English
Indonesia

Keadilan Berbahasa: Menuju Pendidikan Bahasa Inggris yang Inklusif

05 Sep 2025 • Humas UPI

Opini oleh:
Isti Siti Saleha Gandana, Ph.D.
Ahmad Bukhori Muslim, Ph.D.
Ernie D. A. Imperiani, M.Ed.
Riesky, M.Ed.

Seorang mahasiswi tingkat akhir pernah menceritakan pengalaman pahitnya saat belajar bahasa Inggris. Walaupun kejadiannya sudah cukup lama, ia tidak pernah lupa komentar beberapa teman sekelasnya mengenai gaya bicaranya: “Bahasa Inggrismu bagus, tapi masih medhok Jawa.’

Ada juga cerita dari seorang mahasiswa yang dikenal fasih berbahasa Inggris—bahkan kerap dianggap seorang high achiever di kampus—tentang komentar guru bahasa Inggrisnya di bangku sekolah. Saat itu dia mempertanyakan nilai presentasinya yang tidak sesuai harapan. “Logatmu nggak cukup British,” gurunya berkomentar. Komentar pendek itu membekas kuat dalam ingatannya.

Penggalan-penggalan cerita ini bukanlah kasus terisolasi. Ia mencerminkan fenomena yang lebih luas, yakni linguistic racism—diskriminasi berbasis bahasa—yang masih berakar di ruang-ruang kelas bahasa Inggris di Indonesia. Fenomena ini dapat hadir dalam bentuk ejekan terang-terangan, tetapi lebih sering berupa komentar halus yang menegaskan adanya hierarki: bahwa ada cara yang “lebih benar” dalam berbahasa Inggris, sementara aksen lokal dipandang rendah.

Linguistic Racism: Dari Teori ke Realitas

Dalam bukunya Linguistic genocide in education (2000), Tove Skutnabb-Kangas, seorang akademisi asal Finlandia, menggunakan istilah linguistic racism untuk menggambarkan praktik diskriminasi yang menempatkan satu bahasa, dialek, atau aksen di atas yang lain. Diskriminasi ini tidak hanya berkaitan dengan aspek bahasa, tetapi juga berakar pada struktur kekuasaan yang lebih luas: siapa yang dianggap lebih beradab, lebih berpendidikan, atau lebih layak diakui di ruang sosial maupun akademik.

Dalam penelitian-penelitan mutakhirnya, Sultana Dovchin, seorang akademisi di bidang linguistik terapan di Australia, menunjukkan bagaimana siswa dari pelbagai belahan dunia mengalami stigma negatif ketika bahasa Inggris mereka dianggap “tidak sesuai standar penutur asli”. Stigma ini menimbulkan beragam dampak—dari rasa malu, tidak percaya diri, hingga menarik diri dari partisipasi.

Fenomena tersebut juga nyata ditemukan di ruang kelas bahasa Inggris di Indonesia. Mahasiswa yang aksennya dianggap terlalu “lokal” kerap dipandang kurang fasih—bahkan kurang pintar—walaupun ide yang mereka sampaikan sebenarnya bernas. Alih-alih menumbuhkan keberanian berkomunikasi, ruang kelas malah memperkuat rasa minder dan kecemasan.

English as a Lingua Franca: Sebuah Paradigma, bukan Sebatas Wacana

Ironisnya, perkembangan global justru menunjukkan hal berbeda. Bahasa Inggris kini lebih banyak digunakan oleh penutur non-native dibandingkan penutur jati. Dalam perspektif English as a Lingua Franca (ELF), kemampuan berkomunikasi efektif jauh lebih penting daripada meniru aksen penutur asli.

Di forum internasional, kita terbiasa mendengar beragam aksen, namun komunikasi tetap berlangsung lancar. Kejelasan makna, keterampilan pragmatik, dan sensitivitas budaya menjadi kunci. Artinya, di era globalisasi ini, keberagaman aksen adalah realitas, bukan anomali. Namun, kesadaran ini masih perlu dibangun di kelas-kelas bahasa Inggris di Indonesia. Penekanan berlebihan pada standar penutur asli atau native-speakerism justru membuat pelajar merasa bahwa bahasa Inggris bukan milik mereka, melainkan milik orang lain yang harus ditiru.

Dampak Psikologis, Akademis, dan Sosial

Penelitian yang kami lakukan menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia menghadapi pelbagai bentuk linguistic racism, baik secara eksplisit (overt) maupun implisit (covert). Dampaknya terasa secara psikologis, akademis dan sosial. Dari aspek psikologis, muncul kecemasan, menurunnya rasa percaya diri, hingga konflik identitas. Mahasiswa merasa “asing” dengan bahasa yang mereka kuasai sendiri. Hal ini juga berpengaruh pada dimensi akademis pembelajar. Beberapa mahasiswa yang terlibat dalam penelitian kami, mengindikasikan tindak withdrawal, yakni menghindari kesempatan berbicara di kelas, dan mengalami penurunan motivasi belajar. Secara sosial, beberapa dari mereka memilih untuk menarik diri dari interaksi, diam, dan membatasi partisipasi karena khawatir dinilai negatif.

Bahkan, dalam beberapa kasus, muncul indikasi adanya institutional linguistic racism, di mana norma dan praktik pendidikan secara tidak disadari memperkuat diskriminasi kebahasaan—seperti komentar negatif guru yang dikisahkan pada awal tulisan ini.

Namun, narasi para pembelajar ini juga memperlihatkan agency dan resistensi terhadap diskriminasi yang mereka alami. Contohnya, dengan memperlihatkan kebanggaan pada dialek daerah, menggunakan translanguaging untuk menegaskan identitas ganda, memilih memprioritaskan kejelasan komunikasi daripada mengejar akurasi native-like serta mencari dukungan dari rekan-rekan yang menghargai keberagaman aksen. Strategi ini menunjukkan adanya upaya membangun ketahanan dalam menghadapi diskriminasi.

Menuju Pendidikan Bahasa Inggris yang Inklusif

Kisah dan temuan ini menegaskan urgensi perubahan. Pendidikan bahasa Inggris di Indonesia harus diarahkan pada pendekatan yang lebih inklusif. Kurikulum dan buku teks bahasa Inggris perlu lebih menekankan kompetensi komunikasi lintas budaya. Sudah selayaknya materi pembelajaran menghadirkan keberagaman aksen global, termasuk aksen lokal, untuk menormalisasi pluralitas linguistik.

Selain itu, guru-guru bahasa Inggris perlu dibekali literasi kritis tentang paradigma English as a Lingua Franca (ELF) dan keadilan linguistik. Pelatihan semacam ini akan membantu mereka memberikan umpan balik yang berfokus pada isi dan ide, bukan semata-mata aksen atau pelafalan. Sistem evaluasi harus dirancang untuk menilai kejelasan pesan, kekuatan argumen, dan keberanian berkomunikasi, dan tidak menjadikan kesesuaian dengan aksen tertentu sebagai titik berat.

Pemerintah dan lembaga pendidikan sudah selayaknya mendukung riset tentang pengalaman mahasiswa dalam konteks lokal, agar kebijakan yang diambil berbasis pada data empiris. Kolaborasi internasional juga semestinya diperkuat di kelas-kelas bahasa Inggris, dengan melibatkan penutur dari pelbagai latar belakang melalui, salah satunya, pertukaran virtual. Hal ini dapat memperkaya pengalaman peserta didik dan memperluas wawasan mereka tentang keberanekaragaman bahasa (linguistic plurality).

Menciptakan Pembelajaran Bahasa Sebagai ‘Safe Space’

Bahasa adalah alat komunikasi sekaligus cermin identitas. Di ruang kelas, bahasa seharusnya menjadi jembatan yang membebaskan, bukan pagar yang membatasi. Pendidikan bahasa Inggris yang inklusif harus menyeimbangkan dua hal: penghargaan terhadap keberagaman ekspresi linguistik dan pemahaman akan norma komunikasi global.

Jika perubahan ini dilakukan, kita tidak hanya akan melahirkan lulusan yang mahir berbahasa Inggris, tetapi juga generasi yang empatik, percaya diri, dan mampu menjadi komunikator global yang handal.

Pengalaman pahit mahasiswa tentang komentar “lancar tapi medhok” atau “logatmu nggak cukup British” seharusnya menjadi pengingat kita semua: jangan sampai ruang belajar menjadi sumber luka. Justru dari ruang belajarlah kita harus memulai perubahan menuju pendidikan bahasa Inggris yang lebih adil, inklusif, dan benar-benar memerdekakan.

Kontributor: Ruswan Dallyono, Prodi Sastra Inggris FPBS

Program Studi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Sekolah Pascasarjana (SPs) UPI Laksanakan Program Pengabdian Masyarakat Komprehensif di SMKN Kertajati Majalengka

04 Sep 2025 • Humas UPI

Bandung – Tim dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) berhasil melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) secara komprehensif di SMK Negeri Kertajati, Kabupaten Majalengka, pada tanggal 10 – 11 Juni 2025. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini mencakup tiga program pelatihan sekaligus, yaitu pelatihan integrasi teknologi digital dalam pembelajaran, pelatihan mobil listrik, dan pelatihan electronic fuel injection untuk kendaraan. Program ini merupakan kolaborasi antara Program Studi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Pascasarjana (SPs) dan Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (FPTI) UPI.

Tiga Program Pelatihan Terintegrasi

Kegiatan PkM ini dirancang secara menyeluruh dengan tiga fokus utama pelatihan yang saling melengkapi. Program pertama berupa pelatihan integrasi teknologi digital dalam pembelajaran yang dipimpin oleh Dr. Yusep Sukrawan, MT., bersama tim dari Program Studi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Pascasarjana. Secara bersamaan, dua tim dari Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif juga melaksanakan pelatihan mobil listrik dan pelatihan electronic fuel injection untuk kendaraan.

Transformasi Pembelajaran Berbasis Digital

Dr. Yusep Sukrawan, MT., selaku ketua pelaksana kegiatan menjelaskan bahwa pelatihan integrasi teknologi digital dirancang khusus untuk membekali para guru SMK dengan keterampilan mengintegrasikan teknologi digital dalam proses pembelajaran. “Kami melihat adanya kebutuhan mendesak untuk meningkatkan literasi digital guru, terutama di SMK yang memiliki tantangan khusus dalam memadukan teknologi dengan pembelajaran praktik kejuruan,” ungkapnya.

Tim PkM terdiri dari dosen-dosen berpengalaman, yakni Prof. Dr. Tuti Suartini, M.Pd., dan Gilang Ciptadi Mahatkarsa, S.Sn., M.Pd., dari Program Studi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Pascasarjana, serta Dr. Ridwan Adam Muhamad Noor, M.Pd., dan Drs. Ir. H. Tatang Permana, M.Pd., IPM., dari Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif.

Para peserta pelatihan teknologi digital dilatih menggunakan berbagai platform pembelajaran digital, aplikasi multimedia pembelajaran, serta teknik pengembangan konten pembelajaran yang menarik dan interaktif.

Pelatihan Teknologi Otomotif Terdepan

Paralel dengan pelatihan teknologi digital, dua tim dari Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif melaksanakan pelatihan yang sangat relevan dengan perkembangan industri otomotif terkini. Tim pertama yang dipimpin oleh Sriyono, M.Pd. memberikan pelatihan tentang teknologi mobil listrik, mencakup sistem kelistrikan, manajemen baterai, dan teknik perawatan kendaraan listrik.

Tim kedua yang dipimpin oleh Ibnu Mubarak, M.Pd. fokus pada pelatihan Electronic Fuel Injection (EFI) untuk kendaraan, yang merupakan teknologi penting dalam sistem injeksi bahan bakar modern. Pelatihan ini memberikan pemahaman mendalam tentang komponen EFI, diagnosa kerusakan, dan teknik perbaikan yang sesuai dengan standar industri otomotif.

Materi Pelatihan Komprehensif

Untuk pelatihan teknologi digital, materi mencakup beberapa aspek penting, antara lain penggunaan Learning Management System (LMS), pembuatan video pembelajaran interaktif, pemanfaatan aplikasi kolaboratif untuk pembelajaran, serta strategi pembelajaran blended learning. Para guru juga dilatih menggunakan berbagai tools digital seperti Canva untuk desain visual, Flipgrid untuk diskusi interaktif, dan Google Workspace for Education.

“Pelatihan ini sangat bermanfaat karena kami mendapat panduan praktis bagaimana mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran sehari-hari. Pelatihan mobil listrik dan EFI juga sangat membantu kami melakukan update pengetahuan teknis sesuai perkembangan industri,” ujar Halim, ST, MT., guru Teknik Kendaraan Ringan SMKN Kertajati.

Respons Positif dan Komitmen Keberlanjutan

Kepala SMKN Kertajati, H. Akhmad Karyono, M.Pd., menyambut baik kegiatan PkM yang komprehensif ini. Menurutnya, ketiga program pelatihan tersebut sangat sejalan dengan visi sekolah untuk menghasilkan lulusan yang kompeten di bidang teknologi. “Guru-guru kami mendapat manfaat luar biasa dari ketiga program ini. Pelatihan teknologi digital membantu mereka dalam metode mengajar, sementara pelatihan mobil listrik dan EFI memberikan update teknologi terkini di bidang otomotif. Kami berharap kerja sama dengan UPI dapat terus berlanjut,” katanya.

Tim PkM UPI juga memberikan modul pelatihan dan sertifikat kepada seluruh peserta dari ketiga program pelatihan. Meskipun kegiatan berlangsung intensif selama dua hari, akan dilakukan pendampingan jarak jauh selama tiga bulan untuk memastikan implementasi ilmu yang diperoleh berjalan optimal.

Dampak dan Keberlanjutan Program

Kegiatan PkM komprehensif ini diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap kualitas pembelajaran dan kompetensi teknis di SMKN Kertajati. Dengan meningkatnya kompetensi digital guru melalui pelatihan teknologi pembelajaran, diharapkan siswa akan mendapat pengalaman belajar yang lebih menarik dan interaktif.

Sementara itu, pelatihan mobil listrik dan electronic fuel injection memberikan update teknologi terkini yang sangat dibutuhkan dalam industri otomotif. Hal ini memungkinkan guru-guru jurusan Teknik Kendaraan Ringan untuk memberikan pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan teknologi otomotif modern, sehingga lulusan SMKN Kertajati akan lebih siap menghadapi tantangan industri 4.0.

“Program terintegrasi ini merupakan wujud komitmen UPI dalam mengabdi kepada masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan kejuruan dan teknologi otomotif. Kolaborasi antar program studi ini menunjukkan sinergi yang kuat dalam mengembangkan pendidikan teknologi yang komprehensif di Indonesia,” tutup Dr. Yusep Sukrawan, MT.

Kontributor: Gilang Ciptadi Mahatkarsa

UNY Gali Informasi Pedoman Tugas Akhir dan Kurikulum Baru di UPI

04 Sep 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melakukan kunjungan akademik ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam rangka penyusunan pedoman tugas akhir mahasiswa dan implementasi kurikulum baru. Kegiatan ini menjadi langkah penting UNY untuk menyesuaikan diri dengan regulasi terbaru serta memperluas cakupan tugas akhir mahasiswa agar lebih beragam dan relevan dengan perkembangan zaman. Pertemuan ini berlangsung di Ruang Rapat Parterre Jl. Dr. Setiabudhi, No.229 Bandung, Jawa Barat. Kamis (4/9/2025).

Latar belakang kunjungan ini tidak terlepas dari terbitnya dua regulasi penting, yaitu Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023 serta Permendikbudristek Nomor 39 Tahun 2029 yang mengatur tentang standar nasional pendidikan tinggi, termasuk ketentuan mengenai tugas akhir. UPI dinilai telah lebih dahulu menyusun pedoman sesuai regulasi tersebut, sehingga menjadi rujukan tepat bagi UNY untuk memperkaya perspektif dan pengalaman.

Salah satu tim rombongan UNY, Staf Ahli Wakil Rektor Bidang Akdemik UNY, Muslikhin Ph.D menyampaikan bahwa kunjungan ini bertujuan menggali informasi mendalam mengenai bagaimana UPI merancang dan menerapkan pedoman tugas akhir, khususnya dalam kaitannya dengan kurikulum terbaru.

Kegiatan benchmarking ini menjadi momentum penting bagi UNY untuk mempercepat penyesuaian regulasi dan memperluas pilihan mahasiswa dalam menuntaskan studi, sekaligus mengukuhkan komitmen kedua universitas dalam membangun pendidikan tinggi yang responsif terhadap perubahan.

“UNY ingin mengetahui secara langsung bagaimana implementasi pedoman tugas akhir di UPI, khususnya dalam konteks kurikulum yang baru saja kami susun untuk 2025. Kebetulan pada tanggal 2 September ini muncul peraturan baru, sehingga kami perlu segera menyesuaikan. UPI memiliki pengalaman lebih dulu dalam hal ini, dan tentu banyak hal yang bisa kami pelajari,” ujar Muslikhin, Ph.D.

Sementara itu, UPI menyambut baik kunjungan ini. Direktur Direktorat Pengembangan Kurikulum, Pembelajaran Digital,Kecerdasan Buatan, dan Metamesta Prof. Dr. Ahmad Yani, M.Si. menegaskan “pentingnya sinergi antarperguruan tinggi dalam merespons kebijakan nasional serta memastikan bahwa regulasi baru dapat diterapkan secara efektif.”

Dengan adanya benchmarking ini, diharapkan tercipta pertukaran pengalaman dan praktik baik antara UPI dan UNY, khususnya dalam mengembangkan kurikulum dan pedoman tugas akhir yang adaptif. tegasnya.

Kolaborasi ini tidak hanya akan memperkuat hubungan akademik antara UNY dan UPI, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia. Dengan membuka ruang inovasi dalam tugas akhir, mahasiswa diharapkan dapat lebih leluasa menunjukkan kompetensi, kreativitas, serta kontribusi nyata bagi masyarakat.

Selain membahas soal tugas akhir, diskusi juga berkembang ke isu-isu lain yang menjadi perhatian kedua belah pihak, salah satunya adalah pengembangan Program Studi Pendidikan Jarak Jauh (PJJ).

“Pertemuan ini bukan hanya soal tugas akhir, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa saling belajar di berbagai bidang. Hal-hal yang belum kami miliki bisa dipelajari dari UPI, dan sebaliknya, kami juga bisa memberikan perspektif bagi UPI,” tambah Prof. Ahmad Yani.

Pertemuan yang berlangsung hangat ini mencerminkan semangat kolaborasi antarperguruan tinggi dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia. UPI menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang berbagi pengalaman dengan berbagai institusi pendidikan, baik di dalam maupun luar negeri.

“Harapan kami, pertemuan ini dapat menjadi titik awal untuk kerja sama lebih lanjut, tidak hanya dalam penyusunan pedoman tugas akhir, tetapi juga dalam bidang lain seperti riset bersama, pengembangan kurikulum, hingga inovasi pembelajaran berbasis teknologi,” pungkas Prof. Ahmad Yani, M.Si.

Melalui diskusi ini, UPI dan UNY diharapkan dapat memperkuat sinergi dan bersama-sama menciptakan terobosan dalam dunia pendidikan tinggi, khususnya dalam memastikan tugas akhir mahasiswa menjadi karya ilmiah yang tidak hanya memenuhi syarat kelulusan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat. (Rija Ibrahim)

“Influence and Inspire”: Prodi Bahasa dan Sastra Inggris UPI Latih Keterampilan Public Speaking untuk Pemberdayaan Mahasiswa UMY

04 Sep 2025 • Humas UPI

YOGYAKARTA – Menjawab tantangan global terkait kecemasan berbicara di depan umum, Tim Kelompok Bidang Keahlian (KBK) Kajian Bahasa dan Budaya dari Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar sebuah lokakarya intensif bertajuk “Influence and Inspire: Pelatihan Public Speaking untuk Pengembangan Diri Mahasiswa”. Kegiatan ini dirancang secara strategis untuk menjembatani kesenjangan antara tuntutan kemampuan komunikasi di dunia akademik dan profesional dengan keterampilan yang dimiliki mahasiswa saat ini.

Permasalahan yang melatarbelakangi kegiatan ini adalah isu fundamental yang dihadapi banyak mahasiswa: kurangnya rasa percaya diri, kesulitan dalam menyusun argumen yang logis, dan ketidakmampuan mengelola kecemasan saat tampil di hadapan audiens. Menyadari bahwa isu ini telah menjadi fenomena global, pelatihan ini hadir sebagai solusi proaktif untuk memberdayakan mahasiswa dengan salah satu keahlian terpenting di abad ke-21.

Pelatihan yang diselenggarakan dalam format one-day workshop ini berlangsung secara tatap muka (luring) pada hari Kamis, tanggal 14 Agustus 2025. Lokakarya ini berhasil menarik minat 21 mahasiswa dari tingkat awal hingga tingkat akhir dari berbagai program studi yang semuanya hadir dan berpartisipasi aktif hingga akhir sesi. Untuk mengukur dampak pelatihan secara efektif, para peserta diminta mengisi angket pra-pelatihan (pre-training questionnaire) sehari sebelum acara dan angket pasca-pelatihan (post-training questionnaire) di akhir sesi.

Tiga Sesi Terstruktur untuk Hasil Maksimal

Lokakarya dibagi menjadi tiga sesi utama yang saling membangun, masing-masing dirancang untuk mengembangkan keterampilan peserta secara holistik.

  • Sesi 1: Building A Positive Public Speaking Mindset

    Sesi pembuka ini berfokus pada pembangunan fondasi mental yang kuat. Peserta diajak untuk mengenali dan mengatasi akar dari kecemasan mereka, serta mengubah pola pikir negatif menjadi positif terkait berbicara di depan umum.
  • Sesi 2: Organizing What to Say

    Setelah fondasi mental terbangun, sesi kedua berlanjut ke aspek teknis, yakni bagaimana menyusun materi pembicaraan10. Peserta belajar cara merancang argumen yang logis, membuat kerangka pidato yang koheren, dan menyajikan ide secara terstruktur agar mudah dipahami.
  • Sesi 3: Keys to Understandable and Influential Talks

    Sesi terakhir mengupas tuntas kunci-kunci untuk menjadi pembicara yang tidak hanya mudah dimengerti, tetapi juga berpengaruh. Materi mencakup teknik vokal, bahasa tubuh, dan cara berinteraksi dengan audiens untuk menciptakan dampak yang mendalam.

Seluruh rangkaian acara dipandu oleh tim program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berbasis Kepakaran Bidang Ilmu, Prodi Bahasa dan Sastra Inggris, Universitas Pendidikan Indonesia, yang diketuai oleh Riesky, M.Ed., Isti Siti Saleha Gandana, Ph.D., dan Ernie D. Ayu Imperiani, M.Ed., dan Prof. Ahmad Bukhori Muslim, Ph.D.

Link YouTube untuk kegiatan ini:

https://www.youtube.com/watch?v=8oGGE72yUFU

Membentuk SDM Unggul Melalui Keterampilan Komunikasi (SDG 4) dan Meningkatkan Kolaborasi Internasional (SDG17)

Manfaat dari pelatihan ini jauh melampaui sekadar kemampuan berbicara di panggung; kegiatan ini secara langsung mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 4 (Pendidikan Berkualitas) dan nomor 17 (Kolaborasi Internasional)Pendidikan berkualitas tidak hanya bertujuan mencetak lulusan dengan pemahaman teoretis, tetapi juga individu yang mampu mengartikulasikan ide dan pengetahuannya dengan jelas dan persuasif. Selain itu, pelatihan ini juga dapat meningkatkan ketrampilan berkomunikasi baik di tingkat nasional mupun internasional.

Dengan menguasai public speaking, mahasiswa memperoleh keunggulan kompetitif yang signifikan, terutama dalam menghadapi wawancara kerja dan melakukan presentasi profesional. Kemampuan menyampaikan gagasan secara efektif  meningkatkan kepercayaan diri mereka, yang merupakan alat pemberdayaan diri (empowerment) paling fundamental. Ini sejalan dengan target SDG 4 untuk memastikan bahwa semua pelajar memperoleh keterampilan yang relevan untuk pekerjaan yang layak dan kewirausahaan. Lebih jauh lagi, keterampilan ini adalah pilar dari pembelajaran sepanjang hayat. Mahasiswa yang percaya diri dalam menyuarakan pendapatnya cenderung lebih aktif dalam diskusi akademik, lebih berani dalam mengambil peran kepemimpinan, dan lebih siap untuk berkolaborasi dan menjadi agen perubahan di masyarakat, sejalan dengan target SDG 17. Dengan demikian, lokakarya “Influence and Inspire” tidak hanya melatih mahasiswa untuk berbicara, tetapi juga membentuk mereka menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, kritis, dan siap berkontribusi secara signifikan di tingkat lokal maupun global.

Oleh: Ernie D. A. Imperiani dan Isti Siti Saleha Gandana

Partisipasi Pimpinan FPEB UPI Dalam Retret Kepemimpinan

04 Sep 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Pimpinan unit kerja di lingkungan Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB) mengikuti kegiatan Retreat Kepemimpinan dan Bela Negara yang diselenggarakan oleh Universitas Pendidikan Indonesia,  Retret dilaksanakan selama tiga hari, tanggal 27–29 Agustus 2025 yang dilaksanakan di Dodik Bela Negara Rindam III/Siliwangi, Jl, Cikole, Kec. Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Para pimpinan FPEB UPI yang mengikuti kegiatan tersebut yaitu Dekan, Para Wakil Dekan, Para Kepala Seksi, Para Ketua Program Studi dan Sekretaris Program Studi serta dosen FPEB UPI yang menjabat sebagai pimpinan pada Unit kerja Direktorat, Biro, Kantor dan Satuan Kerja di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Dekan FPEB UPI, Prof. Dr. Ratih Hurriyati, M.P., CSBA menjelaskan bahwa partisipasi para pimpinan mengikuti kegiatan tersebut sebagai dukungan FPEB UPI dalam memperkuat tata kelola kelembagaan, mempererat loyalitas struktural, serta membangun karakter kepemimpinan yang berintegritas, kolaboratif, dan berorientasi pada kinerja. Seluruh rangkaian kegiatan didampingi Instruktur Dodik Bela Negara Rindam III/Siliwangi.

“Kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk menyatukan semangat, membangun sinergi, dan menyelaraskan visi antara pimpinan FPEB UPI dengan seluruh pimpinan unit kerja di lingkungan UPI dalam menyongsong periode kepemimpinan 2025 – 2030”, ujar Prof. Ratih.

Pada kegiatan ini, para pimpinan FPEB UPI mendapatkan materi dari sejumlah narasumber yaitu Prof. Dr. Mukhamad Najib, S.TP., M.M,Direktur Kelembagaan Kemdiktisaintek yang membahas Arah Transformasi Pendidikan Tinggi dan Kepemimpinan Perguruan Tinggi dalam Konteks Global. Selanjutnya pembahasan Kebijakan Struktural dan Implementasi Gerakan Dikti Saintek Berdampak di Perguruan Tinggi oleh Sekjen Dikti Saintek. Kemudian pembahasan Integritas Struktural dan Pengawasan Berbasis Pencegahan: Pilar Tata Kelola PTN yang Berdaya Saing yang disampaikan Dr. Chatarina Muliana, S.H., S.E., M.H, Inspektur Jenderal Kemdiktisaintek,

Materi kepemimpinan dan belanegara juga disampaikan oleh pimpinan UPI yaitu Komjen. Pol (Purn) Drs. Nanan Soekarna, Ketua MWA UPI yang membahas Strategi Kepemimpinan Berbasis Tata Kelola Universitas dan Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A., Rektor UPI.

Materi diisi oleh para praktisi dan motivator seperti Dr. (H.C.) Ary Ginanjar Agustian, ESQ Leadership Center, motivator yang membahas Pembangunan Integritas dan Loyalitas Komando Kepemimpinan. Kemudian Dr. (H.C.) Hermawan Kartajaya, S.M., M.Sc., MarkPlus Inc, pengamat dan narasumber branding korporat dan Lembaga yang membahas Merek Kepemimpinan UPI dalam Konteks Asia. (DN)

Pencarian