English
Indonesia

Penutupan Program PPK Ormawa Himadikri UPI di Desa Domas dan Serah Terima Barang Hibah

26 Aug 2025 • Humas UPI

Pontang, Serang – Sabtu, 23 Agustus 2025.

Kegiatan ini mengusung tema “FISH PULLZ: Pemberdayaan Masyarakat melalui Inovasi Olahan Produk Ikan Payus untuk Meningkatkan Nilai Ekonomi Hasil Panen di Desa Domas”.

Program Peningkatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK ORMAWA) HIMADIKRI Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Serang resmi mengadakan penutupan kegiatan pelaksanaan yang telah dilaksanakan di Desa Domas, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang. Pelaksanaan secara langsung oleh tim pelaksana di Desa Domas telah berjalan selama kurang lebih 1 bulan dengan fokus pada pemberdayaan masyarakat pesisir melalui diversifikasi olahan ikan payus, pencegahan stunting, serta pembentukan kelompok usaha mandiri.

Acara penutupan yang digelar di Balai Desa Domas dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya:

  1. Dr. Yulianti Fitriani, S.Pd., M.Sn. selaku Wakil Direktur Bidang Sumber Daya, Keuangan, dan Umum Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Daerah Serang.
  2. Yulda, S.Pd., M.Pd. selaku dosen pendamping kemahasiswaan Program Studi Pendidikan Kelautan dan Perikanan.
  3. Samsuri, SE. selaku Camat Pontang.

Dalam sambutannya, Dr. Yulianti Fitriani menyampaikan apresiasi kepada tim mahasiswa HIMADIKRI yang telah berhasil menjalankan program dengan baik serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat pesisir.

“Program ini menunjukkan bahwa mahasiswa mampu menjadi motor penggerak perubahan di masyarakat. Fish Pullz bukan hanya inovasi pangan, tetapi juga langkah strategis membangun kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal,” ungkap Yulianti.

Sementara itu, Samsuri, SE., Camat Pontang, menegaskan pentingnya keberlanjutan program pasca-PPK ORMAWA agar manfaatnya dapat terus dirasakan masyarakat.

“Kami sangat mendukung keberlanjutan Fish Pullz sebagai identitas baru Desa Domas. Dengan sinergi antara mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat, saya yakin Desa Domas bisa menjadi contoh desa pesisir yang mandiri dan sejahtera bagi desa pesisir lainnya. Saya harap dengan telah dilaksanakannya rangkaian kegiatan pelaksanaan PPK Ormawa ini dapat menjadi bekal baru bagi masyarakat dalam pengolahan ikan payus serta menjadi peluang usaha nantinya,” ujar Samsuri.

Sebagai dosen pendamping, Yulda, S.Pd., M.Pd. menekankan bahwa program ini bukan sekadar pelatihan, tetapi juga membangun pola pikir masyarakat agar siap mengembangkan usaha berbasis hasil laut.

“Harapan kami, ibu-ibu PKK dan kelompok nelayan yang sudah dilatih dapat terus melanjutkan usaha ini, bahkan hingga memiliki legalitas UMKM resmi dengan NIB dan sertifikasi produk,” tutur Yulda.

Selama pelaksanaan, program PPK ORMAWA HIMADIKRI berhasil melaksanakan berbagai kegiatan seperti:

  1. Sosialisasi gemar makan ikan di sekolah dasar.
  2. Workshop strategi pemasaran produk.
  3. Praktik pembuatan sosis ikan payus bersama ibu-ibu PKK, keluarga nelayan, dan ibu-ibu kader lainnya.
  4. Uji organoleptik produk Fish Pullz.
  5. Workshop sistem usaha bersama Dinas Perikanan Kabupaten Serang.
  6. Sosialisasi pencegahan stunting dengan kolaborasi Universitas Faletehan.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, diharapkan kelompok usaha Fish Pullz dapat tumbuh menjadi UMKM yang berdaya saing, sehingga produk olahan ikan payus dari Desa Domas mampu menembus pasar lokal hingga digital.

Penutupan program ditandai dengan serah terima barang untuk kegiatan produksi olahan Fish Pullz kepada ketua kelompok pengolah Fish Pullz yang telah dibentuk oleh tim di Desa Domas, yakni ibu Wawan Muamanah dan ibu Sulistiawati. Serta komitmen bersama untuk melanjutkan pendampingan dan pengembangan usaha masyarakat pesisir.

Selain itu, kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya:

SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi): melalui pengembangan kelompok usaha masyarakat pesisir berbasis olahan ikan payus yang menciptakan peluang kerja baru dan meningkatkan kemandirian ekonomi desa.

SDG 14 (Ekosistem Lautan): dengan mendorong pemanfaatan hasil laut secara berkelanjutan, menjaga ekosistem pesisir, serta mengoptimalkan potensi ikan payus tanpa merusak keseimbangan lingkungan laut.

Dengan demikian, Fish Pullz tidak hanya memberikan dampak ekonomi, tetapi juga mendukung tercapainya pembangunan berkelanjutan yang inklusif bagi masyarakat pesisir.

Narahubung:
Tim Publikasi PPK Ormawa HIMADIKRI
📧 Email: [email protected]
📱 Instagram: @ppkormawahimadikri
📱 Instagram: @himadikriupi

Pemberdayaan Masyarakat Desa Cikole Lembang Kabupaten Bandung Barat Bersama dosen UPI Memanfaatkan Tekonologi Pirolis dalam Pengelolaan Sampah Plastik Menjadi Bahan Bakar

26 Aug 2025 • Humas UPI

Pada hari Jumat, tanggal 11 Juli 2025  bertempat di desa Cikole , Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, telah dilaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat. Program ini diketuai oleh Prof. Dr. Prayoga Bestari, M.Si., yang juga menjadi motor penggerak utama dalam pelaksanaan kegiatan. Didampingi oleh tim pengabdian pada masyarakat, yaitu. Dr. Suryadi, S.Pd., M.Pd., Ratna Fitria M.Pd dan tim ini juga melibatkan mahasiswa yang antusias dan berdedikasi, antara lain Arya Destian, S.Pd., Gr., M. Rasyid, dan Zahwa Alya.

Tim pengabdian masyarakat ini berfokus pada pemanfaatan sampah plastik yang melimpah di Desa Cikole. Melalui program ini dengan teknologi pirolis, mereka memperkenalkan teknologi konversi sampah plastik menjadi bahan bakar yang dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari. Program ini tidak hanya memberikan solusi praktis untuk masalah sampah plastik, tetapi juga memberikan manfaat ekonomis bagi masyarakat setempat.

Kegiatan dalam pengabdian ini merupakan bentuk pengembengan desa binaan dengan tujuan mensosialisasikan teknologi pengolahan sampah plastik menggunakan metode pirolis, memberikan pelatihan teknis kepada masyarakat dalam mengoperasikan alat pirolis, meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah plastik berbasis teknologi ramah lingkungan, memberikan alternatif sumber energi terbarukan yang berasal dari sampah plastik, mendorong pemberdayaan masyarakat melalui penguatan ekonomi dari hasil pengelolaan sampah.

Kegiatan ini dihadiri oleh para pemuda yang terhimpun dalam Karang Taruna desa Cikole rangkaian kegiatan pengabdian ini meliputi sosialisasi dan edukasi masyarakat mengenai dampak plastik dan manfaat pirolis, pelatihan pengoperasian alat pirolis untuk menghasilkan bahan bakar minyak dari sampah plastik, demonstrasi langsung pengelolaan sampah plastik menjadi bahan bakar, evaluasi dan diskusi tindak lanjut untuk berkelanjutan program.

Kegiatan berlangsung dengan lancar, antusias, dan diikuti secara aktif oleh seluruh peserta, diharapkan kegiatan ini dapat menjadi awal perubahan dalam mengelola sampah plastik di desa Cikole, serta mendorong inovasi lingkungan dan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

Kontributor: Suryadi dan Tim

Kepala Pusat Kajian Pemberdayaan Masyarakat dan Pengembangan Kuliah Kerja Nyata, Dr. Leni Anggraeni, M.Pd., Tinjau KKN Berdampak di Cirebon dan Majalengka

26 Aug 2025 • Humas UPI

CIREBON – Kepala Pusat Kajian Pemberdayaan Masyarakat dan Pengembangan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Dr. Leni Anggraeni, M.Pd., melakukan kunjungan lapangan ke lokasi KKN Berdampak UPI di wilayah Cirebon dan Majalengka pada Jumat, 22 Agustus 2025.

Dalam agenda kunjungannya, Dr. Leni meninjau beberapa titik kegiatan mahasiswa yang sedang melaksanakan program KKN. Lokasi yang dikunjungi antara lain SMP Negeri 1 Cirebon, Desa Megu Cilik, Kabupaten Cirebon, serta Desa Garawangi, Kabupaten Majalengka.

KKN Berdampak UPI tahun ini mengusung tema besar “Dari Desa untuk Dunia”, dengan fokus pada penguatan kapasitas desa melalui program-program inovatif dan berkelanjutan. Salah satu kegiatan unggulan yang menjadi perhatian adalah penerapan cat BeCool, sebuah produk inovasi dari dosen UPI yang telah mendapatkan pengakuan internasional.

Genteng sekolah di SDN Desa Megu Cilik yang telah dilapisi cat BeCool

Cat BeCool diaplikasikan pada atap sekolah dan kantor desa sebagai percontohan program gerakan adaptasi iklim global. Inovasi ini diyakini mampu mendukung upaya pengurangan dampak pemanasan global.

Dr. Leni Anggraeni, M.Pd., Kepala Pusat Kajian Pemberdayaan Masyarakat dan Pengembangan Kuliah Kerja Nyata, Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, UPI

“Ini untuk mengurangi dampak dari pemanasan global karena fungsi dari cat di atap itu untuk memantulkan sinar matahari, sehingga di bawah atap itu dampaknya menjadi lebih dingin, suhunya tidak terlalu panas,” ujar Dr. Leni dalam kunjungannya.

Kelompok KKN Berdampak Desa Megu Cilik, dengan Ketua Kelompok, Sidiq Abdul Ismail.

Dukungan positif juga datang dari mahasiswa peserta KKN. Sidiq Abdul Ismail, Ketua Kelompok KKN di Desa Megu Cilik, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, menyampaikan pengalaman lapangan mereka.

“Melihat di wilayah ini karena cuaca panas, jadi kami berinisiasi membuat program kerja berdampak dengan pengecatan atap sekolah di SDN Megu Cilik. Setelah pemasangan BeCool ini, respon positif ditunjukan oleh anak-anak sekolah karena dirasa suhu di dalam ruangan menjadi lebih adem sehingga mereka lebih nyaman dalam proses belajar di kelas,” ungkap Sidiq.
Sementara itu, menurut Drs. H. Mutaqin Billah, Kepala Desa Megu Cilik, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, menyambut baik program yang digagas UPI.

Kelompok KKN Berdampak Desa Megu Cilik, dengan Ketua Kelompok, Sidiq Abdul Ismail.

“Kami merasa mendapatkan penghargaan dan kepercayaan dari UPI untuk menerima adek adek mahasiswa KKN Berdampak tahun 2025 dan Alhamdulillah masyarakat mendapatkan manfaat, salah satunya program tematik BeCool untuk pengecatan genteng sehingga mampu menurunkan suhu panas di dalam ruangan,” ujarnya.

Selain memberikan apresiasi atas program yang dijalankan mahasiswa, Dr. Leni juga menegaskan bahwa kegiatan KKN Berdampak bukan sekadar agenda rutin, tetapi wadah nyata kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab tantangan global melalui solusi yang lahir dari desa.
Kehadiran program ini diharapkan dapat memberi manfaat langsung bagi masyarakat setempat, sekaligus menjadi model pembangunan berkelanjutan (SDGs) melalui pengembangan desa berkelanjutan yang bisa direplikasi di wilayah lain di Indonesia. (RK 08/25)

UPI Sambut 12.519 Mahasiswa Baru Lewat MOKAKU 2025: Siapkan Generasi Emas 2045

25 Aug 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan Masa Orientasi Kampus dan Kuliah Umum (MOKAKU) 2025 selama empat hari di Kampus Bumi Siliwangi dan lima kampus daerah. Tahun ini, lebih dari 12.519 dari program S1, S2, hingga S3 telah resmi menjadi mahasiswa UPI yang dilaksankan di Gedung Gymnasium Jl. Dr. Setiabudhi No.229, Bandung, Jawa Barat. Senin (25/8/2025).

Rektor UPI Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A., menyampaikan bahwa MOKAKU menjadi ajang penting untuk memperkenalkan mahasiswa baru pada lingkungan kampus, kegiatan akademik, serta organisasi kemahasiswaan. Tercatat 8.390 mahasiswa hadir langsung di Kampus Bumi Siliwangi.

“Selain diperkenalkan dengan lingkungan fisik kampus, mahasiswa juga dikenalkan dengan kegiatan kemahasiswaan serta kehidupan akademik. Harapannya, mereka dapat menjalani tridarma perguruan tinggi dengan baik, belajar dengan lancar, dan lulus tepat waktu sesuai harapan mereka dan orang tua,” ujar Prof. Didi Sukyadi.

MOKAKU 2025 menghadirkan sejumlah narasumber nasional maupun internal universitas dengan tema besar Menyiapkan Generasi Emas 2045, yang difokuskan pada upaya membentuk mahasiswa berdaya saing dan siap menghadapi tantangan global.

Selain mempersiapkan mahasiswa menjadi generasi unggul, UPI juga menegaskan komitmennya menghadirkan kegiatan orientasi yang bebas dari kekerasan, perundungan, pelecehan seksual, narkoba, radikalisme, maupun plagiarisme.

“Kita sudah membuat kontrak kinerja, fakta integritas bersama mahasiswa untuk menghindari kekerasan dan berbagai pelanggaran lainnya. Bila ada yang melanggar, akan diproses sesuai ketentuan melalui komisi disiplin,” tegas Rektor UPI.

Beberapa fakultas favorit yang tetap menjadi pilihan utama mahasiswa baru tahun ini antara lain Fakultas Kedokteran, Ilmu Komunikasi (FPIPS), Manajemen (FPEB), Psikologi (FIP), serta Bimbingan dan Konseling.

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Dr. Muhammad Najib, S.TP., M.M. menekankan bahwa mahasiswa UPI harus mampu menjadi agen perubahan melalui ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi.

“Mahasiswa sebagai agen perubahan tentu harus fokus pada agenda-agenda yang dapat memberikan kontribusi lebih besar kepada masyarakat. Melalui sains dan teknologi, mahasiswa bisa berbagi pengetahuan sekaligus membantu menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat,” jelas Prof. Najib.

Ia menambahkan, kegiatan MOKAKU juga menjadi momentum bagi mahasiswa untuk menumbuhkan semangat belajar dan berprestasi sesuai visi dan misi universitas.

“Harapan kami, mahasiswa UPI bisa lebih produktif, berprestasi, dan menjadi sosok sesuai yang diharapkan universitas maupun masyarakat luas,” pungkasnya.

Dengan jumlah mahasiswa baru yang mencapai lebih dari 12 ribu orang, UPI semakin menegaskan perannya sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia dalam mencetak sumber daya manusia unggul yang siap menyongsong Indonesia Emas 2045. (Riza/DN)

Menjadi Pembelajar di Tengah Perbatasan: Mahasiswa Penmas UPI Berbagi Pendidikan Bersama Anak Migran di Sabah

25 Aug 2025 • Humas UPI

Tawau, Sabah – 5 April 2025

Dalam upaya memperluas akses pendidikan bagi anak-anak Indonesia di luar negeri, seorang mahasiswa Program Studi Pendidikan Masyarakat (Penmas) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) berhasil membawa misi kemanusiaan dan kepedulian akademik ke wilayah perbatasan. Fatharani Hasna, mahasiswa angkatan 2022, menjalani program magang internasional di Community Learning Center (CLC) Sabah Softwood Berhad, Tawau, Sabah, Malaysia—sebuah inisiatif kolaboratif antara Prodi Pendidikan Masyarakat UPI dan Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK).

Program magang ini bukan sekadar pengalaman akademik, tetapi menjadi ruang refleksi mendalam tentang hak atas pendidikan, terutama bagi anak-anak migran yang tinggal di perkebunan kelapa sawit—komunitas yang sering kali terpinggirkan dari sistem pendidikan formal.

Belajar dari Lapangan: Pendidikan Nonformal di Tengah Keterbatasan

Selama beberapa minggu, Fatharani terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran di lima CLC binaan Sabah Softwood Berhad: Kapilit, Mawang, Kumansi, Bukit Tukok, dan Kalum. Ia tidak hanya mengamati, tetapi juga mendampingi guru, mengikuti dinamika kelas, dan berdiskusi tentang kurikulum kesetaraan (Paket A, B, dan C) yang dirancang khusus untuk anak-anak usia sekolah yang tidak dapat mengikuti pendidikan reguler.

Yang menarik, sebagian besar guru di CLC adalah warga negara Malaysia yang secara sukarela mempelajari kurikulum Indonesia dan mendampingi anak-anak migran dengan penuh dedikasi. “Mereka tidak hanya mengajar, tapi juga menjadi jembatan budaya dan harapan,” ujar Fatharani dalam catatan reflektifnya.

Sejak 2020, Sabah Softwood Berhad telah menginvestasikan dana sebesar RM3,6 juta untuk membangun enam CLC, menyediakan fasilitas belajar yang layak, termasuk gedung sekolah, logistik, air bersih, hingga transportasi bagi guru dan siswa.

Ladang Banita: Momen yang Menggugah Hati

Salah satu pengalaman paling menggugah dalam perjalanan Fatharani adalah kunjungan ke ladang Banita—lokasi yang belum memiliki CLC. Didampingi oleh Pak Agil, guru pembina CLC yang menjadi penghubung antara komunitas, perusahaan, dan SIKK, Fatharani turun langsung ke lapangan untuk melakukan pendataan awal terhadap anak-anak Indonesia yang belum tersentuh pendidikan.

Dari hasil pendataan, ditemukan sekitar 60 anak yang belum bersekolah, dengan 32 di antaranya sudah melewati usia pendidikan dasar. Mereka direncanakan akan diikutsertakan dalam program kesetaraan Paket A dan B.

“Saya tidak akan pernah lupa ekspresi anak-anak di Banita. Mereka belum tahu apa itu sekolah, tapi mereka tahu bahwa belajar itu penting,” kenang Fatharani. “Dari situ saya sadar: pendidikan bukan hanya soal kurikulum, tapi soal keberanian membuka pintu bagi mereka yang selama ini tertutup.”

Meski belum memiliki ruang belajar, semangat anak-anak untuk belajar sangat besar. Orang tua mereka menyambut hangat kedatangan tim, dan menyampaikan harapan agar anak-anak mereka kelak bisa mengecap pendidikan yang layak.

Pendidikan sebagai Jembatan, Bukan Sekadar Tujuan

Di akhir program, Fatharani pulang bukan hanya dengan laporan magang, tetapi dengan kesadaran baru: bahwa pendidikan masyarakat adalah upaya yang tak pernah selesai. “Saya tidak hanya belajar menjadi pendidik, tetapi juga belajar menjadi manusia,” ujarnya.

Pengalaman ini juga menjadi bukti nyata bahwa Prodi Pendidikan Masyarakat UPI mampu berkontribusi dalam konteks global, terutama dalam memperluas akses pendidikan nonformal bagi kelompok marginal. Kolaborasi dengan SIKK Kinabalu membuka jalan bagi penguatan jaringan pendidikan lintas batas, serta menjadi model bagi keterlibatan mahasiswa dalam isu sosial yang mendalam.

Pendidikan Sepanjang Hayat, di Mana Saja

Program magang internasional ini bukan hanya membuka mata mahasiswa pada realitas pendidikan di perbatasan, tetapi juga mengingatkan kita semua: bahwa pendidikan adalah hak asasi yang harus diperjuangkan, bahkan di ujung ladang kelapa sawit sekalipun.

Bagi Fatharani dan Prodi Pendidikan Masyarakat UPI, perjalanan ini hanyalah awal. Di tengah perbatasan, mereka belajar—dan mengajar—dengan hati.

Kontributor: Fatharani Hasna dan Dadang Yunus

Pencarian