
Bandung, UPI
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) resmi mengukuhkan Prof. Dr. rer. nat. Asep Supriatna, M.Si. sebagai Guru Besar dalam bidang kepakaran Kimia Berkelanjutan pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA), Kamis (7/5/2026).
Dalam kesempatan tersebut Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengukuhkan 14 Guru Besar yang berlangsung selama dua hari, Kamis–Jumat, 7–8 Mei 2026, di Gedung Ahmad Sanusi, Kampus UPI, Jalan Dr. Setiabudi No. 229 Bandung. Pada hari pertama, sebanyak delapan Guru Besar dikukuhkan, sementara enam lainnya dijadwalkan dikukuhkan pada hari kedua.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Asep menekankan pentingnya pergeseran paradigma dalam dunia kimia. Ia menilai ilmu kimia selama ini berada dalam posisi paradoks: di satu sisi membawa kemajuan medis dan teknologi, namun di sisi lain memicu kerusakan lingkungan seperti perubahan iklim dan penumpukan limbah.
Prof. Asep menawarkan konsep Kimia Berkelanjutan (Sustainable Chemistry) sebagai jalan keluar. Menurutnya, kimia bukan lagi sekadar reaksi di laboratorium, melainkan sebuah tanggung jawab ekologis.
“Kimia berkelanjutan menuntut kita untuk tidak hanya bertanya bagaimana suatu reaksi berlangsung, tetapi juga apa dampaknya bagi lingkungan dan generasi mendatang,” ujar Prof. Asep dalam orasinya.
Salah satu pilar utamanya adalah Green Chemistry atau Kimia Hijau. Prinsip ini mengedepankan pencegahan polusi sejak dini melalui perancangan produk yang lebih aman, hemat energi, dan minim limbah. Ia menegaskan bahwa efisiensi bukan sekadar soal ekonomi, melainkan tanggung jawab moral.
Sebagai pakar pendidikan, Prof. Asep menyoroti bahwa perubahan besar harus dimulai dari sekolah melalui kerangka Education for Sustainable Development (ESD). Pembelajaran kimia tidak boleh hanya berisi transfer teori, tetapi harus menyentuh isu nyata seperti pengelolaan limbah dan energi terbarukan.
Untuk mencapai hal itu, ia mendorong metode pembelajaran kolaboratif yang melibatkan tiga jenis dialog Dialog dengan bahan ajar: Melatih kemandirian siswa. Dialog dengan diri sendiri: Mengasah berpikir kritis. Dialog dengan orang lain: Menumbuhkan gotong royong.
Dalam praktiknya, guru disarankan menggunakan strategi Sharing Task (tugas sesuai kurikulum) dan Jumping Task (tugas tantangan tingkat tinggi) untuk memicu rasa ingin tahu siswa tanpa banyak instruksi langsung.
Transformasi ini, menurut Prof. Asep, memerlukan budaya kerja sama antar-pendidik. Ia memperkenalkan peran Lesson Study dan Transcript-Based Lesson Analysis (TBLA) sebagai alat bagi guru untuk merefleksikan cara mengajar mereka berdasarkan data autentik.
Salah satu aksi nyata yang didorong adalah “Gerakan Buka Kelas”. Melalui gerakan ini, guru secara sukarela membuka kelasnya untuk diobservasi oleh sejawat agar terjadi proses saling
Meski mengakui adanya tantangan seperti keterbatasan fasilitas dan resistensi terhadap perubahan, Prof. Asep optimistis universitas dapat menjadi pusat inovasi.
“Jika kimia telah menjadi kekuatan besar pembentuk peradaban modern, maka kimia berkelanjutan harus menjadi kompas moralnya. Pendidikanlah yang menentukan arah kompas tersebut,” pungkasnya.
Dengan pengukuhan ini, Prof. Asep berkomitmen menjadikan pendidikan kimia sebagai jembatan menuju masa depan bumi yang lebih lestari dan bertanggung jawab. (DN/Rija/RK)





