English
Indonesia

“Video Mapping: Fragment of Art” Tampilkan Sinergi Inovasi dan Pendidikan di Studio Animasi FTV UPI

05 Nov 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Program Studi Film dan Televisi (FTV) Fakultas Pendidikan Seni dan Desain (FPSD) Universitas Pendidikan Indonesia kembali menunjukkan komitmennya dalam mengintegrasikan pendidikan, riset, dan inovasi kreatif melalui kegiatan bertajuk “Video Mapping: Fragment of Art.” Selasa, (4/11/2025).

Acara yang dibuka secara resmi oleh Kepala Program Studi FTV, Dr. Harry Tjahjodiningrat, M.Pd., ini menandai perkuliahan berbasis proyek (Project-Based Learning) pada mata kuliah Studio Intermedia Animasi. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Road to Cinefuture 2026. Dr. Harry Tjahjodiningrat, M.Pd. dalam sambutannya menekankan bahwa kegiatan seperti ini merupakan bentuk nyata sinergi antara dunia akademik dan industri kreatif. “FTV UPI berkomitmen untuk terus mengembangkan ekosistem pembelajaran yang mendorong kolaborasi lintas disiplin dan inovasi teknologi, agar mahasiswa tidak hanya menjadi pembuat film, tetapi juga peneliti dan inovator dalam bidang media digital,” ujarnya.

“Video Mapping: Fragment of Art” dirancang sebagai wahana eksplorasi artistik sekaligus riset kolaboratif antara mahasiswa dan dosen. Melalui kegiatan ini, proses belajar tidak hanya berhenti pada pencapaian kompetensi teknis, tetapi berkembang menjadi praktik riset terapan yang menggabungkan aspek konseptual, teknologi, dan inovasi kreatif. Proyek ini menjadi wujud nyata dari integrasi research-based creation, di mana mahasiswa dan dosen berinteraksi dalam meneliti, merancang, dan memproduksi karya video mapping yang mampu merepresentasikan gagasan estetik sekaligus menjawab tantangan sosial serta teknologi kontemporer.

Dosen pengampu studio animasi FTV, Salsa Solli Nafsika, M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pembelajaran yang menekankan pentingnya berpikir kritis dan kolaboratif dalam konteks industri kreatif. “Video mapping bukan hanya soal keterampilan teknis, tetapi juga tentang bagaimana ide-ide visual mampu membangun ruang dialog antara seni, teknologi, dan masyarakat. Melalui proyek ini, mahasiswa belajar bagaimana sebuah karya bisa menjadi medium refleksi sekaligus inovasi,” ungkapnya.

Antusiasme penonton terlihat jelas sepanjang pertunjukan berlangsung. Banyak dari mereka mengaku kagum dengan perpaduan antara teknologi proyeksi dan kekuatan narasi visual yang dihadirkan oleh mahasiswa FTV UPI.

Salah satu penonton, Rani (21), mahasiswi PGSD, menyampaikan kesannya “Saya tidak menyangka karya mahasiswa bisa sekompleks dan seindah ini. Perpaduan cahaya, musik, dan bentuk visualnya sangat menyentuh. Rasanya seperti berada di dalam karya seni itu sendiri.”

Sementara itu, Dimas (24), penonton umum yang tertarik pada dunia animasi, menilai bahwa karya ini menunjukkan kemajuan besar dalam cara kampus mengintegrasikan seni dan teknologi: “Video mapping ini bukan hanya hiburan, tapi juga pesan tentang bagaimana seni bisa berbicara dengan teknologi. Ini pengalaman yang edukatif sekaligus inspiratif”.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh tamu undangan dari PROSFISI (Asosiasi Program Studi Film dan Televisi) yang memberikan dimensi reflektif terhadap makna penciptaan karya seni dalam konteks akademik dan kebudayaan. Kehadiran mereka memperkaya diskusi lintas disiplin, mempertemukan perspektif artistik, filosofis, dan edukatif dalam satu ruang dialog kreatif.

Perwakilan PROSFISI menilai bahwa “Video Mapping: Fragment of Art” bukan sekadar pameran teknologi visual, melainkan juga sebuah manifestasi dialektika antara ide, medium, dan pengalaman estetik. “Karya ini menunjukkan bagaimana mahasiswa tidak hanya memproduksi visual yang indah, tetapi juga mengartikulasikan gagasan filosofis tentang relasi manusia, ruang, dan cahaya. Ini sejalan dengan semangat seni sebagai refleksi intelektual,” ujar salah satu dosen tamu dari PROSFISI.

Dalam konteks keberlanjutan global, kegiatan ini turut berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Pemanfaatan teknologi digital, sistem proyeksi spasial, dan rekayasa visual interaktif dalam proyek ini menjadi sarana menumbuhkan budaya inovasi di lingkungan akademik, memperkuat ekosistem kreatif berbasis teknologi, serta mendorong lahirnya infrastruktur kreatif yang inklusif, adaptif, dan berdaya saing tinggi.

Dengan menggabungkan research-based learning dan praktik kolaboratif lintas disiplin, “Video Mapping: Fragment of Art” tidak hanya menegaskan posisi FTV UPI sebagai ruang pembelajaran kreatif berbasis riset, tetapi juga sebagai laboratorium hidup yang terus melahirkan inovasi seni dan teknologi untuk pembangunan industri kreatif berkelanjutan di Indonesia. (Kontributor Humas UPI : Salsa Solli Nafsika, M.Pd.)

Workshop “MOCAP JUMPSTART”: STUDIO ANIMASI FTV UPI Kenalkan Teknologi Motion Capture bagi Siswa dan Guru SMA/SMK se-Bandung Raya

05 Nov 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Studio Animasi Program Studi Film dan Televisi (FTV) Fakultas Pendidikan Seni dan Desain (FPSD) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menunjukkan kiprah inovatifnya dalam dunia pendidikan berbasis teknologi kreatif. Melalui kegiatan bertajuk “Workshop MOCAP JUMPSTART”, FTV UPI menghadirkan pengalaman langsung menggunakan Smart Suit Rokoko, sistem motion capture (MoCap) berteknologi tinggi yang banyak dipakai di industri animasi film. Rabu, (5/11/2025).

Kegiatan ini diikuti oleh siswa dan guru SMA/SMK se-Bandung Raya, dengan tujuan memperkenalkan teknologi Visual Effects (VFX) dan motion capture sebagai bagian penting dalam proses produksi animasi modern. Workshop ini menjadi ruang belajar interaktif bagi peserta untuk memahami bagaimana gerak tubuh manusia dapat diubah menjadi karakter digital yang hidup dan ekspresif.

Dalam sambutannya, Kaprodi Film dan Televisi UPI, Dr. Harry Tjahjodiningrat, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi akademik yang menjembatani dunia pendidikan dan industri kreatif.

“FTV UPI berkomitmen membangun jembatan antara pembelajaran, teknologi, dan kebutuhan industri masa depan. Workshop seperti ini memberi pengalaman nyata bagi generasi muda tentang bagaimana ide kreatif dapat diolah menjadi produk digital berdaya saing,” ujarnya.

Sepanjang kegiatan, peserta mendapatkan pembimbingan teknis langsung dari tim pengajar Studio Animasi FTV UPI beserta instruktur muda, Rendi Alfarizki dan Raihan Rafa, yang berperan sebagai fasilitator utama dalam simulasi motion capture dan integrasi 3D animation guideline.

Rendi Alfarizki, fasilitator bidang teknis, menjelaskan bahwa sistem motion capture yang digunakan pada workshop ini dirancang agar peserta dapat memahami seluruh alur kerja produksi animasi berbasis data gerak.

“Kami ingin peserta mengenal konsep dasar ‘gerak sebagai data’. Jadi setiap langkah tubuh bukan hanya aksi, tapi juga informasi yang bisa diolah menjadi ekspresi karakter. Ini langkah awal untuk memahami bagaimana industri profesional bekerja dalam menciptakan animasi realistis,” terangnya.

Sementara itu, Raihan Rafa, yang memfasilitasi sesi praktik langsung dengan Smart Suit Rokoko, menekankan pentingnya pengalaman empirik bagi siswa.

“Teknologi seperti ini sering kali terlihat rumit, tapi ketika dicoba langsung, peserta jadi lebih paham bahwa animasi adalah hasil kerja kolaboratif antara seni dan sains. Kami ingin memantik rasa ingin tahu mereka agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tapi juga calon pengembangnya,” ujarnya.

Dosen pengampu studio animasi, Salsa Solli Nafsika, M.Pd., menambahkan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai bentuk education through creation — pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman dan riset kreatif.

“Kami berharap siswa dan guru bisa melihat bahwa teknologi bukan pengganti kreativitas, tapi perluasan imajinasi. MoCap membantu kita memahami bagaimana tubuh, ruang, dan emosi bisa diterjemahkan ke dalam bentuk visual digital,” jelasnya.

Antusiasme peserta tampak tinggi sejak sesi pembukaan hingga penutupan. Banyak siswa mencoba langsung mengenakan smart suit dan menyaksikan pergerakan mereka diproyeksikan dalam bentuk karakter digital 3D secara real-time. “Seru banget! Saya jadi tahu kalau animasi tidak hanya menggambar, tapi juga tentang memahami gerak tubuh,” ungkap Andra (17), peserta dari SMK jurusan animasi.

Selain praktik teknologi, para guru pendamping juga mendapatkan sesi diskusi mengenai integrasi pembelajaran berbasis proyek dan peluang kolaborasi antara sekolah menengah dengan perguruan tinggi. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal terbentuknya ekosistem pembelajaran kreatif yang inklusif dan berkelanjutan, sejalan dengan arah SDGs Nomor 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.

Melalui Workshop MOCAP JUMPSTART, FTV UPI tidak hanya memperkenalkan teknologi terbaru, tetapi juga menanamkan semangat kolaborasi dan literasi digital bagi generasi muda. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kampus seni dapat menjadi pusat inovasi yang menghubungkan pendidikan, teknologi, dan kreativitas dalam satu ruang pembelajaran yang inspiratif. (Kontributor HUMAS UPI : Salsa Solli Nafsika, M.Pd.)

Dua Tim Mahasiswa UPI Cibiru Raih Juara Kompetisi Inovasi Bandung Bedas 2025

05 Nov 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Dua tim mahasiswa dari UPI Kampus Cibiru berhasil meraih Juara 1 dan Juara 2 dalam ajang Kompetisi Inovasi Bandung Bedas 2025, yang diselenggarakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bappelitbangda) Kabupaten Bandung. Kegiatan penganugerahan yang mengusung tema “From Vision to Action : Be The Next Innovator” ini dilaksanakan di Hotel Grand Sunshine, Soreang, Bandung. Selasa, (4/11/2025).

Kompetisi ini menjadi wadah bagi para inovator muda untuk menyalurkan ide dan gagasan kreatif dalam mendukung pembangunan daerah berbasis riset, teknologi, dan kolaborasi. Dalam ajang bergengsi tersebut, dua tim dari UPI Kampus Cibiru sukses mengukir prestasi melalui karya inovatif yang memberikan solusi nyata bagi masyarakat.

Tim Cogniverse dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) berhasil meraih Juara Pertama dengan inovasi berjudul “Mewujudkan Generasi Bandung Bedas Melalui Upaya Pencegahan Brain Rot Menggunakan Teknologi Inovatif Game-based Assessment.” Inovasi ini mengangkat isu fenomena brain rot atau penurunan daya pikir akibat konsumsi konten digital pasif. Melalui pendekatan berbasis permainan edukatif (game-based learning), Cogniverse mengembangkan sistem asesmen interaktif yang mampu meningkatkan keterlibatan siswa, membangun kebiasaan belajar aktif, serta menumbuhkan kemampuan berpikir kritis di kalangan pelajar.

Tim Cogniverse terdiri atas dua mahasiswa, yaitu Anisa Rohmah Hasanah (2209842) dan Indri Salsabila (2207530), dengan Triana Lestari, S.Psi., M.Pd. sebagai dosen pembimbing. Karya ini menunjukkan sinergi kuat antara bidang pendidikan dan teknologi dalam menghadirkan solusi cerdas untuk tantangan generasi digital saat ini.

Sementara itu, Tim Arjuna dari Program Studi Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) berhasil meraih Juara Kedua dengan inovasi bertajuk “Aplikasi Rambu Petunjuk Bencana dan Edukasi Siaga Bencana Berbasis Game Interaktif untuk Anak.” Aplikasi ini dirancang untuk memperkenalkan konsep kesiapsiagaan bencana sejak usia dini melalui media pembelajaran berbasis permainan interaktif. Dengan visual yang menarik dan pendekatan yang menyenangkan, anak-anak dapat mempelajari tanda-tanda bencana serta langkah penyelamatan diri secara aman dan efektif.

Tim Arjuna beranggotakan Andika Eka Kurnia (2306033), Asep Nadhirin (2308165), dan Maryam Silva Rahayu (2309227), dibawah bimbingan Raditya Muhammad, M.T. Inovasi ini diharapkan dapat mendukung upaya edukasi kebencanaan di sekolah-sekolah dasar sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mitigasi bencana.

Keberhasilan dua tim UPI Cibiru dalam ajang ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi dapat berjalan sinergis dalam mendorong lahirnya inovasi yang berdampak sosial. Melalui dukungan Bappelitbangda Kabupaten Bandung, mahasiswa memiliki ruang untuk berkontribusi secara langsung dalam menjawab berbagai permasalahan masyarakat melalui pendekatan ilmiah dan teknologi.

Prestasi ini juga menjadi refleksi dari komitmen UPI khususnya Kampus UPI di Cibiru dalam membina mahasiswa yang kreatif, inovatif, dan solutif. Melalui dukungan dosen pembimbing serta lingkungan akademik yang kondusif, kampus terus mendorong pengembangan inovasi lintas disiplin yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan sejalan dengan agenda pembangunan daerah.

Dengan capaian tersebut, UPI kembali menegaskan posisinya sebagai inkubator inovasi muda yang tidak hanya unggul dalam pendidikan, tetapi juga berkontribusi nyata bagi kemajuan daerah dan bangsa. (DN)

Abad 21 Menuntut Kebijaksanaan Spiritual dalam Karier

05 Nov 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Prof. Dr. Mamat Supriatna, M.Pd., Guru Besar Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam bidang Bimbingan dan Konseling Karier dalam orasi ilmiah pada Upacara Pengukuhan Guru Besar Tahun 2025 mengatakan Paradigma karier pada abad ke-21 mengalami pergeseran mendasar. Jika abad ke-20 dikenal sebagai abad ilmu pengetahuan, maka abad ke-21 disebut sebagai abad kebijaksanaan di mana pencapaian karier tidak lagi diukur semata dari aspek intelektual, tetapi juga dari dimensi spiritual dan etis. Selasa, (4/11/2025).

Menurut Prof. Mamat, manusia modern kini tidak hanya mengejar efisiensi dan hasil kerja, melainkan juga makna serta keberkahan hidup. “Dalam abad kebijaksanaan ini, manusia dituntut untuk menyeimbangkan antara kemajuan material, nilai kemanusiaan, dan kedalaman spiritual,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa peradaban manusia telah melalui berbagai era, mulai dari berburu, pertanian, hingga industri yang masing-masing memiliki pola pikir berbeda. Memasuki era baru, manusia perlu menemukan keseimbangan antara pencapaian lahiriah dan makna batiniah dari setiap usaha yang dilakukan.

Lebih lanjut, Prof. Mamat memaparkan bahwa karier sukses di abad ke-21 tidak dapat lagi dipandang dari sisi ekonomi semata. Kesuksesan karier ditopang oleh lima dimensi kecakapan hidup, yakni kecakapan akademik, praktikal, kreatif, pribadi, dan spiritual.

“Dari kelima dimensi itu, kecakapan spiritual menjadi lokomotif yang mengarahkan semua potensi manusia menuju kebermanfaatan bagi diri sendiri, lingkungan, sesama, dan Tuhannya,” tuturnya.

Dalam konteks bimbingan dan konseling karier, lanjutnya, pendekatan pendidikan di abad ke-21 perlu menumbuhkan bukan hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga kebijaksanaan moral dan spiritual. “Bimbingan dan konseling karier berfungsi menuntun individu agar tidak sekadar pintar dan terampil, melainkan juga bijak, berkarakter, dan memiliki daya spiritual tinggi,” ungkapnya.

Menurutnya, pendidikan harus menjadi wahana yang memuliakan manusia dengan menumbuhkan empati sosial dan menghargai keberagaman budaya. Keberagaman, kata dia, merupakan kekuatan dan identitas bangsa yang harus dijaga melalui pendekatan konseling yang menghormati nilai-nilai multikultural.

Prof. Mamat menegaskan bahwa karier sejatinya bukan tujuan akhir, melainkan perjalanan spiritual menuju keseimbangan, kebahagiaan, dan kebermaknaan hidup. Setiap individu memiliki jalur karier yang unik sesuai potensi dan fitrahnya. “Kesuksesan karier bersifat individual, diukur dari sejauh mana seseorang mengenali, mengembangkan, dan memaknai potensi dirinya,” jelasnya.

Ia menambahkan, manusia yang sukses sejati adalah mereka yang mampu mewujudkan peran ganda sebagai khalifah yang membawa manfaat bagi sesame dan sebagai abdullah, yakni makhluk yang menghamba kepada Allah SWT.

Nilai-nilai spiritual tersebut, menurut Prof. Mamat, tercermin dalam petuah Sunda, “Sarigig kudu jeung harti, sarengkak reujeung pikiran, memeuh prak sing ati-ati, mun sidik goreng singkiran.” Petuah ini mengajarkan pentingnya berpikir sebelum bertindak serta menjaga agar setiap tindakan selalu bermakna dan selaras dengan akal sehat dan nilai-nilai luhur.

“Karier yang sejati bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai puncak, tetapi siapa yang paling bijak memaknai perjalanan hidupnya,” pungkas Prof. Mamat. (DN/Rija)

UPI di Sumedang Ukir Prestasi dan Perkuat Kerja Sama Internasional di TIFF 2025

05 Nov 2025 • Humas UPI
Mahasiswa UPI setelah menampilkan Tari Umbul di Kuil Wat Hub Krapong, Thailand (27/10/25)

Sumedang, UPI — Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Sumedang berhasil mengukir prestasi sekaligus memperkuat kerja sama internasional pada ajang Thailand International Folklore Festival (TIFF) 2025. Kegiatan yang berlangsung pada 25–30 Oktober 2025 di Provinsi Ratchaburi, Thailand, Festival ini menjadi ajang pertukaran budaya antarnegara, sekaligus penguatan jejaring akademik dengan Mubhan Chombueng Rajabhat University.

UPI Sumedang mengirimkan delegasi yang terdiri dari mahasiswa empat program studi: Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), PGSD Penjas, S1 Keperawatan, dan Industri Pariwisata. Mereka tampil dalam beberapa sesi pementasan untuk memperkenalkan kesenian tradisional Sunda melalui Tari Umbul Sumedang, Tari Cikeruhan, Tari Merak, serta demonstrasi Pencak Silat.

Mahasiswa menampilkan Tari Merak di Wat Busayanpot, Hua Hin, Thailand. (26/10/25)

“Dengan mempresentasikan tarian tradisional Sunda di kancah internasional, kami berupaya menumbuhkan rasa bangga dan identitas budaya bagi mahasiswa, sekaligus membangun karakter percaya diri dan nasionalisme,” ujar Sidqia Nurfadilah, S.Pd., M.Pd., dosen pendamping dan pengampu seni tari PGSD UPI Sumedang.

Festival ini diikuti oleh perwakilan dari berbagai negara, seperti Indonesia, Laos, Polandia, India, Filipina, dan Vietnam. Indonesia, yang diwakili UPI Sumedang, memperoleh penghargaan “Penampilan Terbaik”, “Kostum Terbaik”, dan “Leader Terbaik”.

“Indonesia benar-benar luar biasa. Tarian dan kostumnya unik dan memukau. UPI memiliki pemimpin yang hebat dan sangat peduli pada budaya serta toleransi,” ujar Prof. Achara Phanurat, Ketua Penyelenggara TIFF 2025.

Melalui ajang ini, UPI Sumedang berharap dapat terus membangun hubungan budaya dan akademik yang kuat dengan berbagai institusi internasional, serta memperluas kesempatan kolaborasi lintas sektor, baik pendidikan, seni, maupun penelitian. (RK)

Kontributor: Sidqia Nurfadilah, S.Pd., M.Pd.

Pencarian