English
Indonesia

KEBERHASILAN SEMU PENDIDIKAN

20 Apr 2026 • Humas UPI

oleh

Dinn Wahyudin

Guru Besar FIP UPI

Dalam beberapa dasawarsa terakhir ini, pembangunan pendidikan di Indonesia menunjukkan capaian yang secara kuantitatif tampak menggembirakan. Berbagai indikator makro seperti peningkatan angka partisipasi sekolah, perluasan akses pendidikan, kenaikan angka kelulusan, serta bertambahnya jumlah institusi terakreditasi unggul sering dijadikan tolok ukur keberhasilan. Data Badan Pusat Statistik (2023) menunjukkan bahwa Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan menengah dan pendidikan tinggi terus meningkat dalam satu dasawarsa terakhir ini. Namun demikian, sejumlah kajian kritis menunjukkan bahwa capaian tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kualitas pembelajaran yang sesungguhnya. Laporan World Bank (2020) dalam Indonesia Education Flagship Report menegaskan bahwa peningkatan akses pendidikan di Indonesia belum diikuti oleh peningkatan kualitas hasil belajar secara signifikan. Fenomena ini dalam kajian pendidikan kontemporer sering disebut sebagai pseudo-success atau keberhasilan semu

Dalam konteks Indonesia, laporan World Bank melalui Indonesia Education Flagship Report (2020) tidak menciptakan istilah pseudo-success, tetapi menguatkan fenomenanya secara empiris, yakni adanya kesenjangan antara akses pendidikan yang membaik dan hasil belajar yang stagnan. Dengan kata lain, laporan tersebut memberikan evidence-based confirmation terhadap fenomena yang secara teoretis sudah lama dikritik dalam literatur pendidikan.

Secara teoritis, konsep ini dijelaskan melalui perspektif measurement-driven education yang dikritisi Campbell (1976) melalui Campbell’s Law. Teori ini menggarisbawahi bahwa ketika suatu indikator kuantitatif dijadikan tujuan utama, maka indikator tersebut cenderung mengalami distorsi dan kehilangan makna sebagai ukuran yang valid. Dari sinilah berkembang berbagai kritik terhadap “keberhasilan semu” dalam Pendidikan, misalnya Ketika angka partisipasi sekolah meningkat, angka kelulusan tinggi, tetapi kualitas literasi dan numerasi tetap rendah. Selain Campbell, gagasan serupa juga diperkuat oleh para analis pendidikan lainnya, seperti Michael Fullan tentang kritik reformasi pendidikan dangkal, atau kritik Andy Hargreaves tentang performativity dan tekanan indikator, yang menyoroti bahwa banyak reformasi pendidikan hanya menghasilkan “perbaikan di permukaan” tanpa perubahan substantif.

Laporan OECD melalui studi PISA (2018, 2022) secara konsisten menunjukkan adanya kesenjangan antara capaian akademik formal dengan kemampuan literasi, numerasi, dan berpikir kritis siswa. Indonesia, misalnya, masih berada di bawah rata-rata OECD dalam skor literasi membaca dan matematika. Temuan ini sejalan dengan studi UNESCO (2021) yang menyatakan bahwa krisis pembelajaran (learning crisis) terjadi ketika siswa bersekolah tetapi tidak memperoleh keterampilan dasar yang memadai (schooling without learning).

Dalam konteks nasional, berbagai regulasi telah menegaskan pentingnya mutu pendidikan yang holistik. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menekankan bahwa pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik secara utuh. Salah satu laporan evaluasi kebijakan oleh SMERU Research Institute (2022) menunjukkan bahwa implementasi kebijakan pendidikan di tingkat satuan pendidikan masih menghadapi tantangan berupa dominasi pendekatan administratif dan kurangnya perubahan praktik pembelajaran di kelas. Oleh sebab itu, hal penting untuk dikaji secara kritis fenomena “keberhasilan semu” dalam pendidikan. Yaitu  kondisi yang tampak berhasil secara indikator formal, tetapi tidak mencerminkan kualitas pembelajaran yang sesungguhnya.

Contoh Keberhasilan Semu

Ada sejumlah contoh keberhasilan semua atau pseudo success dalam bidang pendidikan, antara lain dikemukakan sebagai berikut. Pertama, Fenomena nilai ujian tinggi, tetapi literasi dan numerasi rendah. Data menunjukkan peningkatan rata-rata nilai ujian sekolah atau kelulusan hingga mendekati 100%, namun hasil asesmen independen seperti OECD melalui studi PISA memperlihatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa masih di bawah rata-rata global. Ini mengindikasikan praktik pembelajaran berorientasi hafalan (teaching to the test), bukan pemahaman mendalam.

Kedua, fenomena tingginya Angka Partisipasi Sekolah, tetapi masih rendahnya keterlibatan belajar siswa. Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) meningkat signifikan, menandakan akses pendidikan membaik. Namun, survei kelas menunjukkan banyak siswa tidak aktif, kurang motivasi, dan mengalami learning disengagement. Kehadiran fisik tidak selalu berarti keterlibatan kognitif maupun emosional dalam proses belajar. Laporan World Bank (2020) tentang learning poverty menunjukkan bahwa meskipun akses sekolah meningkat di banyak negara berkembang termasuk Indonesia, sekitar lebih dari 50% anak usia 10 tahun masih belum mampu memahami bacaan sederhana, yang menandakan rendahnya keterlibatan belajar yang bermakna.

Ketiga, fenomena sertifikasi guru meningkat, tetapi kualitas pembelajaran stagnan. Program sertifikasi guru yang masif meningkatkan jumlah guru tersertifikasi. Namun, berbagai studi menunjukkan tidak ada korelasi signifikan antara sertifikasi dan peningkatan kualitas praktik mengajar di kelas. Temuan diungkap SMERU Research Institute (2019) yang menyatakan bahwa sertifikasi lebih berfungsi sebagai mekanisme administratif dan insentif finansial daripada sebagai instrumen peningkatan kompetensi pedagogik.

Keempat, fenomena peningkatan akreditasi institusi, tetapi lulusan tidak siap kerja. Banyak institusi pendidikan memperoleh akreditasi tinggi (A atau Unggul), tetapi data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan tingkat pengangguran terdidik masih tinggi. Hal ini menandakan adanya kesenjangan antara standar administratif institusi dan relevansi kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Rilis Badan Pusat Statistik (2023) menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan pendidikan tinggi masih relatif tinggi dibandingkan kelompok berpendidikan lebih rendah, mencerminkan adanya skills mismatch antara lulusan dan kebutuhan pasar kerja.

Fenomena pseudo success dalam pendidikan menghadirkan semacam keberhasilan yang tampak terang, namun menyisakan kegamangan di kedalaman. Pada satu sisi, angka-angka tampak menanjak, nilai ujian membaik, partisipasi meningkat, sertifikasi guru meluas, digitalisasi berkembang, dan akreditasi institusi menguat, namun di sisi lain, makna sejati pendidikan justru belum sepenuhnya bersemi. Indikator-indikator formal tersebut memang merekam kemajuan tata kelola administratif, tetapi belum sepenuhnya mencerminkan keberhasilan yang hakiki, yaitu lahirnya insan yang mampu berpikir kritis, berkarakter kokoh, dan siap menghadapi kehidupan nyata. Tanpa pembaruan yang mendasar dalam kebijakan dan praktik pengelolaan, pendidikan berisiko terperangkap dalam bayang-bayang keberhasilan yang tampak elok di permukaan, tetapi rapuh di kedalaman. Sebuah capaian yang terukur, namun belum sepenuhnya memiliki makna makna.

FPBS UPI Perkuat Jejaring Nasional Lewat Forum FBSI 2026 di Yogyakarta

20 Apr 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat kepemimpinan akademik di tingkat nasional. Hal ini ditunjukkan melalui partisipasi aktif dalam Diskusi Terpumpun Nasional Forum Fakultas Bahasa dan Seni Indonesia (FBSI) Tahun 2026 yang berlangsung pada 9–11 April 2026.

Kegiatan strategis ini dipusatkan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan dilengkapi dengan kunjungan akademik ke Universitas Negeri Semarang (UNNES). Dalam forum tersebut, FPBS UPI diwakili oleh Wakil Dekan Bidang Pendidikan dan Penjaminan Mutu, Prof. Dr. Yulianeta.

Mengusung tema “Lingua-Art Network: Transformasi Kreatif Bahasa dan Seni untuk Pencapaian IKU Universitas,” forum ini menjadi ruang dialog penting bagi para pimpinan fakultas bahasa dan seni dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Selama tiga hari pelaksanaan, diskusi terpumpun membahas sejumlah isu krusial, di antaranya Penguatan jejaring antar-fakultas bahasa dan seni se-Indonesia. Pengembangan kurikulum yang adaptif terhadap perubahan zaman. Strategi penguatan kontribusi bidang bahasa dan seni dalam mendukung capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi.

Selain membahas agenda strategis, forum ini menjadi wadah untuk saling berbagi praktik baik (best practices) dalam pengembangan pembelajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Para peserta mengeksplorasi peluang kolaborasi seperti pengembangan program bersama dan kegiatan ilmiah lintas institusi.

Partisipasi FPBS UPI dalam forum ini semakin memperkokoh posisi fakultas sebagai salah satu pusat pengembangan pendidikan bahasa dan sastra yang aktif berkontribusi dalam dinamika pendidikan tinggi nasional.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, para pimpinan fakultas yang tergabung dalam FBSI menyepakati komitmen untuk melanjutkan kolaborasi yang telah terbangun. Momentum ini sekaligus menjadi titik awal untuk memperluas partisipasi pada pertemuan mendatang.

Pertemuan Forum FBSI berikutnya direncanakan akan kembali diselenggarakan di Universitas Negeri Yogyakarta pada tahun 2027. Forum mendatang diproyeksikan melibatkan jajaran yang lebih luas, mulai dari pimpinan fakultas, ketua program studi, hingga satuan penjaminan mutu dari seluruh perguruan tinggi anggota.

Melalui sinergi ini, FPBS UPI berharap dapat terus menghadirkan inovasi akademik yang relevan dengan perkembangan sosial dan budaya di Indonesia. (DN)

Guru Besar UPI Prof. Mohammad Ali Menjadi Pembicara Utama Konferensi Internasional di Uzbekistan

17 Apr 2026 • Humas UPI

Bandung/Chirchiq, 14 April 2026

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali mengukuhkan posisinya sebagai universitas pendidikan rujukan di Asia melalui kontribusi keilmuan Guru Besar UPI, Prof. Dr. Mohammad Ali, M.Pd., M.A., yang tampil sebagai keynote speaker pada International Scientific-Practical Conference bertajuk “Integration of Philological and Pedagogical Research in an Innovative Educational Environment” yang digelar di Chirchik State Pedagogical University (CSPU), Republik Uzbekistan, pada 13–14 April 2026. Atas penugasan resmi dari Rektor UPI, Prof. Mohammad Ali hadir untuk merepresentasikan kontribusi keilmuan UPI pada forum akademik lintas benua yang mempertemukan para sarjana dari Asia Tenggara, Asia Tengah, Eropa, dan Amerika Serikat.

Partisipasi ini memperkuat peran UPI sebagai pusat kajian pendidikan yang diperhitungkan di tataran global. Sebagai satu-satunya wakil Indonesia yang diundang menjadi pembicara utama, Prof. Mohammad Ali membawa kerangka keilmuan khas UPI yang mengintegrasikan paradigma pedagogi modern dengan riset bahasa dan sastra. Kontribusi ini sekaligus menegaskan reputasi program studi di lingkungan UPI, terutama yang menaungi kajian pendidikan, kurikulum, serta pendidikan bahasa, sebagai rujukan bagi pengembangan pendidikan inovatif di Asia.

Dampak konkret dari keterlibatan UPI pada forum ini adalah terbukanya kanal kerja sama akademik langsung antara UPI dengan CHDPU beserta mitra strategis dari Uzbekistan, Kazakhstan, Malaysia, dan Inggris. Forum ini membuka ruang bagi program studi di UPI untuk menjajaki riset bersama, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta pengembangan kurikulum bersama yang memperkaya pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi. Bagi sivitas akademika UPI, capaian ini juga menjadi pintu masuk bagi internasionalisasi program akademik di fakultas dan prodi, khususnya dalam pengembangan inovasi pembelajaran bahasa dan pedagogi.

Kehadiran Prof. Mohammad Ali di Uzbekistan sejalan dengan semangat Diktisaintek Berdampak, yaitu orientasi kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) yang menempatkan perguruan tinggi, sains, serta teknologi sebagai motor penghasil dampak nyata bagi masyarakat. Alih-alih berhenti pada partisipasi seremonial, diplomasi akademik ini menghasilkan dampak terukur berupa penguatan kapasitas dosen, pertukaran gagasan ilmiah, serta pembukaan ruang kolaborasi internasional yang akan diturunkan menjadi program akademik di tingkat fakultas dan prodi. Hal ini selaras dengan arah Diktisaintek Berdampak yang mendorong UPI untuk terus melahirkan riset, inovasi, dan kerja sama internasional yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia sekaligus berkontribusi pada peradaban global.

Partisipasi UPI pada konferensi internasional ini juga berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan riset dan inovasi pembelajaran lintas negara, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui jejaring kerja sama antaruniversitas di Asia Tenggara, Asia Tengah, dan Eropa. Integrasi filologi dan pedagogi yang menjadi tema konferensi turut relevan dengan SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) karena mendorong pemerataan akses dan mutu pendidikan melalui pendekatan yang berpusat pada peserta didik serta pelestarian bahasa warisan.

Berpijak pada dampak tersebut, UPI memandang partisipasi ini memiliki makna strategis berlapis sekaligus melahirkan sejumlah rekomendasi tindak lanjut. Pertama, kehadiran Guru Besar UPI sebagai pembicara utama mempertegas reputasi UPI sebagai universitas pendidikan rujukan di kawasan Asia sehingga perlu ditindaklanjuti dengan penguatan diplomasi akademik berkelanjutan. Kedua, forum ini membuka kanal langsung kerja sama dengan universitas-universitas Uzbekistan yang selama ini belum banyak terjalin oleh perguruan tinggi Indonesia. Ketiga, pertemuan dengan delegasi dari Malaysia, Kazakhstan, dan Inggris memperluas peluang kolaborasi riset multilateral sehingga direkomendasikan pengembangan program mobilitas dosen dan mahasiswa serta konferensi bersama sebagai tindak lanjut strategis yang berdampak jangka panjang.

Mengintegrasikan Filologi dan Pedagogi untuk Pendidikan Inovatif

Prof. Mohammad Ali menyampaikan paparan keynote di hadapan peserta International Scientific-Practical Conference, Chirchik State Pedagogical University, Uzbekistan, 13 April 2026.

Mengusung tema integrasi penelitian filologi dan pedagogi, konferensi ini menegaskan relevansi kolaborasi interdisipliner dalam membangun ekosistem pendidikan yang adaptif terhadap tuntutan abad ke-21. Panitia menggarisbawahi bahwa kajian filologi memperdalam pemahaman atas bahasa, komunikasi, dan budaya, sementara kajian pedagogi mengembangkan metode pembelajaran yang efektif dan keduanya harus bertemu untuk menghasilkan pendekatan pendidikan yang berpusat pada peserta didik serta berorientasi inovasi.

Pada 13 April, Prof. Mohammad Ali membawakan sesi pleno pukul 10.00–10.30 waktu Chirchiq dengan paparan berjudul Integration of Philological and Pedagogical Research in an Innovative Educational Environment: Concept and Application. Selain sesi pleno, beliau juga memimpin sesi workshop pada hari yang sama.

Dalam paparannya, Prof. Mohammad Ali memposisikan penelitian filologi yang menelaah bahasa, sastra, dan teks serta penelitian pedagogi yang mengkaji proses mengajar dan belajar sebagai dua bidang yang integrasinya menjadi prasyarat bagi perancangan lingkungan pendidikan yang inovatif. Dengan bertumpu pada paradigma pragmatik bermetode campuran (mixed-methods), beliau menegaskan bahwa keunggulan tradisi postpositivis dan konstruktivis dapat saling melengkapi ketika filologi dan pedagogi dipertemukan dalam satu kerangka dialog. Paparan kemudian memetakan lima area integrasi konkret, yakni metodologi pengajaran bahasa, pengembangan berpikir kritis, literasi multimodal, pelestarian bahasa warisan, serta pemanfaatan kecerdasan buatan dan digital humanities lengkap dengan ilustrasi mulai dari pengajaran menulis akademik berbasis korpus hingga analisis sastra berbantuan AI. Di bagian penutup, Prof. Mohammad Ali menawarkan serangkaian strategi kolaborasi tim riset interdisipliner, ko-desain kurikulum, integrasi teknologi, pelatihan guru, hingga riset tindakan (action research) yang dapat diadopsi perguruan tinggi untuk mentransformasi cara pembelajar abad ke-21 berinteraksi dengan bahasa dan sastra.

Rangkaian Acara, Penyelenggara, dan Pejabat yang Hadir

Konferensi ini diselenggarakan oleh Department of English Language Theory and Practice bersama Interfaculty Foreign Languages Department, Fakultas Pariwisata CHDPU, di bawah payung Kementerian Pendidikan Prasekolah dan Sekolah Republik Uzbekistan. Seluruh sesi berlangsung di Conference Hall lantai 1 Gedung Universitas Nomor 3, Fakultas Pariwisata, CHDPU, Kota Chirchiq, Provinsi Tashkent.

Penugasan Prof. Mohammad Ali diatur melalui Surat Tugas Rektor UPI Nomor 2218/UN40/RT.02.01/2026 tertanggal 26 Maret 2026, yang ditandatangani Rektor UPI, Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A. Seluruh pembiayaan kegiatan ditanggung sepenuhnya oleh pihak penyelenggara. Undangan resmi sebagai pembicara utama dilayangkan langsung oleh Rektor CHDPU, Prof. Muxamedov Gafurdjan Israilovich, Doctor of Chemical Sciences sekaligus Distinguished Scientist Uzbekistan.

Jajaran pembicara pleno menghadirkan sederet akademisi lintas negara, antara lain Dr. Komila Tangirova, Dr. Zulfiya Tuxtaxodjayeva, dan Dr. Gulnara Maxkamova (Uzbekistan National Pedagogical University), Dr. Giuseppe Chiaramonte, Dr. Sabariah Binti Sulaiman, serta Dr. Timur Pak. Konferensi juga menggandeng sejumlah mitra strategis global, di antaranya Universiti Pendidikan Sultan Idris (Malaysia), Auezov University (Kazakhstan), dan University of Warwick (Inggris).

Diplomasi Akademik ke Jantung Peradaban Asia Tengah

Di sela rangkaian kegiatan akademik di Uzbekistan, Prof. Mohammad Ali menyempatkan diri melakukan kunjungan kehormatan (courtesy call) kepada Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Uzbekistan merangkap Republik Kirgistan, Prof. Dr. Hj. Siti Ruhaini Dzuhayatin, M.A., di Kantor Kedutaan Besar RI di Tashkent. Dalam pertemuan yang hangat tersebut, Dubes Siti Ruhaini memaparkan karakter masyarakat Uzbekistan yang menurutnya majemuk secara alamiah dan sangat terbuka terhadap kebudayaan lain, tercermin dari beragam etnis yang hidup berdampingan mulai dari Uzbek, Tatar, Rusia, hingga jejak Makedonia. Modalitas keterbukaan yang serupa dimiliki Indonesia sehingga kedua negara dinilai memiliki posisi strategis untuk bersama-sama menghadirkan kembali wajah Islam yang moderat, terbuka, damai, serta rahmatan lil alamin di tengah dunia yang tengah diwarnai konflik. Lebih jauh, Dubes memperkenalkan Uzbekistan dan kawasan Asia Tengah sebagai The New Continent yang telah merampungkan konsolidasi politiknya dan kini menapak ke pembangunan menyeluruh, diiringi pertumbuhan kelas menengah serta pengembangan sumber daya alam dan manusia yang membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menjalin kemitraan yang setara dan saling menguntungkan layaknya keluarga. Menanggapi hal tersebut, Prof. Mohammad Ali menggarisbawahi pentingnya memperluas kerja sama tidak hanya di bidang pendidikan, ekonomi, dan sosial-budaya, tetapi juga sains dan teknologi, sebagai wujud nyata diplomasi akademik UPI yang bersinergi dengan misi diplomatik Indonesia di jantung peradaban Asia Tengah.

Prof. Mohammad Ali diterima oleh Duta Besar RI untuk Republik Uzbekistan merangkap Republik Kirgistan, Prof. Dr. Hj. Siti Ruhaini Dzuhayatin, M.A., di Kantor Kedutaan Besar RI di Tashkent, 13 April 2026.

Rangkaian kegiatan tidak berhenti di ruang konferensi. Pada 14 April, para pembicara dan delegasi diajak melakukan kunjungan akademik-kultural ke Samarkand, salah satu pusat peradaban ilmu pengetahuan Islam klasik. Delegasi menyambangi Registan Square, kompleks pemakaman Shah-i-Zinda, serta Gur-e-Amir, sebelum kembali ke Chirchiq pada sore harinya. Kunjungan ini mempertegas posisi Uzbekistan sebagai titik temu historis antara tradisi keilmuan Timur dan Barat.

Partisipasi Prof. Mohammad Ali pada konferensi di Chirchiq menjadi penanda penting perjalanan UPI menuju reputasi universitas pendidikan berkelas dunia. Dengan landasan Diktisaintek Berdampak dan komitmen pada pencapaian SDGs, UPI berharap kegiatan serupa terus direplikasi oleh para Guru Besar dan dosen di lingkungan UPI, sehingga kontribusi keilmuan UPI semakin terasa tidak hanya bagi pendidikan Indonesia tetapi juga bagi peradaban pendidikan global.

(Kontributor: Diemas Arya Komara dan Angga Hadiapurwa)

Prof. Vanessa Gaffar Soroti Peran Guru Besar Beyond Publication dalam Kepemimpinan Akademik

15 Apr 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Guru besar tidak lagi cukup dimaknai hanya melalui capaian publikasi ilmiah, tetapi juga harus hadir sebagai pemimpin intelektual, mentor akademik, dan penggerak kebijakan universitas. Gagasan tersebut mengemuka dalam forum bertema “Professorship Beyond Publication”, yang menyoroti kepemimpinan dan tanggung jawab strategis profesor dalam ekosistem pendidikan tinggi yang disampaikan oleh Prof. Vanessa Gaffar saat kegiatan Wicara Dewan Guru Besar di Auditorium FPBS Lt. 4 Jl. Dr. Setiabudi No. 229 Bandung, Jawa Barat. Selasa (14/4/2026).

Prof. Vanessa Gaffar menilai tema yang diangkat sangat relevan dengan tantangan pendidikan tinggi saat ini. Menurutnya, publikasi ilmiah memang telah menjadi keniscayaan yang melekat pada jabatan guru besar. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana seorang profesor mampu melampaui aspek publikasi melalui kontribusi kepemimpinan, tata kelola, serta tanggung jawab dalam regenerasi akademik.

“Kalau awareness para profesor sudah tinggi bahwa professorship itu embedded dengan publikasi, maka yang harus diperkuat adalah aspek beyond publication yakni leadership, tata kelola, dan tanggung jawab terhadap regenerasi,” ujarnya.

Dalam paparannya, Prof. Vanessa juga menyoroti fenomena professorship pipeline crisis, yakni tantangan serius dalam regenerasi guru besar di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa proses menuju profesor membutuhkan waktu panjang, bahkan dapat mencapai 20–30 tahun. Kondisi ini perlu disiasati melalui kebijakan yang mendukung percepatan karier akademik tanpa mengurangi kualitas.

Ia menegaskan, penguatan budaya riset sejak awal karier dosen menjadi kunci utama. Dengan budaya penelitian yang tertanam sejak dosen muda, publikasi tidak lagi menjadi hambatan saat memasuki tahapan kenaikan jabatan akademik menuju profesor.

Lebih lanjut, Prof. Vanessa memetakan tiga peran utama profesor. Pertama, sebagai pemimpin intelektual yang menghasilkan pengetahuan baru. Kedua, sebagai mentor bagi dosen muda, yang memastikan lahirnya generasi akademisi unggul secara berkelanjutan. Ketiga, sebagai bagian penting dari tata kelola universitas, khususnya dalam perumusan kebijakan akademik.

Ia menggambarkan dampak mentoring profesor secara eksponensial. Satu profesor yang membina sepuluh dosen muda, kemudian masing-masing dosen membina mahasiswa, akan menghasilkan pengaruh akademik yang luas dan berlipat ganda bagi kualitas institusi.

Melalui perspektif tersebut, forum ini menegaskan bahwa professorship di era modern menuntut lebih dari sekadar produktivitas publikasi. Guru besar diharapkan menjadi lokomotif perubahan akademik, penjaga mutu tata kelola, sekaligus penggerak regenerasi kepemimpinan intelektual di perguruan tinggi. (Rija/DN)

Peran Strategis Guru Besar dalam Tata Kelola Universitas dan Peningkatan Kualitas Pendidikan

15 Apr 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Guru besar memiliki peran yang semakin strategis dalam pengembangan perguruan tinggi, tidak hanya dalam bidang pengajaran dan penelitian, tetapi juga dalam tata kelola institusi. Hal ini disampaikan oleh Prof. Intan Ahmad dalam sebuah kesempatan diskusi akademik terkait kepemimpinan dan pengelolaan universitas yang dikemas pada acara Wicara Dewan Guru Besar di Auditorium FPBS Lt. 4 Jl. Dr. Setiabudi No. 229 Bandung, Jawa Barat. Selasa (14/4/2026).

Menurut beliau, guru besar diharapkan aktif terlibat dalam berbagai forum pengambilan keputusan, seperti rapat jurusan, fakultas, hingga forum Senat Akademik. “Kontribusi pemikiran para guru besar sangat penting, terutama dalam merumuskan kebijakan akademik yang kemudian menjadi dasar bagi pimpinan universitas dalam mengambil keputusan,” ujarnya.

Selain itu, sebagian guru besar juga berperan dalam Majelis Wali Amanat (MWA), yang memiliki fungsi strategis dalam memberikan arah kebijakan umum bagi universitas. Keterlibatan ini menunjukkan bahwa guru besar memiliki tanggung jawab luas dalam memastikan kualitas tata kelola pendidikan tinggi.

Terkait rasio guru besar di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang mencapai 14,6 persen, Prof. Intan Ahmad menegaskan bahwa angka tersebut perlu diimbangi dengan kualitas nyata. “Kualitas tidak bisa hanya diklaim, tetapi harus dibuktikan melalui prestasi dan kontribusi nyata,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa peningkatan jumlah guru besar diharapkan dapat memperkuat posisi UPI sebagai salah satu Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) terbaik di Indonesia. Lebih jauh, UPI diharapkan mampu mengajak LPTK lain untuk bersama-sama meningkatkan kualitas pendidikan nasional.

Dengan semakin bertambahnya jumlah dan kualitas guru besar, diharapkan sistem pendidikan tinggi di Indonesia dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif yang lebih luas. (Rija/DN)

Pencarian