Open Visit UPI Sumedang Dorong Peningkatan Akses Pendidikan dan Kualitas SDM Daerah
18 Feb 2026 • Humas UPI
Sumedang, UPI
Kegiatan Open Visit yang diselenggarakan oleh Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Sumedang mendapat apresiasi tinggi dari berbagai pihak, termasuk perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang. Kegiatan ini dinilai strategis dalam memperluas akses informasi pendidikan tinggi serta mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia di wilayah Kabupaten Sumedang dilaksanakan di Kampus UPI Sumedang Jl. Mayor Abdurahman No.211, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Sabtu (14/2/2026)
Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang Dadang Setiawan, S.Ag.,M.Si menyampaikan apresiasi atas upaya UPI dalam membuka akses dan memperkenalkan dunia kampus kepada para siswa SMA dan SMK. Menurutnya, kegiatan Open Visit memberikan kesempatan bagi para pelajar untuk melihat secara langsung fasilitas, program studi, serta peluang masa depan yang dapat diraih melalui pendidikan tinggi.
“Kami sangat mengapresiasi upaya ini sebagai bagian dari langkah mendongkrak peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), khususnya melalui sektor pendidikan. Dengan adanya Open Visit, para siswa dapat memperoleh informasi yang utuh tentang dunia perkuliahan dan termotivasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa rata-rata lama sekolah masyarakat Sumedang saat ini masih berada di angka sekitar 8,92 tahun. Oleh karena itu, peningkatan jumlah lulusan pendidikan tinggi menjadi faktor penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, berkarakter, dan berdaya saing.
“Kami berharap semakin banyak generasi muda Sumedang yang melanjutkan pendidikan di UPI Kampus Sumedang. Hal ini akan berdampak besar terhadap percepatan pembangunan daerah, karena kualitas SDM menjadi fondasi utama kemajuan suatu wilayah,” tambahnya.
Selain itu, pihaknya juga berharap masyarakat Sumedang dapat memperoleh perhatian khusus dan kesempatan yang optimal untuk mengakses pendidikan di kampus tersebut, sehingga keberadaan UPI Kampus Sumedang benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal.
Kegiatan Open Visit ini menjadi salah satu bentuk komitmen UPI dalam mendukung pemerataan akses pendidikan tinggi, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, karakter, dan inovasi untuk kemajuan daerah dan bangsa. (Rija)
UPI Kedekatan dengan Masyarakat melalui Open Visit di Kampus Sumedang
18 Feb 2026 • Humas UPI
Sumedang, UPI
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) terus menunjukkan komitmennya dalam mendekatkan layanan pendidikan tinggi kepada masyarakat melalui kegiatan Open Vision yang diselenggarakan di Kampus UPI Sumedang. Kegiatan ini disambut dengan antusias oleh masyarakat dan menjadi momentum penting untuk memperkenalkan berbagai program studi, fasilitas, serta prestasi mahasiswa kepada publik, khususnya warga Sumedang dan sekitarnya yang dilaksanakan di Kampus UPI Sumedang Jl. Mayor Abdurahman No.211, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Sabtu (14/2/2026)
Wakil Rektor Bidang Sumber Daya, dan Sistem Informasi. Prof. Dr. Tri Indri Hardini, M.Pd salah satu pimpinan UPI yang juga merupakan warga asli Sumedang menyampaikan bahwa kegiatan ini dipersembahkan khusus untuk masyarakat Sumedang agar dapat lebih mengenal UPI tanpa harus datang jauh ke kampus pusat. Melalui kegiatan ini, masyarakat dapat secara langsung melihat kualitas pendidikan, fasilitas pendukung, serta berbagai capaian yang telah diraih oleh mahasiswa UPI.
UPI menegaskan bahwa seluruh kampus UPI, baik di kampus pusat maupun daerah, memiliki standar kualitas yang sama. Kampus UPI tersebar di berbagai wilayah, termasuk di Bandung, Tasikmalaya, Serang, Purwakarta, serta kawasan Cibiru. Kesetaraan ini mencakup layanan akademik, fasilitas, serta sistem koordinasi yang terintegrasi antara kampus pusat dan kampus daerah.
“Kualitas UPI di manapun berada adalah sama. Baik di pusat maupun di daerah, kami memastikan layanan dan fasilitas yang diberikan setara, sehingga mahasiswa mendapatkan pengalaman pendidikan terbaik,” ujarnya.
Kegiatan Open Visit ini juga menjadi bagian dari upaya strategis dalam memperkuat pengembangan Kampus UPI Sumedang. Saat ini, selain program sarjana (S1), kampus Sumedang juga telah mulai mengembangkan program magister (S2), dan ke depan diharapkan dapat membuka program doktor (S3). Hal ini diharapkan dapat memberikan kesempatan lebih luas bagi masyarakat Sumedang dan sekitarnya untuk melanjutkan pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan daerahnya.
Pimpinan UPI turut mengapresiasi kerja keras panitia dan seluruh civitas akademika Kampus UPI Sumedang atas terselenggaranya kegiatan yang meriah dan penuh semangat. Antusiasme masyarakat menunjukkan tingginya kepercayaan publik terhadap UPI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan berdampak.
Melalui kegiatan ini, UPI berharap dapat terus memperkuat perannya sebagai institusi pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan dekat dengan masyarakat.
“Jangan lupa, pilih UPI,” menjadi pesan penutup yang disampaikan sebagai ajakan kepada generasi muda untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia. (Rija)
Sinergi UPI, ITB, dan Unpad Perkuat Kualitas Pendidikan di Olimpiade Fisika Indonesia 2026
18 Feb 2026 • Humas UPI
Bandung, UPI
Kolaborasi akademik lintas perguruan tinggi kembali memperkuat ekosistem sains nasional. Sejumlah dosen dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Padjadjaran (Unpad) bersinergi dalam penyelenggaraan Olimpiade Fisika Indonesia (OFI) 2026 yang berlangsung di Bandung, 13–15 Februari 2026.
Kegiatan tahunan yang memasuki edisi ke-5 ini merupakan hasil kolaborasi antara Indonesian Scientific Society (ISS) dengan SEAMEO QITEP in Science. Penyelenggaraan tahun ini sekaligus menjadi komitmen bersama dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-4 mengenai pendidikan berkualitas.
Sejak pertama kali digelar pada 2022, antusiasme peserta OFI terus meningkat. Tahun ini, tercatat sebanyak 243 siswa dari 21 provinsi di Indonesia mendaftar sebagai peserta. Setelah melalui proses seleksi yang ketat, sebanyak 99 siswa dari 10 provinsi berhasil melaju ke babak Grand Final yang dipusatkan di Hotel De Java, Sukajadi, Kota Bandung.
Kualitas kompetisi ini dijaga ketat oleh tim dewan juri yang terdiri dari para pakar di bidangnya seperti Prof. Bobby Eka Gunara (Fisika ITB), Dr. Selly Feranie (Program Studi Fisika UPI), dan Dr. Kartika Hajar Kirana, M.Si. (Fisika Unpad)
Ketua Pelaksana OFI 2026, Doni Nurdiansyah, menjelaskan bahwa format pengujian tahun ini dirancang berbeda. Selain tes kognitif berbasis kertas (paper test), peserta ditantang melalui tahap studi kasus.
“Model ini tidak hanya mengukur penguasaan kognitif, tetapi juga menilai kemampuan pemecahan masalah (problem-solving), berpikir kreatif, literasi ilmiah, hingga kemampuan komunikasi argumentatif peserta,” ujar Doni.
Dalam tahap studi kasus, peserta diberikan persoalan acak yang mencakup fisika teoretik, fisika kebumian, dan fisika batuan. Mereka diperbolehkan mengeksplorasi jurnal serta referensi ilmiah untuk merumuskan solusi sebelum mempresentasikannya di hadapan dewan juri.
Pada acara penutupan, Minggu (15/02), perwakilan juri Dr. Selly Feranie menekankan pentingnya peran fisika dalam kemajuan teknologi, mulai dari eksplorasi bawah permukaan bumi hingga kajian semesta. Ia juga mengimbau para guru untuk mulai mengintegrasikan artikel ilmiah dalam proses pembelajaran.
“Tujuannya agar siswa terbiasa dengan pendekatan deep learning dan mampu melakukan analisis multidimensi terhadap berbagai permasalahan,” ungkap Selly.
Ketua ISS, Iwan Gunawan, turut memberikan apresiasi tinggi kepada para finalis. Ia menegaskan bahwa keberhasilan mencapai tahap final merupakan cerminan dedikasi tinggi para siswa dalam bidang sains.
Melalui sinergi ini, UPI bersama mitra institusinya terus memperkuat peran strategis dalam membina talenta sains nasional, sekaligus mencetak generasi muda yang adaptif terhadap perkembangan teknologi masa depan. (DN)
Pengantar : Alm.Prof.Dr.Garnadi Prawirosudirjo,MSc seorang ilmuwan dan Guru Besar Ilmu Biologi dan Rektor IKIP Bandung (1971-1978), hampir seluruh waktu dalam perjalananan hidupnya, ia dedikasikan dalam pengkhidmatan di bidang pendidikan.
Seorang guru besar biologi duduk termenung di kursi meja kerjanya yang sunyi. Ia tekun membedah sel dan perilaku serangga sampai pada satu kesimpulan sederhana: Semakin dalam ilmu ditelusuri, semakin dekat manusia pada Sang Khalik. The deeper knowledge is explored, the closer humans are to the Creator. Di tangan Prof.Dr. Garnadi Prawirosudirjo, mikroskop tidak hanya menjadi alat ilmiah, tetapi juga jendela perenungan. Humor bukan sekadar pemanis pembelajaran, melainkan jalan sunyi untuk menyadarkan manusia akan keterbatasannya di hadapan kebesaran semesta Sang Khalik.
Sebagai seorang guru besar biologi, Prof Garnadi dikenal bukan hanya karena ketajaman analisis ilmiahnya. Ia juga sangat piawai cara menghadirkan sains dengan senyum intelektual. Dalam suatu ruang kuliah, biologi tidak ia suguhkan sebagai ilmu yang kering dan berjarak. Melalui tutur bicaranya yang pelan terstruktur rapih, ia ungkapkan cerita kehidupan yang kadang justru terasa ironis ketika dibandingkan dengan perilaku manusia. Baginya, alam—terutama dunia serangga—menyimpan humor yang sangat rapi. Bukan sebagai humor buatan (artificial humour), melainkan humor yang lahir dari logika biologi yang terlalu efisien untuk tidak direnungkan. Di situlah mahasiswanya sering tertawa kecil. Bukan karena lucu dalam arti ringan, tetapi karena merasa “tersindir” oleh fakta alam dan kehidupan satwa.
Salah satu contoh yang kerap ia gunakan adalah kehidupan koloni semut – salah satu ilmu kepakarannya. Hampir semua semut yang kita lihat bekerja tanpa lelah. Mereka mencari makan, mengangkut beban, merawat larva, membangun dan menjaga sarang. Semua itu dilakukan oleh semut betina (female ant). Ia steril, tidak bereproduksi, tidak terkenal, dan tidak pernah tampil sebagai pahlawan koloni. Sebaliknya, semut jantan (male ants) memiliki peran biologis yang sangat singkat: muncul pada waktu tertentu, kawin dengan ratu, lalu mati. Begitulah Sang Khalik mengaturnya. Ketika fakta ini disampaikan di kelas, humor Prof. Garnadi mengalir secara apik, halus penuh wibawa. Alam seolah berkata bahwa fungsi lebih penting daripada gengsi. Dan efisiensi lebih utama daripada simbol. Tawa yang muncul bukan jenis tawa meremehkan. Melainkan tawa reflektif. Pembagian peran ini terasa sangat tegas. Nyaris tanpa kompromi sosial. Begitulah Sang Khalik mengaturnya.
Humor biologi itu menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan pola aktivitas semut. Semut pekerja memang berjenis semut betina, tetapi tidak semua semut betina bekerja pada malam hari. Aktivitas mereka ditentukan oleh spesies dan kondisi lingkungan. Yaitu kondisi suhu, kelembaban, predator, dan ketersediaan sumber makanan. Di daerah tropis, banyak spesies semut lebih aktif pada sore hingga malam hari karena suhu lebih rendah dan risiko dehidrasi lebih kecil. Di titik inilah Prof. Garnadi biasanya meluruskan dengan senyum: ”Alam tidak mengenal stereotip, hanya mengenal adaptasi”. Humor muncul bukan dari kesalahan fakta. Tetapi dari kecenderungan manusia menyederhanakan alam dengan kacamata sosialnya sendiri.
Yang menarik, humor Prof. Garnadi tidak pernah jatuh menjadi satire kasar atau lelucon bertendensi bias gender. Ia bekerja sebagai ironi biologi dan sindiran sosial yang sangat lembut. Semut betina digambarkan bekerja keras, efisien, dan nyaris tanpa suara. Banding dengan semut jantan hadir sebentar, menjalankan fungsi reproduksi, lalu selesai. The game over. Alam tidak sedang menghakimi, tetapi manusia yang menangkap pola itu sering tersenyum karena melihat cermin dirinya sendiri. Di sinilah biologi berubah menjadi bahasa kemanusiaan: menyampaikan kritik tanpa pidato, dan memberi pelajaran tanpa menggurui.
Pada akhirnya, humor dalam pandangan Prof. Garnadi adalah strategi pedagogis sekaligus sikap intelektual. Ilmu pengetahuan tidak harus disampaikan dengan wajah tegang dan jargon yang menakutkan. Dengan kepekaan dan ketepatan ilmiah, kehidupan serangga dapat menjadi jendela untuk memahami kerja, disiplin, pengorbanan, dan rasionalitas alam. Humor biologi bukan untuk menertawakan alam, melainkan untuk menertawakan keseriusan manusia yang sering lupa bahwa alam telah “berpikir” jauh sebelum manusia belajar memikirkannya.
Menuju Sang Khalik
Prof. Garnadi Prawirosudirjo juga memandang hubungan antara ilmu dan iman bukan sebagai dua wilayah yang saling berhadap-hadapan. Ilmu dan Iman dimaknai sebagai dua cara manusia membaca kenyataan hidup dari sudut yang berbeda namun saling melengkapi. Ilmu pengetahuan membantu manusia memahami keteraturan alam, mekanisme kehidupan, dan hukum-hukum yang bekerja di balik fenomena empiris. Sementara itu, iman memberi arah makna, tujuan, dan nilai yang membimbing bagaimana pengetahuan tersebut digunakan.
Sebagai ilmuwan biologi, ia justru melihat bahwa kedalaman ilmu pengetahuan dapat membuka ruang kesadaran religius yang lebih matang. Kompleksitas kehidupan, keteraturan sistem alam, serta harmoni antarunsur biologis tidak berhenti pada penjelasan teknis semata, tetapi menumbuhkan rasa kagum dan kerendahan hati manusia di hadapan Sang Pencipta. Ilmu, dalam pandangannya, adalah jalan sunyi menuju kesadaran transendental—sebuah perjalanan intelektual yang bermuara pada pengakuan akan kebesaran Yang Maha Mengatur.
Dengan demikian, pemikiran Prof. Garnadi Prawirosudirjo menegaskan bahwa integrasi ilmu dan iman adalah fondasi penting bagi pengembangan pengetahuan, pembentukan etika, dan pembangunan manusia seutuhnya. Ilmu menjelaskan dunia sebagaimana adanya, sementara iman memberi arah tentang bagaimana manusia seharusnya hidup di dalamnya. Keduanya berjalan bersama—dan justru dalam perjumpaan itulah manusia menemukan jalan pulang menuju Sang Khalik.
Semoga Almarhum Prof. Dr Garnadi Prawirosudirjo telah berada dengan tenang di Alam Barzah, di tempat yang sangat dimuliakan Allah SWT. Seraya dipanjatkan do’a: Allahummaghfir lahu, warhamhu, wa’afihi, wa’fuanhu. Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sejahterakanlah dan maafkanlah dia. Aamiin Ya Mujibasaillin.
Buku rujukan
Garnadi Prawirosudirjo.(1974).Kehidupan Serangga yang mengagumkan. Jakarta: Bhatara.
Garnadi Prawirosudirjo. (1975). Integrasi Ilmu dan Iman. Jakarta: Bulan Bintang
UPI Gelar Bedah Buku “Baduy: Masyarakat 1001 Tabu”, Dorong Penguatan Akademik dan Penerjemahan Global
18 Feb 2026 • Humas UPI
Serang, UPI
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar kegiatan bedah buku bertajuk “Baduy: Masyarakat 1001 Tabu” pada Kamis (12/02/2026) di Hotel Horison TC UPI, Jalan Ki Masjong No. 2, Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Serang, Pusat Kota Serang. Forum ilmiah ini menjadi ajang diskusi akademik untuk mengulas secara kritis karya yang mengangkat kehidupan dan nilai-nilai adat masyarakat Baduy.
Kegiatan tersebut menghadirkan Prof. Dr. Retty Isnendes (UPI) dan Ade Jaya Suryani (UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten) sebagai pembahas utama, dengan Dr. Syarip Hidayat, M.Pd. bertindak sebagai moderator. Diskusi berlangsung dinamis, dengan berbagai pandangan yang memperkaya isi dan perspektif terhadap buku karya Uday Suhada tersebut.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Keuangan UPI, Prof. Dr. Rudi Susilana, M.Si., menegaskan bahwa kegiatan ini mencerminkan komitmen universitas untuk hadir di tengah masyarakat. Menurutnya, perguruan tinggi tidak boleh terjebak sebagai “menara gading”, tetapi harus memberi kontribusi nyata terhadap pengembangan budaya dan literasi daerah, khususnya di Banten. Ia juga menyampaikan dukungan penuh terhadap rencana penerjemahan buku ke dalam Bahasa Inggris. UPI, kata Prof. Rudi, siap memfasilitasi proses tersebut melalui tim linguistik yang kompeten agar karya ini dapat menjangkau pembaca internasional.
Wakil Gubernur Banten, Dimyati Natakusumah, turut memberikan apresiasi atas terbitnya buku tersebut. Ia menilai karya ini sebagai bagian penting dari dokumentasi adat dan tradisi Suku Baduy. Menurutnya, penerjemahan ke Bahasa Inggris menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan filosofi hidup masyarakat Baduy ke dunia global, memperkuat promosi wisata budaya Banten, serta memastikan narasi lokal memperoleh pengakuan yang lebih luas di tingkat internasional.
Dalam sesi pemaparan, Prof. Dr. Retty Isnendes memberikan sejumlah masukan konstruktif. Dari sisi teknis, ia menyarankan agar pada edisi berikutnya ukuran huruf dapat diperbesar demi kenyamanan pembaca. Sementara dari aspek substansi, Prof. Retty mendorong agar isi buku diperkaya dengan referensi tambahan untuk memperkuat landasan akademiknya. Menurutnya, penguatan rujukan ilmiah akan membuat karya tersebut semakin kokoh sebagai sumber literatur yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.
Senada dengan itu, Ade Jaya Suryani menekankan pentingnya memperluas perspektif kajian. Ia menyampaikan bahwa buku tersebut tidak hanya perlu bersifat deskriptif, tetapi juga diperdalam dengan rujukan dari berbagai sumber, baik penelitian dalam negeri maupun luar negeri. Ade Jaya menambahkan bahwa topik mengenai masyarakat Baduy telah banyak dikaji oleh peneliti mancanegara, sehingga pengayaan referensi internasional akan semakin memperkuat posisi buku ini dalam diskursus akademik yang lebih luas.
Sementara itu, penulis buku, Uday Suhada, mengungkapkan bahwa pelibatan para profesor dalam bedah buku ini merupakan bagian dari upayanya menjaga objektivitas karya. Ia berharap masukan dari para pakar dapat menyempurnakan isi buku sekaligus memperluas dampaknya. Uday juga menyampaikan harapan agar kampus-kampus di Banten terus berperan aktif dalam mendukung pengembangan literasi berbasis kearifan lokal, sehingga keberadaan perguruan tinggi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Melalui kegiatan ini, UPI menegaskan komitmennya dalam memperkuat budaya literasi, memperkaya kajian akademik, serta mendorong pelestarian budaya lokal agar mampu dikenal hingga tingkat global. (Retty Isnendes)