English
Indonesia

Kepala Pusat Kajian Pemberdayaan Masyarakat dan Pengembangan Kuliah Kerja Nyata, Dr. Leni Anggraeni, M.Pd., Tinjau KKN Berdampak di Cirebon dan Majalengka

26 Aug 2025 • Humas UPI

CIREBON – Kepala Pusat Kajian Pemberdayaan Masyarakat dan Pengembangan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Dr. Leni Anggraeni, M.Pd., melakukan kunjungan lapangan ke lokasi KKN Berdampak UPI di wilayah Cirebon dan Majalengka pada Jumat, 22 Agustus 2025.

Dalam agenda kunjungannya, Dr. Leni meninjau beberapa titik kegiatan mahasiswa yang sedang melaksanakan program KKN. Lokasi yang dikunjungi antara lain SMP Negeri 1 Cirebon, Desa Megu Cilik, Kabupaten Cirebon, serta Desa Garawangi, Kabupaten Majalengka.

KKN Berdampak UPI tahun ini mengusung tema besar “Dari Desa untuk Dunia”, dengan fokus pada penguatan kapasitas desa melalui program-program inovatif dan berkelanjutan. Salah satu kegiatan unggulan yang menjadi perhatian adalah penerapan cat BeCool, sebuah produk inovasi dari dosen UPI yang telah mendapatkan pengakuan internasional.

Genteng sekolah di SDN Desa Megu Cilik yang telah dilapisi cat BeCool

Cat BeCool diaplikasikan pada atap sekolah dan kantor desa sebagai percontohan program gerakan adaptasi iklim global. Inovasi ini diyakini mampu mendukung upaya pengurangan dampak pemanasan global.

Dr. Leni Anggraeni, M.Pd., Kepala Pusat Kajian Pemberdayaan Masyarakat dan Pengembangan Kuliah Kerja Nyata, Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, UPI

“Ini untuk mengurangi dampak dari pemanasan global karena fungsi dari cat di atap itu untuk memantulkan sinar matahari, sehingga di bawah atap itu dampaknya menjadi lebih dingin, suhunya tidak terlalu panas,” ujar Dr. Leni dalam kunjungannya.

Kelompok KKN Berdampak Desa Megu Cilik, dengan Ketua Kelompok, Sidiq Abdul Ismail.

Dukungan positif juga datang dari mahasiswa peserta KKN. Sidiq Abdul Ismail, Ketua Kelompok KKN di Desa Megu Cilik, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, menyampaikan pengalaman lapangan mereka.

“Melihat di wilayah ini karena cuaca panas, jadi kami berinisiasi membuat program kerja berdampak dengan pengecatan atap sekolah di SDN Megu Cilik. Setelah pemasangan BeCool ini, respon positif ditunjukan oleh anak-anak sekolah karena dirasa suhu di dalam ruangan menjadi lebih adem sehingga mereka lebih nyaman dalam proses belajar di kelas,” ungkap Sidiq.
Sementara itu, menurut Drs. H. Mutaqin Billah, Kepala Desa Megu Cilik, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, menyambut baik program yang digagas UPI.

Kelompok KKN Berdampak Desa Megu Cilik, dengan Ketua Kelompok, Sidiq Abdul Ismail.

“Kami merasa mendapatkan penghargaan dan kepercayaan dari UPI untuk menerima adek adek mahasiswa KKN Berdampak tahun 2025 dan Alhamdulillah masyarakat mendapatkan manfaat, salah satunya program tematik BeCool untuk pengecatan genteng sehingga mampu menurunkan suhu panas di dalam ruangan,” ujarnya.

Selain memberikan apresiasi atas program yang dijalankan mahasiswa, Dr. Leni juga menegaskan bahwa kegiatan KKN Berdampak bukan sekadar agenda rutin, tetapi wadah nyata kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab tantangan global melalui solusi yang lahir dari desa.
Kehadiran program ini diharapkan dapat memberi manfaat langsung bagi masyarakat setempat, sekaligus menjadi model pembangunan berkelanjutan (SDGs) melalui pengembangan desa berkelanjutan yang bisa direplikasi di wilayah lain di Indonesia. (RK 08/25)

UPI Sambut 12.519 Mahasiswa Baru Lewat MOKAKU 2025: Siapkan Generasi Emas 2045

25 Aug 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan Masa Orientasi Kampus dan Kuliah Umum (MOKAKU) 2025 selama empat hari di Kampus Bumi Siliwangi dan lima kampus daerah. Tahun ini, lebih dari 12.519 dari program S1, S2, hingga S3 telah resmi menjadi mahasiswa UPI yang dilaksankan di Gedung Gymnasium Jl. Dr. Setiabudhi No.229, Bandung, Jawa Barat. Senin (25/8/2025).

Rektor UPI Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A., menyampaikan bahwa MOKAKU menjadi ajang penting untuk memperkenalkan mahasiswa baru pada lingkungan kampus, kegiatan akademik, serta organisasi kemahasiswaan. Tercatat 8.390 mahasiswa hadir langsung di Kampus Bumi Siliwangi.

“Selain diperkenalkan dengan lingkungan fisik kampus, mahasiswa juga dikenalkan dengan kegiatan kemahasiswaan serta kehidupan akademik. Harapannya, mereka dapat menjalani tridarma perguruan tinggi dengan baik, belajar dengan lancar, dan lulus tepat waktu sesuai harapan mereka dan orang tua,” ujar Prof. Didi Sukyadi.

MOKAKU 2025 menghadirkan sejumlah narasumber nasional maupun internal universitas dengan tema besar Menyiapkan Generasi Emas 2045, yang difokuskan pada upaya membentuk mahasiswa berdaya saing dan siap menghadapi tantangan global.

Selain mempersiapkan mahasiswa menjadi generasi unggul, UPI juga menegaskan komitmennya menghadirkan kegiatan orientasi yang bebas dari kekerasan, perundungan, pelecehan seksual, narkoba, radikalisme, maupun plagiarisme.

“Kita sudah membuat kontrak kinerja, fakta integritas bersama mahasiswa untuk menghindari kekerasan dan berbagai pelanggaran lainnya. Bila ada yang melanggar, akan diproses sesuai ketentuan melalui komisi disiplin,” tegas Rektor UPI.

Beberapa fakultas favorit yang tetap menjadi pilihan utama mahasiswa baru tahun ini antara lain Fakultas Kedokteran, Ilmu Komunikasi (FPIPS), Manajemen (FPEB), Psikologi (FIP), serta Bimbingan dan Konseling.

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Dr. Muhammad Najib, S.TP., M.M. menekankan bahwa mahasiswa UPI harus mampu menjadi agen perubahan melalui ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi.

“Mahasiswa sebagai agen perubahan tentu harus fokus pada agenda-agenda yang dapat memberikan kontribusi lebih besar kepada masyarakat. Melalui sains dan teknologi, mahasiswa bisa berbagi pengetahuan sekaligus membantu menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat,” jelas Prof. Najib.

Ia menambahkan, kegiatan MOKAKU juga menjadi momentum bagi mahasiswa untuk menumbuhkan semangat belajar dan berprestasi sesuai visi dan misi universitas.

“Harapan kami, mahasiswa UPI bisa lebih produktif, berprestasi, dan menjadi sosok sesuai yang diharapkan universitas maupun masyarakat luas,” pungkasnya.

Dengan jumlah mahasiswa baru yang mencapai lebih dari 12 ribu orang, UPI semakin menegaskan perannya sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia dalam mencetak sumber daya manusia unggul yang siap menyongsong Indonesia Emas 2045. (Riza/DN)

Menjadi Pembelajar di Tengah Perbatasan: Mahasiswa Penmas UPI Berbagi Pendidikan Bersama Anak Migran di Sabah

25 Aug 2025 • Humas UPI

Tawau, Sabah – 5 April 2025

Dalam upaya memperluas akses pendidikan bagi anak-anak Indonesia di luar negeri, seorang mahasiswa Program Studi Pendidikan Masyarakat (Penmas) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) berhasil membawa misi kemanusiaan dan kepedulian akademik ke wilayah perbatasan. Fatharani Hasna, mahasiswa angkatan 2022, menjalani program magang internasional di Community Learning Center (CLC) Sabah Softwood Berhad, Tawau, Sabah, Malaysia—sebuah inisiatif kolaboratif antara Prodi Pendidikan Masyarakat UPI dan Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK).

Program magang ini bukan sekadar pengalaman akademik, tetapi menjadi ruang refleksi mendalam tentang hak atas pendidikan, terutama bagi anak-anak migran yang tinggal di perkebunan kelapa sawit—komunitas yang sering kali terpinggirkan dari sistem pendidikan formal.

Belajar dari Lapangan: Pendidikan Nonformal di Tengah Keterbatasan

Selama beberapa minggu, Fatharani terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran di lima CLC binaan Sabah Softwood Berhad: Kapilit, Mawang, Kumansi, Bukit Tukok, dan Kalum. Ia tidak hanya mengamati, tetapi juga mendampingi guru, mengikuti dinamika kelas, dan berdiskusi tentang kurikulum kesetaraan (Paket A, B, dan C) yang dirancang khusus untuk anak-anak usia sekolah yang tidak dapat mengikuti pendidikan reguler.

Yang menarik, sebagian besar guru di CLC adalah warga negara Malaysia yang secara sukarela mempelajari kurikulum Indonesia dan mendampingi anak-anak migran dengan penuh dedikasi. “Mereka tidak hanya mengajar, tapi juga menjadi jembatan budaya dan harapan,” ujar Fatharani dalam catatan reflektifnya.

Sejak 2020, Sabah Softwood Berhad telah menginvestasikan dana sebesar RM3,6 juta untuk membangun enam CLC, menyediakan fasilitas belajar yang layak, termasuk gedung sekolah, logistik, air bersih, hingga transportasi bagi guru dan siswa.

Ladang Banita: Momen yang Menggugah Hati

Salah satu pengalaman paling menggugah dalam perjalanan Fatharani adalah kunjungan ke ladang Banita—lokasi yang belum memiliki CLC. Didampingi oleh Pak Agil, guru pembina CLC yang menjadi penghubung antara komunitas, perusahaan, dan SIKK, Fatharani turun langsung ke lapangan untuk melakukan pendataan awal terhadap anak-anak Indonesia yang belum tersentuh pendidikan.

Dari hasil pendataan, ditemukan sekitar 60 anak yang belum bersekolah, dengan 32 di antaranya sudah melewati usia pendidikan dasar. Mereka direncanakan akan diikutsertakan dalam program kesetaraan Paket A dan B.

“Saya tidak akan pernah lupa ekspresi anak-anak di Banita. Mereka belum tahu apa itu sekolah, tapi mereka tahu bahwa belajar itu penting,” kenang Fatharani. “Dari situ saya sadar: pendidikan bukan hanya soal kurikulum, tapi soal keberanian membuka pintu bagi mereka yang selama ini tertutup.”

Meski belum memiliki ruang belajar, semangat anak-anak untuk belajar sangat besar. Orang tua mereka menyambut hangat kedatangan tim, dan menyampaikan harapan agar anak-anak mereka kelak bisa mengecap pendidikan yang layak.

Pendidikan sebagai Jembatan, Bukan Sekadar Tujuan

Di akhir program, Fatharani pulang bukan hanya dengan laporan magang, tetapi dengan kesadaran baru: bahwa pendidikan masyarakat adalah upaya yang tak pernah selesai. “Saya tidak hanya belajar menjadi pendidik, tetapi juga belajar menjadi manusia,” ujarnya.

Pengalaman ini juga menjadi bukti nyata bahwa Prodi Pendidikan Masyarakat UPI mampu berkontribusi dalam konteks global, terutama dalam memperluas akses pendidikan nonformal bagi kelompok marginal. Kolaborasi dengan SIKK Kinabalu membuka jalan bagi penguatan jaringan pendidikan lintas batas, serta menjadi model bagi keterlibatan mahasiswa dalam isu sosial yang mendalam.

Pendidikan Sepanjang Hayat, di Mana Saja

Program magang internasional ini bukan hanya membuka mata mahasiswa pada realitas pendidikan di perbatasan, tetapi juga mengingatkan kita semua: bahwa pendidikan adalah hak asasi yang harus diperjuangkan, bahkan di ujung ladang kelapa sawit sekalipun.

Bagi Fatharani dan Prodi Pendidikan Masyarakat UPI, perjalanan ini hanyalah awal. Di tengah perbatasan, mereka belajar—dan mengajar—dengan hati.

Kontributor: Fatharani Hasna dan Dadang Yunus

Summer Program and Student Mobility: Kolaborasi I-CATs x PGPAUD UPI

23 Aug 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI, 19–21 Agustus 2025. Summer Program and Student Mobility yang merupakan bentuk kerja sama antara International College of Advanced Technology Sarawak (I-CATs), Malaysia dan Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) telah berhasil diselenggarakan pada tanggal 19–21 Agustus 2025. Selama tiga hari, mahasiswa dan dosen dari kedua institusi terlibat dalam rangkaian kegiatan akademik, observasi lapangan, serta pertukaran pengalaman budaya dan keilmuan.

Kegiatan ini dirancang untuk memberikan wawasan global sekaligus memperkuat pemahaman lokal mengenai pendidikan anak usia dini, dengan mengusung pendekatan kolaboratif antara teori, praktik, serta nilai-nilai kearifan lokal.

Hari Pertama – Selasa, 19 Agustus 2025

Rangkaian kegiatan dibuka dengan kunjungan ke Percikan Iman Kindergarten, di mana mahasiswa berkesempatan untuk mengamati proses pembelajaran anak usia dini secara langsung. Kegiatan ini memperlihatkan praktik pendidikan berbasis nilai dan lingkungan yang diterapkan di lembaga PAUD di Indonesia.

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan ke kampus UPI dengan penyampaian tiga materi utama dari dosen UPI:
1. Dr. Yeni Rachmawati, Ph.D. – The Importance of Indigenous Knowledge at Early Childhood Education (ECE).
2. Dr. Rudiyanto, M.Si. – Isu-isu Mutakhir di PAUD.
3. Dr. Phil. Leli Kurniawati, M.Mus. – Musik Nusantara di PAUD.

Sesi ini memberikan wawasan akademik mendalam mengenai isu-isu PAUD, pentingnya integrasi pengetahuan lokal, serta penerapan musik tradisional sebagai media pendidikan anak usia dini. Diskusi interaktif juga memungkinkan mahasiswa dari UPI dan I-CATs bertukar pandangan dan pengalaman.

Hari Kedua – Rabu, 20 Agustus 2025

Hari kedua diawali dengan agenda penting di Gedung Rektorat UPI berupa penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara UPI dan I-CATs. MoU ini menandai komitmen bersama dalam memperkuat jejaring akademik, riset, dan program mobilitas mahasiswa di bidang PAUD.

Selanjutnya, dosen I-CATs berkunjung ke Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UPI, sementara mahasiswa mengikuti observasi di Lab. School Kindergarten UPI. Melalui kegiatan ini, peserta dapat memahami lebih dekat penerapan kurikulum dan metode pembelajaran PAUD di Indonesia, termasuk pendekatan yang digunakan guru dalam menstimulasi perkembangan anak.

Pada siang harinya, berlangsung kegiatan student bonding yang mempertemukan mahasiswa UPI dengan mahasiswa I-CATs. Aktivitas ini menjadi ruang kolaborasi untuk membangun jejaring akademik, pertukaran ide, serta pengenalan budaya masing-masing negara.

Hari Ketiga – Kamis, 21 Agustus 2025

Hari terakhir diisi dengan kunjungan ke ECO Daarut Tauhid Kindergarten, difasilitasi oleh Dr. Rita Mariyana, M.Pd. Peserta mendapatkan wawasan mengenai pendekatan pendidikan berbasis ekologi, karakter, serta integrasi nilai-nilai Islami dalam pembelajaran anak usia dini.

Kegiatan observasi ini memperkaya pemahaman mahasiswa terkait pentingnya pendidikan berbasis lingkungan, sekaligus memberikan inspirasi untuk mengembangkan model pendidikan yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Setelah sesi kunjungan, peserta diberikan waktu untuk refleksi, diskusi kelompok, serta pertukaran pengalaman sebelum program resmi ditutup.

Program Summer Program and Student Mobility I-CATs x PGPAUD UPI menjadi bukti nyata bagaimana kolaborasi internasional dapat membuka ruang pertukaran pengetahuan, memperkuat pemahaman lintas budaya, serta meningkatkan kapasitas mahasiswa dan dosen dalam menghadapi tantangan pendidikan anak usia dini.

Selain memperkuat kerja sama kelembagaan, kegiatan ini juga memperkaya pengalaman belajar mahasiswa dengan menempatkan mereka langsung dalam konteks praktik pendidikan yang beragam. Hal ini diharapkan dapat menumbuhkan generasi pendidik yang berwawasan global, profesional, serta berakar kuat pada nilai dan kearifan lokal. Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui PGPAUD berkomitmen untuk terus mengembangkan jejaring kerja sama internasional dan program mobilitas mahasiswa, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan kontribusi nyata di tingkat global.

Kontributor: PGPAUD FIP UPI

Workshop Penggunaan Kamishibai Sebagai Media Pembelajaran di SD Kabupaten Bandung Barat untuk Meningkatkan Kepedulian Siswa Terhadap Isu Keberlanjutan

22 Aug 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Lembang, 9 Agustus 2025. Program Srudi Pendidikan Profesi Guru (PPG) SPs UPI menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di SDN Pancasila, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran siswa terhadap isu keberlanjutan melalui kegiatan workshop pada Guru-guru tentang penggunaan Kamishibai, sebuah media pembelajaran berbasis cerita bergambar asal Jepang, sebagai media pembelajaran terkait isu berkelanjutan.
Kegiatan yang diikuti oleh para guru dari berbagai sekolah di Kecamatan Lembang ini dibuka secara resmi oleh Ketua Program Studi PPG SPs UPI, Prof. Dr. Asep Herry Hernawan, M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya inovasi dalam metode pembelajaran agar materi dapat diserap dengan lebih baik oleh siswa, terutama terkait isu-isu penting seperti keberlanjutan lingkungan.

Narasumber utama, Prof. Dr. Dinn Wahyudin, M.Pd., menyampaikan materi tentang Pola Pikir dan Pembelajaran Mendalam. Beliau memaparkan bagaimana cara membangun pola pikir kritis pada siswa agar mereka mampu memahami dan bertindak proaktif terhadap isu-isu yang ada di sekitar mereka.
Selanjutnya, materi inti disampaikan oleh Ketua PkM, Dr. Ai Nurhayati, M.Pd., yang menjelaskan secara rinci tentang teknis penggunaan Kamishibai. Beliau menekankan bahwa Kamishibai bukan hanya media bercerita, tetapi juga alat efektif untuk menyampaikan pesan moral dan isu-isu kompleks dengan cara yang sederhana dan menarik bagi anak-anak.
Selain itu, kegiatan ini juga menghadirkan dosen-dosen dari PPG SPs UPI lainnya, yaitu Prof. Dr. Diana Rochintaniawati, M.Ed., Prof. Dr. Neti Budiwati, M.Si., Dr. Rita Anggorowati, M.Pd., dan Dr. Hany Handayani, M.Pd. Mereka turut berinteraksi dan memberikan masukan kepada para guru peserta PkM, memastikan bahwa setiap peserta mendapatkan pemahaman yang komprehensif Ketika para guru masuk ke sesi praktek membuat gambar bercerita.

Partisipasi aktif dari para guru di Kecamatan Lembang menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap pendekatan pembelajaran inovatif ini. Diharapkan, setelah kegiatan ini, para guru dapat mengimplementasikan Kamishibai di sekolah masing-masing untuk menciptakan generasi yang lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan dan isu keberlanjutan lainnya.

Kontributor: Hany Handayani dan Ai Nurhayati

Pencarian