English
Indonesia

Rektor UPI Buka Ruang Dialog dan Tampung Aspirasi Ormawa

30 Apr 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui Direktorat Kemahasiswaan menyelenggarakan audiensi bersama organisasi mahasiswa (Ormawa) se-UPI pada Kamis (30/4) di Auditorium Gedung Pascasarjana Baru Lantai 7. Kegiatan ini dihadiri Rektor UPI, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Bisnis, Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Penjaminan Mutu, pimpinan Direktorat Kemahasiswaan, serta lebih dari 80 perwakilan Ormawa dari tingkat universitas dan fakultas.

Audiensi ini merupakan forum dialog antara pimpinan universitas dan mahasiswa untuk membahas berbagai agenda kemahasiswaan, termasuk penyampaian kebijakan terbaru, perkembangan institusi, serta penyerapan aspirasi mahasiswa. Kegiatan ini juga menjadi upaya memperkuat komunikasi antara pihak universitas dan organisasi kemahasiswaan.

Rektor UPI, Didi Sukyadi, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang pertukaran informasi dan aspirasi antara mahasiswa dan pimpinan universitas.

“Kegiatan hari ini adalah dialog antara pimpinan mahasiswa dengan pimpinan universitas. Tujuannya untuk saling berbagi informasi sekaligus mendapatkan masukan dari mahasiswa sebagai dasar dalam pengambilan kebijakan ke depan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa UPI terus memberikan dukungan terhadap kegiatan kemahasiswaan melalui berbagai instrumen, seperti Direktorat Kemahasiswaan, pendanaan program, fasilitasi kegiatan, hingga sistem penghargaan berbasis prestasi mahasiswa. Dukungan tersebut mencakup pembinaan, pendampingan dosen, serta pencatatan capaian melalui sistem nasional kemahasiswaan.

Selain itu, Rektor juga menekankan pentingnya membangun komunikasi terbuka guna menciptakan lingkungan kampus yang kondusif.

“Melalui dialog ini, kami berharap tidak ada lagi saluran informasi yang terputus. Mahasiswa diharapkan dapat lebih aktif dalam pengembangan organisasi dan menjaga integritas sebagai bagian dari sivitas akademika,” tambahnya.

Dari sisi mahasiswa, perwakilan Ormawa menyambut baik terselenggaranya forum dialog tersebut. Reza Faisal Hikam, mahasiswa Program Studi Teknik Logistik sekaligus delegasi Ormawa FPTK UPI, menilai kegiatan ini menjadi langkah positif dalam membuka akses komunikasi antara mahasiswa dan pimpinan universitas.

“Ruang dialog seperti ini sangat penting karena selama ini akses menjadi salah satu tantangan. Dengan adanya audiensi ini, komunikasi dapat terjalin lebih baik,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan harapan agar mekanisme dialog ke depan dapat lebih inklusif dan mampu mewakili aspirasi mahasiswa dari berbagai fakultas secara lebih optimal.

Melalui kegiatan ini, UPI berupaya memperkuat sinergi antara pimpinan universitas dan mahasiswa dalam mengembangkan kegiatan kemahasiswaan yang konstruktif. Ke depan, audiensi serupa diharapkan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai sarana komunikasi, evaluasi, dan pengambilan kebijakan yang responsif terhadap kebutuhan mahasiswa. (RK)

UPI Melesat ke Enam Besar Perguruan Tinggi Berprestasi Nasional Versi Puspresnas Tahun 2026

29 Apr 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia menempati peringkat enam besar perguruan tinggi berprestasi nasional tahun 2026 berdasarkan rilis Pusat Prestasi Nasional melalui Sistem Informasi Manajemen Talenta (SIMT) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tanggal 23 April 2026. Pemeringkatan ini didasarkan pada jumlah dan kualitas capaian prestasi mahasiswa di berbagai bidang.

Dalam rilis tersebut, UPI mencatatkan 339 prestasi dan berada di posisi enam dari total 717 perguruan tinggi di Indonesia. Capaian ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, ketika UPI berada di peringkat ke-10 dengan 292 prestasi.

Data pemeringkatan disusun oleh Balai Pengembangan Talenta Indonesia dengan mengacu pada capaian medali dan penghargaan dari berbagai ajang kompetitif resmi di tingkat nasional maupun internasional. Penilaian mencakup bidang akademik, riset, seni budaya, hingga olahraga, yang seluruhnya dihimpun melalui SIMT sebagai pangkalan data talenta nasional.

Sebagai instrumen pemetaan talenta, SIMT digunakan pemerintah untuk menilai rekam jejak prestasi perguruan tinggi secara terukur. Selain merefleksikan kinerja pembinaan mahasiswa, data ini juga menjadi dasar dalam perumusan kebijakan pengembangan talenta nasional serta distribusi insentif pembinaan prestasi di lingkungan pendidikan tinggi. Dalam konteks ini, penguatan pembinaan talenta dan prestasi mahasiswa turut berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan tinggi yang inklusif dan berkelanjutan.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Bisnis UPI, Prof. Yudi Sukmayadi, menyatakan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh sivitas akademika.

“Capaian Universitas Pendidikan Indonesia yang berhasil menempati peringkat enam besar nasional versi Puspresnas tahun 2026 merupakan hasil sinergi seluruh sivitas akademika. Ke depan, UPI akan memperkuat strategi pembinaan talenta berbasis data melalui optimalisasi rumah prestasi, meningkatkan perluasan kemitraan dengan dunia industri dan lembaga internasional, serta peningkatan partisipasi aktif semua komponen sivitas akademika sebagai bagian dari pendampingan mahasiswa,”ujarnya.

Ia menambahkan, “Kami berharap capaian ini menjadi pijakan sebagai ikhtiar menuju peraihan prestasi puncak tingkat nasional. Lebih dari itu, UPI berkomitmen menjadikan budaya prestasi sebagai bagian dari ekosistem akademik yang berkelanjutan dan berdaya saing global.”

Capaian ini menegaskan posisi UPI dalam penguatan ekosistem prestasi mahasiswa di tingkat nasional, sekaligus mendorong keberlanjutan upaya pembinaan talenta yang adaptif terhadap dinamika kompetisi global. (RK)

Wujudkan Green Campus, UPI Olah Sampah Mandiri Menjadi Pupuk Organik

29 Apr 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memperkuat komitmennya sebagai kampus ramah lingkungan (green campus) melalui program pengelolaan sampah mandiri. Pada Jumat (24/4/2026), Biro Aset dan Lingkungan bersama Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) menggelar kegiatan Studi Praktik Pengelolaan Sampah di lingkungan FPOK UPI.

Acara yang dinisiasi oleh Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Sistem Informasi UPI, Prof. Tri Indri Hardini, ini diikuti oleh para petugas kebersihan dan pengelola lingkungan dari berbagai unit kerja di UPI, dengan tujuan meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya UPI dalam memperkuat implementasi konsep green campus melalui pengelolaan sampah mandiri di tingkat unit. Peserta mendapatkan pembekalan mengenai teknik pemilahan sampah, pengolahan limbah organik dan anorganik, hingga pemanfaatan sampah menjadi produk bernilai guna seperti kompos, pupuk organik cair (POC), dan maggot sebagai pakan ternak. Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada kebersihan lingkungan, tetapi juga mendorong praktik keberlanjutan yang selaras dengan upaya pengelolaan lingkungan dan pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab.

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Sistem Informasi UPI, Prof. Tri Indri Hardini, menyampaikan bahwa praktik pengelolaan sampah yang dikembangkan di tingkat fakultas dapat menjadi model bagi unit lain dalam membangun budaya keberlanjutan di lingkungan kampus, beberapa Fakultas yang telah sukses menerapkan diantaranya FPOK, FPMIPA, serta FPIPS.

“Praktik baik seperti yang dikembangkan di FPOK, FPMIPA, dan FPIPS menunjukkan bahwa inovasi lingkungan bisa dimulai dari hal-hal yang dekat dengan keseharian kampus. Ini menjadi bagian penting dalam membangun budaya keberlanjutan,” ujarnya.

Kepala Biro Aset dan Lingkungan UPI, Antonius Kelikawe, menjelaskan bahwa pelatihan ini penting mengingat keterbatasan daya tampung tempat pembuangan akhir (TPA), sehingga pengelolaan sampah perlu dilakukan secara mandiri di lingkungan kampus, selain itu edukasi telah dilakukan juga terhadap pengelola kantin agar dapat memisahkan sampah dari hulu.

“Seluruh sampah yang ada di UPI harus dikelola secara mandiri. Melalui pelatihan ini, peserta memahami bahwa sampah tidak hanya menjadi beban, tetapi juga memiliki nilai ekonomi jika diolah dengan baik, juga kami telah memberikan edukasi terhadap para pengelola kantin agar mereka dapat memilah sampah dan membaginya sesuai kategori” ungkapnya.

Sementara itu, Dekan FPOK UPI, Prof. Komarudin yang juga bertindak sebagai pemateri dalam kegiatan Studi Praktik Pengelolaan Sampah ini, menambahkan bahwa pengolahan sampah organik dilakukan melalui metode fermentasi sederhana yang dapat diterapkan secara praktis di lingkungan kampus maupun rumah tangga.

“Sampah organik seperti sisa makanan dan daun dapat diolah menjadi kompos dan pupuk cair yang bermanfaat. Hal terpenting adalah membangun kesadaran seluruh sivitas akademika untuk memilah dan mengelola sampah sejak dari sumbernya,” jelasnya.

Kegiatan ini juga mendorong peserta untuk menjadi agen penggerak di unit masing-masing dalam menerapkan praktik pengelolaan sampah yang lebih sistematis. Selain mendukung kebersihan lingkungan kampus, upaya ini turut berkontribusi pada pengurangan volume sampah dan penguatan budaya konsumsi yang lebih bertanggung jawab di lingkungan pendidikan.

Melalui kegiatan ini, UPI menegaskan komitmennya dalam membangun kampus yang berkelanjutan serta mendorong partisipasi aktif seluruh sivitas akademika. Ke depan, praktik pengelolaan sampah ini diharapkan dapat diterapkan secara lebih luas di seluruh unit kerja sebagai bagian dari upaya bersama menciptakan lingkungan kampus yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. (RK)

Kolaborasi Internasional UPI–CAU–PUCRS Perkuat Pembelajaran Global Citizenship Education

29 Apr 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui Global Citizenship Education Cooperation Center (GCC Indonesia) mempertegas komitmennya dalam kancah pendidikan internasional. UPI sukses menyelenggarakan International Joint Academic Discussion on Global Citizenship Education (GCED) yang melibatkan dua mitra strategis: Chung-Ang University (CAU) dari Korea Selatan dan Pontifical Catholic University of Rio Grande do Sul (PUCRS) dari Brasil.

Kegiatan yang berlangsung secara daring pada Selasa (28/4/2026) ini mengangkat tema “Cultural Diversity and Global Citizenship”. Forum ini menjadi ruang dialog lintas budaya yang dinamis, mempertemukan perspektif dari Asia dan Amerika Latin dalam satu platform akademik.

Diskusi ini diikuti oleh delegasi kuat dari ketiga universitas, dengan rincian peserta sebagai berikut Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menghadirkan 28 mahasiswa Magister Pendidikan Kewarganegaraan FPIPS, didampingi oleh jajaran pimpinan GCC Indonesia termasuk Director Prof. Dr. Dasim Budimansyah, M.Si., dan Deputy Director Prof. Ace Suryadi, M.Sc., Ph.D. Chung-Ang University (CAU) diwakili oleh Dr. You-Kyung Byun beserta 15 mahasiswa program magister International Studies. PUCRS Brasil dihadiri oleh Prof. Dr. João Jung bersama 8 mahasiswa magister bidang International Politics.

Agenda utama diskusi dibagi menjadi tiga tahap: group presentation, breakout sessions, dan general discussion. Mahasiswa CAU memaparkan tiga proyek riset yang merefleksikan dinamika globalisasi dalam keseharian, yaitu Pasokan daging halal (halal meat supply). Eksistensi restoran etnik (ethnic restaurants). Peran media sosial dalam keberagaman.

Sesi breakout room menjadi inti dari interaksi ini. Sebanyak 28 mahasiswa UPI dan delegasi PUCRS memberikan perspektif perbandingan internasional terhadap kasus-kasus tersebut. Diskusi dipandu oleh moderator ahli dari GCC Indonesia, yakni Prof. Eri Kurniawan, M.A., Ph.D., Cepri Maulana, M.Pd., dan Dr. R. M. Johan Johor Mulyadi, M.H.

Dalam sambutannya, Director of GCC Indonesia, Prof. Dr. Dasim Budimansyah, menekankan bahwa kewarganegaraan global bukan sekadar terpapar pada keberagaman, melainkan bagaimana individu meresponsnya secara bertanggung jawab.

“Kasus-kasus yang dibahas mencerminkan spektrum praktik kewarganegaraan global sehari-hari. Isu akses makanan halal berkaitan dengan inklusivitas, sementara media sosial menantang kita membangun keterbukaan di tengah algoritma digital,” ujar Prof. Dasim.

Beliau juga memperkenalkan konsep civic sensibility—kemampuan menghubungkan pengetahuan, nilai, dan tindakan dalam menghadapi isu global. Menurutnya, pendidikan GCED adalah kunci untuk membentuk generasi yang reflektif dan aktif dalam masyarakat global.

Kegiatan ini memberikan dampak signifikan bagi mahasiswa UPI dalam memperluas wawasan internasional dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis melalui kolaborasi nyata.

Melalui forum ini, GCC Indonesia menegaskan posisinya sebagai penggerak utama dalam mengembangkan praktik pendidikan kewarganegaraan yang inklusif dan transformatif di tingkat dunia. Sinergi antara Indonesia, Korea Selatan, dan Brasil ini diharapkan terus berlanjut guna menciptakan ekosistem pendidikan global yang lebih kuat. (DN)

Sekolah Kita Mengajarkan Pengetahuan, Tapi Gagal Mendidik Warga Dunia?

28 Apr 2026 • Humas UPI

Dr. Dasim Budimansyah

Director of GCC Indonesia

Profesor bidang Citzenship Sociology

Universitas Pendidikan Indonesia

Ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan secara jujur dalam dunia pendidikan Indonesia: apakah sekolah kita benar-benar sedang menyiapkan generasi untuk hidup di dunia nyata—atau hanya untuk lulus ujian?

Di tengah dunia yang semakin terhubung, siswa hari ini hidup dalam realitas yang jauh melampaui ruang kelas. Mereka menghadapi banjir informasi, hoaks politik, konflik identitas, kecerdasan buatan, hingga krisis iklim—semua hadir di genggaman tangan mereka. Dunia tidak lagi “di luar sana”. Dunia sudah ada di dalam kehidupan mereka setiap hari. Tetapi ironisnya, pendidikan kita masih berjalan seolah-olah dunia tidak berubah.

Kita masih bangga ketika siswa mampu menjelaskan konsep, menghafal teori, dan menjawab soal dengan benar. Tetapi kita sering lupa bertanya: apakah mereka mampu bersikap ketika berhadapan dengan hoaks? Apakah mereka mampu mengambil keputusan etis di ruang digital? Apakah mereka peduli terhadap ketimpangan sosial dan krisis lingkungan? Dengan kata lain, kita mungkin berhasil mencetak siswa yang tahu, tetapi gagal membentuk warga yang bertanggung jawab.

Inilah kegagalan paling mendasar dari pendidikan kita hari ini: terjebak pada transfer pengetahuan, tetapi kehilangan arah dalam pembentukan karakter dan tindakan. Padahal, tantangan abad ke-21 tidak bisa dihadapi dengan pengetahuan saja. Dunia membutuhkan manusia yang mampu berpikir kritis, berempati, dan bertindak—bukan sekadar mengerti.

Konsep Global Citizenship Education (GCED) sebenarnya sudah lama menawarkan jalan keluar. Ia menekankan bahwa pendidikan harus menyentuh tiga dimensi sekaligus: kognitif, sosial-emosional, dan perilaku. Tetapi di lapangan, konsep ini sering berhenti sebagai jargon. Ia terdengar “global”, tetapi tidak membumi. Ia dibicarakan dalam seminar, tetapi tidak hidup di ruang kelas.

Di sinilah letak problem kita: bukan kekurangan konsep, tetapi kekurangan keberanian untuk mengubah cara mengajar.

Pendekatan “Menjadi Warga Dunia Berkarakter Pancawaluya” memberikan tamparan sekaligus harapan. Ia menunjukkan bahwa membangun warga global tidak harus meninggalkan identitas lokal. Justru sebaliknya—ia harus berakar kuat pada nilai-nilai bangsa. Pancasila tidak lagi sekadar simbol, tetapi menjadi kompas moral dalam menghadapi dilema global. Pancawaluya—cageur, bageur, bener, pinter, singer—tidak lagi sekadar slogan budaya, tetapi menjadi karakter hidup yang membimbing tindakan siswa.

Yang lebih penting, pendekatan ini berani menggeser paradigma pembelajaran. Melalui model RADEC, siswa tidak lagi diposisikan sebagai penerima pengetahuan, tetapi sebagai pelaku. Mereka membaca, merefleksi, berdiskusi, memahami, dan akhirnya mencipta aksi nyata. Pendidikan tidak berhenti pada “belajar tentang dunia”, tetapi bergerak menuju “bertindak di dunia”.

Ini bukan sekadar inovasi metodologis. Ini adalah perubahan cara pandang tentang apa itu pendidikan.

Jika kita jujur, masalah pendidikan kita bukan karena siswa kurang pintar. Masalahnya adalah kita belum cukup serius membentuk mereka menjadi manusia yang utuh—yang berpikir, merasakan, dan bertindak. Kita terlalu lama nyaman dengan sistem yang mengukur nilai, tetapi lupa membangun nilai-nilai.

Jawa Barat, dengan segala kompleksitasnya, adalah miniatur dari dunia itu sendiri. Di sana ada keberagaman, ketimpangan, peluang, konflik, dan harapan. Jika kita berhasil membangun model pendidikan kewargaan global yang berakar di sana, maka sesungguhnya kita sedang menulis ulang arah pendidikan Indonesia.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi: apakah kita butuh perubahan?

Tetapi: apakah kita berani berubah?

Karena jika tidak, kita akan terus melahirkan generasi yang cerdas di atas kertas, tetapi gagap menghadapi dunia nyata. Generasi yang tahu banyak hal, tetapi tidak tahu harus berbuat apa.

Dan dalam dunia yang bergerak cepat, itu bukan sekadar kelemahan—
itu adalah risiko masa depan bangsa.

Pencarian