English
Indonesia

UPI dan Pemerintah Provinsi Chungnam Bahas Kerja Sama Penyiapan Tenaga Kerja Mahasiswa untuk Industri Korea Selatan

17 Nov 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menerima kunjungan perwakilan Pemerintah Provinsi Chungnam, Korea Selatan, dalam rangka penjajakan peluang kerja sama terkait penyediaan tenaga kerja terampil (skill worker) asal Indonesia yang dilaksanakan di Ruang Rapat Partere Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung Kamis, (13/11/2025).

Dalam pertemuan itu, delegasi Chungnam menyampaikan kebutuhan tenaga kerja terampil yang sangat tinggi di berbagai sektor industri Korea. Menanggapi hal ini, UPI siap mengembangkan skema pembelajaran dan pelatihan yang lebih adaptif untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Provinsi Chungnam dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi menjadi sister province sejak 25 November 2021. Berdasarkan hubungan tersebut, kedua belah pihak terus memperluas kolaborasi, termasuk pada sektor ketenagakerjaan. Perwakilan Chungnam menyampaikan bahwa saat ini mereka membutuhkan sekitar 10.000 tenaga kerja asing untuk mengisi berbagai sektor industri, seperti semikonduktor, display, mobility, dan baja.

Menurut perwakilan Chungnam Mr. Lee Jongho, P.hD selaku Tenaga Ahli Education Center menyampaikan “UPI dipilih sebagai mitra strategis karena reputasinya sebagai salah satu universitas terbaik di Indonesia serta keberadaan Migran Center UPI yang memiliki fokus pada isu-isu ketenagakerjaan dan perlindungan pekerja migran. Selain itu, kebutuhan tenaga kerja di Chungnam juga mempertimbangkan kemampuan berbahasa dan UPI dianggap siap mendukung melalui program-program kompetensi bahasa yang dimiliki.”

“Kami berharap diskusi hari ini menjadi langkah awal menuju kerja sama resmi yang berkelanjutan dan jangka panjang antara Provinsi Chungnam dan UPI,” ujar Mr. Lee Jongho

Wakil Rektor UPI Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Bisnis Prof. Dr. phil. Yudi Sukmayadi, M.Pd juga menjelaskan bahwa kerja sama ini merupakan peluang besar sekaligus tantangan yang harus dijawab dengan peningkatan kualitas pembelajaran dan kesiapan lulusan.

“Salah satu poin yang dibahas adalah kemungkinan program magang jangka pendek (short term) bagi mahasiswa UPI di industri Korea Selatan. Mahasiswa yang mengikuti program ini dapat memperoleh pengalaman kerja langsung yang nantinya dapat dikonversi menjadi SKS akademik di UPI. Selain itu, untuk skema jangka panjang (long term), UPI menargetkan penyiapan lulusan berkualitas sesuai standar kompetensi industri Korea Selatan.” tambahnya.

Delegasi Chungnam juga menegaskan komitmennya dalam memberikan fasilitas bagi mahasiswa atau lulusan yang bekerja di Korea, tidak hanya berupa gaji tetapi juga pendampingan budaya, pembekalan bahasa Korea, dan berbagai dukungan lainnya.

Dalam implementasinya, kerja sama ini akan melibatkan UPI Migrant Center sebagai leading sector, serta didukung oleh Direktorat Pengembangan Karir UPI. Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga direncanakan menjadi bagian dari kemitraan ini, sehingga terbangun kolaborasi tiga pihak yang solid.

Prof. Yudi berharap inisiatif ini dapat menjadi langkah besar dalam mendorong mahasiswa dan lulusan UPI tampil di kancah internasional melalui kontribusi langsung pada kebutuhan dunia kerja global.

“Yang paling penting, melalui kerja sama ini, kita dapat membawa UPI lebih kuat dalam kancah internasional melalui prestasi mahasiswa dan lulusan yang mampu memenuhi kebutuhan industri,” ujarnya.

Pertemuan ini diharapkan menjadi momentum awal untuk membangun sinergi dalam menyiapkan tenaga terampil Indonesia yang siap bersaing di sektor industri global, sekaligus memperkuat hubungan kerja sama antara Jawa Barat dan Chungnam. (Rija)

UPI Gelar Kuliah Umum Penguatan Profesionalisme Guru Bahasa Sunda

17 Nov 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia melalui Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda FPBS menyelenggarakan kuliah umum bertema “Makihikeun Profesionalisme Guru Basa Sunda dina Ngarojong Atikan nu Napak tur Natrat Sinambung” pada Kamis, 13 November 2025. Kegiatan yang digelar secara hybrid—luring di Auditorium Lantai 4 FPBS UPI dan daring melalui platform virtual—menjadi ruang strategis dalam membahas arah kebijakan, tantangan, dan penguatan profesionalisme guru bahasa Sunda di era transformasi pendidikan.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Barat, serta para pakar dari UPI. Para pemangku kebijakan dan akademisi tersebut memaparkan pandangan komprehensif mengenai masa depan pendidikan bahasa Sunda di sekolah dan madrasah.

Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda, Dr. Haris Santosa Nugraha, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa keberlanjutan bahasa daerah sangat ditentukan oleh kapasitas guru dalam mengajarkannya secara bermakna. “Guru bahasa Sunda memegang peran sentral dalam merawat identitas budaya masyarakat. Karena itu, harus dipastikan agar pembelajaran bahasa Sunda tetap diajarkan di sekolah dan memiliki dampak yang berkelanjutan,” ujarnya.

Dekan FPBS UPI, Wawan Gunawan, M.Ed., Ph.D., memberikan apresiasi tinggi terhadap terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, kolaborasi antarlembaga yang hadir menunjukkan komitmen besar dalam memajukan pendidikan bahasa Sunda. “Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini karena menghadirkan berbagai pemangku kebijakan dalam satu forum strategis. Hal ini menegaskan bahwa pendidikan bahasa Sunda adalah tanggung jawab kolektif untuk menjaga keberlanjutan bahasa dan budaya, sekaligus memperkuat relevansinya bagi generasi muda,” ungkapnya.

Selain pemaparan materi, kegiatan ini menjadi momentum penting bagi penguatan sinergi kebijakan. FPBS UPI dan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat menandatangani perjanjian kerja sama untuk memperkuat sinkronisasi kurikulum, pengembangan kapasitas guru, dan implementasi program pendidikan bahasa Sunda di satuan pendidikan.

Pada kesempatan yang sama, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat meluncurkan Revisi Capaian Pembelajaran Bahasa Sunda Tahun 2025, yang diperbarui agar selaras dengan prinsip pembelajaran mendalam (deep learning) Kemdikbudristek serta kerangka karakter Gapura Pancawaluya yang menjadi fokus penguatan nilai pendidikan di Jawa Barat. Penyusunan dokumen ini melibatkan akademisi UPI, Perkumpulan Pendidik Bahasa Daerah Indonesia (PPBDI), dan praktisi MGMP Bahasa Sunda sehingga menghasilkan rumusan yang kokoh secara akademik dan relevan dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah.

Para narasumber dari Kemenag Jabar, Disdik Jabar, dan UPI memaparkan isu strategis yang mencakup kebijakan pembelajaran bahasa Sunda di madrasah dan sekolah, penguatan profesionalisme guru, pembaruan kurikulum, serta penyelenggaraan Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk peningkatan kualifikasi pendidik. Paparan tersebut memberikan gambaran menyeluruh tentang tantangan dan arah pengembangan pendidikan bahasa Sunda di tengah perubahan sistem pendidikan nasional.

Partisipasi lebih dari 500 peserta menunjukkan tingginya perhatian komunitas akademik dan praktisi pendidikan terhadap keberlanjutan pembelajaran bahasa Sunda. Kehadiran guru, mahasiswa, dosen, pengurus MGMP Bahasa Sunda, PPBDI, serta Ikatan Alumni Pendidikan Bahasa Sunda mempertegas bahwa pengembangan bahasa Sunda merupakan agenda penting yang perlu dijalankan secara kolaboratif dan berkelanjutan.

Dengan terselenggaranya kuliah umum ini, Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda FPBS UPI kembali menegaskan komitmennya sebagai pusat pengembangan pendidikan bahasa daerah yang adaptif dan responsif terhadap dinamika kebijakan serta kebutuhan lapangan. Prodi terus memperluas jejaring, memperkuat kontribusi akademik, dan memastikan peningkatan kompetensi guru berlangsung secara sistematis dan berkesinambungan.

Sebagai bagian dari kontribusi Universitas Pendidikan Indonesia terhadap pembangunan berkelanjutan, kegiatan ini turut mendukung pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan profesionalisme pendidik; SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) melalui pelestarian bahasa dan budaya daerah; serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi erat antarlembaga pendidikan, pemerintah, dan komunitas guru dalam memperkuat ekosistem pendidikan bahasa Sunda di Jawa Barat. (DN)

UPI Gelar Pendampingan Pengisian LKE Zona Integritas untuk Perkuat Komitmen WBK/WBBM

16 Nov 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menegaskan komitmennya dalam membangun lingkungan kerja yang bersih, melayani, dan berintegritas melalui kegiatan Pendampingan Pengisian Lembar Kerja Evaluasi (LKE) Zona Integritas yang digelar 14 November 2025 di Auditorium Gedung Pascasarjana Baru. Kegiatan ini menghadirkan tim dari Inspektorat Jenderal Kemendiktisaintek serta diikuti oleh sekitar 180 peserta dari berbagai unit kerja dan kampus daerah.

Sejak pencanangan Zona Integritas pada 2021, UPI terus mendorong tiap unit untuk menguatkan tata kelola dan layanan publik. Pendampingan tahun ini menjadi momentum penting untuk menyatukan arah dan meningkatkan kualitas persiapan menuju predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) maupun Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM).

Dalam laporan pembukaannya, Ketua Asesor ZI UPI, Dr. Wawan Darmawan, S.Pd., M.Hum, menyampaikan bahwa pembangunan ZI bukan sekadar memenuhi administrasi, tetapi membentuk budaya kerja yang bersih dan profesional.

“UPI punya komitmen membangun good governance dengan pelayanan yang bersih, bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Ini pekerjaan besar dan harus dilakukan bersama,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa proses evaluasi ZI melalui tahapan yang ketat, mulai dari TPI UPI, TPI Kementerian, hingga Tim Penilai Nasional KemenPAN-RB. Karena itu, kelengkapan dokumen hanya menjadi salah satu bagian dari keseluruhan upaya perbaikan sistem layanan.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Keuangan, Prof. Dr. Rudi Susilana, M.Si., dalam arahannya menekankan bahwa UPI tidak sekadar berupaya memenuhi skor penilaian, tetapi ingin memastikan seluruh proses dan budaya kerja benar-benar mencerminkan nilai integritas.

“Yang dinilai bukan hanya angkanya. Budaya tepat waktu, budaya melayani, dan budaya berintegritas itu juga harus berjalan. Inilah pondasi yang membuat UPI layak maju,” tegasnya.

Dengan semangat UPI Melesat, universitas menargetkan minimal dua unit meraih predikat WBK pada 2026, menyusul capaian FPIPS pada 2024. Kesiapan FPIPS, FPBS, dan FPMIPA disebut menonjol berdasarkan evaluasi terakhir, namun seluruh unit memiliki peluang untuk maju jika menunjukkan konsistensi dan kualitas yang kuat.

Dalam sesi wawancara, Eko Haryanto dari Inspektorat Jenderal Kemendiktisaintek menjelaskan bahwa pengisian dokumen kini dilakukan melalui aplikasi INSPIRASI, yang menjadi dasar verifikasi dan penilaian internal.

“Ini bukan hanya pengisian LKE, tetapi memberkas semua proses kerja yang sudah dijalankan. Komitmen kolektif dari pimpinan sampai staf adalah kunci keberhasilan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa enam area perubahan dalam ZI membutuhkan kerja bersama, mulai dari tata kelola antikorupsi, layanan publik, hingga sistem yang memudahkan pemangku kepentingan.

Pemateri dari Itjen, Lindung Sirait, menyoroti pentingnya integritas akademik maupun non-akademik dalam penyelenggaraan Tridharma perguruan tinggi. Ia mengingatkan bahwa UPI perlu memastikan seluruh komponen layanan mencerminkan kesiapan unit untuk dinilai secara nasional.

“Kita ingin UPI menjadi contoh. Itu tidak mungkin terjadi kalau hanya modal semangat tanpa kesiapan riil di lapangan,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa diagnosis kelemahan internal adalah langkah penting sebelum maju ke penilaian berikutnya.

Seluruh narasumber sepakat bahwa pembangunan Zona Integritas di UPI bukanlah proyek jangka pendek. Lebih dari itu, ZI adalah upaya membangun budaya kerja: melayani, akuntabel, dan profesional.

“Tidak hanya mengejar predikat, tetapi memastikan budaya integritas benar-benar melekat. Sistem harus berjalan, dan layanan harus otomatis memudahkan,” tutur Eko Haryanto.

Sebagai perguruan tinggi negeri berbadan hukum, UPI didorong tidak hanya memenuhi standar penilaian, tetapi menunjukkan kualitas tata kelola yang layak menjadi rujukan nasional.

Dengan semangat UPI Melesat, kegiatan pendampingan ini menjadi langkah penting dalam memastikan UPI siap berbenah, memperbaiki kualitas layanan, dan bergerak menuju reputasi yang lebih kuat dan bukan karena angka penilaian semata, tetapi karena kualitas dan integritas yang sesungguhnya. (CS)

Campus Explore Interest, Perkuat Kompetensi Mahasiswa Baru Pendidikan Bisnis UPI

14 Nov 2025 • Humas UPI
Narasumber menyampaikan materi dalam sesi seminar pembukaan Campus Explore Interest (CEI), Minggu (19/10/2025)

Bandung, UPI — Program Studi Pendidikan Bisnis, Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), melalui Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bisnis (BESA), menyelenggarakan rangkaian kegiatan Campus Explore Interest (CEI) 2025 sebagai upaya memperkenalkan lingkungan akademik sekaligus mengembangkan minat dan kompetensi mahasiswa baru Tahun Akademik 2025.

Kegiatan CEI 2025 dibuka pada Minggu (19/10/2025) melalui seminar akademik yang menghadirkan empat narasumber, yaitu Deska Friliyantie, S.Pd. (tenaga pendidik), Rizky Wirayuda, S.Pd., CDMP (praktisi profesional), Novti Nurlaila Ramadhanti (mahasiswa aktif Pendidikan Bisnis), serta perwakilan Satuan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (SPPKS) UPI.

Para narasumber membahas sejumlah topik, mulai dari pengembangan kompetensi tenaga pendidik, kesiapan memasuki dunia profesional, literasi kewirausahaan, hingga edukasi terkait Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di perguruan tinggi.

Selain sesi materi, kegiatan juga diisi dengan tanya jawab, ice breaking, pembentukan kelompok, hingga Forum Group Discussion (FGD) untuk memperkuat kemampuan komunikasi dan kolaborasi mahasiswa baru.

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bisnis UPI mempresentasikan hasil observasi lapangan pada sesi penilaian Closing CEI 2025, Minggu (19/10/2025)

Tahap penutupan CEI digelar pada Sabtu (25/10/2025) melalui presentasi hasil observasi lapangan yang dilakukan masing-masing kelompok. Presentasi tersebut dinilai oleh tiga juri: Sukmayadi (tenaga kependidikan), Raihan Demitri Agrapana (kewirausahaan), dan Diah Putri Nunirmala (tenaga profesional).

Para juri menilai presentasi berdasarkan ketepatan analisis, kelancaran komunikasi, serta kualitas penyajian. Mereka menilai mahasiswa menunjukkan kemampuan berpikir kritis dan kerja sama tim yang baik.

Penyelenggaraan CEI 2025 menjadi bagian dari komitmen Program Studi Pendidikan Bisnis UPI dalam membekali mahasiswa baru dengan wawasan akademik, kemampuan adaptasi, serta ruang untuk menumbuhkan minat sesuai bidang keilmuannya. Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat karakter, kompetensi, dan motivasi mahasiswa dalam menempuh proses pembelajaran dan menghadapi tantangan profesional di masa mendatang. (RK)

Kontributor KKIPP UPI, Himpunan Mahasiswa Prodi Pendidikan Bisnis (BESA)

Mahasiswa UPI di Sumedang Gelar Workshop “Ecobrick” untuk Kurangi Sampah Plastik

14 Nov 2025 • Humas UPI
Mahasiswa UPI Sumedang P2MB Kelompok 21 bersama aparat desa dan warga saat membuka kegiatan Workshop Ecobrick di Balai Desa Cilangkap, 2025

Sumedang, UPI — Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus di Sumedang yang tergabung dalam Program Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Pembelajaran (P2MB) Kelompok 21 menggelar Workshop Ecobrick di Balai Desa Cilangkap, Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang, Kamis (16/10/2025). Kegiatan ini menjadi upaya inovatif dalam mengelola sampah plastik rumah tangga menjadi produk ramah lingkungan dan bernilai seni.

Workshop tersebut dihadiri aparat desa, ibu-ibu kader, serta perwakilan warga dari setiap RT. Program ini merupakan tindak lanjut amanat Camat Buahdua mengenai pentingnya penanganan sampah berbasis pemberdayaan masyarakat.

Kegiatan diawali dengan penyuluhan mengenai bahaya sampah plastik dan pentingnya pengelolaan limbah rumah tangga. Mahasiswa kemudian mendemonstrasikan proses pembuatan ecobrick, yakni botol plastik yang diisi padat dengan potongan sampah plastik sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan alternatif atau instalasi seni.

Demonstrasi pembuatan ecobrick yang dipandu mahasiswa UPI di Sumedang, Balai Desa Cilangkap, 2025

Salah satu anggota kelompok menjelaskan bahwa program ini diharapkan dapat mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah.
“Ecobrick bukan hanya untuk mengurangi limbah plastik, tetapi juga dapat menjadi karya estetis yang mengangkat citra Desa Cilangkap,” ujarnya.

Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya warga yang mencoba langsung membuat ecobrick dan berdiskusi mengenai manfaatnya. Untuk memastikan keberlanjutan program, mahasiswa mengajak warga mengumpulkan minimal dua botol ecobrick setiap minggu melalui ketua RT sebelum diserahkan kepada tim pengelola desa.

Mahasiswa P2MB Kelompok 21 berharap program ini dapat menjadi langkah awal dalam mewujudkan lingkungan desa yang bersih, kreatif, dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah plastik. (RK)

Kontributor KKIPP UPI, Kelompok 21 P2MB UPI Desa Cilangkap

Pencarian