English
Indonesia

Universitas Pendidikan Indonesia Perluas Kerja Sama dengan Pemerintah Kabupaten Banjar

28 Apr 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali memperkuat jejaring kemitraannya melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Pemerintah Kabupaten Banjar. Kerja sama ini merupakan kelanjutan dari kolaborasi yang telah terjalin sebelumnya, khususnya dalam bidang pembinaan pelatih olahraga yang dilaksanakan di Ruang Rapat Timur Gd. Partere Jl. Dr. Setiabudi No. 229 Bandung, Jawa Barat. Selasa (28/4/2026)

Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian, dan Kemitraan UPI, Prof. Dr. Agus Setiabudi, M.Si., menjelaskan bahwa kerja sama ini diperluas karena hasil kolaborasi sebelumnya dinilai berjalan dengan baik dan memberikan manfaat nyata. Oleh karena itu, kedua pihak sepakat untuk menaungi kerja sama tersebut dalam bentuk MoU yang lebih komprehensif.

“Kerja sama ini sebenarnya sudah berlangsung, terutama melalui Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan dalam pembinaan pelatih olahraga di Kabupaten Banjar. Karena hasilnya positif, pemerintah daerah menginginkan cakupan kerja sama yang lebih luas,” ujar Agus.

Dalam MoU ini, UPI dan Pemerintah Kabupaten Banjar akan mengembangkan kolaborasi di berbagai bidang yang menjadi kebutuhan daerah. Beberapa fokus utama meliputi pengembangan pariwisata, penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pemenuhan dan pembinaan tenaga pendidik.

Pengembangan UMKM, misalnya, akan diarahkan pada peningkatan kualitas pengemasan produk agar memiliki daya saing lebih tinggi. Sementara itu, di sektor pendidikan, kerja sama akan mencakup penyediaan guru serta peningkatan kompetensi tenaga pendidik di Kabupaten Banjar.

Terkait implementasi teknis, Agus menjelaskan bahwa setiap program akan ditindaklanjuti melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang lebih spesifik. Salah satu program yang direncanakan adalah penyusunan desain atau blueprint pengembangan olahraga daerah.

“Untuk pelaksanaan kegiatan, secara administratif akan diturunkan dalam bentuk PKS. Salah satu yang akan segera dilakukan adalah penyusunan desain olahraga daerah sebagai panduan pengembangan ke depan,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa peluang kerja sama ke depan sangat terbuka, mengingat program yang dirancang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat daerah. Sektor pariwisata dan pendidikan dinilai memiliki potensi besar untuk segera diwujudkan dalam bentuk program konkret.

Melalui kerja sama ini, UPI berharap dapat terus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Kolaborasi dengan pemerintah daerah menjadi salah satu bentuk implementasi tridharma perguruan tinggi, khususnya dalam pengabdian kepada masyarakat.

“Bentuk-bentuk kerja sama seperti inilah yang pada dasarnya menjadi wujud kontribusi universitas dalam memberikan dampak bagi masyarakat,” tutup Agus. (Rija)

Setiap Langkah Adalah Kesempatan: Dari Berjualan Kerupuk Sampai Menjadi Komisioner KIP

28 Apr 2026 • Humas UPI

Di sela riuhnya mahasiswa di kantin-kantin Kampus IKIP Bandung, seorang pemuda dari Bangka berjalan menyusuri lorong dengan membawa tas besar. Bukan berisi buku, melainkan kerupuk Bangka yang siap dijual.

Dari Gang Cempaka—sebuah gang kecil di sudut Geger Kalong—perjalanan panjangnya dimulai. Sebuah perjalanan yang kelak membawanya duduk di kursi Komisioner Komisi Informasi Pusat Republik Indonesia.

Namanya Syawaludin, ia masuk IKIP Bandung pada tahun 1993, mengambil jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB). Pilihan itu tidak sepenuhnya direncanakan. “Saya waktu itu kurang informasi saat UMPTN, jadi memilih saja,” kenangnya sambil tertawa ringan. Namun justru di jurusan itulah ia belajar tentang makna kesetaraan manusia—nilai yang terus ia pegang dalam perjalanan kariernya.

Hidup sebagai mahasiswa perantau bukan perkara mudah. Ia tinggal di Gang Cempaka, dekat Geger Arum, di sebuah musala kecil yang turut ia rawat dan hidupkan dengan kegiatan pengajian. Tanpa dukungan finansial yang memadai, Syawaludin harus memutar otak.

Ia tidak sekadar kuliah—ia bertahan.

Setiap hari, ia menggoreng kerupuk, lalu berkeliling dari satu kantin ke kantin lain untuk menitipkan dagangannya. “Keseharian saya adalah berjualan kerupuk Bangka. Kamar kos saya itu isinya kerupuk semua,” kenangnya.

Namun ia tidak berhenti di situ. Keterbatasan justru memicu kreativitasnya. Ia membuka jasa terjemahan bahasa Inggris—ironisnya, di saat ia sendiri merasa belum mahir. Alih-alih menyerah, ia membangun jaringan. Ia menggandeng mahasiswa dan dosen dari jurusan Bahasa Inggris, membagi hasil, dan bertindak sebagai penghubung.

“Saya punya sampai 20 orang penerjemah. Saya hanya jadi marketing,” katanya.

Tak cukup dengan itu, ia juga menjual bawang putih dengan memotong rantai distribusi dan menjual langsung ke pedagang bakso. Di ruang sempit Gang Cempaka, ia membangun ekosistem usahanya sendiri. Semua dilakukan dengan satu prinsip sederhana: bertahan hidup tanpa bergantung.

Namun hidup tidak selalu berjalan mulus.

Setelah lulus, realitas kembali menguji. Niatnya menjadi guru harus kandas ketika ia mengetahui gaji yang ditawarkan hanya Rp60.000 per bulan—jumlah yang bahkan tidak cukup untuk kebutuhan dasar.

Kekecewaan itu nyata. Namun alih-alih berhenti, ia memilih jalur lain.

“Kalau tidak bisa mengajar di kelas, saya mengajar dalam jangkauan yang lebih luas,” ujarnya.

Ia pun beralih menjadi jurnalis. Karier ini dimulai dari keberaniannya mengambil peluang yang nyaris tertutup. Saat seleksi pelatihan jurnalistik PT Timah sudah penuh, ia tetap datang dan meminta kesempatan. Hasilnya, ia diterima sebagai peserta ke-31.

Dari situ, langkahnya semakin mantap.

Ia menjadi wartawan, kemudian naik menjadi pimpinan perusahaan. Pada usia 30 tahun, ia terpilih sebagai Komisioner KPU daerah selama dua periode. Setelah itu, ia melanjutkan pengabdian di Komisi Informasi sebelum akhirnya lolos seleksi nasional dan menjadi Komisioner Komisi Informasi Pusat.

Perjalanan itu bukan sekadar soal jabatan, melainkan tentang konsistensi nilai.

Salah satu prinsip yang paling ia pegang adalah kejujuran. “Kejujuran itu kecerdasan. Orang yang berbohong itu bodoh,” tegasnya.

Sebagai komisioner, ia membawa semangat yang berakar dari masa kuliahnya—memperjuangkan akses informasi, terutama bagi penyandang disabilitas. Ia meyakini bahwa informasi adalah kunci kemandirian. Tanpa itu, banyak potensi yang terabaikan.

Di balik semua pencapaian itu, sisi manusiawinya tetap terasa. Ia masih mengingat bagaimana ia berbagi kerupuk dengan teman-temannya, atau mentraktir ketika memiliki sedikit uang lebih.

Baginya, kecerdasan tidak hanya soal akademik, tetapi juga sosial dan ekonomi.

Kisahnya menjadi cermin bahwa jalan hidup tidak selalu lurus. Kadang berliku, bahkan tampak tidak saling berkaitan. Namun dari kerupuk, jasa terjemahan, hingga dunia jurnalistik—semuanya menjadi potongan puzzle yang akhirnya membentuk satu gambaran utuh.

Kini, saat ia duduk di kursi Komisioner Komisi Informasi Pusat, jejak langkah itu tidak pernah ia lupakan. Justru dari sanalah ia belajar bahwa keberhasilan bukan tentang dari mana seseorang memulai, melainkan bagaimana ia bertahan, beradaptasi, dan terus melangkah.

“Jadikan diri kita bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya pelan.

Bagi Syawaludin, UPI adalah tempat ia menemukan segalanya: ilmu, prinsip hidup, hingga jodoh. Ia bahkan mengabadikan kenangan itu dengan memberi nama anaknya “Furqon”, diambil dari Masjid Al-Furqon—tempat ia dahulu sering beribadah dan berdiskusi.

Kini, ia menaruh harapan besar pada almamaternya. Ia bangga melihat UPI berkembang pesat dan menjadi kampus yang sangat diperhitungkan. Pesannya sederhana: jaga kepercayaan publik melalui keterbukaan informasi.

“Keterbukaan adalah pintu masuk kepercayaan,” tegasnya.

Di tengah dunia yang terus berubah, kisah Syawaludin mengingatkan satu hal sederhana: bahwa bahkan dari wajan kecil di sudut kamar kost di gang sempit, mimpi besar dapat mulai digoreng—dan pada waktunya, mengembang jauh melampaui batas yang pernah dibayangkan. (RK)

UPI Didorong Jadi Pelopor Keterbukaan Informasi Publik di Perguruan Tinggi

28 Apr 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) didorong untuk menjadi pelopor dalam penerapan keterbukaan informasi publik di lingkungan perguruan tinggi. Hal ini disampaikan oleh Ketua Komisi Informasi Pusat, Sawaludin, dalam kegiatan koordinasi Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) UPI yang dilaksanakan di Auditorium Pascasarjana lt. 7 Jl. Dr. Setiabudi No. 229 Bandung, Jawa Barat. Senin (27/4/2026)

Dalam pemaparannya, Komisioner Penyelesaian Sengketa Informasi di Komisi Informasi Pusat (KIP) Syawaludin, S.Pd., M.H., mencontohkan praktik keterbukaan informasi di sejumlah negara maju yang telah berjalan dengan baik. Ia menilai sistem tersebut sangat memungkinkan untuk diadopsi di Indonesia, khususnya di lingkungan kampus seperti UPI.

“UPI harus bisa menjadi contoh. Kita bisa mulai dengan membangun sistem yang terbuka dan transparan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti praktik di salah satu universitas luar negeri yang menerapkan sistem keterbukaan secara menyeluruh. Dalam sistem tersebut, seluruh civitas akademika memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses informasi maupun mengikuti proses seleksi jabatan, selama memenuhi persyaratan yang ditentukan.

“Semua berbasis sistem aplikasi. Syarat dan ketentuan terbuka, siapa pun yang memenuhi bisa berpartisipasi. Ini bentuk keterbukaan yang nyata,” tambahnya.

Namun demikian, Syawaludin mengakui bahwa tantangan dalam penerapan keterbukaan informasi di Indonesia masih cukup besar, terutama terkait budaya negosiasi yang kerap mempengaruhi tata kelola.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya penguatan peran PPID di lingkungan UPI. Menurutnya, PPID tidak dapat berjalan sendiri, melainkan membutuhkan dukungan penuh dari seluruh jajaran, mulai dari unit kerja hingga pimpinan universitas.

“PPID harus menjadi satu kesatuan dengan seluruh elemen kampus. Perlu adanya konsolidasi dan koordinasi yang kuat,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama Prof. Dr. Tri Indri Hardini, M.Pd. Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Sistem Informasi. menekankan pentingnya koordinasi antar unit, guna memastikan setiap unit mampu menyediakan informasi yang akurat, cepat, dan mudah diakses oleh publik.

“Di era keterbukaan informasi seperti sekarang, setiap unit harus siap dalam memberikan layanan informasi. Website unit harus aktif dan informatif sebagai sarana utama penyampaian informasi,” ujar salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut.

Selain itu, UPI juga terus mengembangkan berbagai aplikasi digital untuk mendukung pelayanan akademik dan administratif. Salah satunya adalah UPI App yang saat ini telah digunakan oleh dosen dan tenaga kependidikan, serta direncanakan akan segera dapat diakses oleh mahasiswa.

Melalui aplikasi ini, pengguna dapat mengakses berbagai layanan seperti informasi akademik, pengajuan kerja fleksibel, hingga pemantauan aktivitas perkuliahan. Hal ini menjadi bagian dari transformasi digital kampus dalam meningkatkan efisiensi dan transparansi layanan.

Selain itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia juga menjadi kunci dalam mewujudkan keterbukaan informasi publik. Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan, pengembangan sistem, serta kegiatan edukatif baik internal maupun eksternal.

Ia juga mendorong agar nilai keterbukaan informasi dapat disebarluaskan kepada masyarakat melalui berbagai program, seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik maupun mata kuliah yang relevan.

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan UPI dapat menjadi role model dalam tata kelola keterbukaan informasi publik di Indonesia serta memberikan dampak positif bagi masyarakat luas. (Rija/RK)

JEJAK SUNYI SEORANG PEMIKIR PENDIDIKAN

28 Apr 2026 • Humas UPI

Mengenang wafat Prof. Furqon, M.A., Ph.D., 9 tahun lalu

Prof. Furqon, M.A., Ph.D., Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) periode 2015-2020, lahir di Ciamis, Jawa Barat, pada 2 Oktober 1957 dan wafat di Bandung, Jawa Barat, pada 22 April 2017 dalam usia 59 tahun. Beliau menjabat sebagai rektor ke-8 UPI dan wafat saat beliau masih aktif menjabat sebagai Rektor UPI. Untuk mengenang kepergian Almarhum menghadap Sang Khalik, berikut tulisan singkat tentang almarhum Prof.Furqon.

Almarhum Prof. Furqon dikenal sebagai sosok akademisi yang berdedikasi tinggi dalam pengembangan pendidikan di Indonesia, khususnya di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia. Selama menjabat sebagai rektor, beliau berperan penting dalam memperkuat tata kelola kelembagaan, mendorong peningkatan mutu akademik, serta memperluas jejaring kerja sama baik di tingkat nasional maupun internasional. Kepemimpinannya ditandai dengan komitmen terhadap nilai-nilai profesionalisme, integritas, dan inovasi dalam menghadapi dinamika dunia pendidikan yang terus berkembang.

Selain sebagai pemimpin institusi  pendidikan tinggi, Prof. Furqon juga dikenang sebagai pendidik dan ilmuwan yang memiliki perhatian besar terhadap pengembangan sumber daya manusia. Pemikiran dan kontribusinya tidak hanya terbatas pada ranah kebijakan, tetapi juga dalam penguatan budaya akademik yang berorientasi pada riset dan pengabdian kepada masyarakat. Warisan intelektual dan keteladanannya tetap menjadi inspirasi bagi sivitas akademika untuk terus berkontribusi dalam memajukan pendidikan yang bermutu dan berdaya saing. Selain kiprahnya di UPI, Prof. Furqon juga aktif dalam berbagai jabatan dan peran penting di tingkat nasional. Ia pernah terlibat dalam sejumlah organisasi profesi dan forum pendidikan tinggi, serta berkontribusi sebagai pemikir kebijakan dalam pengembangan pendidikan nasional. Jejak pengabdiannya yang luas mencerminkan sosok intelektual yang tidak hanya berperan sebagai administrator pendidikan, tetapi juga sebagai agen perubahan dalam pembangunan sumber daya manusia.

Lima Pemikiran Terbaik

Pertama, berkaitan dengan penguatan Asesmen Berbasis Kompetensi dan Autentik atau Competency-Based and Authentic Assessment. Furqon dikenal mendorong paradigma asesmen yang tidak hanya mengukur hasil belajar kognitif, tetapi juga menilai keterampilan, sikap, dan performa nyata peserta didik. Gagasannya menekankan pentingnya asesmen autentik sebagai alat untuk memperoleh gambaran utuh tentang capaian pembelajaran, sekaligus sebagai dasar pengambilan keputusan pendidikan yang lebih adil dan komprehensif. Prof. Furqon dikenal mendorong paradigma asesmen yang tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga mencakup keterampilan dan sikap melalui pendekatan autentik. Ia menekankan pentingnya penilaian yang kontekstual dan berbasis kinerja nyata peserta didik.

Kedua, komitmen yang tinggi pada Integrasi Bimbingan dan Konseling dalam Sistem Pendidikan atau Integration of Guidance and Counseling within the Education System.  Dalam bidang bimbingan dan konseling, Prof. Furqon menekankan bahwa layanan bimbingan dan konseling harus menjadi bagian integral dari proses pendidikan, bukan sekadar pelengkap. Ia berpandangan bahwa perkembangan peserta didik harus dilihat secara holistik—akademik, sosial, emosional, dan karier—sehingga layanan konseling berperan strategis dalam membentuk kepribadian dan kesiapan hidup.  Dalam bidang bimbingan dan konseling, beliau menekankan pendekatan komprehensif dan terintegrasi dalam sistem pendidikan. Pandangannya menempatkan layanan BK sebagai bagian strategis dalam pengembangan peserta didik secara utuh.

Ketiga, Prof Furqon sangat konsisten pada bidang yang berkaitan dengan pengembangan Model Evaluasi Pendidikan Berkelanjutan atau Continuous Educational Evaluation Model. Salah satu kontribusi pentingnya adalah pemikiran tentang evaluasi pendidikan yang bersifat berkelanjutan (continuous improvement). Evaluasi tidak hanya dilakukan di akhir proses, tetapi menjadi bagian dari siklus pembelajaran yang terus-menerus untuk meningkatkan mutu pendidikan. Model ini menekankan umpan balik (feedback) sebagai instrumen utama perbaikan sistem pendidikan.  Kontribusi penting Prof. Furqon terletak pada penekanan evaluasi sebagai proses berkelanjutan untuk peningkatan mutu pendidikan. Ia melihat evaluasi sebagai bagian dari siklus manajemen mutu, bukan sekadar alat ukur hasil akhir.

Keempat, komitmen beliau pada profesionalisasi tenaga pendidik melalui literasi  evaluasi atau Professionalization of Educators through Evaluation Literacy. Prof. Furqon juga meyakini pentingnya literasi evaluasi bagi guru dan tenaga kependidikan. Menurutnya, guru harus memiliki kemampuan merancang instrumen penilaian yang valid dan reliabel serta mampu menafsirkan hasilnya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Pemikiran ini berkontribusi pada penguatan kompetensi profesional guru di Indonesia. Beliau menekankan bahwa guru harus memiliki kompetensi evaluasi yang kuat, termasuk kemampuan menyusun instrumen dan memanfaatkan data hasil belajar. Kritiknya terhadap praktik penilaian yang administratif menjadi dasar penting bagi penguatan profesionalisme guru. Pemikiran ini banyak diwujudkan dalam pelatihan guru, modul pembelajaram, serta kontribusi dalam pengembangan kurikulum LPTK.

Kelima, pemikiran beliau dalam menguatkan pendidikan berbasis nilai dan pengembangan karakter atau Values-Based Education and Character Development. Selain bidang evaluasi pendidikan, beliau juga menggarisbawahi pentingnya pendidikan berbasis nilai. Pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan individu cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter, beretika, dan memiliki tanggung jawab sosial. Dalam perspektifnya, asesmen dan bimbingan harus mendukung pembentukan karakter sebagai tujuan utama pendidikan nasional. Prof. Furqon juga menekankan bahwa pendidikan harus berorientasi pada pembentukan karakter dan nilai. Ia melihat bahwa asesmen dan bimbingan harus mendukung tujuan ini secara sistemik.

Sisi Humanis

Sisi humanis Prof. Furqon tercermin kuat dalam gaya kepemimpinan dan interaksinya yang hangat dengan sivitas akademika. Beliau dikenal sebagai sosok yang terbuka, mudah diakses, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap mahasiswa, dosen, serta tenaga kependidikan. Dalam berbagai kesempatan, ia tidak hanya berbicara sebagai pemimpin formal, tetapi juga sebagai pendidik yang memahami dinamika personal dan sosial yang dihadapi individu di lingkungan pendidikan. Pendekatan komunikatif dan empatik ini menciptakan suasana akademik yang lebih inklusif, dialogis, dan berorientasi pada pembinaan, bukan sekadar penilaian.

Selain itu, kepedulian sosialnya juga tampak dalam dorongan kuat terhadap pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian integral dari pendidikan tinggi. Prof. Furqon mendorong agar ilmu pengetahuan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas, terutama dalam peningkatan kualitas pendidikan di berbagai daerah. Ia memandang pendidikan sebagai sarana pemberdayaan, sehingga keberpihakan pada akses, keadilan, dan kualitas pendidikan menjadi bagian dari komitmen moralnya. Nilai-nilai kemanusiaan inilah yang menjadikan warisan beliau tidak hanya terasa dalam sistem dan kebijakan, tetapi juga dalam inspirasi dan teladan yang terus hidup di kalangan masyarakat pendidikan di Tanah air.

Tagline Kepemimpinan

Semangat kepemimpinan Prof. Furqon—baik saat memimpin Universitas Pendidikan Indonesia maupun ketika berkiprah di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan—dapat dirangkum dalam sebuah tagline yang mencerminkan karakter visioner, humanis, dan berbasis mutu: “Memimpin dengan integritas, menguatkan mutu, dan memanusiakan pendidikan.” Tagline ini merefleksikan komitmennya pada tata kelola yang bersih, peningkatan kualitas berkelanjutan, serta orientasi pada pengembangan manusia seutuhnya sebagai inti dari seluruh proses pendidikan. Bukan sekadar slogan, kalimat ini mencerminkan cara beliau bekerja dan berpikir. Integritas menjadi fondasi dalam setiap kebijakan, mutu dijaga dan ditingkatkan secara konsisten, dan yang paling penting—pendidikan selalu ditempatkan sebagai proses memanusiakan manusia. Di tangan beliau, kepemimpinan bukan hanya soal mengelola institusi, tetapi juga tentang memberi arah, membangun kepercayaan, dan meninggalkan dampak yang bermakna bagi dunia pendidikan.

Itulah jejak sunyi seorang pemikir pendidikan yang terus berkomitmen dalam  memimpin dengan integritas, menguatkan mutu, dan memanusiakan manusia. Dalam pengkhidmatan yang tulus tanpa henti tanpa lelah itulah, ia menemukan jalan pulang menuju Sang Khalik. Semoga Almarhum Prof. Furqon telah berada dengan tenang di Alam Barzah, di tempat yang sangat dimuliakan Allah SWT. Bisikan do’a terus mengalir: Allahummaghfir lahu, warhamhu, wa’afihi, wa’fuanhu. Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sejahterakanlah dan maafkanlah dia. Aamiin Ya Mujibasaillin. ( Artikel tulisan Prof. Dinn Wahyudin, M.A., Guru Besar Bidang Pengembangan Kurikulum FIP UPI)

UPI Perkuat Pembelajaran BIPA Antarbudaya melalui Webinar “Pawang BIPA #2”

28 Apr 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) kembali mempertegas perannya dalam inovasi pembelajaran bahasa melalui webinar bertajuk “Pawang BIPA #2: Mengajarkan Bahasa, Membaca Dunia”, Sabtu (25/4/2026).

Kegiatan daring yang diikuti oleh sekitar 300 peserta dari dalam dan luar negeri ini bertujuan mentransformasi paradigma pembelajaran bahasa dari sekadar penguasaan tata bahasa (grammar) menjadi pemahaman lintas budaya yang mendalam.

Ketua Prodi Magister Pendidikan BIPA UPI, Dr. Nuny Sulistiany Idris, M.Pd., dalam sambutannya menekankan bahwa BIPA kini memiliki peran strategis dalam memperkuat posisi Indonesia di tingkat global. Menurutnya, pembelajaran bahasa bukan sekadar komunikasi verbal, melainkan media diplomasi.

“BIPA saat ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana pembelajaran bahasa, tetapi juga sebagai media diplomasi budaya yang mampu membangun pemahaman dan hubungan antarbangsa,” ujar Dr. Nuny saat membuka acara melalui platform Zoom.

Dalam sesi materi, narasumber Dr. Suci Sundusiah, M.Pd., menjelaskan pentingnya pendekatan holistik yang mengintegrasikan bahasa, budaya, dan cara berpikir. Salah satu instrumen utamanya adalah penggunaan sastra Indonesia sebagai bahan ajar.

Sastra dinilai mampu membantu pemelajar asing memahami realitas sosial, nilai moral, serta relasi kemanusiaan di Indonesia. Dengan begitu, sastra berfungsi sebagai jendela budaya yang mendorong pemelajar untuk berpikir kritis, reflektif, dan empatik.

“Melalui sastra, pemelajar diajak untuk tidak hanya memahami teks, tetapi juga menafsirkan makna, membandingkan budaya, dan merefleksikan pengalaman antarbudaya mereka. Ini pintu masuk untuk memahami dunia,” tegas Dr. Suci.

Webinar ini juga menjadi bagian dari program “UPI Berdampak” yang menitikberatkan pada kontribusi nyata perguruan tinggi terhadap tantangan global. Dengan memperkuat pembelajaran antarbudaya, UPI berupaya mendorong pendidikan berkualitas yang inklusif serta memperluas kemitraan lintas negara sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs).

Dari diskusi interaktif tersebut, muncul sejumlah rekomendasi strategis bagi pengembangan BIPA kedepan, antara lain perlunya penguatan kurikulum BIPA berbasis sastra dan budaya, integrasi pendekatan antarbudaya dalam pembelajaran, peningkatan kompetensi pengajar BIPA, serta perluasan kolaborasi internasional. Rekomendasi ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan pembelajaran bahasa di tingkat global.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 19.30 WIB ini diakhiri dengan sesi tanya jawab yang dinamis antara praktisi dan akademisi. Melalui inisiatif ini, UPI menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia adalah strategi utama untuk memperkenalkan wajah Indonesia sekaligus memperkuat peran bangsa dalam percaturan global dengan semangat “Cintai Indonesia, Jelajahi Dunia.” (DN)

Pencarian