English
Indonesia

GERHANA BULAN TOTAL : Atraksi Langit Sebagai Media Pembelajaran dan Penumbuh Spiritualitas

01 Sep 2025 • Humas UPI

Laporan Dr. Judhistra Aria Utama, M.Si. (Laboratorium Bumi dan Antariksa – Program Studi Fisika FPMIPA UPI, Pusat Unggulan Sains Data Astronomi dan Polusi Cahaya)

 “Christopher Columbus pernah membohongi penduduk asli Jamaika, suku Arawak, agar membantu armada lautnya. Berbekal pengetahuan astronomi Gerhana Bulan Total (GBT) pada 29 Februari 1504, Columbus berhasil menakut-nakuti suku Arawak dengan kemarahan Dewa-dewa mereka. Bulan purnama yang terlihat berwarna merah darah dalam balutan umbra Bumi, membuat warga pribumi mau menyediakan perbekalan untuk penjelajahan samudera yang dilakukan Columbus.”      

Pada 7 September 2025 yang akan datang, langit malam Indonesia akan kembali menjadi saksi dari peristiwa alam yang selalu mengundang rasa kagum meski berulang kali terjadi, yaitu Gerhana Bulan Total (GBT). Fenomena astronomi ini bukan hanya indah untuk disaksikan, tetapi juga mengandung banyak pelajaran berharga, baik dalam hal astronomi, pendidikan, maupun refleksi spiritual.

Berdasarkan perhitungan astronomis, sepanjang musim gerhana pada tahun 2025 ini hanya terjadwal 4 peristiwa gerhana. Keempat gerhana tersebut adalah Gerhana Bulan Total (GBT) 13 Maret, Gerhana Matahari Sebagian (GMS) 29 Maret, GBT 7 September, dan ditutup dengan GMS 21 September.  Masing-masing gerhana dicirikan dengan bilangan yang dikenal sebagai seri Saros. Fenomena GBT 7 September berada dalam rangkaian seri Saros 128. Seri Saros ini terdiri dari 71 gerhana, yang mencakup berbagai jenis gerhana Bulan (penumbra, sebagian, dan total). Berdasarkan catatan yang ada, gerhana Bulan sebelumnya yang juga berada dalam seri Saros 128 terjadi pada 28 Agustus 2007 silam (gerhana Bulan ke-40 dari 71 gerhana Bulan), sementara yang berikutnya adalah GBT 19 September 2043 (gerhana Bulan ke-42).

Gerhana Bulan Total (GBT) yang akan terjadi nanti merupakan satu-satunya gerhana, sekaligus yang terakhir dapat diamati dari wilayah Indonesia sepanjang tahun ini. Fase total selalu disertai oleh fase pendahuluan, yaitu fase gerhana sebagian dan penumbra. Waktu-waktu kejadian setiap fase dalam GBT 7 September 2025 dan posisi Bulan di bola langit disarikan dalam Tabel 1. Kedudukan Bulan dari waktu ke waktu di dalam penumbra dan umbra Bumi ditunjukkan dalam Gambar 1.

Gambar 1. Visualisasi posisi Bulan di dalam penumbra dan umbra Bumi sejak awal hingga akhir gerhana. Durasi total GBT selama 5 jam 27 menit, sementara fase total (Bulan terperangkap umbra Bumi) berlangsung selama 1 jam 22 menit.

Mengenal Siklus Saros

Siklus gerhana disadari pertama kali oleh para pengamat langit Babilonia kuno sejak ribuan tahun silam, meski konsep ini kemudian lebih lanjut dikembangkan oleh astronom Yunani kuno, Hipparchus, yang hidup sekitar abad ke-2 SM. Hipparchus menyadari bahwa suatu gerhana yang terjadi dalam satu seri Saros yang sama (Saros berarti perulangan) akan memiliki posisi dan geometri yang sangat mirip dengan gerhana lainnya setelah periode waktu tertentu. Oleh karena itu, siklus Saros menjadi dasar penting dalam perhitungan gerhana.

Siklus Saros merupakan sebuah periode waktu yang digunakan untuk memprediksi gerhana, baik itu gerhana Matahari maupun gerhana Bulan. Durasi siklus ini sekitar 6585,3 hari (sekitar 18 tahun, 10 atau 11 hari), yang artinya, setelah satu siklus Saros ini, posisi relatif Matahari, Bumi, dan Bulan akan kembali ke keadaan yang (nyaris) sama, untuk menghasilkan gerhana dengan geometri yang serupa. Siklus ini memungkinkan para astronom untuk memprediksi gerhana yang akan datang dengan akurasi tinggi; tidak hanya tanggal dan waktu kejadian gerhana, tetapi juga durasinya.

Rincian jumlah total gerhana Bulan di dalam seri Saros 128 adalah sebagai berikut:

  • 14 Gerhana Bulan Penumbra (GBP): Pada jenis gerhana ini, Bulan hanya melewati bayang-bayang terang Bumi (penumbra), sehingga perubahan kecerahan Bulan sangat minim dan sulit dikesani dengan mata telanjang oleh orang yang kurang terlatih. Jenis ini pertama kali terjadi pada 18 Juni 1304 dan yang terakhir kali pada 2 Agustus 2566 yang akan datang.
  • 42 Gerhana Bulan Sebagian (GBS): Pada gerhana jenis ini, sebagian permukaan Bulan memasuki bayang-bayang gelap Bumi (umbra), yang mengakibatkan berkurangnya kecerahan sebagian permukaan Bulan. Gerhana sebagian ini adalah jenis yang paling umum. Gerhana pertama jenis ini dalam seri Saros 128 terjadi pada 2 September 1439, sementara yang terakhir kali pada 17 Mei 2440.
  • 15 Gerhana Bulan Total (GBT): Gerhana Bulan Total (GBT) terjadi ketika seluruh permukaan Bulan masuk ke dalam bayang-bayang gelap Bumi. Gerhana Bulan jenis ini memberikan pemandangan yang dramatis; Bulan akan tampak berwarna jingga, merah atau bahkan coklat gelap, akibat cahaya Matahari yang dipantulkan permukaan Bulan dibiaskan oleh atmosfer Bumi dan dipengaruhi pula oleh tingkat kekeruhan stratosfer planet kita. Gerhana total dalam Saros 128 terjadi 15 kali, dengan gerhana pada 7 September 2025 nanti menjadi salah satu di antaranya. Gerhana total dalam seri Saros 128 terjadi pertama kali pada 21 Mei 1845 dan yang terakhir pada 21 Oktober 2097.

Dengan total terdapat 71 gerhana Bulan di dalam seri Saros 128 ini dan antargerhana terjeda oleh waktu selama 18 tahun, artinya, untuk menuntaskan seluruh agenda gerhana Bulan diperlukan waktu selama hampir 13 abad!

Gerhana Bulan dan Pembelajaran Berbasis Fenomena Alam

Sebagaimana dijelaskan dalam sejumlah literatur (lihat misalnya, Schaffar & Wolff (2024)), phenomenon-based learning (PhBL) bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif dengan cara melihat fenomena dari berbagai perspektif yang berbeda. Di Finlandia, pendekatan ini telah diterapkan dalam kurikulum pendidikan dasar, di mana siswa diajak untuk memahami berbagai fenomena alam melalui perspektif lintas disiplin. Pendekatan ini menantang siswa untuk tidak hanya menguasai pengetahuan teoretis, tetapi juga menghubungkannya dengan masalah dunia nyata yang kompleks, seperti perubahan iklim dan keberlanjutan. Model PhBL sesuai untuk diimplementasikan dalam konteks fenomena astronomi seperti gerhana Bulan karena memungkinkan siswa/mahasiswa untuk tidak hanya mempelajari teori di balik fenomena alamnya, melainkan juga terlibat langsung dalam akuisisi data nyata melalui kegiatan pengamatan sebagaimana yang dilakukan astronom profesional.

Di dalam domain astronomi, alamlah yang “bereksperimen”, sementara kita dalam posisi sebagai pengamat aktif. Salah satu aspek menarik dari gerhana Bulan adalah kedudukannya sebagai eksperimen alam yang dapat dimanfaatkan untuk mengukur jarak Bumi dan Bulan; bentangan jarak yang tidak mungkin ditentukan menggunakan alat ukur konvensional. Pada saat terjadi gerhana Bulan, posisi satu-satunya satelit alamiah Bumi ini berada di dalam bayang-bayang Bumi (penumbra/umbra). Dengan menggunakan pengetahuan geometri serta citra digital yang diperoleh dari pengamatan, kita dapat menghitung jarak faktual antara Bumi dan Bulan pada saat gerhana terjadi.

Mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Utama dkk. (2018) dalam artikel berjudul Umbra Bumi dan Jarak Bumi-Bulan dalam Peristiwa Gerhana Bulan Total 31 Januari & 28 Juli 2018 (tersedia melalui tautan berikut: https://proceedings.upi.edu/index.php/sinafi/article/view/405/393), mereka berhasil menghitung jarak Bumi-Bulan dengan akurasi yang sangat mengesankan. Hasil pengukuran jarak Bumi-Bulan dalam kedua peristiwa GBT (31 Januari dan 28 Juli 2018) yang berhasil mereka amati dan rekam momennya, memiliki kesalahan kurang dari 10% bila dibandingkan dengan nilai jarak faktual Bumi-Bulan. Hasil yang mereka peroleh menunjukkan bahwa meskipun menggunakan alat sederhana, seperti teleskop dan kamera digital, ditunjang dengan pengetahuan terkait geometri, jarak Bumi – Bulan dapat ditentukan dengan ketidakpastian kurang dari 10%!

Penelitian lainnya oleh Utama dkk. (2021, tersedia melalui tautan berikut: https://proceedings.upi.edu/index.php/sinafi/article/view/1854/1655) yang juga memanfaatkan hasil pengamatan GBT pada 26 Mei 2021, menyertakan partisipasi aktif dari para pengamat gerhana yang tersebar mulai dari Pulau Sumatera, Jawa, hingga Sulawesi. Total berhasil terkumpul 264 data pengamatan yang dilaporkan dari masing-masing lokasi melalui formulir elektronik (GoogleForm) yang telah dipersiapkan. Model crowdsourcing ini bertujuan untuk memperoleh informasi warna Bulan (direpresentasikan oleh nilai skala Danjon) dan magnitudo visual Bulan pada saat fase total mencapai maksimum. Warna Bulan yang teramati saat mengalami gerhana, dapat menjadi indikator bagi tingkat kekeruhan lapisan stratosfer yang menyelimuti Bumi.   

Refleksi Spiritualitas

Berkesempatan menyaksikan peristiwa alam GBT yang memesona, kita tidak sekadar memanfaatkan fenomena tersebut untuk belajar ilmu pengetahuan dan memperdalam pemahaman kita tentang alam semesta. Gerhana yang terjadi juga mengundang kita untuk merenungkan betapa besar dan agungnya Tuhan sang pencipta alam raya ini. Dapat kita bayangkan, apa efek yang akan timbul bagi kehidupan di Bumi bila kenyamanan yang kita rasakan selama ini akibat keteraturan yang pergerakan benda-benda langit mendadak terganggu. Bumi berhenti berotasi dan Bulan pun urung berrevolusi.  Sebagai manusia, kita dianugerahi kemampuan untuk memahami sebagian kecil dari alam semesta yang luas ini, sebuah kesempatan yang seharusnya mengarahkan kita pada rasa syukur dan kekaguman yang mendalam terhadap kekuasaan-Nya. Pendidikan adalah proses yang tidak hanya membawa kita pada pengetahuan, tetapi juga pada penggalian makna yang lebih mendalam tentang tempat kita di dunia ini, serta cara kita dapat berkontribusi untuk menjaga dan memahami Bumi sebagai rumah bersama yang telah Tuhan titipkan.

Kontributor: Judhistra Aria Utama

FPTI UPI Gagas SAPA ORTU: Sinergi Kuat untuk Membentuk Mahasiswa Baru Resilien dan Mandiri

01 Sep 2025 • Humas UPI

Bandung, 19 Agustus 2025 — Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri (FPTI) Universitas Pendidikan Indonesia sukses menyelenggarakan SAPA ORTU, program strategis untuk memperkuat kolaborasi antara kampus dan orang tua/wali mahasiswa baru. Kegiatan yang berlangsung secara daring ini dihadiri oleh lebih dari 700 orang tua/wali, menandai besarnya antusiasme serta kepercayaan publik terhadap komitmen UPI dalam mendukung tumbuh kembang mahasiswa baru.

Acara resmi dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Bisnis UPI. Dalam sambutannya, Warek mengapresiasi program SAPA ORTU yang diinisiasi FPTI sebagai terobosan penting dalam menjembatani komunikasi kampus dan orang tua. Beliau juga menegaskan pentingnya peranan orang tua dalam mendukung mahasiswa baru agar mampu beradaptasi dan berkembang optimal selama menjalani pendidikan tinggi.

Selanjutnya, Dr. Eng. Agus Setiawan, M.Si., Dekan FPTI, memaparkan informasi komprehensif mengenai profil fakultas, program studi, kurikulum, sistem akademik, prospek karier lulusan, serta berbagai layanan yang tersedia bagi mahasiswa. Beliau menegaskan bahwa SAPA ORTU bukan sekadar forum silaturahmi, tetapi wadah untuk membangun komunikasi strategis dan keterbukaan informasi, sehingga orang tua dapat menjadi mitra sejajar kampus dalam mendukung keberhasilan studi putra-putrinya.

Sesi parenting menghadirkan Dr. Tina Hayati Dahlan, S.Psi., M.Pd., Psikolog yang menguraikan pentingnya pergeseran gaya pengasuhan dari controlling parenting menuju autonomy-support parenting, dengan moderator Dr. Mustika Nuramalia Handayani, S.TP., M.Pd., Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FPTI sekaligus penanggung jawab kegiatan. Pada sesi ini terungkap bahwa komunikasi yang baik antara kampus dan orang tua akan membantu mahasiswa baru lebih siap beradaptasi, resilien, dan mandiri.

Respon orang tua yang terekam dalam presensi online memperlihatkan bahwa sebanyak 94% orang tua menyatakan perlu adanya forum komunikasi orang tua FPTI, dengan harapan forum tersebut dapat menjadi sarana berbagi informasi akademik, mempererat silaturahmi antar orang tua dan dosen, serta membantu memantau perkembangan anak di kampus. Para orang tua juga menyampaikan aspirasi agar putra-putrinya menyelesaikan kuliah tepat waktu, memperoleh ilmu yang bermanfaat, menjadi pribadi mandiri dan aktif, serta siap menghadapi tantangan dunia kerja.

Sebagai tindak lanjut, Dekan FPTI menekankan agar setiap program studi dapat menyelenggarakan SAPA ORTU di tingkat prodi, sehingga komunikasi dengan orang tua lebih intensif dan kontekstual sesuai bidang keilmuan masing-masing. Selain itu, UPI kini juga menyediakan Parent Portal melalui laman parent.upi.edu, yang merupakan mirroring dari sistem akademik mahasiswa (SIAK student). Melalui portal ini, orang tua dapat secara langsung memantau progres akademik, rencana studi, nilai, dan capaian studi putra putrinya dengan transparan dan akurat. (kontributor FPTI)

Meriah! Orkes Dangdut Mahasiswa Guncang Penutupan MOKAKU UPI 2025

01 Sep 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Teriakan riuh dan tawa mahasiswa baru pecah di Stadion UPI Bandung, Kamis (28/8/2025).  Ribuan mahasiswa baru serentak bergoyang ketika Orkes Dangdut Mahasiswa (ODM), unit minat bakat HIMAMUSIK FPSD, tampil di hari penutupan MOKAKU UPI 2025. Suasana hangat dan meriah itu menjadi penutup tak terlupakan dari rangkaian masa orientasi kampus tahun ini.

Sore itu sekitar pukul 15.30 WIB, Orkes Dangdut Mahasiswa (ODM) tampil sebagai pengisi hiburan pada hari ke-4 Masa Orientasi Kampus dan Kuliah Umum (MOKAKU) UPI. Dimana sore itu menjadi hari terakhir mahasiswa baru Universitas Pendidikan Indonesia menyelesaikan rangkaian kegiatan orientasi kampus.

Selama kurang lebih setengah jam, ODM membawakan empat repertoar lagu yang akrab di telinga mahasiswa, mulai dari Bintang Pentas, Juragan Empang, Rungkad, hingga medley lagu-lagu yang populer sampai saat ini. Sehingga mahasiswa dapat menikmati hiburan dengan berjoged dan bernyanyi bersama.

Suasana yang awalnya teratur dengan barisan mahasiswa baru mendadak cair dan menjadi arena bebas berekspresi. Mereka berjoget, bernyanyi, dan bertepuk tangan, melepas lelah setelah empat hari penuh mengikuti rangkaian orientasi kampus.

Pada penampilannya, keempat lagu yang dipilih ODM berangkat dari genre dangdut yang kental dengan nuansa hiburan rakyat. Lagu-lagu seperti Juragan Empang dan Rungkad menonjolkan pola ritmis yang cepat dan menghentak. Irama ketukan kendang dan bass yang konsisten menjadi tulang punggung musik, membuat penonton mudah tergerak untuk berjoget. Sementara pada Bintang Pentas, tempo sedikit lebih ringan sehingga memberi ruang bagi penonton untuk ikut bernyanyi.

Lagu-lagu yang dipilih mengandung makna hiburan dan kedekatan dengan realitas sehari-hari. Juragan Empang bercerita dengan bahasa lugas dan penuh humor, Rungkad memuat ekspresi kecewa yang disampaikan dengan gaya santai, sementara medley lagu Hutang, Ikan Dalam Kolam, Poko’e Joged, Jayanti menampilkan potongan-potongan karya yang sudah populer di media sosial. Pilihan ini memperlihatkan bahwa ODM ingin menyajikan musik yang relevan dengan budaya populer mahasiswa masa kini.

Kehadiran ODM pada penutupan MOKAKU bukan sekadar hiburan, melainkan ide untuk menghadirkan ruang ekspresi bersama. Dangdut dikenal sebagai musik inklusif yang mampu merangkul semua kalangan, tanpa memandang latar belakang. Dalam konteks orientasi mahasiswa baru, ini merepresentasikan semangat kebersamaan, keterbukaan, dan integrasi antar fakultas.

Dangdut yang sering diasosiasikan dengan musik rakyat ditransformasi menjadi sajian kampus. Hal ini memberikan kesan bahwa kampus tidak membatasi kreativitas hanya pada musik tertentu, melainkan memberi ruang bagi semua genre untuk berkembang.

Medley yang dibawakan ODM menghadirkan kebaruan melalui penggabungan lagu-lagu yang sedang populer. Seperti halnya pada lagu Hutang dan Poko’e Joged menjadi pengikat antara generasi dengan tren musik yang beredar di media sosial. ODM  mengaransemen dengan menyesuaikan tempo dan transisi antar lagu sehingga pertunjukan tetap mengalir tanpa jeda panjang.

Musik dangdut menonjolkan interaksi langsung antara pemain dan penonton. Sore itu, personil ODM tidak hanya tampil di panggung, tetapi juga membangun komunikasi melalui ajakan berjoget bersama. Inilah nilai artistik yang jarang ditemukan pada genre lain. Dangdut bukan hanya soal musik, melainkan soal partisipasi kolektif.

Secara menyeluruh, penampilan Orkes Dangdut Mahasiswa pada hari penutupan MOKAKU UPI 2025 berhasil menghibur seluruh mahasiswa baru dan semua yang turut hadir dan terlibat pada kegiatan tersebut. Saat mahasiswa baru membutuhkan pelepasan ketegangan setelah mengikuti berbagai agenda serius, kehadiran musik dangdut tepat sebagai perayaan sederhana. Begitupun seluruh panitia yang turut terlibat dari mulai persiapan hingga pada pelaksanaanya.

Ribuan mahasiswa baru tidak hanya menjadi penonton pasif, melainkan terlibat aktif dalam berjoget dan bernyanyi. Hal ini memperlihatkan bahwa musik berhasil menciptakan interaksi dua arah. ODM yang merupakan bagian dari HIMAMUSIK menunjukkan bahwa unit kegiatan mahasiswa seni memiliki peran penting dalam memperkaya suasana kampus. Mereka berhasil memperlihatkan sisi artistik sekaligus hiburan.

Berjoged bersama di lapangan Stadion UPI melambangkan bahwa orientasi bukan hanya soal pengenalan akademik, tetapi juga perayaan identitas kolektif sebagai mahasiswa baru. Musik dangdut berhasil menyatukan mahasiswa lintas fakultas. Bagi mahasiswa baru, penampilan ODM bisa menjadi inspirasi bahwa di kampus mereka akan menemukan banyak ruang untuk berkreasi. Seni dan musik bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana aktualisasi diri dan membangun solidaritas.

Penampilan Orkes Dangdut Mahasiswa pada penutupan MOKAKU UPI 2025 bukan hanya sekadar pertunjukan musik, tetapi juga sebuah simbol dari semangat kebersamaan dan ekspresi diri yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan mahasiswa di kampus. Melalui musik yang sederhana namun bermakna, ODM berhasil menyatukan ribuan mahasiswa baru untuk merayakan pencapaian mereka dalam menjalani orientasi kampus. Semoga acara ini dapat menjadi awal dari lebih banyaknya kolaborasi kreatif antar mahasiswa, serta menjadi pengingat bahwa kampus adalah tempat yang memungkinkan setiap individu untuk berekspresi tanpa batas. Kami berharap penampilan ini tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga mendorong semangat untuk terus berkarya dan menjalin solidaritas sepanjang perjalanan akademik yang akan datang. (Leila A’ida Fitria, Mahasiswa Pendidikan Seni Musik Angkatan 2023)

Mahasiswa UPI Turut Menjadi Korban dalam Kerusuhan Aksi di Bandung

31 Aug 2025 • Humas UPI

Sehubungan dengan Aksi yang terjadi pada 30 Agustus 2025. Sangat disayangkan salah seorang mahasiswa UPI menjadi korban penusukan oleh orang tidak dikenal. Mahasiswa tersebut tengah berada di lokasi bukan sebagai peserta aksi, tetapi kebetulan berada di sana untuk melihat aksi demonstrasi.

Selanjutnya mahasiswa tersebut melihat adanya keributan. Ia coba melerai dan sayangnya malah terjadi pemukulan dan penusukan oleh beberapa orang yang tidak dikenal. Lalu sekelompok massa yang tengah berkumpul segera membantu  membawanya ke ambulans untuk Mendapatkan pertolongan pertama, hingga akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit.

Saat ini mahasiswa tersebut dalam kondisi stabil dan telah mendapatkan penanganan dari pihak Rumah Sakit.

Hal tersebut berdasarkan siaran pers BEM REMA UPI dan juga informasi langsung saat BEM REMA bersama Pihak UPI diantaranya Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Bisnis, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kemitraan FPEB, Kepala Kantor Informasi dan Pelayanan Publik (KKIPP) telah mengunjungi mahasiswa bersangkutan di Rumah Sakit.

Pihak UPI berkomitmen memberikan pendampingan hukum dan medis bagi mahasiswa tersebut.

Kami menghimbau semua sivitas akademika UPI untuk menahan diri, menjaga ketenangan, serta tidak mudah terpancing oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Vidi Sukmayadi dan Angga Hadiapurwa
Kantor Komunikasi, Informasi, dan Pelayanan Publik (KKIPP) UPI

PGSD UPI Kampus Serang Selenggarakan Pengabdian kepada Masyarakat di SDN Tejang, Pulau Sebesi

30 Aug 2025 • Humas UPI

Lampung Selatan, 6 Agustus 2025 – Tim dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Serang melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di SD Negeri Tejang, Pulau Sebesi, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan. Kegiatan ini mengangkat tema “Pendampingan Implementasi Kokurikuler Berbasis Deep Learning dan Sosialisasi Literasi Ekologi” bagi guru dan siswa sekolah dasar di wilayah kepulauan.

Pelaksanaan kegiatan PkM ini melibatkan tiga dosen PGSD UPI Kampus Serang, yaitu Oki Suprianto, M.Pd., Tomi Efendi, M.Pd., dan Farid Rizqi Maulana, M.Pd.. Materi yang disampaikan mencakup strategi penerapan pembelajaran mendalam (deep learning) dalam kokurikuler, serta penguatan literasi ekologi sebagai upaya membentuk karakter peduli lingkungan sejak dini.

Dalam paparannya, Oki Suprianto menekankan pentingnya peran sekolah sebagai penghubung antara pengetahuan konseptual siswa dengan keterampilan praktis. “Kegiatan kokurikuler mampu mengintegrasikan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik secara harmonis, sehingga siswa berkembang secara utuh,” ujarnya.

Sementara itu, Tomi Efendi menjelaskan bahwa deep learning bukanlah kurikulum baru, melainkan pendekatan pembelajaran yang perlu diinternalisasi oleh guru. “Guru perlu membangun pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful agar keterlibatan siswa lebih tinggi dan proses belajar menjadi lebih bermakna,” tuturnya.

Di sisi lain, Farid Rizqi Maulana menegaskan bahwa literasi ekologi harus ditanamkan sejak usia sekolah dasar. “Kesadaran lingkungan dapat dibangun dari hal-hal sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan, dan memahami dampak kerusakan lingkungan. Integrasi dengan konsep literasi membuat materi ekologi lebih mudah dipahami siswa,” jelasnya.

Kegiatan ini mendapatkan sambutan hangat dari para guru SDN Tejang. Sobali, salah satu guru, menyampaikan apresiasi atas kehadiran tim dosen UPI Kampus Serang. “Materi yang disampaikan sangat bermanfaat. Sebagai sekolah di wilayah kepulauan, kami sering tertinggal informasi. Kehadiran dosen UPI memberikan wawasan baru yang sangat kami butuhkan,” ungkapnya.

Ia juga berharap program ini dapat berlanjut di masa mendatang. “Kami siap menerima kembali kunjungan dosen UPI untuk memberikan pendampingan lanjutan. Semoga kerja sama ini terus terjalin demi kemajuan pendidikan di wilayah kami,” tambahnya.

Ketua Program Studi PGSD UPI Kampus Serang, Dr. Andika Arisetyawan, M.Si., memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan ini. “Pengabdian kepada masyarakat di wilayah kepulauan seperti Pulau Sebesi merupakan bentuk tanggung jawab akademik UPI untuk memastikan akses pendidikan berkualitas dapat dirasakan secara merata. Kami mendorong dosen dan mahasiswa untuk terus berkontribusi melalui program-program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

(Kontributor: Tim dosen Program Studi PGSD Kampus Serang)

Pencarian