English
Indonesia

UPI dan SMA Taruna Nusantara Laksanakan Asesmen Calon Guru untuk Enam Kampus Baru

10 Nov 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bekerja sama dengan SMA Taruna Nusantara menggelar asesmen bagi para calon pamong atau guru yang akan bertugas di sejumlah kampus baru SMA Taruna Nusantara. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari upaya penjaringan tenaga pendidik unggul yang siap mengabdi di lingkungan pendidikan berkarakter kebangsaan yang dilaksanakan di Auditorium FPBS Lt.4 Jl. Dr. Setiabudhi No. 229, Bandung. Jum’at ( 7/11/2025).

Wakil Rektor UPI Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Bisnis, Prof. Dr. phil. Yudi Sukmayadi, M.Pd, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepercayaan besar yang diberikan SMA Taruna Nusantara kepada UPI dalam hal penyediaan tenaga pendidik. “Kami telah menetapkan sejumlah indikator dan tahapan seleksi yang bertujuan menggali potensi para calon guru, baik dari sisi kompetensi akademik maupun integritas pribadi,” ujarnya.

Proses seleksi terdiri dari dua tahapan utama, yaitu tes kompetensi akademik dasar dan wawancara mendalam. Melalui tahapan ini, UPI berupaya memastikan bahwa calon guru yang direkrut memiliki kemampuan profesional dan karakter unggul sesuai dengan standar SMA Taruna Nusantara.

Prof. Yudi juga mengapresiasi kerja sama yang telah terjalin dengan baik, mengingat saat ini terdapat 10 orang guru lulusan UPI yang telah bertugas di SMA Taruna Nusantara dan menunjukkan performa luar biasa. “Pihak SMA Taruna Nusantara sangat terkesan dengan kinerja alumni UPI. Karena itu, mereka bertekad untuk terus melanjutkan kerja sama dalam pemanfaatan sumber daya guru dari UPI,” tambahnya.

Lebih lanjut, Prof. Yudi berharap agar para calon guru yang mengikuti seleksi ini tidak hanya mampu menunjukkan kemampuan akademik, tetapi juga memperlihatkan performa dan kepribadian terbaiknya. “Harapan kami, mereka kelak menjadi guru-guru unggul yang turut mencetak pemimpin-pemimpin besar bangsa di masa depan,” tutupnya.

Mayor Jenderal TNI Ardiansyah, S.Sos., M.I.P., selaku Kepala Sekolah SMA Taruna Nusantara, menyampaikan bahwa asesmen ini dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan guru di enam kampus, termasuk tiga kampus baru yang berada di Pagar Alam, Langowan, dan Ibu Kota Nusantara (IKN). Selain itu, kebutuhan guru juga masih terdapat di Cimahi, dengan kekurangan sekitar 30 tenaga pendidik.

“Kami berharap para calon pamong yang mengikuti asesmen ini dapat melaksanakan tes dengan baik sehingga bisa bergabung bersama rekan-rekan lainnya,” ujar Mayjen Ardiansyah.

Beliau menegaskan, tantangan mengajar di sekolah-sekolah baru tidaklah ringan. Selain mengajar, guru di SMA Taruna Nusantara juga memiliki peran penting dalam pembinaan karakter dan kedisiplinan siswa.

“Guru di SMA Taruna Nusantara bukan hanya mengajar, tetapi juga mengemong dan mengasuh. Mereka hampir bekerja 24 jam bersama siswa,” tambahnya.

Mayjen Ardiansyah menyampaikan keyakinannya terhadap kualitas calon guru dari UPI. Menurutnya, UPI telah lama dikenal sebagai lembaga pendidikan yang kredibel dan berkontribusi besar dalam mencetak guru-guru berkualitas.

“Sekitar sepertiga guru kami di Magelang dulu berasal dari UPI. Mereka telah terbukti melahirkan generasi yang kini berkiprah di berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara,” ungkapnya.

Ia juga mengapresiasi sinergi antara UPI dan SMA Taruna Nusantara dalam mempersiapkan tenaga pendidik profesional, berintegritas, dan berjiwa pengabdian tinggi. “Kami telah berkeliling kampus, berdialog dengan rektor dan dosen-dosen UPI. Kami yakin para calon guru ini adalah alumni terbaik yang siap mengabdi,” tutupnya.

Kegiatan asesmen ini diharapkan dapat menjadi langkah strategis dalam memperkuat kualitas pendidikan dan karakter di lingkungan SMA Taruna Nusantara, sekaligus mempererat kerja sama berkelanjutan antara UPI dan lembaga pendidikan berbasis kedisiplinan tersebut. (Rija/DN)

Perkuat Pendidikan Inklusi, 25 Guru SD di Serang Dilatih Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus

10 Nov 2025 • Humas UPI

Serang, UPI

Sebanyak 25 guru dari 14 Sekolah Dasar (SD) penyelenggara pendidikan inklusi (SPPI) di Kota Serang mengikuti pelatihan intensif untuk meningkatkan kompetensi dalam mengidentifikasi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Kegiatan bertajuk “Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Penyelenggara Pendidikan Inklusi” ini diinisiasi oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus di Serang. Acara yang berlangsung pada Rabu (29/10/2025) ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat (PkM) kampus tersebut.

Kegiatan ini terselenggara atas kolaborasi UPI Kampus Serang dengan Dinas Pendidikan Kota Serang, Sekolah Khusus Negeri (SKHN) 1 Kota Serang, dan Esensia Psychology Consultant.

Ketua Pelaksana PkM, Fatihaturosyidah, S.S, M.Pd, menyatakan kegiatan ini bertujuan membangun ekosistem pendidikan inklusi yang berkelanjutan di Kota Serang.

“Kami tidak hanya ingin sekadar mentransfer ilmu pengetahuan, tapi juga membangun ekosistem pendidikan inklusi yang berkelanjutan di Kota Serang,” ujar Fatihaturosyidah.

Fokus utama pelatihan adalah “Diseminasi Materi dan Instrumen Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus”. Instrumen yang digunakan merupakan hasil hilirisasi penelitian dosen UPI Kampus Serang yang dirancang secara kontekstual untuk kebutuhan SD di wilayah tersebut.

Memahami Anak Secara Utuh

Kegiatan ini menghadirkan dua praktisi berpengalaman di bidang ABK, yaitu Wuri Estiaddini, S.Psi. S.Pd dan Agus Hefli Rahman, S.Pd.

Wuri menekankan pentingnya membangun hubungan emosional yang aman antara guru dan siswa sebelum melakukan identifikasi.

“Identifikasi bukan sekadar mengisi instrumen, tapi memahami anak sebagai manusia utuh,” tegas Wuri dalam pemaparannya.

Sementara itu, Agus Hefli Rahman berbagi pengalaman lapangan mengenai pendekatan individual. Ia menceritakan bagaimana kesabaran dan konsistensi dapat mengubah perilaku anak yang semula dianggap ‘bermasalah’.

“Kuncinya adalah kesabaran dan konsistensi. Anak-anak ini bisa berkembang luar biasa jika kita percaya pada potensinya,” ujar Agus.

Bantu Guru Secara Sistematis

Pelatihan dibagi dalam tiga sesi: pemaparan materi, berbagi pengalaman, dan praktik langsung menggunakan instrumen identifikasi. Para guru melakukan simulasi pengisian instrumen, yang memicu diskusi dinamis seputar tantangan di lapangan.

Kepala Sekolah SDN Rawu, Enah Suhaenah, mengaku kegiatan ini memberikan wawasan baru.

“Selama ini kami hanya mengandalkan intuisi dalam mengenali anak-anak yang berbeda. Tapi dengan adanya instrumen ini, kami jadi punya alat bantu yang lebih sistematis dan ilmiah,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Kepala Sekolah SD Sumursana, Een Sutiah, berharap ada pendampingan lanjutan. “Kami butuh pendampingan berkelanjutan, bukan hanya pelatihan satu kali. Karena tantangan di lapangan sangat kompleks,” katanya.

Dukungan Pemerintah dan Rencana Tindak Lanjut

Pihak Dinas Pendidikan Kota Serang yang diwakili Miftahudin, S.Pd, dari Bidang Pembinaan SD, menyambut baik inisiatif ini. Menurutnya, penguatan kompetensi guru inklusi sejalan dengan strategi jangka panjang Pemda untuk mewujudkan sekolah ramah anak dan bebas diskriminasi.

“Kami akan mengusulkan agar kegiatan semacam ini masuk dalam program kerja tahunan dinas,” ujar Miftahudin.

Sebagai tindak lanjut, para peserta akan mendapatkan akses ke instrumen identifikasi dan forum diskusi daring yang difasilitasi tim UPI. Selain itu, modul instrumen ini akan dikembangkan dalam versi cetak dan digital untuk mempermudah akses guru.

Kegiatan ini juga selaras dengan program “Berdampak” Kemendikbudristek dan mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya terkait pendidikan berkualitas dan pengurangan ketimpangan. (Kontributor: Fatihaturosyidah)

Tim PM BEM FIP UPI Dorong Pemberdayaan Ekonomi Lokal Melalui Pelatihan Pengolahan Ikan Tawar di Sumedang

10 Nov 2025 • Humas UPI

Sumedang, UPI

Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang tergabung dalam Tim PM BEM Berdampak melaksanakan kegiatan Pelatihan Peningkatan Nilai Tambah Ikan Tawar melalui Kreasi Makanan Khas untuk Menunjang Wisata Jatigede di Saung Muda Demang, Desa Karangpakuan, Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Sabtu, (8/11).
Kegiatan ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat melalui peningkatan keterampilan pengolahan hasil perikanan air tawar menjadi produk kuliner bernilai jual tinggi, sekaligus mendukung pengembangan sektor wisata berbasis potensi lokal.

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 20 peserta yang dilibatkan terdiri dari warga, kelompok pembudidaya ikan nila dan lele, serta Kelompok Wanita Tani Desa Karangpakuan mengikuti pelatihan dengan antusias. Mereka memperoleh wawasan dan praktik langsung dalam mengolah berbagai produk olahan seperti nugget ikan nila, keripik ikan, dan ikan lele goreng. Pelatihan ini menjadi wujud nyata peran perguruan tinggi UPI dalam mendukung pembangunan masyarakat melalui kegiatan mahasiswa yang berdampak langsung terhadap peningkatan ekonomi warga.

Program Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat oleh “Badan Eksekutif Mahasiswa” (PM-BEM) merupakan program pendanaan untuk menjembatani kolaborasi dosen dalam pengembangan dan penerapan teknologi dan inovasi yang dihasilkan oleh perguruan tinggi dan inisiasi serta partisipasi mahasiswa untuk dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Melalui program “Mahasiswa Berdampak”, Kemdiktisaintek berupaya memfasilitasi, memperluas, dan mengkonsolidasikan gerakan pengabdian dosen dan mahasiswa dalam skala nasional yang lebih terstruktur dan berdampak.

Melalui kegiatan ini, Tim PM BEM Berdampak berkontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Pelatihan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan masyarakat, tetapi juga mendorong inovasi produk lokal dan memperkuat ketahanan ekonomi desa berbasis potensi sumber daya perikanan.

Menurut Dr. Cucu Sukmana, M.Pd, Dosen Prodi Pendidikan Masyarakat FIP UPI sekaligus Ketua Tim PM BEM Berdampak, kegiatan ini adalah bentuk nyata peran kampus dalam mengimplementasikan tridarma perguruan tinggi. “Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah hasil perikanan, tetapi juga menjadi kontribusi konkret mahasiswa UPI dalam mendukung pengembangan potensi wisata dan ekonomi lokal di Sumedang,” ujarnya.

Sebagai langkah lanjutan, tim PM BEM Berdampak akan melakukan pendampingan pascapelatihan, meliputi pengemasan produk, legalitas usaha, pemasaran, dan digitalisasi produk. Pendampingan ini diharapkan menjadi strategi keberlanjutan agar hasil pelatihan tidak berhenti pada tataran teori, tetapi benar-benar menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat. Rekomendasi strategis lainnya adalah mendorong kolaborasi lintas pihak antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, media, komunitas, dan pelaku UMKM lokal dalam memperluas akses pasar produk olahan ikan tawar.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Desa Karangpakuan, dan dihadiri oleh perwakilan Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Sumedang, Ketua KOMPEPAR BMD Asep Suhada NP, Drs., anggota tim dosen PM BEM berdampak oleh BEM FIP UPI Dela Amelia, M.Pd dan Ismail Yusuf, M.M, tim teknis PM BEM berdampak Muhamad Hadi Ali, M.M.Pd, perwakilan komunitas pelaku UMKM desa karangpakuan, perwakilan dari PKBM Al Insan desa Cikeusi, perwakilan dari dosen prodi Pendidikan Masyarakat Sodikin, Ph.D, serta perwakilan laboratorium Pendidikan masyarakat Dr. Eko Sulistiono, M.Pd. Narasumber utama dalam pelatihan ini adalah Erlin Rosiah, S.Pi, M.TrPi selaku Penyuluh Perikanan Kabupaten Sumedang dan Ismail Yusuf, S.T., M.M Dosen Pendidikan Kewirausahaan UPI Kampus Tasikmalaya.

Kegiatan diakhiri dengan penyerahan simbolis alat produksi kepada ketua kelompok pembudidaya ikan, Surono, S.Pd.I, sebagai bentuk dukungan keberlanjutan program. Dengan terlaksananya pelatihan ini, diharapkan Desa Karangpakuan dapat menjadi contoh desa inovatif yang berhasil mengembangkan potensi lokal melalui sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan perguruan tinggi. (DN)

Keizha Venda Salsabilla, Harumkan Nama UPI di Lintasan Balap

09 Nov 2025 • Humas UPI

Bandung, 10 November 2025 — Keizha Venda Salsabilla, mahasiswi Program Studi Pendidikan Akuntansi, Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) angkatan 2022, berhasil meraih Juara 2 Nasional Kelas Wanita pada ajang bergengsi MLDSPOT Kejurnas Autokhana 2025. Selama lima seri kejuaraan nasional yang digelar di lima kota berbeda di Indonesia, Keizha tampil konsisten dan menunjukkan performa impresif.

Kejuaraan ini dimulai pada tanggal 21 Juni 2025 di Surabaya Expo Center, di mana Keizha langsung meraih posisi kedua. Tren positif tersebut berlanjut pada putaran kedua (19 Juli 2025) di Terminal Bus A, Banjar, serta putaran ketiga (13 September 2025) di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, di mana ia kembali menempati posisi runner-up, sedangkan pada putaran keempat di GOR Satria, Purwokerto, 18 Oktober 2025, Keizha mengalami penurunan performa akibat kendala teknis pada kendaraan dan finis di posisi keempat.

Pada H-1 menjelang seri penutup kendala teknis kembali menghantui kendaraan Keizha, “Pada H-1 final round mobil mendadak bermasalah. Sudah kami upayakan perbaikan sebaik mungkin, namun keterbatasan waktu membuat kami tak punya pilihan lain,” ujar Keizha.

Berlangsung di Sport Jabar Arcamanik, Bandung, Sabtu (8/11/2025), di seri terakhir ini Keizha berjuang di lintasan balap dengan kondisi mobil yang tidak berada dalam kondisi optimal, namun Ia tetap berhasil finis di posisi ketiga. Tambahan poin dari hasil seri terakhir ini memastikan dirinya meraih posisi kedua dalam klasemen akhir nasional. “Kami tetap turun balap dengan kondisi mobil apa adanya namun tetap memberikan driving terbaik dan memaksimalkan kemampuan yang ada,” ungkapnya.

Secara keseluruhan, Keizha mengumpulkan 93 poin dengan rincian tiga kali finis di posisi kedua, satu kali di posisi ketiga, dan satu kali di posisi keempat. Hasil tersebut mengukuhkannya sebagai salah satu pembalap perempuan muda berbakat dalam dunia olah raga otomotif nasional, khususnya di kategori auto slalom.

“Walau belum mencapai target juara pertama, saya sangat bersyukur bisa mempertahankan performa dan keluar sebagai runner-up nasional. Semoga capaian ini bisa menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk mengejar mimpi, meskipun harus membagi waktu antara kuliah dan hobi,” ujar Keizha, yang juga aktif berorganisasi namun tetap menjaga prestasi akademiknya.

Keberhasilan ini turut menegaskan dukungan UPI dalam memfasilitasi pengembangan minat dan bakat mahasiswi, termasuk di bidang olahraga otomotif yang menuntut kombinasi ketahanan fisik, konsentrasi, serta keterampilan teknis. (RK)

Wayang Golek Tutup Meriah Rangkaian Dies Natalis ke-71 UPI

09 Nov 2025 • Humas UPI

Bandung UPI – Malam yang diguyur hujan tidak menyurutkan semangat sivitas Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam menyaksikan pagelaran Wayang Golek oleh Ki Dalang Dadan Sunandar Sukarya dari Putra Giri Harja 3. Acara ini menjadi penutup rangkaian Dies Natalis ke-71 UPI, yang digelar pada Kamis malam di Stadion Sepak Bola UPI (7/11).

Kegiatan dimulai sekitar pukul 20.00 WIB setelah hujan deras yang turun sejak sore mulai reda. Sebelumnya, acara sempat tertunda dari jadwal semula pukul 19.15 WIB. Meski hujan, panitia dan penonton tetap bertahan. Seiring malam beranjak, cuaca membaik dan penonton terus berdatangan hingga acara usai sekitar pukul 02.00 dini hari. Para penonton yang tidak dapat hadir secara langsung karena cuaca menyaksikan melalui saluran YouTube TVUPI Digital.

Pagelaran diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, dilanjutkan penampilan tari pembuka berjudul “Dangiang Isola” yang dibawakan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Tari Fakultas Pendidikan Seni dan Desain (FPSD) UPI. Tarian ini menggambarkan makna perjuangan, romantika, kebahagiaan, dan kesedihan yang menyelimuti perjalanan sejarah Gedung Isola sebagai simbol kejayaan dan kewibawaan UPI.

Rektor Universitas Pendidikan Indonesia, Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya acara tersebut meskipun diguyur hujan. Beliau mengingatkan pentingnya melestarikan seni tradisi sebagai bagian dari kebijaksanaan lokal yang penuh makna.

“Harapan saya, UPI menjadi pelopor bagi universitas lain dalam menampilkan budaya tradisi. Wayang golek itu bukan hanya hiburan, tapi juga tuntunan. Semoga masyarakat bisa bahagia dan mendapat pelajaran dari kisah yang disampaikan,” tuturnya.

Malam budaya ini juga dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, termasuk Ketua Senat Akademik Prof. Dr. Riyadi Ruyadi, M.Si., para wakil rektor, dekan, serta pimpinan fakultas dan unit. Kehadiran mereka menambah semarak suasana yang makin hangat setelah hujan berhenti. Tidak hanya sivitas UPI, kegiatan ini juga terbuka untuk masyarakat sehingga cukup banyak masyarakat sekitar turut memeriahkan.

Rangkaian acara Dies Natalis ke-71 UPI sebelumnya telah diisi dengan kegiatan gerak jalan serempak, aksi bersih lingkungan, dan kegiatan kolaboratif lain yang melibatkan sivitas UPI serta masyarakat sekitar kampus yang dilaksanakan di pagi harinya. Seluruh kegiatan tersebut mencerminkan semangat UPI sebagai kampus berdampak dan tekad UPI untuk melesat menuju universitas pelopor dan unggul.

Pagelaran wayang golek ini menjadi penutup yang berkesan bagi seluruh keluarga besar UPI. Semangat pelestarian budaya, kebersamaan, dan dedikasi untuk pendidikan terus menggema di bawah langit Bandung yang akhirnya cerah malam itu. (CS)

Pencarian