English
Indonesia

Dewan Guru Besar Bahas Peran Strategis Profesor dalam Kepemimpinan dan Tata Kelola Universitas

15 Apr 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Dewan Guru Besar menggelar kegiatan Wicara Dewan Guru Besar yang menyoroti peran strategis profesor sebagai academic leader dalam penguatan kepemimpinan, tanggung jawab, serta tata kelola universitas. Forum ini menjadi ruang refleksi bersama mengenai kontribusi Guru Besar dalam menjawab tantangan akademik dan sosial di perguruan tinggi yang dilaksanakan di Auditorium FPBS Lt. 4 Jl. Dr. Setiabudi No. 229 Bandung, Jawa Barat. Selasa (14/4/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Rektor UPI Prof. Didi Sukyadi M.A menyampaikan bahwa peran Guru Besar tidak dapat dibatasi hanya pada publikasi ilmiah dan riset semata. Lebih dari itu, profesor dituntut hadir sebagai figur teladan yang mampu mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan kepedulian sosial.

“Guru Besar memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan pencerahan kepada generasi muda serta menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat,” ujarnya.

Selain peran akademik dan sosial, Guru Besar juga memiliki posisi penting dalam tata kelola universitas. Keterlibatan mereka tersebar di berbagai unsur strategis, mulai dari Dewan Guru Besar, Senat Akademik, Majelis Wali Amanat, hingga jajaran pimpinan universitas. Kondisi ini diharapkan mampu memperkuat kualitas kebijakan dan arah pengembangan institusi ke depan.

Masukan dari para Guru Besar, baik yang disampaikan secara formal maupun informal, dinilai sangat penting dalam merespons isu-isu aktual yang berkembang di tengah masyarakat. Rekomendasi tersebut menjadi bahan pertimbangan bagi pimpinan universitas dalam merumuskan kebijakan yang lebih komprehensif dan tepat sasaran.

Ketua Dewan Guru Besar UPI, Prof. Dadang Sunendar, menegaskan bahwa peran guru besar tidak dapat dibatasi hanya pada capaian publikasi ilmiah dan penelitian bereputasi. Menurutnya, guru besar memiliki tanggung jawab yang jauh lebih luas sebagai teladan dan pemimpin di lingkungan akademik maupun masyarakat.

“Peran guru besar bukan hanya menjadi peneliti dan melahirkan jurnal-jurnal bereputasi, tetapi lebih dari itu harus menjadi teladan serta pemimpin yang baik dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Ia menjelaskan, jumlah guru besar secara nasional yang masih relatif kecil sekitar 3 persen dari total dosen di Indonesia membuat posisi mereka sangat strategis dalam menentukan arah kemajuan pendidikan nasional. Harapan masyarakat dan negara terhadap para guru besar pun sangat besar karena kualitas peradaban bangsa salah satunya ditentukan oleh mutu pendidikan.

Prof. Dadang berharap hasil diskusi ini tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi dapat diterapkan secara konkret oleh seluruh guru besar di Indonesia, khususnya di lingkungan UPI.

“Harapannya, apa yang disampaikan dalam forum ini dapat diterapkan dan didiseminasikan oleh kita semua, sehingga para guru besar memberikan kontribusi besar sesuai amanat undang-undang dan cita-cita pendidikan nasional,” tambahnya.

Selain membahas dimensi kepemimpinan dan tanggung jawab moral, forum juga menyinggung hadirnya regulasi baru dari kementerian terkait pengembangan karier dosen hingga jenjang guru besar. Regulasi tersebut dipandang sebagai bagian dari implementasi kebijakan pemerintah untuk memperkuat tata kelola dan kualitas jabatan akademik tertinggi di perguruan tinggi.

Melalui forum ini, Dewan Guru Besar UPI menegaskan komitmennya untuk terus mendorong penguatan peran strategis guru besar sebagai motor penggerak kemajuan pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, serta penjaga nilai-nilai akademik dan kebangsaan. (Rija/DN)

Buka Peluang Karier Global, 40 Direktur Perusahaan Jepang Siap Kunjungi UPI Mei Mendatang

15 Apr 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

UPI Migrant Center memperkuat sinergi internasional dengan menggandeng lembaga perbankan asal Jepang, Joyo Bank, Ltd., dalam menyiapkan talenta global. Kolaborasi ini ditandai dengan rencana kunjungan besar delegasi pengusaha asal Ibaraki, Jepang, ke kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada Mei mendatang.

Rencana tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang berlangsung di Gedung Sekolah Pascasarjana Baru Kampus UPI, Jalan Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung. Senin (13/4). Pertemuan ini dihadiri oleh Direktur Joyo Bank, Ltd., Toba Yoshitsugu, bersama General Manager Katsutoshi Nogami dan Isao Sakuma selaku Chief Representative. Mereka diterima langsung oleh tim UPI Migrant Center yang diwakili oleh Yana R. Sopian, Susi Widianti, dan Dadang Yunus Lutfiansyach.

Kunjungan yang dijadwalkan pada 19 Mei 2026 tersebut akan melibatkan sedikitnya 40 direktur perusahaan dari wilayah Ibaraki. Agenda utama para pimpinan perusahaan tersebut adalah meninjau langsung proses pelatihan bahasa Jepang di UPI Migrant Center guna melihat kesiapan dan potensi calon tenaga kerja Indonesia.

“Inisiatif ini menjadi solusi atas tingginya kebutuhan tenaga kerja di Jepang, sekaligus membuka peluang karier internasional bagi mahasiswa UPI,” ungkap perwakilan UPI Migrant Center dalam pertemuan tersebut.

Pihak Migrant Center menegaskan kesiapan penuh untuk menyambut delegasi pengusaha Negeri Sakura tersebut dan akan segera melakukan koordinasi teknis di lingkungan universitas.

Dalam kolaborasi ini, Joyo Bank berperan sebagai fasilitator yang menjembatani kebutuhan industri di Jepang dengan mahasiswa Indonesia. Skema kerja sama yang ditawarkan mencakup program komprehensif mulai dari rekrutmen, wawancara, magang (internship) selama 6 hingga 12 bulan, hingga penempatan kerja tetap setelah mahasiswa lulus.

Terdapat lima sektor utama yang dibuka dalam peluang kerja ini, yakni Food and Beverage (Kuliner), Perhotelan, Pengolahan Makanan, Teknologi Informasi (IT), dan Perawatan Lansia (Kaigo).

Saat ini, sejumlah mahasiswa UPI telah menunjukkan antusiasme tinggi dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) vokasi bahasa Jepang di bawah naungan UPI Migrant Center. Penguasaan bahasa Jepang menjadi syarat mutlak dalam kerja sama ini. Tim pengajar menargetkan kemampuan dasar bahasa para peserta dapat tercapai pada awal tahun depan.

Jika target tersebut terpenuhi, UPI diproyeksikan mulai mengirimkan mahasiswanya untuk menjalani program internship di Ibaraki, Jepang, pada Februari tahun depan. Sebagai tindak lanjut, Joyo Bank akan segera mengirimkan rincian profil perusahaan dan kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan.

Melalui kolaborasi strategis ini, UPI berharap dapat melahirkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kompeten dan berdaya saing tinggi di pasar kerja global. (maxkeensopisan)

Bahasa Isyarat (La Langue des signes)

13 Apr 2026 • Humas UPI

Selayang Pandang dari Perancis

Seri 1

Bahasa Isyarat (La Langue des signes)

Oleh

Nenden Nurhayati Issartel (Koresponden, Perancis)

Tri Indri Hardini (Dosen, Universitas Pendidikan Indonesia)

Di setiap pidato resmi di TV Perancis saat ini selalu tampil penerjemah dengan bahasa isyarat. Pengakuan dan pemakaian resminya bahasa isyarat ini relatif baru.

Penyandang tunarungu, seperti semua orang, membutuhkan berkomunikasi. Awalnya, mereka menggunakan tangan, wajah, dan tubuh mereka untuk mengekspresikan gagasan, emosi, dan kebutuhan. Secara bertahap, gerakan-gerakan ini menjadi lebih terorganisir dan membentuk bahasa sejati dengan aturan-aturan tertentu.

Di zaman kuno (Antiquity, l’Antiquité), kecerdasan dianggap hanya dimiliki oleh kemampuan berbicara. Aristoteles (384 SM-322 SM) mengesampingkan nilai apa pun yang ada hubungannya  dengan orang-orang tunarungu termasuk bahasa isyarat.  Ia mengklasifikasikan  kaum tunarungu dan bisu sebagai hewan, bukan manusia. 

Memang, pada zaman itu, ucapan dan kemampuan berbicara seseorang dipandang sebagai karakteristik  manusia. Jadi orang tunarungu  pada zaman itu tidak dianggap manusia.

“Kemampuan belajar dimiliki oleh makhluk yang, selain ingatan, juga dikaruniai indra pendengaran.” – Aristoteles

Plato (427 SM -347 SM) adalah orang pertama yang mendokumentasikan dan mengamati bahasa isyarat.

Para penyandang tunarungu, yang terisolasi dari orang lain, tidak dapat memperkaya bahasa isyarat mereka dan harus puas dengan gerakan-gerakan sederhana. Tanpa pendidikan, mereka dianggap sebagai orang yang bodoh.

Sejak abad ke-16 dan seterusnya, pelukis tunarungu seperti Navarette dan Pinturicchio mulai diakui. Di Spanyol, berkat kerja para tutor seperti Pedro Ponce de Leon, anak-anak tunarungu dari keluarga bangsawan memiliki akses ke pendidikan, khususnya melalui alfabet manual (l’alphabet manuel notamment).  Juan de Pablo Bonet (1573-1633), seorang pendeta Spanyol, merupakan salah seorang pelopor pendidikan bahasa lisan untuk tunarungu dan penulis buku panduan terapi bercakap dan fonetik pertama di Eropa.

Pada tahun 1760, di Perancis, Charles-Michel de l’Épée, yang kerap dipanggil sebagai Abbé del’Épée (pendeta dalam sebuah Monasteri) adalah orang non-tunarungu yang tertarik pada cara komunikasi yang digunakan oleh tunarungu.  Beliau mengamati dua anak perempuan kembar tunarungu yang berkomunikasi satu sama lain dengan isyarat. Pendeta ini menyadari  keberadaan bahasa isyarat. Dengan penuh keyakinan, pendeta ini  lalu menggunakan beberapa isyarat dari bahasa ini, serta isyarat ciptaannya sendiri, yang kemudian disebut “signes méthodiques” (isyarat metodis) yang digunakan untuk mengilustrasikan tata bahasa Perancis dalam mendidik anak-anak tunarungu. Kemudian L’Abbé de L’Epée membuka sekolah untuk tunarungu, yang kemudian menjadi Institut Nasional untuk Pemuda Tunarungu, yang sekarang dikenal sebagai Institut Saint-Jacques, di Paris. Saat ini, Abbé de l’Épée dikenal oleh komunitas tunarungu di seluruh dunia.

Pada periode yang sama, gerakan ”oraliste” (pembicara lisan) menentang penggunaan bahasa isyarat. Mereka yakin bahwa penyandang tunarungu perlu belajar berbicara agar dapat berintegrasi di dalam masyarakat. Kongres Milan (Le congrès de Milan) tahun 1880 menetapkan bahwa “metode murni oral/berbicara harus lebih diutamakan.” Beberapa alasan diberikan, pada saat itu agar kaum tunarungu tidak memakai bahasa isyarat : bahasa isyarat bukanlah bahasa yang sebenarnya sehingga tidak memungkinkan untuk berbicara dengan Tuhan, dan isyarat dapat menghambat pernapasan penyandang tunarungu, sehingga meningkatkan risiko tuberkulosis.

Keputusan Kongres Milan ini berakibat sangat buruk bagi kaum tunarungu. Selama 100 tahun, bahasa isyarat dilarang digunakan di dalam lembaga-lembaga. Guru-guru penyandang tunarungu, yang pada dasarnya  tidak dianggap perannya dan mereka dijadikan sekedar tutor, kemudian dipecat demi  memaksakan pengajaran bahasa lisan semata. Namun bahasa isyarat ini secara diam-diam tetap digunakan di asrama, di sudut-sudut lapangan bermain, dan di luar dunia pendidikan. Keadaan ini semakin meminggirkan dan meremehkan bahasa tersebut. Abad “oralisme” memiliki konsekuensi serius bagi evolusi bahasa isyarat, dan tentu saja menghambat perkembangannya.

Tokoh terkenal Seperti Victor Hugo memberi tanggapan: “Apa bedanya jika telinga tidak mendengar namun pikiran mendengar? Satu-satunya ketunarunguan, ketunarunguan sejati, ketunarunguan yang tak tersembuhkan, adalah ketunarunguan akal budi.” – Victor Hugo

Pandangan Victor Hugo ini menyimpulkan bahwa kecacatan tidak menimbulkan kebodohan.

Bahasa Isyarat Perancis adalah sebuah bahasa—bukan sistem tutur dan merupakan bahasa yang berbeda dari bahasa Perancis. LSF (Langue des signes française) merupakan bahasa tersendiri karena memiliki tata bahasanya sendiri, yang sangat berbeda dari bahasa Perancis. LSF memiliki struktur sendiri berupa penetapan waktu, kemudian tempat, subjek, dan akhirnya tindakan.

Dengan demikian, setiap bahasa isyarat seperti juga bahasa bahasa lisan yang ada, memiliki sifatnya sendiri-sendiri.

Penting untuk diketahui bahwa bahasa isyarat tidak universal.  Bahasa isyarat bukan sekadar pantomim karena bahasa ini adalah bahasa sungguhan dengan tata bahasanya sendiri. Bahasa isyarat berkembang berkat komunitas tunarungu.

Keberadaan komunikasi tunarungu tidak diketahui sejak kapan. Dengan demikian sangat sulit untuk mengatakan negara mana yang pertama yang menerima bahasa isyarat ini. Seperti kita ketahui, para penyandang tunarungu selalu menggunakan isyarat untuk berkomunikasi, di setiap negara.

Negara Perancis, berkat Abbé de l’Épée yang telah mendirikan sekolah umum gratis pertama untuk anak-anak tunarungu di Paris, dianggap sebagai negara pertama yang secara resmi menerapkan dan mengajarkan bahasa isyarat. Pendeta ini menggunakan dan mengembangkan bahasa isyarat yang digunakan oleh warga Paris yang tunarungu.

Berkat Abbé de l’Epée, kemudian, negara-negara lain menciptakan bahasa isyarat mereka sendiri (misalnya: LSF di Perancis, ASL di Amerika Serikat, SIBI- Sistem Isyarat Bahasa Indonesia, sebuah sistem isyarat yang digunakan dalam pengajaran di Sekolah Luar Biasa Tunarungu SLB/B) dan Bisindo di Indonesia).  

l’Abbé de l’Epée meninggal dalam keadaan miskin dan lemah, setelah mengorbankan dirinya demi murid-muridnya. Setelah kematiannya, murid-muridnya, l’Abbé Sicard dan Laurent Clerc, mengekspor metodenya ke Eropa dan Amerika Serikat.

Sedikit klarifikasi, seperti dinyatakan sebelumnya, Sebelum Perancis, di Spanyol, pada abad ke-17, seorang biarawan yang bernama Juan Pablo Bonet telah menulis sebuah buku tentang pendidikan tunarungu dan alfabet manual. Namun Perancis adalah negara pertama yang benar-benar menyusun dan menyebarluaskan pendidikan bahasa isyarat dalam skala besar.

Perkembangan Bahasa Isyarat di Negara Lainnya

Di Amerika Serikat,  pada awal tahun 1800-an, seorang Amerika bernama Thomas Gallaudet datang ke Perancis untuk belajar cara mengajar penyandang tunarungu. Ia kembali ke Amerika Serikat bersama seorang guru tunarungu Perancis, Laurent Clerc. Pada tahun 1817, mereka membuka sekolah pertama untuk penyandang tunarungu di Amerika Serikat. Oleh karena itu, Bahasa Isyarat Amerika (ASL) sebagian besar didasarkan pada Bahasa Isyarat Perancis (LSF) yang dikombinasikan dengan isyarat yang sudah digunakan di Amerika. Kerja sama dalam bahasa isyarat dua negara ini, membuat sampai sekarang seorang tunarungu Amerika dan seorang tunarungu Perancis dapat saling mengerti. Lain halnya antara seorang tunarungu Inggris dengan tunarungu Amerika misalnya.

Di Inggris, sekolah untuk tunarungu sudah ada sejak tahun 1700-an. Bahasa Isyarat Britania (BSL) berkembang secara terpisah. BSL sangat berbeda dari Bahasa Isyarat Perancis (LSF) dan Bahasa Isyarat Amerika (ASL).

Di belahan dunia lainnya, Banyak negara telah menciptakan bahasa isyarat mereka sendiri. Beberapa bahasa isyarat dipengaruhi oleh Perancis, dan yang lain berkembang secara independen. Di beberapa negara, bahasa isyarat baru diakui secara resmi baru-baru ini.

Penting untuk diketahui, terdapat lebih dari 300 bahasa isyarat di dunia. Bahasa isyarat sama kaya dan lengkapnya dengan bahasa lisan.

Meskipun setiap negara memiliki bahasa isyaratnya sendiri, penyandang tunarungu dari berbagai negara tetap dapat berkomunikasi melalui ekspresi dan gerak-gerik tubuh yang alami. Banyak ekspresi wajah, gerak tubuh sederhana, dan tindakan mudah dipahami (makan, tidur, senang, sedih, dll.) Hal ini tentu saja sangat membantu mereka dan mempermudah mereka untuk komunikasi.

Berkat Bahasa Isyarat Internasional, terdapat suatu bentuk komunikasi yang disebut Bahasa Isyarat Internasional yang bukan merupakan bahasa resmi yang lengkap, melainkan sistem yang disederhanakan yang digunakan dalam pertemuan internasional (kongres, perjalanan, acara olahraga).

Bahasa Isyarat Internasional menggunakan:

  • isyarat yang sangat visual dan sederhana
  • gerakan yang dipahami oleh banyak budaya
  • adaptasi tergantung pada situasi

Komunikasi visual membantu penyandang tunarungu yang pada umumnya sangat terbiasa dalam hal mengamati, menyesuaikan isyarat mereka, atau menirukan gerakan jika perlu, bahkan dengan menggunakan tunarungusan atau telepon untuk membantu komunikasi visual ini. Jadi, meskipun bahasanya berbeda, mereka sering menemukan cara untuk saling memahami. Situasi ini mirip seperti dua orang yang tidak berbicara bahasa yang sama, dan mereka menggunakan isyarat, kata-kata sederhana, dan saling beradaptasi.

Sebagai contoh : saat dua orang penyandang tunarungu yang berasal dari negara yang berbeda dan tidak mengetahui bahasa isyarat yang sama, mereka memperkenalkan diri dimulai dengan isyarat sederhana dan universal, Ketika merujuk pada negara, sering kali tanda negara dikenal secara internasional. Untuk usia, mereka menunjukkan angka dengan jari mereka. Begitu pun dengan pekerjaan mereka menirukan gerakan (misalnya: mengetik di keyboard untuk mengatakan “Saya bekerja dengan komputer”). Jika mereka tidak saling mengerti, mereka dapat mengulanginya lebih perlahan, menyederhanakannya, menggambar, atau menulis di telepon.

Keberhasilan komunikasi antarbangsa ini berhasil karena bahasa isyarat sangat visual. Kita  dapat dengan mudah beradaptasi, menirukan gerakan, dan menjelaskan dengan tubuh kita (bahasa tubuh).

Hal yang paling sulit ketika dua penyandang tunarungu dari negara yang berbeda berkomunikasi adalah pembicaraan yang sifatnya abstrak. Hal-hal konkret (makan, tidur, rumah) mudah diperagakan dengan gerakan tubuh tetapi, pembicaraan tentang politik, filsafat, emosi yang kompleks, atau humor/candaan lebih rumit dan jauh lebih sulit untuk dimengerti.

Mengapa tidak menciptakan bahasa isyarat universal bagi tunarungu di dunia?

Gagasan ini sangat masuk akal tetapi pada kenyataannya  sangat rumit dikerjakan. Bahasa tidak mudah ”dibuat”. Bahasa lahir secara alami dalam suatu komunitas. Bahasa berkembang seiring dengan budaya, sejarah, dan  keadaan masyarakat pengguna bahasa tersebut.

Bahasa sangat terkait dengan identitas dari komunitas pemakainya. Bahasa isyarat adalah bagian dari identitas budaya kaum tunarungu. Kalau beralih ke bahasa universal, hal ini dapat menghapus budaya dan sejarah. Hal terpenting yang perlu diingat adalah: ketunarunguan bukan hanya masalah medis, melainkan juga sebuah komunitas dengan identitas dan bahasanya sendiri.

Jika Anda pernah bertemu dengan penyandang tunarungu, senyuman sederhana, isyarat, atau menulis di telepon dapat menciptakan hubungan yang indah.

Di Perancis, ada beberapa cara bagi anak-anak tunarungu untuk bersekolah; tergantung kebutuhan mereka, keluarga mereka, dan tingkat pendengaran mereka. Banyak anak tunarungu bersekolah di sekolah umum (bersama anak-anak yang mendengar) dengan didampingi seorang asisten pengajar untuk siswa penyandang disabilitas (AESH), penerjemah bahasa isyarat, atau dilengkapi peralatan yang disesuaikan (mikrofon khusus, sistem FM, materi tertunarungus, dll.)

Anak-anak tunarungu ini mengikuti kurikulum yang sama dengan anak-anak lainnya yang memiliki pendengaran yang baik.

Penggunaan atau penempatan atau kecocokan yang dibutuhkan seorang siswa tunarungu ditentukan oleh pilihan orang tua  dengan bantuan MDPH /Maison Départementale des Personnes Handicapées (Pusat Departemen untuk Penyandang Disabilitas) dan tim pendidikan khusus.

Di tahun 1980-an, komunitas yang disebut komunitas Tunarungu bangkit « réveil Sourd ».

Bahasa isyarat mulai menaik kembali gengsinya dengan adanya  ahli bahasa William Stokoe, yang mempelajari bahasa isyarat  sebagai bahasa sejati. Para peneliti di bidang linguistik dan sosiologi, seperti Christian Cuxac dan Bernard Mottez, melanjutkan upaya ini dengan mengutamakan budaya tunarungu dan hal-hal yang terkait dengan ketunarunguan. Lebih jauh lagi, kegiatan kebudayaan untuk tunarungu disodorkan oleh Jean Gremion (penulis, jurnalis, dan sutradara) dan Alfredo Corrado (seniman penyandang tunarungu dari Amerika). Pada tahun 1976, mereka mendirikan Teater Visual Internasional/l’International Visual Theatre (IVT). Sejak saat itu, mereka berupaya menilai kembali bahasa isyarat. Bersamaan dengan itu, pendidikan bagi siswa tunarungu mulai dipikirkan. Gagasan pendekatan dwibahasa Bahasa Isyarat Perancis (LSF) mulai digalakkan.

Pada tahun 1980, asosiasi “2 Bahasa untuk Pendidikan/ 2LPE” didirikan.

Pada tahun 1988, Pusat 2LPE ( 2 Langues pour une éducation) Ouest (barat), di Poitiers, berusaha mendirikan kelas bilingual (dua bahasa), mempromosikan dan mengakui bahasa isyarat sebagai bahasa yang berdiri sendiri, dalam konteks legislatif dan sosiologis dengan susah payah.

Pada tahun 1990-an, kaum tunarungu dan Bahasa Isyarat Perancis (LSF) mulai diterima masyarakat umum. Film, drama, dan komitmen beberapa asosiasi untuk meningkatkan kesadaran akan budaya tunarungu mengakibatkan pengakuan yang meningkat mengenai hak-hak kaum tunarungu. Pada tahun 1993, artis tunarungu Emmanuelle Laborit menerima Penghargaan Molière dalam bidang teater. Pada tahun yang sama, film dokumenter Nicolas Philibert “The Land of the Deaf/ Le Pays des sourds” membeberkan dunia tunarungu, yang sama sekali tidak dikenal oleh orang-orang yang mendengar.

Pada tahun 2014, ditayangkan film La Famille Bélier dengan Anne Peichert, yang dikenal sebagai Louane adalah seorang penyanyi, musisi, dan aktris Perancis. Ia memenangkan pada tahun 2013 di acara pencarian bakat televisi The Voice: La Plus Belle Voix, dan kemudian menjadi tenar pada tahun 2014 berkat peran utama pertamanya dalam film La Famille Bélier, yang membuatnya memenangkan Penghargaan César untuk Aktris Paling Berbakat pada tahun 2015. Louane mempelajari bahasa isyarat selama beberapa bulan untuk berperan dalam film “La Famille Bélier” ini.

Film ini menceritakan di keluarga Bélier, semua penyandang tunarungu kecuali Paula yang berusia 16 tahun, penerjemah bagi orang tuanya. Berbakat dalam bernyanyi dan didukung oleh guru musiknya, ia mempersiapkan diri untuk sebuah kompetisi bergengsi.

Bagaimana seorang artis dapat mempelajari bahasa isyarat dengan relatif cepat? karena guru dan profesi penerjemah Bahasa Isyarat Perancis (LSF)/Bahasa Perancis menjadi lebih profesional dan diresmikan dengan diberikannya ijazah atas kemampuan ini. Salah satu kemudahan ini yang memungkinkan seorang artis tak mengenal tunarungu bisa memerankan dan menggunakan bahasa isyarat dalam film yang sangat kompleks.

Di Januari 1991, Undang-Undang Fabius diperbaiki: “Dalam pendidikan anak-anak tunarungu, kebebasan untuk memilih antara komunikasi bilingual – bahasa isyarat dan bahasa Perancis – dan komunikasi lisan diakui sebagai hak.” Pandangan terhadap bahasa isyarat secara bertahap berubah. Perjuangan yang dilakukan selama 25 tahun untuk pengakuan bahasa isyarat mulai membuahkan hasil: Undang-Undang tanggal 11 Februari 2005 mengakui LSF sebagai “bahasa yang berdiri sendiri.

Pada Februari 2005, setelah lebih dari 120 tahun tidak terlihat, Bahasa Isyarat Perancis diakui sebagai bahasa tersendiri. Namun perlu dicatat bahwa, tidak seperti Finlandia, Portugal, dan Spanyol, Perancis belum mengakui bahasa isyarat LSF dalam hukum konstitusional.

Pada tahun 2008, Bahasa Isyarat Perancis (LSF) menjadi pilihan untuk ujian Baccalaureate (setara dengan SMA), seperti bahasa lainnya.

Pada tahun 2010, CAPES (sertifikasi pengajaran kompetitif) dalam LSF diadakan untuk guru tunarungu.

Terlepas dari semua kemajuan ini, posisi kaum tunarungu dalam masyarakat tetap sulit untuk bisa dibilang memuaskan: Dalam sistem sekolah, hanya 5% anak-anak tunarungu menerima pengajaran Bahasa Isyarat. Perancis hanya memiliki 13 kelas yang memungkinkan anak-anak tunarungu untuk melanjutkan pendidikan mereka dalam LSF dari taman kanak-kanak (prasekolah) hingga kelas lima, serta hanya terdapat 4 sekolah menengah pertama dan 4 sekolah menengah atas yang memberi pelajaran bahasa isyarat ini.

Di Perancis, 7 juta orang mengalami ketunarunguan atau gangguan pendengaran. Dengan demikian, lebih dari satu dari sepuluh warga Perancis, yang bisa menjadi korban atau saksi keadaan darurat. Namun bagi mereka, menghubungi layanan darurat secara langsung (15, 17, 18 atau 112) sulit atau bahkan tidak mungkin dilakukan.

Untuk mengatasi kurangnya aksesibilitas ini dan mencegah hilangnya kesempatan untuk bisa diselamatkan ketika ada bahaya, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Dalam Negeri meluncurkan nomor darurat tunggal pada tahun 2011: 114. Nomor ini dioperasikan oleh Rumah Sakit Universitas Grenoble-Alpes. Layanan darurat publik gratis ini tersedia 24 jam dan dikhususkan untuk orang-orang tunarungu, tunanetra, gangguan pendengaran, dan afasia  (buta tunarungu) yang berada  dalam kesulitan. Layanan ini memungkinkan mereka untuk menghubungi layanan darurat terdekat menggunakan sistem percakapan lengkap (video, teks, suara, gambar). Mereka dapat menggunakan aplikasi “Urgence 114”, situs web www.urgence114.fr, atau SMS.

Akses yang mulai diluncurkan bulan Maret 2025 ini adalah kesempatan untuk mengingatkan mereka yang tersangkut dan orang-orang yang peduli akan kecacatan bahwa adanya layanan darurat ini dapat menyelamatkan nyawa mereka dalam upaya tindakan pencegahan risiko.

Kesimpulannya bahwa sama halnya dengan deskripsi audio atau takarir dalam film, Bahasa Isyarat Perancis (LSF) adalah alat dan sarana penting bagi setiap orang untuk mengakses kehidupan budaya negara mereka. Oleh karena itu, LSF merupakan sarana bagi semua orang untuk memiliki akses yang sama seperti warga negara yang dapat mendengar.

Walaupun jerih payah ini,  hingga saat ini, hanya 4% penyandang Tunarungu di Perancis yang mampu akses ke pendidikan tinggi, dan 50% menganggur saat dewasa. 

Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) diterapkan sebagai alat komunikasi  di Indonesia. Bahasa isyarat BISINDO tumbuh secara alami di kalangan komunitas tunarungu. BISINDO menjadi salah satu dari 100 bahasa isyarat tumbuh secara alami di kalangan masyarakat tunarungu. SIBI adalah Bahasa isyarat yang dikembangkan pemerintah Indonesia dan menjadi Bahasa isyarat yang digunakan untuk pengajaran di Sekolah Luar Biasa (SLB). SIBI dibuat oleh orang yang bisa mendengar sedang BISINDO berkembang di tengah masyarakat tunarungu.  

Meski ada perbedaan dalam penggunaannya, dan asal usulnya,  SIBI dan BISINDO memiliki tujuan yang tak berbeda, yaitu merupakan alat komunikasi untuk memudahkan kontak antara tunarungu  dan juga dengan orang yang bisa mendengar.

Sumber : https://www.signesetformations.com/

LEKSIKON

Alfabet manual : Alfabet manual Prancis adalah alfabet yang digunakan untuk Bahasa Isyarat Prancis (LSF), baik untuk membedakan kata-kata LSF maupun untuk mengisyaratkan kata-kata Perancis dalam LSF. Alfabet ini memiliki huruf-huruf yang sebagian besar mirip dengan huruf-huruf alfabet manual Amerika.

Abbé : Kepala suatu biara

Signes méthodiques: Isyarat metodis diciptakan oleh Abbé de l’Épée dengan bantuan para biarawati tunarungu pada tahun 1760. Bahasa ini bukanlah bahasa isyarat, melainkan mengkodekan gestur dari bahasa Perancis yang bertujuan untuk mengajarkan bahasa Perancis kepada anak-anak tunarungu.

CAPES adalah Sertifikat mengajar di pendidikan menengah (yang singkatan umumnya, CAPES yang diberikan pada orang-orang yang berhasil melewati kompetisi / Ujian nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Nasional Perancis (le ministère l’Éducation nationale français). 

Kongres Milan/Le Congrès de Milan

Kongres MIlan adalah kongres ke-3 untuk memperbaiki nasib para tunarungu. Kongres pertama  berlangsung di Paris, selama Pameran Dunia (Universal) tahun 1878 dan kongres kedua diadakan di Lyon pada tahun 1879, Kongres Milan dihadiri ahli dalam pengajaran tunarungu, yang dihadiri banyaknya oleh para ahli Italia (kongres berlangsung di Italia) dan orang Perancis, sedangkan perwakilan internasional lainnya yang jumlahnya sangat minoritas (Jerman, Swiss, Inggris, Skandinavia dan Amerika).

Yang lebih memprihatinkan adalah, dari lebih dari 255 peserta, hanya tiga orang tunarungu yang hadir, dua di antaranya adalah tunarungu berbahasa Perancis. Tidak ada penerjemah yang disediakan untuk mereka, meskipun diskusi tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Italia, Jerman, Inggris, dan Perancis.

Kongres Milan adalah kongres internasional yang ketiga untuk peningkatan kesejahteraan kaum tunarungu, berlangsung di Milan dari tanggal 6 hingga 11 September 1880. Meskipun tidak memiliki kekuatan mengikat, kongres ini menyebabkan penerapan metode pengajaran lisan di Eropa, yang merugikan bahasa isyarat. Hanya negara-negara Anglo-Saxon yang terus mempertahankan bahasa isyarat.

AESH

Accompagnant des élèves en situation de handicap (AESH)

Staf Pendukung untuk Siswa Penyandang Disabilitas (AESH)

Staf pendukung memberikan bantuan kepada siswa penyandang disabilitas. Di bawah pengawasan pedagogis guru, peran mereka adalah untuk mendorong kemandirian siswa, tanpa menggantikan siswa jika memungkinkan.

Staf pendukung untuk siswa penyandang disabilitas (AESH) adalah pegawai yang bertanggung jawab untuk memberikan dukungan manusiawi. Misi mereka adalah untuk mendorong kemandirian siswa penyandang disabilitas, baik mereka memberikan pertolongan secara perorangan (privat), maupun pertolongan yang ditawarkan asuransi kesehatan, ataupun  pertolongan  secara berkelompok/ disatukan.

MDPH /Maison Départementale des Personnes Handicapées

Pusat Departemen untuk Penyandang Disabilitas (MDPH) adalah kantor yang memudahkan akses untuk meraih hak dan manfaat bagi penyandang disabilitas/ cacat (baik anak-anak maupun orang dewasa). MDPH menjalankan beberapa misi, seperti: menyambut, memberi informasi, mendukung, dan memberi nasihat kepada penyandang disabilitas dan keluarga mereka, memastikan pengorganisasian dan pengoperasian tim penilaian multidisiplin,  membantu dalam pengembangan rencana hidup penyandang disabilitas,  meningkatkan kesadaran tentang disabilitas pada semua orang, menyelenggarakan kegiatan koordinasi dengan layanan kesehatan dan sosial lainnya.

Teater Visual Internasional/l’International Visual Theatre (IVT)

IVT – International Visual Theatre adalah rumah budaya untuk budaya tunarungu, didirikan oleh Jean Grémion dan Alfredo Corrado.  Di IVT Rumah budaya terdapat tiga kegiatan: teater, pusat pelatihan dan penerbitan, yang terhubung dalam misi bersama transmisi dan penyebaran Bahasa Isyarat Perancis (LSF) dan budayanya.

Integrasi teater dengan pengajaran Bahasa Isyarat Perancis (LSF) memungkinkan penghargaan terhadap ragam bahasa yang berbeda dengan menyediakan materi kerja dan pedagogi yang unik. Bersama dengan Tyst Teater (sv) di Swedia, Teater Nasional Tuna Rungu di Amerika Serikat, dan Teater Manu  di Norwegia, IVT merupakan pusat di Perancis untuk penyebaran dan penciptaan teater bahasa isyarat, pertunjukan visual dan fisik (tubuh).

Pada tahun 1977, International Visual Theatre, perusahaan teater pertama untuk aktor tunarungu, berkat kolaborasi Perancis-Amerika dengan International Theatre Institute didirikan. Mereka merekrut Bill Moody, seorang penerjemah ASL berbahasa Inggris dan pendiri Chicago Deaf Theatre, yang menjadi penerjemah pertama IVT. Pembentukan IVT bertepatan dengan kebangkitan gerakan tunarungu melalui teater.

Pawang BIPA UPI: Dari Webinar ke Diplomasi Bahasa, Wujud Nyata “Cintai Indonesia, Jelajahi Dunia”

11 Apr 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Sekolah Pascasarjana UPI kembali menunjukkan perannya dalam penguatan internasionalisasi bahasa Indonesia melalui gelaran Pawang BIPA, sebuah program promosi inovatif yang berdampak luas bagi dunia pendidikan dan jejaring global.

Mengusung slogan “Cintai Indonesia, Jelajahi Dunia”, kegiatan ini tidak sekadar memperkenalkan program studi, tetapi juga menjadi ruang berbagi praktik terbaik pembelajaran BIPA berbasis antarbudaya. Melalui kegiatan ini, UPI menegaskan posisinya sebagai pusat pengembangan keilmuan dan pedagogi BIPA yang adaptif terhadap tantangan global.

Sebagai bagian dari program “berdampak”, Pawang BIPA memberikan manfaat langsung bagi calon mahasiswa, praktisi, dan akademisi untuk memahami pembelajaran BIPA yang integratif, menggabungkan bahasa, budaya, dan perspektif global. Program ini juga mendukung pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 17 (Kemitraan Global) melalui penguatan akses pendidikan dan kolaborasi internasional.

Kegiatan Pawang BIPA dilaksanakan secara daring pada April–Mei 2026 melalui tiga webinar utama. Webinar pertama dilaksanakan pada tanggal 11 April 2026 mengangkat tema Pedagogi dan Perangkat Pembelajaran BIPA dengan narasumber Dr. Ida Widia, M.Pd. dan Dr. Mochammad Whilky Rizkyanfi, M.Pd. Webinar kedua dilaksanakan tanggal 25 April 2026 membahas Implementasi Teks Sastra Indonesia di Kelas Antarbudaya BIPA bersama Dr. Suci Sundusiah, M.Pd. Sementara webinar ketiga  dilaksanakan pada tanggal 9 Mei 2026 mengangkat Konten Ketatabahasaan Bahasa Indonesia untuk BIPA bersama Dr. Nuny Sulistiany Idris, M.Pd. dan Dr. Mahardika Zifana, M.Hum.

Tidak hanya webinar, program ini juga menghadirkan siniar edukatif melalui YouTube serta Visit Prodi BIPA pada 17 April 2026 yang memberikan pengalaman langsung mengenal kurikulum, proses pembelajaran, dan peluang karier lulusan, baik bagi calon mahasiswa internasional maupun Indonesia.

Kegiatan Webinar Pawang BIPA dibuka oleh Dekan Sekolah Pascasarjana UPI, Prof. Dr. Juntika Nurihsan, M.Pd., yang menekankan pentingnya inovasi program akademik yang berdampak dan berkontribusi pada diplomasi bahasa Indonesia di tingkat global.

Melalui Pawang BIPA, Prodi Magister Pendidikan BIPA UPI tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah mahasiswa, tetapi juga membangun ekosistem pembelajaran yang berdaya saing global, berbasis riset, dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Ke depan, program ini berpotensi dikembangkan sebagai agenda unggulan tahunan dengan perluasan kolaborasi internasional dan integrasi platform digital interaktif guna menjangkau audiens yang lebih luas.

Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan ini dapat diakses melalui Instagram @pawang_bipa dan @bipa.pascasarjana.upi atau melalui WhatsApp di nomor +62881022267698. (DN)

ISOLA FUN RUN 2026: Semarakkan Kebersamaan Civitas Akademika dan Alumni UPI

11 Apr 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia kembali menghadirkan kegiatan olahraga sekaligus kebersamaan melalui gelaran Isola Fun Run 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya strategis kampus dalam memperkuat keterlibatan alumni, civitas akademika, serta masyarakat umum dalam mendukung pengembangan institusi yang dilaksanakan di Depan ATM Center Jl. Dr. Setiabudi No. 229, Bandung Jawa Barat. Sabtu (11/4/2026).

Diselenggarakan dengan semangat kolaborasi, Isola Fun Run 2026 tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga wadah silaturahmi lintas generasi. Antusiasme peserta terlihat tinggi, dengan keterlibatan sekitar 860 runner serta partisipasi masyarakat luas, termasuk warga sekitar yang turut meramaikan kegiatan.

Ketua Penyelenggara, Prof. Wawan Gunawan, M.Ed., Ph.D, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif besar untuk meningkatkan partisipasi alumni di lingkungan UPI.

“Kami tidak terlalu menekankan apakah ini kegiatan pertama atau bukan, tetapi lebih kepada bagaimana kami menginisiasi peningkatan partisipasi alumni untuk UPI. Kegiatan ini menjadi langkah awal yang diharapkan terus berlanjut dengan berbagai kegiatan lain yang lebih besar dan lebih melibatkan banyak pihak,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Isola Fun Run 2026 merupakan bagian dari gagasan UPI yang dikelola secara kolaboratif, dengan dukungan berbagai pihak termasuk unit di lingkungan kampus.

Ke depan, kegiatan ini direncanakan akan terus dikembangkan dengan konsep yang lebih inklusif dan tema yang lebih relevan dengan perkembangan zaman. Tidak hanya itu, keterlibatan lintas fakultas juga akan diperluas agar kegiatan serupa dapat menjadi agenda bersama seluruh sivitas akademika UPI.

“Tema kegiatan ke depan akan terus diperbarui agar lebih menarik dan relevan. Kami ingin kegiatan ini menjadi lebih inklusif serta melibatkan lebih banyak fakultas karena pada dasarnya ini adalah kegiatan UPI secara keseluruhan,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama Dr. Hernawan, S.Pd., M.Pd. selaku Alumni yang mengikuti acara Isola Fun Run mengatakan partisipasi alumni dalam kegiatan ini terbilang signifikan. Salah satu alumni menyampaikan bahwa antusiasme alumni cukup tinggi, bahkan terdapat puluhan peserta dari berbagai program studi yang mendaftar menjelang hari pelaksanaan. Hal ini mencerminkan kuatnya rasa memiliki alumni terhadap almamater.

“Untuk alumni, animonya cukup banyak. Dari angkatan saya saja ada 15 orang, itu hanya H-1 ikutnya. Dari prodi lain seperti Bahasa Inggris bahkan mencapai 45 peserta. Ini menunjukkan hal yang sangat positif,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia juga berharap ke depan keterlibatan alumni dapat lebih ditingkatkan melalui persiapan yang lebih matang sejak awal, sehingga kontribusi alumni dalam kegiatan kampus semakin optimal.

Melalui Isola Fun Run 2026, UPI berharap dapat membangun ekosistem kampus yang lebih kolaboratif, aktif, dan terbuka bagi partisipasi alumni serta masyarakat luas. (Rija)

Pencarian