FPIPS UPI Terima Bantuan Mobil Operasional dari PT Telkom Indonesia untuk Dukung Program SDGs
04 May 2026 • Humas UPI
Bandung, UPI
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menerima bantuan satu unit mobil operasional Toyota Hiace dari PT Telkom Indonesia dalam kegiatan serah terima yang diselenggarakan oleh Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) UPI pada Senin (4/5/2026) di Lobby Timur FPIPS UPI. Kegiatan ini dihadiri oleh pimpinan universitas, perwakilan PT Telkom Indonesia, serta sivitas akademika UPI.
Bantuan kendaraan operasional tersebut ditujukan untuk mendukung mobilitas kegiatan tridharma perguruan tinggi, khususnya dalam pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat, penguatan pendidikan, serta implementasi program pembangunan berkelanjutan di lingkungan FPIPS UPI.
Rektor UPI, Prof. Didi Sukyadi, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kontribusi PT Telkom Indonesia dalam mendukung pengembangan institusi.
“Kendaraan ini sangat kami perlukan untuk mendukung mobilitas universitas, khususnya dalam mengembangkan program-program Sustainable Development Goals (SDGs),” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kendaraan tersebut akan dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, seperti program pengabdian masyarakat di daerah terpencil, penanaman mangrove, serta monitoring kegiatan mahasiswa di berbagai kampus daerah UPI, termasuk Serang, Purwakarta, Tasikmalaya, Sumedang, dan Cibiru.
Selain itu, kerja sama antara UPI dan PT Telkom Indonesia juga diarahkan pada penguatan sinergi di bidang pendidikan, termasuk pengembangan pembelajaran jarak jauh serta penyediaan infrastruktur digital yang mendukung proses pembelajaran.
Perwakilan PT Telkom Indonesia, Rico Junian, menyampaikan bahwa pemberian bantuan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung dunia pendidikan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility).
“Kami melihat UPI sebagai mitra strategis yang memiliki peran penting dalam dunia pendidikan. Melalui bantuan ini, kami berharap kerja sama dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.
Sementara itu, Dekan FPIPS UPI, Prof. Cecep Darmawan, menyampaikan bahwa bantuan kendaraan ini akan dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung berbagai kegiatan akademik dan pengabdian masyarakat.
“Bantuan ini menjadi bagian dari upaya mendukung peningkatan kualitas pendidikan serta kontribusi nyata dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan,” jelasnya.
Kegiatan serah terima ini juga mencerminkan penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam mendukung pengembangan pendidikan yang berkelanjutan.
Dengan adanya bantuan kendaraan operasional ini, UPI diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pelaksanaan program tridharma serta memperluas jangkauan kegiatan yang berdampak bagi masyarakat dan lingkungan. (RK/ Foto: CS)
UPI Luncurkan Program Desa Eduwisata di Desa Tanjungwangi
04 May 2026 • Humas UPI
Subang, UPI
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memperkuat posisinya sebagai “Kampus Berdampak” melalui peluncuran program Desa Eduwisata dan Rafting Keluarga di Desa Tanjungwangi, Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang, Minggu (3/5/2026).
Langkah ini merupakan implementasi nyata dari Tridharma Perguruan Tinggi melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Desa Binaan UPI Tahun 2026. Proyek strategis ini mengacu pada Keputusan Rektor UPI Nomor 3091/UN40/AM.02.00/2025.
Pengembangan potensi wisata ini dikawal oleh kolaborasi dua kelompok PkM yang dipimpin oleh Dr. Asep Mahpudz, M.Si. dan Prof. Dr. Elly Malihah Setiadi, M.Si. Fokus pendampingan meliputi aspek edukasi lingkungan, ekonomi kreatif, serta pelestarian budaya lokal sebagai fondasi utama eduwisata.
Ketua Tim PkM Kelompok 1, Dr. Asep Mahpudz, menjelaskan bahwa program ini dirancang berkelanjutan hingga lima tahun ke depan.
“Sejak 2024 kami telah menginisiasi beberapa program unggulan, mulai dari Desa Wisata, pipanisasi, hingga pengolahan sampah. Seluruh kegiatan ini berbasis inovasi warga dan didukung penuh oleh SK Rektor,” jelasnya.
Untuk mendukung operasional wisata, UPI menyerahkan bantuan sarana berupa 4 perahu rafting, 24 helm, dan 24 pelampung. Selain itu, tenaga profesional dari Pangalengan akan didatangkan untuk melatih pemuda Karang Taruna agar menjadi pemandu (guide) yang kompeten.
Program eduwisata ini dirancang untuk menjawab tantangan global melalui beberapa poin utama SDGs seperti: 1) SDG 8 dengan melalui penguatan BUMDes Betah Mandiri sehingga membuka peluang ekonomi baru dan pemberdayaan masyarakat lokal; 2) SDG 11 dengan mewujudkan Desa Tanjungwangi sebagai pemukiman yang tangguh dan mandiri melalui model desa binaan; 3) SDG 6 dan SDG 15 dengan Pelestarian Sungai Cileuleuy Udik sebagai ikon rafting keluarga sekaligus pusat edukasi lingkungan untuk menjaga ekosistem daratan dan perairan tetap berkelanjutan.
Prof. Dr. Elly Malihah Setiadi menambahkan bahwa aspek keamanan dan fungsi laboratorium menjadi prioritas. “Wilayah ini diarahkan menjadi laboratory-based tourism, khususnya bagi program studi kepariwisataan di UPI,” tuturnya.
Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian, dan Kemitraan UPI, Prof. Dr. Agus Setiabudi, M.Si., menegaskan bahwa aktivitas kampus harus berorientasi pada dampak ekonomi nyata bagi masyarakat. Hal senada diungkapkan oleh Camat Cijambe, H. Nana Suyatna, S.Pd., M.Si.
“Terima kasih kepada UPI yang telah mencurahkan ilmunya untuk mengembangkan kompetensi warga Tanjungwangi. Semoga ini meningkatkan kesejahteraan masyarakat kami,” ujar Nana.
Kepala Desa Tanjungwangi, Budi Santoso, SE, menjamin keamanan lokasi wisata tersebut. Berdasarkan penelitian teknis, Sungai Cileuleuy Udik aman dari limbah industri karena tidak ada aktivitas pabrik di bagian hulu. Saat ini, pihak desa tengah berkoordinasi dengan BBWS terkait izin pemanfaatan sungai demi pemberdayaan masyarakat.
Acara peluncuran dimeriahkan oleh tari kreasi anak-anak desa hasil binaan mahasiswa Program Pemberdayaan Masyarakat Berkelanjutan (P2MB) UPI. Peresmian ditandai dengan pemukulan gong oleh jajaran pimpinan universitas dan perangkat desa, disusul dengan simulasi rafting keluarga di aliran Sungai Cileuleuy Udik.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh pimpinan universitas, termasuk Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Prof. Dr. Hj. Ida Hamidah, M.Si., serta jajaran pimpinan divisi terkait, seperti Dr. Sandey Tantra Paramitha, M.Pd., dan Pipin Firdaus, M.Kom. Penguatan aspek publikasi juga didukung penuh oleh jajaran pimpinan Kantor Komunikasi, Informasi, dan Pelayanan Publik (KKIPP) UPI , Vidi Sukmayadi, Ph.D., serta Kepala Seksi Komunikasi dan Media Dr. Angga Hadiapurwa, M.I.Kom., dan tim liputan. (Angga)
Menyalakan Cahaya dari Ruang Kelas: Perjalanan Lusijani dalam Menghidupkan Literasi
03 May 2026 • Humas UPI
Suara riuh siswa di dalam kelas perlahan mereda ketika seorang perempuan berdiri di depan, membuka buku, lalu menatap satu per satu wajah siswa di hadapannya. Tangannya tidak hanya menunjuk baris-baris teks, tetapi juga mengajak pikiran untuk melampaui kata-kata. Di ruang kelas, Lusijani tidak sekadar mengajar—ia menyalakan cahaya.
Hampir tiga dekade lamanya, ia melakukan hal yang sama. Bukan karena kewajiban, melainkan karena panggilan jiwa.
Lusijani, S.Pd., adalah sosok yang memilih untuk tetap setia di jalur yang sering dianggap sunyi: menjadi guru honorer. Sejak menamatkan pendidikan di Jurusan Pendidikan Geografi IKIP Bandung pada 1997, ia mengabdikan dirinya di SMA Plus Babussalam, Cimenyan, Kabupaten Bandung. Waktu berjalan, generasi berganti, tetapi satu hal tidak berubah—dedikasinya.
Baginya, mengajar bukan sekadar profesi. “Menjadi guru adalah panggilan jiwa untuk menyalakan cahaya ilmu di tengah masyarakat,” demikian makna yang ia pegang dalam perjalanan panjangnya .
Kecintaan Lusijani pada literasi tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari rumah yang sederhana, tetapi kaya akan kebiasaan membaca. Sang ayah menanamkan kegemaran itu sejak kecil, menyediakan bacaan yang bermakna dan membangun rasa ingin tahu. Dari situlah, karakter Lusijani terbentuk—haus ilmu, peka, dan berani menyampaikan gagasan .
Masa kuliahnya di IKIP Bandung yang sekarang bernama Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) semakin memperkuat fondasi tersebut. Ia aktif dalam kegiatan dakwah kampus, menulis untuk majalah, dan bergabung dalam komunitas menulis yang terus ia tekuni hingga lebih dari satu dekade. Dari komunitas itu pula, karya-karya mulai lahir—perlahan, tetapi pasti.
Namun, jalan pengabdian tidak selalu mudah, sebagai guru honorer, Lusijani menjalani profesi dengan segala keterbatasan. Status yang sering kali dipandang sebelah mata tidak menyurutkan langkahnya. Ia tetap hadir di kelas, tetap membimbing, tetap percaya bahwa setiap ilmu yang ia tanamkan akan menemukan jalannya sendiri.
“Ia tidak hanya mengajar di ruang kelas, tetapi juga menyalakan obor literasi di tengah masyarakat,” tergambar dari kiprahnya yang meluas .
Di luar sekolah, Lusijani menjelma menjadi penggerak literasi. Ia aktif sebagai trainer literasi Islami, mengunjungi sekolah dan komunitas, membimbing siswa dan masyarakat untuk membaca dan menulis. Baginya, literasi bukan sekadar keterampilan, tetapi fondasi peradaban.
Melalui berbagai workshop, pelatihan, dan komunitas seperti Sharing Menulis dan Bisnis serta Emak Penulis Peradaban, ia mengajak banyak orang untuk menemukan suara mereka melalui tulisan .
Karya-karyanya menjadi bukti nyata dari konsistensi tersebut. Sejak buku pertamanya Flora Fauna Maskot Indonesia yang terpilih sebagai buku pengayaan nasional, Lusijani telah menulis lebih dari 30 buku dan puluhan karya kolaboratif . Dari haiku hingga buku nonfiksi, setiap tulisannya membawa semangat yang sama: berbagi, menginspirasi, dan memberi makna.
Ia juga kerap dipercaya menjadi narasumber kepenulisan, mentor workshop, hingga juri lomba literasi. Perannya meluas, tetapi esensinya tetap sama—mendidik.
Pengabdian panjang itu akhirnya menemukan pengakuan. Lusijani menerima berbagai penghargaan, termasuk sebagai Guru Perempuan Inspiratif 2026 . Namun baginya, penghargaan bukanlah tujuan tapi berdampak adalah yang lebih penting.
Kepada mahasiswa dan alumni UPI, Lusijani menitipkan pesan yang tulus. “Tetaplah semangat belajar, semangat menuntut ilmu, dan selalu yakin bahwa Allah akan memberikan jalan. Kita sebagai guru adalah da’i. Apa pun yang kita kerjakan, niatkan untuk mendapatkan ridha Allah.” Baginya, menulis adalah bentuk warisan yang paling abadi. “Tulisan yang kita tinggalkan hari ini, insyaallah akan menjadi amal jariah untuk keluarga, untuk siapa pun yang membacanya,” pungkasnya .
Atas dedikasi dan kontribusinya yang nyata dalam dunia pendidikan dan literasi, Lusijani menjadi salah satu penerima Apresiasi Alumni UPI sebagai Guru Berprestasi dan Inspiratif. UPI bangga memiliki alumni seperti Lusijani, sosok yang membuktikan bahwa mengajar adalah panggilan, dan bahwa literasi yang ditanamkan dengan sepenuh hati akan terus berbuah jauh melampaui batas ruang kelas .
Di balik semua itu, Lusijani tetaplah seorang guru yang sederhana. Ia masih berdiri di kelas, masih membuka buku, masih mengajak siswa untuk berpikir dan bermimpi.
Perjalanan hidupnya mungkin tidak selalu terlihat gemerlap. Tidak ada panggung besar atau sorotan berlebih. Namun justru di sanalah letak maknanya.
Bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari tempat yang megah.
Kadang, ia tumbuh perlahan—dari ruang kelas, dari lembaran buku, dari kata-kata yang ditulis dengan penuh keyakinan.
Dan Lusijani telah membuktikan, bahwa ketika seseorang setia menyalakan cahaya, cahaya itu akan terus menyala—bahkan jauh melampaui ruang dan waktu. (Hilya)
Dari Garut untuk Pendidikan: Jejak Pengabdian Dr. Budi Suhardiman
03 May 2026 • Humas UPI
Pagi yang cerah di halaman Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Barisan peserta upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) berdiri rapi, mengenakan baju adat. Suasana khidmat, namun sekaligus hangat oleh semangat peringatan yang sarat makna bagi dunia pendidikan. Di tengah prosesi itu, satu momen menarik di akhir upacara yaitu penyerahan Apresiasi Alumni UPI sebagai Guru Berprestasi dan Inspiratif.
Di hadapan ratusan pasang mata, Rektor UPI, Prof. Didi Sukyadi, M.A., menyerahkan penghargaan tersebut kepada salah seorang yang berdiri tenang dengan pakaian khas sunda yang dikenakan, dialah Dr. Budi Suhardiman.
Tepuk tangan dari peserta upacara, namun bagi Budi, momen itu bukan sekadar penghargaan. Ia adalah titik singgah dari perjalanan panjang—perjalanan yang dimulai jauh dari panggung, dari ruang-ruang kelas sederhana, dan dari keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan pengabdian.
Bagi banyak orang, ia dikenal sebagai kepala sekolah inspiratif. Namun bagi dirinya, peran itu tidak pernah berhenti pada jabatan. Ia adalah pendidik—dalam arti yang paling utuh.
Lahir di Garut pada 20 Februari 1969, perjalanan Budi bukanlah kisah instan. Ia menapaki jalannya dari bawah, dari bangku sekolah dasar hingga akhirnya menempuh pendidikan tinggi di IKIP Bandung, lalu melanjutkan studi magister dan doktoral di UPI . Dari sana, fondasi keilmuannya terbentuk—bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai pembentuk karakter.
Kariernya dimulai sebagai guru honorer dan tenaga lapangan pendidikan masyarakat pada awal 1990-an. Masa-masa itu bukan hanya soal mengajar, tetapi tentang memahami realitas pendidikan di lapangan. Ia menyaksikan langsung bagaimana keterbatasan sering kali menjadi bagian dari sistem.
Dari guru, ia berkembang menjadi pemimpin. Dari satu sekolah ke sekolah lain, ia mengemban amanah sebagai kepala sekolah—mulai dari SMP kecil hingga sekolah negeri yang lebih besar. Kini, ia dipercaya memimpin SMPN 1 Karangpawitan, sebuah posisi yang bukan sekadar administratif, tetapi strategis dalam membentuk masa depan pendidikan .
Perjalanan itu tidak lepas dari tantangan. Menjadi pemimpin pendidikan berarti berhadapan dengan berbagai dinamika—guru, siswa, kebijakan, hingga perubahan zaman yang terus bergerak cepat. Namun justru di situlah ia menemukan makna perannya.
Bagi Budi, kekuatan seorang pendidik tidak hanya terletak pada pengetahuan, tetapi pada cara menyampaikan dan menghidupkan ilmu.
“UPI itu punya dua kekuatan utama,” ujarnya. “Pertama, kuat dalam metodologi—bagaimana menyampaikan pembelajaran agar mudah dipahami. Kedua, kuat dalam substansi profesional. Itu yang membuat guru-guru UPI dipercaya di masyarakat.” dua hal itu menjadi bekal yang ia bawa sepanjang kariernya.
Namun baginya, menjadi pendidik tidak berhenti di ruang kelas. Ada dimensi lain yang sering kali luput dari perhatian—peran sosial.
“Guru itu harus punya kompetensi sosial. Harus bisa hadir di masyarakat, berkiprah, dan menjadi teladan,” katanya. “Keberadaannya tidak hanya sebagai pengajar, tapi juga mewarnai kehidupan masyarakat.”
Selain memimpin sekolah, Budi aktif di berbagai organisasi pendidikan dan sosial. Ia terlibat dalam PGRI, Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia, hingga gerakan literasi daerah . Ia juga menjadi dosen, tutor, dan narasumber yang kerap diundang untuk berbagi praktik baik pendidikan.
Tidak berhenti di sana, ia juga produktif menulis. Dalam satu dekade terakhir, ia telah menghasilkan dan mengedit puluhan buku—mulai dari tema kepemimpinan, pembelajaran, hingga literasi . Bahkan, salah satu karyanya tentang deep learning dalam pembelajaran menjadi buku best seller yang digunakan di berbagai daerah.
Karya-karya tersebut bukan sekadar tulisan. Ia menjadikannya sebagai medium perubahan.
Bukti dari dedikasi itu pun terlihat. Ia meraih berbagai penghargaan, termasuk kepala sekolah inspiratif tingkat nasional dan kepala sekolah terliterat se-Nusantara . Namun, seperti banyak pendidik sejati lainnya, penghargaan bukanlah tujuan akhir.
Baginya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi dari sejauh mana seorang pendidik mampu memberi dampak dan kontribusi nyata kepada masyarakat. Ia percaya bahwa guru harus hadir sebagai agen perubahan—yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi dan membimbing kehidupan sosial.
Di tengah kesibukannya, Budi tetap menjaga satu prinsip sederhana: pendidikan adalah pengabdian.
Ia melihat bahwa guru-guru, khususnya lulusan UPI, memiliki kekuatan yang unik. Mereka tidak hanya unggul dalam kompetensi akademik, tetapi juga aktif di tengah masyarakat. “Dimanapun mereka berada, mereka selalu eksis dalam kegiatan kemasyarakatan. Itu yang dibutuhkan,” ungkapnya.
Perjalanan panjangnya menjadi cermin bahwa menjadi pendidik bukan sekadar profesi, tetapi sebuah pilihan hidup.
Pilihan untuk terus belajar. Pilihan untuk terus memberi. Pilihan untuk tetap hadir—bahkan ketika tidak ada sorotan.
Dan di pagi yang cerah itu, di halaman Gymnasium UPI, penghargaan yang ia terima bukanlah akhir dari perjalanan—melainkan pengingat bahwa cahaya pendidikan harus terus dijaga, dinyalakan, dan diwariskan. (RK)
Dari Bengkel Robot ke Ruang Kelas: Perjalanan Kusman Subarja Mencetak Generasi Juara
03 May 2026 • Humas UPI
Di sebuah ruang workshop di kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), hanya terdengar dengung mesin dan bunyi logam yang saling bersentuhan. Di sudut ruangan itu, seorang mahasiswa muda tampak tenggelam dalam pekerjaannya—menyusun kabel, merakit komponen, dan menguji rangkaian yang tak semua orang pahami. Waktu berjalan tanpa terasa. Bahkan pergantian siang dan malam sering luput dari kesadarannya.
Bagi Kusman Subarja, tempat itu bukan sekadar bengkel. Ia adalah rumah kedua—tempat mimpi dirakit, satu demi satu.
Hari ini, lelaki yang dulu “bermukim” di workshop itu berdiri sebagai guru di SMK Negeri 2 Cimahi, mengajar Teknik Mekatronika, sekaligus menjadi pembimbing yang telah mengantarkan banyak siswanya menembus panggung nasional hingga internasional .
Namun perjalanan itu tidak dimulai dari pencapaian, melainkan dari ketertarikan sederhana.
Sejak SMP, Kusman sudah akrab dengan dunia elektronika. Ia gemar memainkan perangkat pemancar radio, rasa ingin tahu yang terus tumbuh hingga ia melanjutkan ke SMK di bidang yang sama. Ketika tiba waktunya kuliah, pilihannya jatuh pada Pendidikan Teknik Elektro di UPI tahun 2004 — sebuah keputusan yang didukung penuh oleh orang tuanya, bahkan dengan bantuan sponsor untuk biaya pendidikan .
Di bangku kuliah, hidupnya berubah arah.
Ia tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga di luar itu—di dunia robotika. Bersama rekan-rekannya, ia membangun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) robotika yang diberi nama Komunitas Mahasiswa Penggemar Otomasi dan Robotika (KOMPOR) dengan satu tujuan besar: membawa nama UPI ke tingkat nasional dan internasional di bidang robotika.
Namun, ambisi itu datang dengan konsekuensi, “Kuliah saya malah ‘terganggu’ oleh robot,” kenangnya sambil tertawa. Ia bahkan menghabiskan hampir satu tahun tanpa menjalani kuliah secara efektif karena fokus di bengkel robot. Masa studinya pun molor—yang seharusnya empat tahun, menjadi hampir enam tahun hingga akhirnya lulus pada 2009 .
Namun di balik “keterlambatan” itu, ada proses yang tidak ternilai, Ia belajar tentang kerja tim, relasi, dan ketekunan—hal-hal yang justru menjadi bekal penting dalam dunia kerja. “Ternyata bukan hanya akademis yang penting. Relasi dan kerja sama justru sangat berpengaruh,” ujarnya .
Kisahnya selama kuliah pun penuh warna, tanpa kendaraan pribadi, ia harus menempuh perjalanan jauh dari Cangkuang ke kampus menggunakan bus sejak subuh. Karena lelah bolak-balik, ia kerap “nomaden” menginap di kos teman, hingga akhirnya menetap di workshop robot yang konon dianggap angker. Namun baginya, tempat itu justru menjadi ruang paling hidup.
“Saking asyiknya ‘ngulik’ robot, saya sampai tidak tahu dunia luar,” katanya . Bahkan momen seperti gerhana bulan atau hari besar keagamaan pernah ia lewati begitu saja, karena terlalu fokus pada apa yang ia kerjakan.
Di sanalah, mimpi mulai menemukan bentuknya, Ia pernah membayangkan dirinya berdiri di arena lomba robot, membawa papan nama perguruan tinggi. Imajinasi yang tampak sederhana itu ternyata menjadi kenyataan. Dalam sebuah kompetisi nasional, ia berdiri di barisan depan, membawa nama UPI—momen yang baginya begitu membekas .
Perjalanan itu tidak berhenti setelah lulus.
Kusman melanjutkan kiprahnya sebagai guru, memulai dari SMK Negeri 1 Katapang hingga akhirnya mengabdi di SMK Negeri 2 Cimahi sejak 2010 . Di sana, ia tidak hanya mengajar, tetapi juga membangun ekosistem pembelajaran berbasis praktik dan inovasi.
Ia menjadi pembina komunitas robotik, pelatih lomba, hingga pengembang kurikulum nasional di bidang mekatronika. Ia juga terlibat dalam berbagai proyek industri dan penelitian terapan, mulai dari Internet of Things hingga pengembangan alat teknologi tepat guna .
Namun yang paling menonjol bukanlah daftar panjang pencapaiannya, melainkan dampak yang ia ciptakan melalui siswa-siswanya.
Ia membimbing anak-anak dari daerah yang bahkan belum pernah naik pesawat, memiliki keterbatasan bahasa, namun mampu berdiri di podium internasional. Di balik setiap medali, ada proses panjang—latihan, kepercayaan, dan hubungan yang dibangun antara guru dan murid.
“Saya bangga melihat anak didik saya sukses. Itu kepuasan tersendiri bagi seorang guru,” ungkapnya .
Prestasi yang ia raih pun mencerminkan dedikasi itu. Ia menerima berbagai penghargaan, mulai dari Guru Berprestasi Kota Cimahi, inovator tingkat nasional, hingga penghargaan dari pemerintah daerah atas kontribusinya dalam pendidikan dan inovasi .
Namun di balik semua itu, Kusman tetap melihat dirinya sebagai seorang pembelajar.
Saat ini, ia tengah melanjutkan studi doktoral di UPI, kembali ke tempat di mana ia pernah membangun mimpi-mimpi besarnya .
Ia juga menyaksikan bagaimana UPI berkembang pesat—baik dari sisi fasilitas, sistem, hingga pengakuan internasional. “Dulu mungkin UPI dipandang sebelah mata, sekarang sudah sangat disegani,” katanya .
Namun harapannya tetap sederhana.
Ia ingin agar perguruan tinggi tidak hanya berkembang secara fisik, tetapi juga memperkuat pengabdian kepada masyarakat—khususnya kepada sekolah-sekolah yang membutuhkan dukungan nyata.
Bagi Kusman, pendidikan bukan hanya soal ilmu, tetapi tentang kesempatan.
Kesempatan bagi siswa untuk bermimpi. Kesempatan bagi guru untuk membimbing. Dan kesempatan bagi siapa pun untuk tumbuh—tanpa batas.
Di workshop yang dulu ia tinggali, mungkin mesin-mesin lama sudah berganti. Namun semangat yang pernah ia bangun di sana tetap hidup—kini berpindah ke ruang kelas, ke tangan-tangan siswa, dan ke mimpi-mimpi baru yang sedang dirakit.
Karena bagi Kusman Subarja, pendidikan adalah proses yang tidak pernah selesai.
Ia hanya berpindah tangan—dari satu generasi ke generasi berikutnya. (RK)