari itu, suasana hangat yang dibawa dari semangat kerja sama ini adalah bersama memberikan kontribusi kepada masyarakat.

“Pada dasarnya, kami sangat menyambut baik kerja sama ini. Perihal penerimaan mahasiswa baru dan hal-hal lainnya secara teknis dapat kita selesaikan dengan baik program yang baik ini. Terima kasih atas kepercayaan Bapak dan Ibu kepada UPI, ini juga menjadi satu catatan penting bagi kami,” tutup Agus. (EA/Rija)

“DNA” PEMBELAJAR

09 May 2026 • Humas UPI

Dinn Wahyudin

Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Pendidikan Indonesia

“DNA” pembelajar merupakan  penciri karakter, nilai, sikap, dan kebiasaan yang mendorong seseorang untuk terus belajar, berkembang, beradaptasi, dan memperbaiki diri sepanjang hayat. Istilah ini bukan merujuk pada DNA dalam ilmu Biologi, singkatan dari Deoxyribonucleic Acid, melainkan metafora sosial-kultural yang menggambarkan watak dasar suatu generasi dalam memandang ilmu pengetahuan, pendidikan, dan proses belajar.  Dalam konteks Indonesia, “DNA” pembelajar sesungguhnya lahir dari sejarah panjang budaya gotong royong, tradisi menuntut ilmu, dan semangat memperbaiki kehidupan melalui pendidikan. Nilai ini tampak dalam filosofi masyarakat yang menghormati guru, menjadikan pendidikan sebagai jalan mobilitas sosial, serta keyakinan bahwa ilmu adalah sarana memuliakan diri dan masyarakat. DNA pembelajar bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga mentalitas untuk terus bertanya, mencoba, membaca, berpikir kritis, dan belajar dari pengalaman hidup.

DNA pembelajar generasi muda Indonesia dapat dikenali melalui beberapa ciri utama. Pertama, rasa ingin tahu yang tinggi terhadap dunia dan perubahan. Kedua, kemampuan adaptif menghadapi perkembangan teknologi dan tantangan global. Ketiga, semangat kolaboratif dan gotong royong dalam belajar. Keempat, ketahanan atau resiliansi dalam menghadapi kegagalan. Kelima, adanya orientasi belajar tidak hanya demi nilai, tetapi demi kompetensi, karakter, dan kontribusi sosial. Generasi muda yang memiliki DNA pembelajar akan melihat pendidikan sebagai proses bertumbuh, bukan sekadar memperoleh ijazah.

Dalam era digital, DNA pembelajar juga berarti kemampuan belajar secara mandiri (self-directed learning). Generasi muda saat ini hidup di tengah arus informasi yang sangat besar. Pembelajar sejati bukan hanya mereka yang mampu mengakses informasi, tetapi yang dapat menyaring, memahami, mengkritisi, dan mengubah informasi menjadi pengetahuan serta tindakan yang bermanfaat. Di sinilah literasi digital, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan etika menjadi bagian penting dari DNA pembelajar abad ke-21.

DNA pembelajar generasi muda Indonesia sejatinya sebagai patut dipandang sebagai fondasi peradaban bangsa (the foundation of a nation’s civilization). Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang kaya sumber daya alam, tetapi bangsa yang masyarakat mudanya memiliki gairah belajar tinggi, daya pikir maju, karakter tangguh, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan. Dengan demikian, tugas pendidikan nasional bukan sekadar mengajar materi pelajaran, melainkan menumbuhkan dan menjaga DNA pembelajar agar tetap hidup dalam diri setiap generasi Indonesia.

DNA pembelajar murid Indonesia sesungguhnya belum hilang, tetapi sedang mengalami tekanan besar akibat perubahan sosial, budaya digital, dan orientasi pendidikan yang semakin pragmatis. Dalam konteks historis, bangsa Indonesia memiliki tradisi belajar yang kuat. Semangat menuntut ilmu telah hidup sejak masa pesantren, surau, hingga gerakan literasi masyarakat desa. Bahkan dalam keterbatasan ekonomi, banyak generasi Indonesia dahulu menunjukkan daya juang tinggi untuk belajar sebagai jalan mobilitas sosial dan pengabdian. Hal ini menunjukkan bahwa secara kultural, masyarakat Indonesia memiliki akar pembelajaran yang kuat.

Namun demikian realitas pendidikan dewasa ini memperlihatkan gejala melemahnya motivasi intrinsik belajar pada sebagian murid. Banyak peserta didik belajar bukan karena rasa ingin tahu, melainkan sekadar mengejar nilai, ijazah, atau formalitas kelulusan. Budaya instan yang diperkuat media sosial, algoritma digital, dan konsumsi hiburan cepat telah mengubah pola perhatian generasi muda. Ketekunan membaca, kemampuan berpikir mendalam, dan daya tahan belajar mengalami tantangan serius. Dalam kondisi tertentu, sekolah bahkan lebih menekankan aspek administratif dan ujian dibandingkan menumbuhkan kegembiraan belajar.

Tampaknya kurang adil apabila generasi muda Indonesia dianggap kehilangan sepenuhnya karakter pembelajar. Banyak fakta menunjukkan murid Indonesia tetap memiliki kreativitas, kemampuan adaptasi, dan semangat eksplorasi yang tinggi, terutama ketika mereka diberi ruang yang relevan dengan dunia mereka. Fenomena meningkatnya minat pada teknologi digital, kewirausahaan muda, konten kreatif, komunitas belajar daring, hingga prestasi internasional di bidang sains, robotik, olahraga, dan seni menunjukkan bahwa potensi “DNA pembelajar” itu masih hidup. Persoalannya bukan hilang, melainkan sering tidak menemukan ekosistem yang mampu memelihara dan mengarahkannya secara positif.

Tantangan utama pendidikan Indonesia bukan sekadar meningkatkan akses sekolah, tetapi menghidupkan kembali makna belajar sebagai proses pembentukan manusia. Sekolah perlu bergeser dari paradigma “menghafal untuk ujian” menuju “belajar untuk kehidupan”. Guru tidak cukup hanya menjadi penyampai materi, melainkan inspirator intelektual dan pembangun rasa ingin tahu. Kurikulum juga perlu memberi ruang lebih besar pada pembelajaran kontekstual, eksploratif, kolaboratif, dan berbasis pemecahan masalah nyata agar siswa merasa belajar memiliki hubungan dengan masa depan mereka.

Sejatinya DNA pembelajar murid Indonesia masih tumbuh, tetapi membutuhkan revitalisasi. Ia tidak akan tumbuh hanya melalui slogan atau kebijakan administratif, melainkan melalui budaya pendidikan yang memanusiakan murid. Ketika keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara mampu menghadirkan lingkungan yang menghargai rasa ingin tahu, kreativitas, disiplin, dan karakter, maka semangat belajar generasi Indonesia akan kembali menemukan kekuatannya. Masa depan bangsa sesungguhnya bergantung pada apakah pendidikan mampu menjaga api pembelajaran itu tetap menyala di tengah perubahan zaman yang sangat cepat.

DNA belajar menurun ?

Adanya tudingan semakin  melemahnya DNA pembelajar dapat terlihat dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Banyak anak muda hari ini sangat akrab dengan gawai dan media sosial, tetapi tidak semuanya menjadikan teknologi sebagai sarana belajar. Banyak murid yang mampu berjam-jam bermain gim atau berselancar di media sosial, namun merasa berat membuka buku, kurang tertarik berdiskusi di kelas, dan mudah menyerah ketika menemui pelajaran yang sulit. Belajar sering kali dilakukan hanya menjelang ujian sekadar agar memperoleh nilai cukup. Bahkan, ketika mendapat tugas, sebagian lebih memilih ”menyalin” atau copi paste jawaban dari internet daripada mencoba memahami materi dengan sungguh-sungguh. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka rasa ingin tahu, daya juang belajar, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis generasi muda dapat perlahan melemah di tengah derasnya perubahan zaman.

Data kuantitatif internasional menunjukkan adanya gejala penurunan kapasitas belajar murid di Indonesia, terutama dalam aspek literasi membaca, numerasi, dan sains. Hasil OECD melalui Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 memperlihatkan bahwa skor Indonesia mengalami penurunan dibandingkan tahun 2018. Skor membaca turun menjadi sekitar 359, matematika sekitar 366, dan sains sekitar 383. OECD bahkan menyebut hasil 2022 sebagai salah satu capaian terendah Indonesia sejak awal partisipasi PISA.

Penurunan tersebut semakin terlihat pada kemampuan dasar siswa. Dalam PISA 2022, hanya sekitar 25% siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih pada literasi membaca, padahal rata-rata OECD mencapai 74%. Pada matematika, hanya sekitar 18% siswa Indonesia mencapai kompetensi minimum, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 69%. Artinya, mayoritas siswa usia 15 tahun di Indonesia masih mengalami kesulitan memahami teks menengah, berpikir logis, dan menyelesaikan persoalan kontekstual sederhana. Kondisi ini menunjukkan melemahnya budaya belajar mendalam dan rendahnya daya tahan akademik siswa.

Selain indikator akademik, tantangan DNA pembelajar juga terlihat dari ekosistem pendidikan yang belum optimal. Data Kemendikbudristek menunjukkan kekurangan guru nasional mencapai lebih dari 1,3 juta tenaga pada 2024. Kondisi ini berdampak pada kualitas pendampingan belajar, budaya akademik sekolah, dan pembentukan motivasi belajar siswa secara berkelanjutan. Namun demikian, penurunan indikator tersebut tidak berarti generasi muda Indonesia kehilangan potensi intelektualnya sepenuhnya. Hal yang melemah sesungguhnya adalah ekosistem yang menopang “DNA pembelajar”.Yaitu  budaya membaca, keteladanan akademik, kualitas interaksi guru-siswa, serta konsistensi pembelajaran yang mendalam. Banyak murid Indonesia masih menunjukkan kreativitas tinggi dalam bidang digital, seni, olahraga, dan inovasi komunitas. Oleh karena itu, tantangan pendidikan nasional saat ini bukan hanya meningkatkan skor PISA, tetapi membangun kembali kultur belajar (learning culture) yang menumbuhkan rasa ingin tahu, ketekunan, disiplin intelektual, dan kegembiraan belajar sebagai bagian dari karakter generasi Indonesia masa depan.

Ikhtiar Peningkatan

Dalam upaya meningkatkan DNA pembelajar semakin baik, dapat dilakukan dengan beberapa program. Ikhtiar pertama yang perlu dilakukan adalah membangun kembali budaya literasi sebagai gerakan nasional berbasis keluarga, sekolah, dan masyarakat. DNA pembelajar tidak lahir secara instan di ruang kelas, tetapi tumbuh melalui kebiasaan membaca, berdiskusi, bertanya, dan mengeksplorasi pengetahuan sejak usia dini. Dalam banyak negara dengan capaian pendidikan tinggi seperti Finlandia, Korea Selatan, dan Singapura, kekuatan utama mereka bukan hanya kurikulum, melainkan budaya belajar yang hidup di rumah dan lingkungan sosial. Indonesia perlu menghidupkan kembali tradisi membaca harian, pemberdayaan perpustakaan sekolah yang aktif, komunitas literasi, serta ekosistem digital yang mendukung pembelajaran, bukan sekadar hiburan konsumtif.

Ikhtiar kedua melalui penguatan kualitas guru sebagai penggerak utama DNA pembelajar murid. Guru abad ke-21 tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga harus mampu menjadi inspirator, mentor, fasilitator kreativitas, dan pembangun motivasi belajar. Dalam konteks ini, peningkatan kompetensi pedagogik, literasi digital, dan kemampuan pembelajaran mendalam menjadi sangat penting. Negara perlu memastikan program pengembangan profesional guru berlangsung berkelanjutan, berbasis praktik nyata, dan didukung kesejahteraan yang memadai. Murid akan sulit menjadi pembelajar aktif apabila mereka jarang berinteraksi dengan guru yang juga memiliki semangat belajar tinggi.

Ikhtiar ketiga melalui retransformasi kurikulum dari ”orientasi hafalan” menuju ”pembelajaran bermakna”. Saat ini, masih ada sebagian praktik pendidikan yang  berfokus capaian jangka pendek, fokus pada ujian, target administratif, dan penguasaan materi secara mekanis. Padahal tantangan masa depan membutuhkan generasi yang mampu berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan adaptif. Pembelajaran perlu diarahkan pada pemecahan masalah nyata, proyek kolaboratif, riset sederhana, eksperimen, dan penguatan karakter. Sekolah harus menjadi ruang tumbuh rasa ingin tahu, bukan sekadar tempat mengejar angka dan nilai rapor.

Ikhtiar keempat melalui penguatan resiliansi belajar generasi muda di tengah disrupsi digital. Teknologi digital memang membuka akses pengetahuan yang luas, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan berupa distraksi, budaya instan, dan menurunnya kemampuan fokus jangka panjang. Pembelajaran di kelas ataupun di luar kelas harus mampu menanamkan disiplin belajar, etika digital, kemampuan menyaring informasi, serta kecakapan belajar mandiri. Generasi muda perlu dibimbing agar teknologi menjadi alat pengembangan diri dan inovasi, bukan sekadar ruang konsumsi hiburan yang melemahkan daya pikir kritis.

Ikhtiar kelima melalui penguatan gerakan pendidikan berbasis partisipasi semesta. Penguatan DNA pembelajar tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah atau pemerintah. Keluarga, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, media, organisasi keagamaan, dan masyarakat sipil harus menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran nasional. Ketika anak hidup dalam lingkungan yang menghargai ilmu, kreativitas, kerja keras, dan integritas, maka semangat belajar akan tumbuh secara alami. Keberhasilan Indonesia di masa depan sangat ditentukan oleh kemampuannya membentuk generasi muda yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter pembelajar sepanjang hayat.

Seperti pernah diungkap Malcolm X, Education is the passport to the future, for tomorrow belongs to those who prepare for it today.” Pendidikan merupakan paspor menuju masa depan, sebab masa depan dimiliki oleh mereka yang mempersiapkan diri sejak hari ini.   Maknanya DNA pembelajar memberi bobot yang tinggi tentang kesiapan generasi muda dalam menghadapi masa depan.

Prof. Bambang Abduljabar: Penjas di Sekolah Harus Cetak Siswa “Cerdas Jasmaniah”

08 May 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Selama ini, mata pelajaran Pendidikan Jasmani (Penjas) di sekolah seringkali hanya dianggap sebagai waktu luang untuk bermain bola atau sekadar mengejar kebugaran fisik. Namun, Prof. Dr. Bambang Abduljabar, M.Pd. menegaskan bahwa Penjas memiliki misi yang jauh lebih besar, yakni membentuk manusia yang “terdidik jasmaniah seutuhnya”.

Hal tersebut disampaikan Prof. Bambang dalam orasi pengukuhannya sebagai Guru Besar bidang Pedagogi Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jumat (8/5/2026). Dalam orasinya, ia membedah peran krusial gerak sebagai fondasi pendidikan karakter dan kecerdasan siswa.

Prof. Bambang memperkenalkan konsep “belajar untuk gerak sebagaimana gerak untuk belajar”. Menurutnya, jasmani bukan hanya objek yang dilatih, melainkan alat utama untuk mendidik.

“Keberadaan olahraga di sekolah selalu bertujuan untuk memfasilitasi siswa belajar. Siswa harus mengalami situasi gerak yang bermakna, berkesan, dan berdampak pada mutu kehidupan mereka, baik sekarang maupun di masa depan,” ujar Prof. Bambang.

Ia menekankan bahwa Penjas di sekolah tidak boleh hanya fokus pada keterampilan motorik mentah, tetapi harus menyentuh aspek kognitif (pikiran), afektif (sikap), dan sosial. Target utamanya adalah menciptakan siswa yang memiliki “literasi fisik” dan “kecerdasan jasmaniah”.

Salah satu poin penting dalam orasi Prof. Bambang adalah pemisahan peran antara olahraga di sekolah dan olahraga prestasi. Ia menilai perlunya pemetaan sistematis agar kedua bidang ini tidak tumpang tindih. Pendidikan Jasmani di Sekolah: Fokus pada pengembangan karakter, pengalaman gerak yang menyenangkan, penguasaan pola gerak dasar, dan literasi fisik. Tujuannya adalah pendidikan menyeluruh bagi semua siswa. Olahraga Prestasi: Fokus pada optimalisasi performa, kemenangan, dan kompetisi. Menurut Prof. Bambang, pembinaan ini lebih tepat dilakukan di klub-klub olahraga masyarakat, bukan menjadi beban utama kurikulum sekolah.

“Di sekolah, keberhasilan diukur dari seberapa cerdas jasmaniah seorang siswa. Sedangkan di klub prestasi, tolok ukurnya adalah catatan waktu, kekuatan, teknik, dan kemenangan,” jelasnya secara lugas.

Prof. Bambang menganalogikan penguasaan gerak seperti bahasa. Siswa di sekolah harus dibekali dengan banyak “kosakata” gerak agar mereka mampu berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungan melalui tubuh mereka.

Melalui pedagogi yang tepat, guru Penjas diharapkan mampu merancang kurikulum yang responsif terhadap kebutuhan siswa, bukan sekadar memberikan bola dan membiarkan mereka bermain tanpa arah.

Pengukuhan ini menjadi pengingat bagi dunia pendidikan di Indonesia bahwa jasmani yang cerdas adalah kunci untuk membangun generasi masa depan yang tangguh secara mental dan fisik. Prof. Bambang berharap, riset-riset di bidang pedagogi olahraga terus diperkuat agar Penjas tetap menjadi jantung dari transformasi individu di sekolah. (DN/Rija/RK)

Lebih dari Sekadar Pingpong: Prof. Indra Safari Ungkap Filosofi Tenis Meja untuk Bentuk Manusia Seutuhnya

08 May 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Selama ini banyak yang menganggap tenis meja atau pingpong hanyalah olahraga rekreasi pengisi waktu luang. Namun, di tangan Prof. Dr. Indra Safari, M.Pd., olahraga ini berubah menjadi “laboratorium” canggih untuk membentuk karakter, mental, dan kecerdasan manusia.

Pesan mendalam ini disampaikan Prof. Indra Safari dalam orasi ilmiah pengukuhannya sebagai Guru Besar bidang Pembelajaran Tenis Meja di Kampus UPI Sumedang, Jumat (8/5/2026). Dalam orasinya, ia mengkritik wajah pendidikan jasmani (Penjas) saat ini yang seringkali hanya fokus pada keringat dan prestasi fisik, namun melupakan pembangunan jiwa.

Menurut Prof. Indra, pendidikan jasmani di era modern sedang mengalami krisis makna karena dianggap sekadar aktivitas otot. Akibatnya, tubuh dididik secara mekanis tanpa menyentuh dimensi emosional dan sosial.

“Olahraga itu bukan cuma soal latihan tubuh, tapi ruang dialektika kehidupan. Di sana ada ruang yang menuntut kreativitas, waktu yang mengajarkan ketepatan merespons, dan gerak yang menuntun harmoni antara kebebasan dan aturan,” ujar Prof. Indra di hadapan senat akademik.

Prof. Indra menjelaskan bahwa tenis meja adalah olahraga yang sangat unik. Dengan meja yang sempit (ruang terbatas) dan bola yang meluncur sangat cepat (waktu yang singkat), pemain dipaksa untuk mengambil keputusan dalam hitungan sepersekian detik.

Dialektika inilah yang menurutnya menjadi metafora pendidikan yang luar biasa. Pemain tenis meja belajar cara mengelola keterbatasan, berpikir kritis di bawah tekanan, serta menyeimbangkan kontrol diri. “Tenis meja menyatukan tubuh, pikiran, dan jiwa,” tambahnya.

Sebagai solusi nyata, Prof. Indra memperkenalkan Model Pembelajaran CYCLE. Model ini dirancang agar guru Penjas tidak lagi hanya mengajar teknik memukul bola, tetapi juga menyisipkan literasi digital, kesadaran global, dan pendidikan karakter dalam setiap sesi latihan.

Ia menegaskan bahwa inovasi ini penting agar Penjas mampu menjawab tantangan abad ke-21. Targetnya jelas: menghasilkan siswa yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga tangguh secara emosional dan luhur secara moral.

Menutup orasinya, Prof. Indra melemparkan tantangan kepada rekan sejawat dan praktisi pendidikan. Ia mengajak dunia akademik untuk berani merumuskan model pembelajaran yang tidak hanya mengejar skor di lapangan, tetapi juga membangun peradaban manusia.

“Mampukah kita membentuk manusia seutuhnya melalui olahraga? Ini adalah ajakan sekaligus tantangan untuk kita semua,” pungkasnya.

Dengan pengukuhan ini, Kampus UPI di Sumedang kini memiliki pakar yang siap membawa olahraga tenis meja dari sekadar hobi di pinggir gang menjadi instrumen strategis pembangunan karakter bangsa. (DN/Rija/RK)

Prof Mustika, Dari Instruktur Aerobik hingga Guru Besar UPI

08 May 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Mustika Fitri, M.Pd., menjadi satu-satunya perempuan yang dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam rangkaian Pengukuhan Guru Besar Tahun 2026 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Prosesi pengukuhan berlangsung di Gedung Ahmad Sanusi, Kampus UPI, Jalan Dr. Setiabudi Nomor 229 Bandung, Jumat (8/5/2026).

Pada tahun ini, UPI mengukuhkan 14 Guru Besar dari berbagai disiplin ilmu selama dua hari pelaksanaan, Kamis–Jumat, 7–8 Mei 2026. Dari jumlah tersebut, Prof. Mustika Fitri menjadi satu-satunya perempuan yang memperoleh pengukuhan profesor dengan bidang kepakaran Sosiologi Olahraga Masyarakat Berbasis Gender.

Dalam kesempatan wawancara usai prosesi pengukuhan, Prof. Mustika menyampaikan bahwa perjalanan menuju jabatan akademik tertinggi tersebut tidak hanya dibangun melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui pengalaman panjang di tengah masyarakat, khususnya di bidang olahraga masyarakat.

“Jauh sebelum kuliah S1 di UPI, saya sudah bergerak langsung di olahraga masyarakat. Sekitar tahun 1988 saya menjadi instruktur aerobik di Telkom dan kawasan Gasibu,” ujarnya.

Selain aktif sebagai akademisi, Prof. Mustika juga terlibat dalam berbagai organisasi olahraga, di antaranya KONI Jawa Barat, KONI Kota Bandung, serta Asosiasi Instruktur Aerobik (ASIAFI) Jawa Barat. Saat ini, ia juga dipercaya sebagai Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Persani Jawa Barat.

Menurutnya, pengukuhan Guru Besar menjadi momentum untuk memperkuat kontribusi keilmuan yang selama ini telah dijalani secara konsisten, terutama dalam isu olahraga masyarakat berbasis gender.

“Bidang kepakaran saya adalah Sosiologi Olahraga Masyarakat Berbasis Gender. Jadi, gelar ini sangat relevan dengan apa yang sudah saya titi sejak tahun 1980-an hingga sekarang. Ini adalah bentuk konsistensi pengabdian saya,” katanya.

Prof. Mustika juga mengungkapkan rasa syukurnya menjadi satu-satunya perempuan dalam prosesi pengukuhan Guru Besar tahun ini. Ia menilai hal tersebut menjadi motivasi bagi dosen-dosen perempuan di lingkungan UPI untuk terus berkembang dan mencapai jenjang akademik tertinggi.

“Saya yakin, ke depannya FPOK akan melahirkan banyak profesor perempuan baru yang jauh lebih muda. Potensi dosen-dosen perempuan di UPI sangat besar,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa saat ini Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) UPI memiliki banyak dosen perempuan potensial, terutama pada program studi keperawatan, gizi, dan bidang lainnya yang terus berkembang.

Pengukuhan Guru Besar Tahun 2026 menjadi bagian dari komitmen UPI dalam memperkuat budaya akademik dan regenerasi keilmuan di lingkungan perguruan tinggi. Kehadiran Prof. Mustika Fitri sebagai satu-satunya profesor perempuan tahun ini juga mencerminkan kontribusi perempuan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan olahraga di Indonesia. (RK/Rija/DN)

Pencarian